Minggu, 29 Juli 2012

No Comparing, Please...

No Comparing, Please…

Salah satu teman chatting asal Palestina yang telah saya kenal lewat dunia maya sejak 2009 bertanya apa yang saya suka dari negara ini dan mana yang lebih bagus: negara asal saya atau negara ini. Jawaban saya singkat tapi membuat dia sedikit keki: hard to compare. Full stop.

Dia mengejar lebih jauh. Tidak mungkin sulit dibedakan, katanya. Jawaban saya adalah: Why not? Selanjutnya saya menerima emoticon putus asa dari dia. Saya hanya tertawa. You would answer the same thing if you were me, pikir saya.

Tidak puas dengan jawaban saya, pertanyaan selanjutnya lebih mengerucut: how about the nature? Saya memberi jawaban diplomatis yang membuat dia mengirim 3 tanda tanya (???): I like them both. Tapi kalau mau jujur sih, saya belum tahu banyak tentang negara ini, apalagi alamnya, itu salah satu alasan saya memberi jawaban aman. Tapi yang pasti Indonesia menyimpan kekayaan alam yang berlimpah. Bukan minyak atau emas, tapi pemandangan alam yang membuat tiap orang berdecak kagum dan memuji pencipta-Nya.

Sekitar tiga tahun lalu saya pulang kampung, ke kampung halaman orang tua tepatnya. Kami, empat orang; saya, mama, adik saya, dan adik bapak, diuji kesabarannya selama 3 hari lebih di dalam bis. Dua kali menyeberangi lautan; selat bali dan satu lagi saya lupa namanya (maap kawan-kawan). Tapi yang pasti, pada penyeberangan ke dua, berdiri di buritan kapal selama satu jam lebih tidak masalah bagi saya dan adik. Sebabnya apalagi selain keindahan alam yang tidak akan habis dipandang. Kami mengambil gambar, tapi lensa kamera, sebagus apapun, tidak akan bisa menandingi kehebatan lensa mata ciptaan-Nya, apalagi lensa kamera kami yang hanya berada sedikit di atas rata-rata air alias cukup lah, bukan seperti yang Darwis Triyadi punya.

Balik ke teman saya. Tidak mau membuat dia makin keki, saya coba jelaskan dari berbagai sudut. Saya katakan di Indonesia alam kami sangat bagus, tapi tidak semua di handle dengan baik. Di sini objek wisata alam yang saya tahu hanya Niagara, tapi saya belum berkunjung ke sana. Well, sebenarnya dia dengan mudah bisa bertanya pada Mbah Google tentang alam di sini ataupun di Indonesia.

Membandingkan sesuatu itu pasti subjektif. Kalau saya jawab dengan vulgar betapa cintanya saya terhadap negara saya, bisa jadi dia menganggap saya chauvinism. Tapi apa salahnya? Saya toh lahir dan besar di Indonesia, Jakarta tepatnya. Sekalipun mungkin, sekali lagi MUNGKIN, ada orang Indonesia yang tidak bangga akan asalnya, bisa jadi dia tidak tahu sedikit list dari banyak kekayaan alam di Indonesia:

1. Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau, termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni.

2. Indonesia memiliki 3 dari 6 pulau terbesar didunia, yaitu Pulau Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia dgn luas 539.460 km2), Pulau Sumatera (473.606 km2) dan Pulau Papua (421.981 km2)

3. Indonesia adalah Negara maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia.

4. Indonesia merupakan Negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia. Terdapat lebih dari 740 suku bangsa/etnis, dimana di Papua saja terdapat 270 suku. Menggunakan 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa tersebut

5. Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia (20% dari suplai seluruh dunia) juga produsen timah terbesar kedua.

6. Indonesia memiliki Terumbu Karang (Coral Reef) terkaya di dunia (18% dari total dunia) dan memiliki species ikan hiu terbanyak di dunia (150 species).

7. Indonesia menempati peringkat pertama dalam produk pertanian, yaitu cengkeh (cloves) & pala (nutmeg), serta peringkat kedua dalam karet alam (Natural Rubber) dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil).

8. Indonesia adalah pengekspor terbesar kayu lapis (plywood), yaitu sekitar 80% di pasar dunia.

9. Indonesia memiliki biodiversity Anggrek terbesar didunia yaitu sekitar 6 ribu jenis anggrek, mulai dari yang terbesar (Anggrek Macan atau Grammatophyllum Speciosum) sampai yang terkecil (Taeniophyllum, yang tidak berdaun), termasuk Anggrek Hitam yang langka dan hanya terdapat di Papua.

10. Memiliki hutan bakau terbesar di dunia. Tanaman ini bermanfaat untuk mencegah pengikisan oleh air laut atau abrasi pantai

Rekor di atas sebenarnya hanya sedikit dari sekian banyak rekor-rekor berkaitan dengan kekayaan alam yang dimiliki oleh bangsa ini. Termasuk Burung Cendrawasih yang terkenal dengan bird of paradise dan hanya ada di Papua.

Dari 10 ini pun sudah cukup membuat kebanggaan terhadap Indonesia. Saya simpan info ini, mungkin suatu hari akan saya beri gambaran pada teman saya tersebut atau teman yang lain. Namun biar adil dan lebih terlihat objektif, saya gambarkan juga situasi yang tidak bisa saya dapatkan di Jakarta. Terutama soal transportasi dan situasinya secara umum.

Di sini, tiap rumah tertata rapi, sama seperti yang bisa di lihat di film produksi Hollywood. Belum melihat rumah yang ada pagar setinggi rumah mewah di Jakarta apalagi yang ditambah beling, walaupun rumah disini tidak kalah mewah. Juga arah rumah sama, jadi ga ada rumah yang saling bertunggingan alias teras rumah bertemu dapur rumah tetangga. Tiap rumah pun berjarak setidaknya satu meter dan di belakang rumah ada halaman cukup besar yang bisa dipakai untuk barbeque. Asik kan?

Tata kota yang bagus berasal dari pajak yang dipakai secara semestinya oleh pemerintah. Misalnya di daerah host fam saya, sampah diangkut tiap selasa. Tiap musim dingin, pasti ada mobil khusus yang menyingkirkan salju di area umum. Lebih jauh lagi, para supir digaji oleh pemerintah, jadi karena tidak ada system setoran, para bapak supir dan ibu supir focus pada keselamatan penumpang yang notabene bukan kambing. Oh iya, bis local yang di operasikan oleh OC Transpo pun ramah terhadap semua penumpang. Bila ada penumpang yang menggunakan kursi roda, pasti para supir menurunkan lempengan besi dengan satu tombol, jadi mereka bisa masuk. Dan bila ada penumpang dengan berat badan berlebih dan tidak mampu untuk mengangkat kaki, penumpang pun bisa meminta supir untuk menurunkan sedikit bisnya dan bisa dikembalikan ke posisi semula, juga dengan satu tombol.

Bangku di belakang supir bisa di lipat, gunanya untuk mereka yang membawa stroller atau khusus untuk pengguna kursi roda. Bisa juga kursi di belakang supir adalah kursi prioritas bagi orang lanjut usia, ibu-ibu yang membawa anak kecil, dan atau ibu hamil. Di bagian luar depan bis, disediakan tempat yang dipakai untuk meletakkan sepeda bila ada penumpang yang membawa sepeda. Semua serba well prepared untuk kenyamanan penduduk yang telah bekerja dan membayar pajak.

Banyak sebenarnya yang bisa diceritakan tentang tata kota di sini yang sangat berbeda dengan di sana. Tapi sebagus apapun tempat singgah, rumah adalah tempat persinggahan terbaik. Mungkin raga ada di tempat lain, toh hati tidak bisa dibohongi bahwa: saya cinta tanah air saya.

Sukses untuk semua ya……


sumber:
10 list kekayaan Indonesia diambil dari upikapik.blogdetik.com

Cerita Ringan

Ada salah satu cerita inspiratif yang saya baca beberapa tahun yang lalu. Kurang lebih seperti ini, cekidot:

Pada suatu masa, ada seorang tukang kayu yang yang telah bekerja pada sebuah perusahaan selama puluhan tahun. Si bapak telah membuat ratusan rumah yang indah bagi tiap pelanggan yang datang. Dia melakukan tugasnya selalu dengan segenap hati. Sang bos, yang juga sahabatnya, sangat sayang pada sang tukang kayu. Sang sahabat sudah menganggapnya sebagai keluarganya sendiri dan dia tidak mau kehilangan bapak tersebut. Tapi ada masa dimana seseorang butuh berhenti melakukan hal yang sama dalam hidupnya. Termasuk bapak tukang kayu tersebut.

Akhirnya pada suatu hari bapak tersebut mengatakan niatnya untuk beristirahat pada sang sahabat. Sang sahabat termangu, mencoba menanyakan hal yang membuat bapak tersebut berhenti. Dia menawarkan apa saja yang diminta oleh sang tukang kayu. Namun hal itu tidak mengubah keputusan bapak tukang kayu.

“Saya lelah.” Hanya itu jawabnya dengan senyum. Tidak ada permintaan apapun dari sang tukang kayu kepada sang sahabat.
Setelah mencoba berulang kali, sang sahabat menyerah. Akhirnya dia bisa menerima keadaan tersebut. Namun satu hal yang diminta oleh sang sahabat kepadanya, yaitu membuat sebuah rumah, untuk terakhir kalinya.

Bapak tukang kayu diam dan menimbang. Dengan segan dia lakukan permintaan sang sahabat. Tak lama, jadilah sebuah rumah mungil seadanya. Tanpa rasa dan ruh dari si pembuat rumah. Sang sahabat merasa senang karena permintaannya dikabulkan oleh bapak tukang kayu. Bapak tukang kayu pun merasa senang dan lega karena akhirnya dia tidak akan terganggu lagi dengan hal yang sama, yang selalu dilakukannya selama puluhan tahun.

Datanglah waktu memberikan kunci rumah tersebut pada sang sahabat. Sang sahabat tersenyum dan berkata, “ambilah rumah itu untukmu. Saya tidak bisa memberi sesuatu padamu dan kamu pun tidak meminta sesuatu apapun padaku. Hanya ini yang bisa aku berikan.”

Bapak tukang kayu hanya terdiam dan menatap rumah tersebut, rasa menyesal sedikit datang. “Seandainya saya membuat rumah itu dengan segenap hati saya, pasti rumah itu akan lebih baik dan terasa hidup.”

Yea, penyesalan selalu datang belakangan. Sebuah status fesbuk teman saya berbunyi “PENYESALAN itu selalu datang di akhir, kalau di depan namanya PENDAFTARAN.” Bener juga, dimana-mana meja pendaftaran memang adanya di depan, yang di belakang biasanya toilet atau lahan parkir (malah dibahas??!).

Tapi seperti kata Craig David dalam lagunya Human;

“I'm only human
Of flesh and blood I'm made
I'm only human (what what?)
Born to make mistakes (tell me whatcha gonna do?”)

Bukanya mau memaklumi setiap kesalahan yang sudah ataupun yang pasti akan dibuat, dengan sengaja ataupun tidak sengaja, tapi memang melakukan kesalahan adalah sangat manusiawi. Bukankan kita pasti selalu membayarnya setelah melakukan kesalahan? Entah dalam bentuk konsekuensi logis dari tindakan kita, atau setidaknya rasa penyesalan yang datang sudah merupakan ‘bayaran’ atas tindakan kita yang menyimpang.

Sebenarnya nilai moral dari cerita tersebut bukan cuma tentang penyesalan yang membuntuti, tapi banyak lagi, tergantung mengambil sisi yang mana.

Untuk saya itu merupakan alarm untuk bekerja secara ikhlas dan jangan banyak mengeluh kurang ini kurang itu. Kerjakan sajalah yang ada di depan mata. Enjoy every moment in this life, maka semuanya akan lebih ringan. Kalau belum bisa, tetap mencoba. Try. Paling kalau hasilnya ngaco, jadinya error. Bisa kitanya yang error, bisa keadaannya jadi error karena keadaan psikis yang buruk, mood jadi runtuh. Semua akan terasa buruk. Lolipop yang termanis pun akan terasa terasi bila mood berada dalam titik terendah

Cerita tersebut saya baca sekitar hampir delapan tahun yang lalu. Reminder yang bagus ketika saya mulai ogah-ogahan untuk melakukan sesuatu yang saya tahu jelas, hal tersebut baik untuk saya. Tapi ketika reminder itu lemah, yang datang adalah Craig David yang selalu memaklumi keadaan.

Kamu pilih yang mana?

Have a nice day…….

Rute ke Orleans

Senyum itu bahasa universal. Senyum merupakan salah satu gesture yang seharusnya tetap terpasang entah bagaimana mood kita saat itu. Seharusnya. Namun beberapa orang sulit tersenyum, saya salah satunya, apalagi tersenyum kepada orang yang tidak kita kenal.

Baru 5 hari di kota ini, saya sudah nekat pergi sendirian ke tempat teman, seorang Indonesia yang menikah dengan warga Kanada. Jaraknya sekitar 3 jam dari tempat saya tinggal. Host family dengan was-was mewanti wanti untuk berhati-hati dan dengan detail memberi tahu nomor bis dan dimana saja saya harus transfer bis. Sangat detail info yang dia dapat dari internet.

Tempat pemberhentian bis di sini hanya seperti tiang bendera. Bedanya yang terpasang bukan bendera tapi lempengan besi yang tertulis bis nomor berapa saja yang berhenti di tempat tersebut dan juga nomor telepon operator bis. Jadi tidak bisa melambai dengan santai dimana saya suka seperti yang bisa dilakukan di Jakarta. Bis pasti berhenti bila ada penumpang yang berdiri di sana.

Ketika pintu bis membuka, “good morning,” sapa supir bis ramah. Saya langsung takjub norak dan hanya nyengir kuda lalu mengatakan tujuan saya serta bertanya harga tiket daypass. Bapak supir dengan sabar memberi tahu harga tiket dan menunjukkan berapa jumlah koin 25 sen yang diperlukan selain 7 dollar yang telah saya siapkan.

Day pass ini semacam tiket terusan. Kalau membeli tiket ketengan akan lebih mahal karena jarak yang akan saya tempuh jauh dan harus berganti bis 4 kali (belum termasuk kalau nyasar). Tiket biasa seharga 3.30 dollar. Dengan day pass, saya cukup menunjukkan tiket tersebut ketika naik bis selanjutnya. Lebih irit kan?

Mengetahui bapak supir ramah, lalu saya putuskan untuk bertanya tiap kali saya ganti bis walaupun rute menuju Orleans sudah di tangan. Syaratnya dua: senyum dan “thank you.”

Bis yang pertama saya naiki bernomor 168 jurusan Katimavik. Pemberhentian pertama saya di Lord Byng/ Kanata untuk selanjutnya transfer bis bernomor 96 menuju Stasiun Hurdman. Yang dimaksud stasiun pun bukan untuk kereta api, tapi seperti terminal bis atau halte yang ditandai dengan tiang bendera atau di beberapa pemberhentian bis disediakan bangku . Bedanya bis yang datang sesuai jadwal, kalaupun telat pasti cuma beberapa menit, tapi kalau ketinggalan bis, ya harus menunggu bis selanjutnya, jaraknya bisa 15 atau 30 menit. Operator bis pun hanya satu, yaitu OC Transpo. Jadi kalau berniat menggunakan bis, lebih baik cek duku di internet jadwalnya agar tidak menunggu terlalu lama.

Turun dari bis 168, saya naik bis 96 menuju Stasiun Hurdman. sampai sana sekitar jam 8, matahari cukup cerah, tapi cuacanya dingin, sekitar 10 derajat Celsius. Saya memaki diri saya yang sempat meminum segelas teh sebelum berangkat. Karena minuman tersebut bersifat diuresis, jadilah saya sibuk menahan BAK sementara saya belum tahu berapa lama lagi perjalanan menuju kediaman teman saya tersebut.

Di stasiun Hurdman, pandangan saya tertuju oleh seorang perempuan berkulit hitam yang mengenakan jilbab. Dengan senyum pede, saya mengatakan “hallo.” Jawaban yang didapat hanya senyum sekilas. Jauh dari harapan saya. Well, ternyata jurus senyum tidak bisa selalu lancar. Harapan saya untuk mempunyai teman kandas pada langkah awal.

Bapak supir 96 mengingatkan saya untuk naik bis bernomor 95 jurusan Orleans dan berhenti di Stasiun Jeanne D’arc (baca: jandark) sebelum saya turun. Saya mengucap terima kasih dan dijawab lantang, “you’re welcome.” Cuaca dingin, tapi tanggapan hangat. So lucky.

Turun di stasiun Jeanne D’Arc 1B, sesuai yang saya salin dari internet, saya harus berjalan ke Jeanne D’Arc 3B, yang berada beberapa meter berlawanan dari 1B. dari stasiun tersebut terlihat papan reklame besar berisi pemberitahuan tentang tanggal dan suhu saat itu: 13 derajat Celsius meski matahari terlihat terik .

Hal yang selalu membuat saya takjub di tempat ini salah satunya adalah kebersihan dari tiap stasiun (sebenarnya sejauh ini dimana-mana tidak terlihat sampah yang berserakan). Memang terlihat beberapa koran yang bersebaran, tapi tak ada bungkus permen, atau sampah lain yang sangat mudah ditemui di halte-halte di Jakarta. Tak lama, seorang laki-laki dengan rompi berwarna kuning ngejreng turun dari sebuah van. Ternyata perugas kebersihan. Dalam beberapa menit stasiun bersih tanpa Koran. Wow, pikir saya takjub. Sudah tata kotanya bagus, masyarakatnya pun aware terhadap kebersihan. No comment.

Di stasiun Jeanne D’Arc saya menunggu bis bernomor 131 jurusan Charlemangne/ Valin. Agak lama, makin menyiksa, karena di stasiun besar macam Hurdman tidak ada toilet umum, apalagi di stasiun Jeanne D’Arc yang kecil.

Jarak dari Jeanne D’Arc ke Charlemangne/ Valin sekitar 30 menit. Seperti biasa, tiap kali naik bis pasti saya tanyakan pada pak supir tempat yang saya tuju. Iseng aja karena supirnya ramah-ramah dan terlihat cool dengan seragam plus topi, dasi, beberapa ada yang berkacamata hitam dan memakai sarung tangan. Supir-supir yang masih muda ada yang memakai celana selutut dan sepatu sneaker. Berseragam tapi tetap funky. Tiap bis dilengkapi dengan GPS. Canggih. Norak saya muncul. Oh iya, supirnya dari berbagai macam latar belakang dari mulai orang Caucasian, India, Sikh, China yang sempat saya lihat. Semua sama ramahnya. Selain karena Kanada adalah negara yang cukup ramah terhadap imigran, juga semua petugas dari OC Transpo ini mendapat training yang disebut “race and enthnicity training” secara konstan.

Turun dari 131, saya celingak celinguk mencari Jalan Sunland, alamat kawan saya tersebut. Dua orang perempuan paruh baya terlihat jogging berlawanan arah dengan saya. Mereka bercakap dalam bahasa Perancis, karena memang 2 bahasa yang dipakai; bahasa Inggris dan Perancis. Mereka melewati saya yang sedang bingung. Tak disangka, beberapa detik kemudian mereka berbalik dan menyapa saya, “can I help you?” Tanya salah satu dari mereka. Saya mengangguk. “Can you tell me where the Sundland is?” si Ibu memberi arah, mengulang kembali dengan lambat– dia tahu saya bukan penutur bahasa Inggris asli. Saya mengucap terima kasih lalu mencari alamat yang dituju.

Sedikit membingungkan, apalagi ditambah dengan keinginan BAK yang besar di cuaca yang sedikit dingin. Akhirnya yang sedikit-sedikit itu menjadi besar dan memusingkan. Saya putuskan untuk menelpon teman saya tersebut. Karena walaupun saya menemukan jalan Sunland, tapi nomor rumah yang saya lihat bernomor 1800an, sementara nomor rumah kawan saya 2000an dan nomor rumah di sini berurutan. Ga akan ada yang rela berjalan menyusuri sekitar 200 rumah dalam keadaan seperti itu.

Di tengah kebingungan, sebuah mobil berhenti di depan saya dan seorang laki-laki dengan riang menyapa, “hi, Sarah.” Saya melongo, tak berapa lama saya baru sadar bahwa pertolongan dalam bentuk suami dari teman saya menjemput dengan mobilnya telah datang. Dengan mudah dia mengenali saya karena, “easy, the only person who is wearing head cover like that on that street is only you.” Saya dan istrinya hanya tersenyum. Benar juga, sebenarnya pertanyaan saya dalam hati tadi, “kok dia bisa tahu?” sangat mudah dianalisa dan dijawab.

Rencana awal saya meninggalkan rumah kawan saya pukul 13.00, tapi karena senang ada teman sesama Indonesia, jadilah beberapa jam terasa cepat. Selain itu, kebetulan hari itu jatuh ulang tahun saya, ternyata Mbak Dian tau dan membuat cake. Wow. Sebelumnya satu-satunya ‘perayaan’ ulang tahun yang saya punya adalah ketika SMA, di mana beberapa teman membuat ‘perayaan’ kecil dengan memecahkan telur dan menebar terigu di kepala saya. Menjengkelkan pada saat itu, tapi kalau dikenang lagi, moment tersebut dirindukan. Yah, selain ‘perayaan’ ala anak ABG, cake pada ulang tahun pada tahun ini terasa lebih special (terima kasih banyak kepada Mbak Dian dan Hall, her lovely hubby, awet terus dan semoga diberi kelancaran menjalankan biduk rumah tangga sampai akhir. Amiiin ya rabbalalamin).

Meski saya molor beberapa jam dari jadwal saya pulang, toh saya masih tetap berniat mampir ke sebuah toko yang menjual makanan, bumbu masak, dan barang-barang rumah tangga asal Asia. Namanya Asian Store. Saya hanya membeli tiga bungkus Indomie yang baru habis dua minggu kemudian. Selain karena memang tidak menyehatkan makan mie instan bila berlebihan, niat mengirit juga ada, karena harganya berlipat dibanding di Jakarta.

Mampir di toko tersebut menimbulkan efek yang membingungkan karena apa yang tertulis di kertas, tentang stasiun mana tempat saya seharusnya menunggu bis untuk pulang, jadi kacau. Saya bahkan tidak tahu dimana saya berada – pastinya. Tapi dengan still yakin, saya yang saat itu berdua dengan Mbak Dian, berpisah di situ dan saya meyakinkan dia – dan yang pasti diri saya sendiri – bahwa saya tau jalan pulang.

Tak begitu sulit sebenarnya, karena 131, bis terakhir yang membawa saya ke Oleans lewat di sana. Naik bis, seperti biasa, langsung saya katakan tujuan saya pada Pak Supir dan minta tolong diberitahu dimana saya harus turun. Alhamdulillah saya bisa juga sampai di rumah host family meski dalam 4 jam, karena saya terlewat beberapa stasiun jadi terpaksa turun dan mengambil arah balik. Pengalaman yang menyebalkan, tapi sangat bermanfaat karena keledai pun tak akan jatuh di lubang yang sama. Apalagi saya. Lain kali, ketika saya berjalan-jalan lagi, insha Allah say No to nyasar. Well, paling tidak, tidak nyasar di rute tadi.

Dunia ini sebesar ini tak akan habis meski kita menjelajahinya sepanjang hidup kita. Walaupun berbeda dalam banyak hal, seharusnya tidak menjadikan halangan untuk berbaur. Bukankan sudah dituliskan di kitab suci bahwa kita diciptakan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal?

Sukses untuk semua ya….

Cultural Shock a.k.a Gegar Budaya*

Salah satu mata kuliah favorit saya ketika masih di bangku FKIP adalah CCU atau Cross Culture Understanding. Selain dosennya merupakan dosen favorit saya, Bp. Bahrul Hasibuan, juga karena mata kuliah ini mempelajari tentang budaya di negeri Paman Sam. Namun budaya yang dibahas lebih kepada pergaulan sehari-hari dan system pendidikan di sana. Sangat menarik apalagi ditambah dengan pengetahuan Bp. Bahrul tentang negara sana dan beberapa negara di Eropa, karena memang beliau pernah mendapat beasiswa di Inggris untuk S2. Membuat iri – dalam arti yang positif tentunya, sebagai motivasi.

Membandingkan sesuatu merupakan hal yang menarik, tapi bukan untuk membandingkan orang perorang. Hal yang paling menarik adalah ketika mendapatkan sebuah informasi baru yang menarik dan membuat penasaran. Sepanjang kuliah kadang saya membayangkan diri saya berada di sebuah tempat dimana saya buta akan budayanya dan segala macam. Membuat adrenalin terpacu tapi penasaran, seperti kata Bang Haji; PE NA SA RAN!

Sebelumnya pernah meminjam buku tentang Cultural Shock di perpustakaan Diknas. Kalau tidak salah ingat saya pernah meminjam buku tentang Amerika, Arab, dan satu lagi Malaysia. Saya sendiri di rumah punya sebuah buku Cultural Shock tentang Indonesia yang ditulis oleh dua orang expatriate yang telah belasan tahun tinggal di Jakarta. Buku lama, tahunnya lupa, tapi yang pasti saat itu menteri Pariwisatanya adalah Bp. Joop Ave karena beliau memberi kata pengantar di halaman awal buku. Ada yang ingat tahun berapa, selain Mbah Google?

Bukunya belum habis saya baca, tapi ada beberapa hal yang saya ingat dimana kita, sebagai orang Indonesia dikenal memang mempunyai budaya ‘Rubber Watch’alias “jam Karet.” Sang penulis menyarankan bila diundang oleh orang Indonesia, 15 menit atau 30 menit telat adalah hal yang ‘biasa.’ Jadi… forget about on time or in time.

Selain itu juga dibahas tentang adat perkawinan maupun kematian di beberapa suku di Indonesia. Yah, memang kalau membicarakan Indonesia akan lebih asyik bila persuku karena tiap suku unik dan mempunyai hal yang berbeda dengan yang lain. Indonesia adalah negara multicultural dimana kita saling melengkapi dan bertoleransi. Agak sulit diterima akal sehat bila kita membicarakan budaya yang beragam di sini dan tidak ada secercah rasa bangga terhadap hal tersebut. Tapi berhubung banyak koran nasional lebih tertarik membahas banyaknya ‘wakil rakyat’ (entah rakyat mana yang dimaksud) yang teridentifikasi melakukan korupsi, yah, kalau hal ini saya ikut merasa malu sebagai bagian dari warga negara yang bekerja untuk menggemukkan koruptor dan keluarganya. Hell is the perfect place for all the curroptors.

Angan-angan saya terjawab. Meski saya di sini bukan sebagai sebagai penerima beasiswa, tapi sebagai pekerja, setidaknya rasa penasaran yang pernah ada sedikit banyak terjawab.

Cultural shock yang pertama saya alami ketika sampai di bandara Toronto. Saat itu sekitar pukul 7 malam dan sebelum memutuskan untuk antri untuk trasit lagi, saya ke toilet. Toilet tidak ada yang kosong dan ada seorang pegawai perempuan yang sedang mengepel lantai toilet. Saya tersenyum sambil mengucap ‘hallo’ dan dijawab ramah, lalu saya berdiri di depan pintu salah satu toilet, seperti yang biasa saya lakukan di tanah air. Saya pun kena tegur, “line up over there, please.” Katanya sambil menunjuk toilet ujung. Ok, saya menurut. Memang lebih bagus begini, antri artinya ya antri.

Itu satu.

Setelah terbang lagi sekitar satu jam menuju Ottawa, saya sudah ditunggu oleh host family di bandara. Saya minta maaf karena telat. Mereka pun mengerti karena saya bukan pemegang paspor Kanada dan harus melalui imigrasi yang antriannya mengular.

Satu hal yang unik dan saya anggap blessing in disguise saat saya di bandara Toronto adalah adanya seorang ibu asal India yang menggunakan kursi roda yang mengantri di depan saya. Dia tidak mengerti Bahasa Inggris sama sekali. Ketika ditanya, dia menjawab dalam bahasa Hindi yang membuat saya menganga bingung sambil menerima sebuah surat dari ibu tersebut yang ternyata berisi nama ibu tersebut, alamat di India, alamat yang dituju di Kanada, serta penjelasan tujuan dia datang ke Kanada. Tertulis bahwa sang anak berada di distrik lain. Wow, saya takjub. Sang anak, entah disebut tega atau memang BENAR-BENAR percaya terhadap negara ini sehingga membiarkan ibunya terbang sendiri dari India menuju Kanada hanya dengan secarik kertas. Yang pasti, saya salut dengan professionalitas petugas bandara.

Kenapa saya sebut blessing in disguise? Karena saat saya sedang mengantri di imigrasi, ibu itu berada di depan saya, tak ada petugas disana. Saya bermaksud menanyakan di mana keluarganya, tapi seorang petugas imigrasi yang melihat itu bertanya apakah saya keluarga dari ibu tersebut. Saya jawab bukan. Lalu sang petugas meminta saya untuk mendorong kursi roda ibu tersebut. Saya lakukan walau dalam hati saya merasa deg deg-an, takut ketinggalan pesawat ke Ottawa mengingat pemberangkatan kurang dari satu jam lagi dan di depan saya ada sekitar 50 orang.

Antrian berjalan lambat. Tak disangka, seorang petugas imigrasi membuka batas dan meminta saya keluar dari antrian. Saya ditanya pertanyaan yang sama, apakah kami pergi berdua. Saya katakan, “no. im going to Ottawa and this lady is going to another dictric.” Saya meminta surat di tangan ibu tersebut. Beruntung, meski diminta mendorong, saya diberikan prioritas juga. Pesawat tetap ketinggalan, tapi tak apa karena saya tidak perlu membayar apapun – hal yang sebenarnya saya takutkan. Mengeluarkan uang!

Penerbangan dari Toronto ke Ottawa sekitar satu jam dengan Air Canada. Nyaman. Namun satu hal yang selalu saya lihat: layar di depan saya yang menunjukkan sisa waktu tempuh!

Ternyata saya telah ditunggu oleh host family. Kami segera ke parkir setelah saya mengambil koper saya. Saya dipersilakan duduk di depan, sebelah supir, karena sang ibu menjaga anaknya yang masih bayi di bangku belakang. Karena di Indonesia pengemudi mobil berada di sebelah kanan, maka saya dengan manis membuka pintu sebelah kiri. Sementara sang ayah, si pengemudi, berada di kanan sambil membuka pintu. Dia mengatakan, “Sarah, over here.” Dengan pelan saya melongok ke dalam. Ups, bangku pengemudi. Saya pun memutar. Di dalam mobil sang ayah berkata, “so in Indonesia the driver is on the right. Wow, the same like in England. I went studying in England. So I knew it.” Saya hanya tersenyum dan berkomentar sedikit-sedikit tentang cuaca, tentang lalu lintasnya, dan hal lainnya sebagai ice breaker.

Nah, berhubung supir berada di sebelah kiri, otomatis menunggu bis di sebelah kanan. Kalau kita berjalan pun, seharusnya berada di sebelah kanan. Suatu kali saya berjalan sore sendirian di sebuah taman dekat tempat tinggal host family. Karena terbiasa berjalan di sebelah kiri, maka hal itu tidak berubah. Di depan saya ada seorang bapak-bapak yang berjalan berlawanan arah dengan saya, dia berjalan tepat di depan saya. Saya pikir, “lah, nih babeh-babeh kok ga minggir.” Dua meter sebelum menabrak bapak itu, saya berpindah jalur mendadak. Orang itu tetap berjalan seolah tidak ada orang lain. Saat itulah saya sadar bahwa saya harus mulai belajar untuk terbiasa berjalan di sebelah kanan.

Selain transportasi dan lalu lintas, teknologi juga berbeda jauh. Serba mesin, serba listrik. Mulai dari vacuum cleaner yang umum di Indonesia sampai dengan tutup tempat sampah yang terbuka secara otomatis ketika kita berjalan melewati tempat sampah tersebut. Terserah mau dikatakan norak atau apapun, tapi memang saya tertegun dan tersenyum norak mengalami itu semua.

Ada satu hal menarik. Karena menu utama di sebagian besar daerah di Indonesia adalah nasi, rice cooker menjadi benda yang umum ditemui di hampir setiap rumah. Nah, berhubung menu utama di sini adalah roti, jadi yang umum ada adalah microwave atau toaster. Suatu kali host family ingin memasak nasi. Saya melihat berkeliling dapur modern yang lumayan besar itu, lalu bertanya, “where do you put the rice cooker?” host family balik bertanya, “what is rice cooker?” Saya jelaskan tentang rice cooker dan cara pemakaiannya. Dia hanya mengangkat bahu dan berkata, “we don’t have it.” Haaa… akhirnya ada juga teknologi yang tidak umum di sini.

Sudah sekitar tiga minggu saya di sini dan host family membuatkan rekening bank untuk saya. Kartu pengenal Kanada saya tidak punya, hanya passport dan surat dari imigrasi. Ternyata itu cukup. Tellernya seorang wanita berparas manis dengan aksen India yang ringan. Sangat ramah. Dia menjelaskan semuanya dengan jelas dan disudahi dengan pertanyaan, “do you have any question?” Saya katakan, “yea. How much is the minimum amount if I wanna put some cash here?” Dijawab dengan senyum, “we don’t have minimum amount. I will show you the machine.” Saya, dan host family mengikuti ibu teller tersebut.

Di depan bank yang terletak di dalam sebuah pusat perbelanjaan itu ada sebuah mesin seperti ATM, tapi sedikit lebih besar. Saya diminta membuat PIN, 4 digit. Saya lakukan. Lalu dijelaskanlah, “on the right, you can use for putting some cash, and on your left is for withdrawing money.” Saya bertanya ulang, “I don’t need to go to the teller?” Dia menjawab, “no, let me show you how it work.” Dan dia mendemonstrasikannya.

Diakhir penjelasan, dengan polos dan saya katakan, “gosh…. so sophisticated.” Dia tersenyum lebar, “just let me know when you wanna put some money or withdraw some money for the first time. I will be on that desk.” dia menunjuk meja tempat kami duduk tadi.

Saya lega. Malu tidak ada, karena bisa jadi dia sudah bisa menebak bahwa saya tidak terbiasa atau belum pernah menggunakan mesin seperti itu sebelumnya. Paling tidak, satu lagi pengetahuan saya dapatkan hari itu dan saya yakin masih banyak “shock shock” lain yang akan saya temui.

Have a nice day…

* Cultural Shock: Gegar budaya merupakan istilah yang digunakan bagi menggambarkan kegelisahan dan perasaan (terkejut, kekeliruan, dll.) yang dirasakan apabila seseorang tinggal dalam kebudayaan yang berlainan sama sekali, seperti ketika berada di negara asing. Perasaan ini timbul akibat kesukaran dalam asimilasi kebudayaan baru, menyebabkan seseorang sulit mengenali apa yang wajar dan tidak wajar. Sering kali perasaan ini digabung dengan kebencian moral atau estatik yang kuat mengenai beberapa aspek dari budaya yang berlainan atau budaya baru tersebut. Istilah ini mulai diperkenalkan pertama kali pada tahun 1954 oleh Kalvero Oberg.

Labirin Raksasa I

Menghabiskan hampir seumur hidup di sebuah wilayah tidak otomatis membuat kita mengenal baik wilayah tersebut. Pasti ada yang terlewat atau bahkan tidak kenal sama sekali. Selain bisa karena wilayahnya terlalu luas, bisa juga karena kemampuan menjelajah terbatas atau… karena sulit memahami sebuah wilayah. Hal ini biasanya dialami oleh mereka yang mempunyai kemampuan spatial yang ala kadarnya. Jadi kadang meski sudah berulang kali menjelajah tempat yang sama, tetap saja arah pintu keluar pasti berbeda dengan pintu masuk, alias nyasar dan tidak mampu menemukan posisi awal.

Tamat SMP, orang tua saya menyekolahkan saya di sekolah kejuruan di daerah Benhil. Tiga tahun bolak balik daerah tersebut seharusnya membuat saya hafal nama-nama gedung di sekitar sekolah tersebut, atau nama gedung yang selalu saya lewati tiap kali berangkat dan pulang sekolah. Tapi ternyata bukan jaminan. Gedung Jamsostek di Jalan Gatot Subroto pun baru tahu, itupun karena ada keperluan di sana. Kalau tidak ada keperluan dan ketika ada yang tanya gedung tersebut pada saya, kemungkinan akan saya jawab, “ha? Emang ada gedung jamsostek di Gatot?”

Beberapa bulan lalu, ketika mendapat panggilan untuk interview di Kedutaan Kanada di daerah Karet, tiga kali saya melewati gedung yang saya tuju. Alhasil, pada saat interview hasilnya kacau balau, karena rasa keki dan cape tidak bisa dihilangkan hanya dalam sekian menit. Untung tidak telat interview.

Selain menuju ke gedung itu, ada beberapa pengalaman serupa tapi tak sama yang saya hadapi. Ketika akan mengajukan visa melalui VFS, tertulis alamatnya Jln. Jendral Sudirman. Meluncurlah saya dengan Beat kesayangan berisi full bensin ke arah Sudirman, lanjut Thamrin, Bunderan HI, sampai Sarinah. Blank. Target lewat. Akhirnya putar balik, tanya pak polisi beberapa kali sambil menunjukkan alamat lengkap dan nama gedung tersebut. Akhirnya diketahui bahwa gedung tersebut setelah gedung BEJ. Meluncur….

Betapa bersyukurnya saya ketika menemukan gedung yang saya maksud. Motor saya belokan, berniat masuk dan parkir motor, apa daya, banyak gedung di sana tidak menyediakan area untuk parkir motor. Kalau pun ada, area tersebut hanya untuk yang langganan. Tak ada jalan lain, terpaksa putar balik dan mencari parkir liar yang sebelumnya saya lihat. Letaknya agak jauh dari gedung tujuan, sekitar 3 atau 4 gedung jaraknya, tapi saya tidak punya pilihan.

Proses yang saya butuhkan untuk membereskan dokumen yang dibutuhkan hanya beberapa menit, nyasarnya dua jam lebih.
Keluar dari gedung, saya bertanya pada abang penunggu parkir liar tersebut jalan menuju Blok M, satu-satunya patokan saya untuk pulang. Dengan simpel abang itu mengatakan, “lurus aja mba.” Jadilah saya lurus di jalur kiri, ketika saya sadar bahwa jalur kiri tidak selamanya untuk lurus, sudah telat. Saya terbawa arus kendaraan yang belok kiri. Alhasil, harus putar balik dan kembali melewati gedung tadi dan segera ambil jalur kanan agar kejadian tidak terulang. Parahnya, sebelumnya beberapa kali saya melewati daerah tersebut untuk meminjam buku di Perpustakaan Diknas, sebelah Ratu Plaza. Rasanya dongkol berat, seberat Pretty Asmara!

Sampai rumah, si Beat haus. Jarum sudah di angka merah hanya dalam waktu sekian jam.

Banyak lagi. Belum terhitung sekian kali nyasar di Robinson Ps. Minggu. Bayangkan! Tempat sekecil itu cukup membuat saya bingung. Kalau ITC Cempaka Mas jangan ditanya. Seorang teman sejak sekolah kejuruan bernama Novi pun nyasar. Ceritanya dia membeli baju anak-anak, tak dinyana ukurannya kekecilan. Dari Bekasi ke Cempaka Mas berniat menukar baju keesokan harinya, apa daya, tempat tersebut seperti labirin. Hanya lelah yang didapat. Cempaka Mas – Bekasi ditempuh tanpa hasil yang diharapkan.

Banyak orang saya rasa punya rasa bingung yang sama ketika memasuki area yang besar dan tidak familiar, tapi sebagian dari mereka mempunyai feeling yang bagus terhadap arah atau mampu memperkirakan jarak dan ruang, jadi seberapa jauh pun mereka masuk, pasti mereka mampu menangkap secara visual apa yang telah dilewati dan posisi awal dengan mudah ditemui.
Saya tidak mempunyai dua duanya.

Ketika masih di akademi, saya dan beberapa teman mengunjungi Mal Kelapa Gading. Kami semua tidak familiar dengan mal tersebut. Semua bingung. Sebenarnya ada seorang teman yang mempunyai kemampuan spatial yang baik, tapi saya dengan bodohnya meyakinkan mereka untuk mengikuti feeling saya. Dan bodohnya lagi, mereka menurut. Alhasil, kami makin jauh masuk ke dalam. Buang waktu dan tenaga. Sejak saat itu saya tidak percaya feeling saya dalam hal menuntun pada jalan yang benar.

Pengalaman terakhir nyasar di Jakarta saya alami dengan seorang teman bernama Iwan. Mendapat undangan pernikahan dari seorang kawan SMA, pasti saya sanggupi untuk datang meski tertulis undangan mulai jam 7 malam sampai jam 9. Berhubung Jakarta bukan tempat yang aman untuk berkendara, apalagi malam hari, dan ditambah lokasi yang masih belum jelas, saya putuskan untuk mengajak seorang teman laki-laki untuk menemani saya – selain menemani nyasar, juga sebagai tameng bila di jalan ada hal yang tidak diharapkan terjadi. Sedia payung sebelum hujan. Sedia bodyguard sebelum dipalak. Walaupun saya ragu apakah teman saya ini lebih berani dari saya bila keadaan genting, meski dia laki-laki (peace Wan hehehe).

Seminggu sebelumnya saya sudah mem-booking Iwan untuk menemani saya. Alhamdulillah dia bersedia. Saya beri jaminan bahwa saya akan menjemput dan antar dia dengan selamat sampai di rumah, karena dia tanggung jawab saya sepanjang jam itu.

Hari itu Iwan baru selesai melakukan seleksi terakhir pemilihan calon Abang None Jakarta di Jakarta Utara. Saya sarankan untuk berhenti di stasiun Tanjung Barat agar bisa saya jemput, mampir sebentar di rumah untuk magriban, lalu jalan menghadiri resepsi.

Mama tertawa begitu melihat saya yang memboncengi Iwan, berhubung dia belum bisa mengendarai motor. Saya tidak bermasalah dengan itu sama sekali. Mama tertawa pun bukan mengejek, hanya merasa bahagia karena bukan cuma mama yang belum bisa mengendarai motor, tenyata seorang laki-laki muda pun belum tentu bisa, itu intinya.

Di peta tertulis lokasinya berada di lingkungan DPR/MPR. Pikiran saya melayang tempat demo, dari Gatot Subroto lurus ke arah Slipi. Tapi adik saya menyarankan untuk mengambil rute Pondok Indah. Beberapa kali terpaksa berhenti untuk bertanya. Walaupun akhirnya sampai juga setelah nyaris 2 jam. Masalah kecil terjadi. Seharusnya belok kanan masuk gedung, saya lurus karena buta peta, dan Iwan pun idem. Akhirnya motor numpang parkir di gedung agak jauh dari target. Penjaga gedung dengan meyakinkan mengatakan, “lurus aja, nanti jalan sekitar 5 menit.”
Kami lurus. 5 menit lewat. Ketika melewati penjaga, sang sekuriti sudah menebak tujuan kami. Dia mengatakan, “jalan ke arah sana, sekitar 500 meter.” Gubrak!!!

Yah, untungnya masih ada beberapa kawan lama di sana, termasuk Novi, yang mungkin telah ikhlas menerima bahwa ITC Cempaka Mas belumlah jadi levelnya untuk hunting toko yang sama :) , sama seperti saya.

Dan, untungnya juga, makanan masih tersedia cukup untuk mengisi perut kami yang mencari alamat kesana kemari, seperti seorang Ayu Ting Ting yang mencari Alamat Palsu pacarnya. Cukup pula untuk mengisi tenaga Iwan yang berjuang seharian untuk mencoba menjadi calon dari Pulau Seribu, dan pasti cukup untuk mengobati kekecewaannya ketika namanya tidak keluar sebagai wakil dari sana. Well, see from the bright side. Saya pun begitu. Tak apalah nyasar, minimal bisa jadi bahan untuk memancing senyum kawan-kawan yang mungkin terlilit masalah yang pasti tak ada kata akhir.

Semoga menghibur dan have a nice day….
Nyasar tiada bertepi…

Tentang Kecerdasan – Tentang Eksistensi Diri

Ingat masa-masa waktu duduk di SD. Sebenarnya memorinya banyak yang hilang sih, tapi ada beberapa yang tertanam kuat, salah satunya ketika saya dipilih oleh guru kelas sebagai salah satu murid yang diharuskan untuk mengikuti les tambahan matematika setelah pulang sekolah. Lesnya disediakan gratis oleh sekolah, dan yang mengajar guru kelas juga.

Pertama kali merasakan ikut tambahan matematika waktu kelas empat (4)SD, saat itu gurunya Almarhum Pak Odjo. Saya ingat betul beliau begitu sabar dan tidak pernah didapati marah-marah dalam kelas. Cara mengajarnya simpel sebenarnya, jadi mudah dipahami oleh saya yang memusuhi matematika, tapi karena kelas isinya banyak kepala, jadi butuh konsentrasi ekstra untuk memahaminya. Untung sekolah tanggap dan Pak Odjo rela memberi pelajaran tambahan bagi beberapa murid, termasuk saya.

Saya kira bukan cuma saya di dunia ini yang agak anti dengan hitung-hitungan. Banyak orang di luar sana berharap kelas baru atau jurusan yang akan diambil tidak ada matematika. Sayang seribu sayang, harapan tinggal harapan. Mau ke arah Utara, Timur, Barat, atau Selatan, tetap ketemu hitung-hitungan dengan berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk pelajaran statistic dan semacamnya. Atau untuk mereka yang mengambil kuliah perawatan, pasti bertemu hitung-hitungan di dalam pelajaran farmakologi – ini jatohnya hitung takaran obat – belum lagi menghitung tetesan infus permenit. Dan lain sebagainya. Ga bisa di hindari.

Nah, balik ke romantika masa SD. Selain kelas penuh anak-anak yang kadang sibuk sendiri sehingga membuat konsentrasi pecah berkeping, ditambah lagi jumlah mata pelajaran yang banyak – 9 ya kalau ga salah – dan berhubung saya sekolah di sekolah swasta dengan basic agama, pasti ada tambahan beberapa mata pelajaran tentang agama. Intinya, ga salah kalau disebut “beban pelajaran.” Kadang memang benar terasa membebani. Tapi toh kita tidak punya pilihan selain mengikuti apa yang sudah tertulis di peraturan yang ada. Nilai akademik menjadi prioritas selain perilaku.

Ada seorang teman satu kelompok, saya ingat namanya Rafiqi. Orangnya gendut, pintar matematika. Ayahnya salah satu guru kelas di sekolah kami walaupun beliau tidak pernah memegang kelas kami. Beberapa kali Pak Izi Rahman, namanya, memberi les tambahan matematika pagi hari. Sangat membantu. Tapi memang sudah dari sananya lemot untuk menyerap matematika, ditambah lagi dengan rasa tertekan mendengar ‘pelajaran matematika’, rasanya makin mati kutu. Tapi toh tetap hal itu dijalani dan sangat bersyukur meski nilai matematika paling tinggi 7 (itu pun Aljabar, satu-satunya materi favorit saya. Bangun ruang? Forget it, please….). Makin itu diingat, makin merasa bodoh karena tulalit memahami rumus. Waktu SMP pernah membuat contekan rumus, ternyata nilai yang didapat hanya 3. Memalukan.

Sebenarnya bukan cuma matematika, hampir semua mata pelajaran, kecuali menggambar, nilai saya bikin panik, kalau ditiup sedikit bisa jatuh dan terjun bebas ditambah lagi kotak hitamnya jatuh ke dalam pasir hidup. Kadang-kadang berkhayal menjadi orang cerdas seperti salah satu idola saya, Bp. BJ. Habibie, Bp. Jusuf Kalla atau setidaknya seperti Macgyver lah….(Tapi “mana mungkin???? Membaca saja aku sulittttt)

Setelah sebesar ini baru saya mempelajari bahwa kecerdasan bukan cuma seberapa besar nilai ulangan atau di raport. Dalam teori Howard Gardner (1983), seorang ahli riset dari Amerika, menyebutkan bahwa ada 8 (delapan) jenis kecerdasan, antara lain:
a. Kecerdasan liguistik
b. Kecerdasan logis-matematis
c. Kecerdasan spasial
d. Kecerdasan musical
e. Kecerdasan kinestetik-jasmani
f. Kecerdasan antarpribadi
g. Kecerdasan intrapribadi
h. Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence)

Tiap macam kecerdasan ada karakternya, misalnya nih, seseorang yang memiliki kecedasan linguistic, bisa dipastikan dia itu mampu berargumentasi, meyakinkan orang lain (bakat jadi sales or pengacara), menghibur atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata. Gemar membaca dan dapat mengartikan bahasa tulisan dengan jelas. Cocok untuk mereka yang berminat menjadi penyair, jurnalis.

Well, pass. Saya bukan tipe ini. Ada sedikit tipe yang nyerempet. Cuma nyerempet, belum nabrak!

Lalu kecerdasan logis-matematis. Yah, udah pasti saya di luar kotak. Ciri-ciri orang dengan kecerdasan ini adalah; mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi (kalau saya mudah membuat orang lain marah); berpikir dalam pola sebab akibat, menciptakan hipotesis; pandangan hidupnya bersifat rasional (saya irrasional, main tabrak dan sedikit ambisius). Yak, yang mau jadi ilmuwan, akuntan, programmer silahkan diasah kecerdasan ini.

Kecerdasan musical? Wah, jauh dari ciri-ciri ini; Peka nada dan menyanyi lagu dengan tepat; dapat mengikuti irama; mendengar music dengan tingkat ketajaman lebih. (Pengalaman buruk saya terakhir ketika saya bernyanyi adalah membuat sholat teman batal karena dia tidak mampu menahan tawa mendengar saya bernyanyi).

Orang dengan kecerdasan kinestetik-jasmani ciri-cirinya; menikmati kegiatan fisik (olahraga) ; cekatan dan tidak bisa tinggal diam; berminat dengan segala sesuatu. Yang merasa mempunyai ciri-ciri ini disarankan mempunyai cita-cita seperti atlet, pengrajin, montir, menjahit, merakit model. Lagi-lagi saya “ga bangeetttt” kalau kata anak ABG.

Lain lagi dengan orang yang cerdas dalam aspek antarpribadi. Ini adalah kemampuan untuk memahami dan bekerjasama dengan orang lain. Kecerdasan ini terutama menuntut kemampuan untuk menyerap dan tanggap terhadap suasana hati dan hasrat orang lain. Bisa mempunyai rasa belas kasihan dan tanggung jawab sosial yang besar. Mereka mempunyai kemampuan untuk memahami orang lain dan melihat dunia dari sudut pandang orang yang bersangkutan. Cocok untuk mereka yang bercita-cita menjadi networker, negosiator, guru. (Sepertinya bukan lagi….bekerjasama dalam sebuah kelompok salah satu tantangan berat untuk orang macam saya yang tingkat toleransinya kadang di bawah 0 derajat Celsius).

Kecerdasan intrapribadi maksudnya mereka yang mampu untuk memahami diri sendiri dan percaya kepada diri sendiri. Anak-anak dengan kecerdasan intrapribadi tinggi umumnya lebih suka bermain sendiri, berkehendak kuat, dan tidak mudah dipengaruhi maupun diatur, bahkan mungkin kerap kali dicap keras kepala atau pemberontak. Padahal, yang sebenarnya diinginkan oleh anak-anak ini adalah melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri. Yak, yang merasa punya percaya diri tinggi setinggi anda memakai rexona, silakan ngacung dan masuk kelompok ini dan cocok menjadi konselor atau teolog, contohnya.

Mereka yang mempunyai kecerdasan naturalis adalah yang mempunyai kemampuan mengenali bentuk-bentuk alam serta hidup harmoni bersama alam. Anak-anak dengan kecerdasan naturalis tinggi mungkin akan suka bermain tanah atau pasir, berani memegang anjing, kucing, atau binatang lainnya. Mereka suka bermain dan berada di alam terbuka. Cita-cita yang cocok petani, nelayan, pendaki, pemburu.

Yah… sebenarnya ga parah-parah amat sih. Dari sekian jenis kecerdasan, ada satu atau dua kritria yang dibuat Gardner ada dalam diri saya. Tapi lagi-lagi kalau dibuat skor, mungkin maksimal 7. Bagaimana dengan teman-teman?

Oh iya, ada satu jenis kecerdasan yang benar-benar tidak saya punyai, yaitu kecerdasan spatial. Untuk orang yang hobi nyasar, selamat datang, bagian ini bukan untuk kita. Kecerdasan yang mencakup berpikir dalam gambar, serta mampu untuk menyerap, mengubah dan menciptakan kembali berbagai macam aspek visual (arsitek, fotografer, designer, pilot, insinyur)
Ciri-ciri mereka yang mempunyai kecerdasan jenis ini adalah;
- Kepekaan tajam untuk detail visual, keseimbangan, warna, garis, bentuk dan ruang
- Mudah memperkirakan jarak dan ruang
- Membuat sketsa ide dengan jelas

Pengalaman nyasar saya punya banyak. Di dalam mall atau ITC di Jakarta saja saya seringa nyasar, apalagi ini di negeri orang.

To be continued…

Sukses ya… semua….

(dikutip sebagian dari Mbah Google)

Arti Kehadiran Teman III

Kopi darat. Istilah ini awalnya dipakai oleh pemakai radio amatir. Maksudnya ya bertemu dengan orang yang awalnya cuma didengar suaranya melalui radio. Kalau zaman internet sekarang, kopi darat lebih sering berarti bertemu dengan seseorang yang kita temui di dunia maya. Kebanyakan yang ditemui melalui situs pertemanan atau chatting.

Sekali saya kopi darat, tapi setelah itu tidak lagi. Itupun iseng. Lebih sering menemani teman yang kopi darat karena pasti ditraktir makan. Saya asik makan, teman saya asik ngobrol atau malah asik bingung cari topik yang tepat untuk dibicarakan. Tapi kalau lihat dari pengalaman teman saya tersebut sih, dia lebih banyak bingungnya. Saya? Kenyang…..

Entah berapa kali saya menemani teman saya tersebut untuk kopi darat. Mungkin nyaris sepuluh kali. Sepuluh-sepuluhnya meleset alias tidak berlanjut menjadi hubungan serius seperti yang dia harapkan. Jangankan hubungan serius, berteman pun tidak. Alasannya banyak. Tapi secara umum karena apa yang digambarkan melalui dunia maya jauh berbeda dengan aslinya (saya bukan membicarakan tentang performa fisik).

Ketika mengobrol di dunia maya, semua terasa lancar, seolah-olah sudah kenal baik, atau begitu perhatian. Tapi ketika ditemui? Ada saja komplain dari teman saya, entah orangnya terlalu pendiam, atau terlalu possesif, atau ga nyambung ketika diajak bicara. Itu hak dia. Saya angkat tangan. Lah gimana saya bisa mengiyakan atau memberi penilaian, kan saya asik makan? Tapi ada saat saya memberi komentar. Cuma sekali, itupun karena perbedaannya terlihat sekali.

Sekali itu teman saya dengan heboh mengatakan akan bertemu dengan seorang laki-laki yang begitu baik dan berumur hanya tiga tahun lebih tua darinya. Namun ketika ditemui? Ternyata seorang laki-laki yang jauh lebih dewasa daripada teman saya dan berstatus single parent. Ha??? Untuk umur pun dia menipu, siapa yang bisa menjamin kalau dia benar-benar single?

Itulah dunia maya. Serba abstrak. Kabur. Kadang ngaco. Kadang lebay. Kadang meleset. Kadang tepat. Untung-untungan. Nah, itulah mengapa saya tidak tertarik memberikan, minimal nomor telepon kepada orang-orang yang saya temui di dunia maya. Karena serba unpredictable. Kudu siap dengan kejutan yang timbul. Saya bermain aman. Berteman dengan orang yang bisa diajak bertatap muka langsung. Tapi itu dulu. Waktu masih di Jakarta, dimana orang dengan mudah ditemui. Tapi saya di kampung orang sekarang yang kondisinya jauh berbeda. Dimana saya tidak mempunyai teman yang bisa mengenalkan saya ketemannya yang lain, yang bisa membantu saya memperluas pergaulan.

Hari kerja saya hampir sama dengan orang yang bekerja kantoran. Hari Sabtu bekerja setengah hari. Hari minggu libur. Dua minggu sebelumnya saya mengunjungi seorang teman asal Indonesia yang tinggal sekitar tiga jam dari tempat host family saya. Minggu setelahnya saya sibuk memutar otak mencari cara untuk keluar seharian, mencari tempat yang bisa dituju. Di kepala saya terbayang mall yang dikunjungi sebelumnya, dimana saya melihat orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Itu tujuan awal saya. Tapi saya urungkan. Akhirnya saya hanya mengunjungi walmart yang tidak jauh dari sini, membeli oreo, keripik kentang, dan….. kuaci!!!! Mereka akan jadi teman baik saya sebelum saya menemukan teman yang benar-benar bisa diajak berbicara. Seorang teman chatting berkomentar bahwa saya akan gemuk bila mengkonsumsi itu. Saya hanya memutar bola mata saya. Untung dia tidak melihat dan merasakan frustasinya saya membaca komentarnya.

Perbedaan dulu dengan sekarang.
Dulu:
- Ketika ditanya “rumahnya dimana?” paling jauh saya katakan, “dekat Ragunan.” Titik. Tidak akan ada alamat terperinci.
- Ketika diminta nomor telepon, pasti saya diamkan. Dibilang sombong pun tidak peduli. Jujur, saya terlalu waspada (baca: takut).
- Ketika ditanya PIN BB pasti saya jawab, “kere, ga pake bebe.” Amin.
- Ketika ditanya, “boleh kenalan ga?” Jawaban saya lurus, “boleh.” Orang tersebut langsung ilfil. Pasti.

Itu dulu, ketika saya dikelilingi teman-teman

Tapi sekarang apapun saya lakukan untuk mendapatkan teman. Saya suka menyendiri, tapi tidak terbiasa sendiri. Hal pertama yang saya lakukan adalah googling mencari komunitas orang Indonesia disini. Tidak ditemukan.

Sebelum kesini, seorang teman mengingatkan untuk tidak terlalu bergabung dengan komunitas Indonesia demi meningkatkan kemampuan bahasa asing. Saya harus katakan tidak terhadap ide itu sekarang.

Komunitas tidak terdeteksi. Tidak hilang akal, saya bergabung di dating sites! Mencari satu persatu orang-orang dengan wajah atau nama asia tenggara yang tinggal di negara ini, syukur-syukur di kota yang sama. Laki-laki dan perempuan. Tabrak semua. Hasilnya? dari sekitar 10 orang yang saya kirimi surat, yang benar-benar tinggal disini hanya dua orang: satu orang Indonesia di Toronto, sekitar empat jam jalan darat, satu jam bila naik pesawat. Dengan cuek saya katakan pada teman baru saya yang di Toronto kalau saya baru tinggal disini dan butuh teman, saya pun dengan santai mengirim sms, “mau ya jadi teman saya?” Duh, kasihan ga sih???

Yang kedua adalah seorang teman yang belakangan saya tahu berasal dari Afghanistan. Dalam profilnya ditulis bahwa dia baru di Ottawa. Idem. Akhirnya…. Pikir saya, ada juga. Ditulis juga dia butuh teman. Bernapas lebih lega. Saya juga butuh!!! Akhirnya, dengan senang hati, saya tulis bahwa saya juga baru di kota ini dan saya pun butuh teman. Dengan memelas saya katakan, “would you be my friend?” gayung bersambut. Dia bertanya nomor telepon saya. Tidak perlu berpikir dua kali atau mempertahankan rasa parno, nomor telepon langsung saya berikan, dan ditelepon hari itu juga.

Satu kelegaan tersendiri ketika kita merasa kita tidak sendiri. Sampai sini saya mendapat pelajaran baru: lebih menyayangi teman-teman yang ada di depan mata dan buka kesempatan berteman.

I love you full, my friends…