Sebuah artikel menarik saya baca baru-baru ini, yaitu tentang Ramadhan.
Sebagai orang yang terlahir dari keluarga Muslim, saya, dan mungkin
banyak juga yang lain cenderung untuk take it for granted ajaran yang
ada, tanpa mau bersusah payah mencari alasan dan manfaat dibalik semua
itu. Contoh kecil, berhubung bulan ini bulan suci Ramadhan, beberapa
tahun lalu saya puasa ya karena itu
salah satu dari lima Rukun Islam, selain mengucap dua kalimat Syahadat,
sholat lima waktu, melaksanakan zakat dan pergi haji bagi yang mampu.
Nyatanya hikmah di balik puasa itu banyak dan sudah dibuktikan dengan
kajian ilmiah dari peneliti Muslim maupun non Muslim. Salah satunya
adalah kajian dari Dr Oz. Tahu Dr. Oz kan? Itu tuh, si dokter ahli bedah
jantung yang caem dan pandai yang suka muncul di Oprah Show yang juga
merupakan salah satu dari 500 tokoh muslim yang menginspirasi dunia.
Dr. Mehmet Cengis Oz menyampaikan bahwa puasa adalah salah satu bentuk
diet sehat. Puasa, menurutnya, adalah salah satu bentuk detoksifikasi
racun-racun yang ada di tubuh. Puasa juga salah satu bentuk
detoksifikasi paling alami dan natural yang dapat dilakukan, daripada
melakukan diet tertentu. Menurutnya, puasa dapat mengkondisikan tubuh
untuk mengeluarkan racun, karena sebenarnya tubuh manusia telah memiliki
sistem detoksifikasi secara alami. Dengan pola makan teratur di bulan
puasa, tubuh kita dapat terkondisikan untuk melakukan detoksifikasi
secara alami. Organ-organ metabolisme detoks, yakni hati, usus besar dan
ginjal secara sistematis mengolah dan memilah makanan beserta racun
yang mungkin terkandung di dalamnya. Puasa akan mengoptimalkan kerja
organ metabolisme detoks tersebut sehingga hasil detoksifikasinya lebih
lancar dan natural.
Itu salah satu dari banyak kajian, banyak
pula yang lain, dari segi psikologis, stamina, dan lain-lain (bisa
dibaca tentang pesepak bola dunia yang tetap berpuasa selama Ramadhan,
didapatkan kondisi psikologis mereka lebih bagus). Nah, karena hal-hal
yang masuk akal itulah yang memacu semangat menyambut Ramadhan, dan
bukan lagi menganggap Ramadhan adalah gerbang untuk angpao saat lebaran,
bukan pula pakaian baru, atau sekedar gaji dobel karena THR. Hal-hal
kecil tersebut tidak sebanding dengan makna bulan suci ini. Apalagi
disebutkan bahwa ”Penghulu segala bulan ialah bulan Ramadhan dan
penghulu hari adalah hari Jumat.” (HR. Al-Bazzar). Penjelasan dari
hadist tersebut, seperti termuat di Republika Online: Sunnatullah yang
berjalan di alam ini menetapkan bahwa diantara segala sesuatu, ada
sesuatu yang diunggulkan karena keistimewaan dan kelebihan yang
dimilikinya. Diantara rumah misalnya, ada rumah yang unggul, yaitu
Ka'bah sebagai Baitullah 'rumah Allah'. Di kalangan manusia juga ada
manusia yang unggul, yaitu Rasulullah SAW. Diantara air, air zamzam
adalah air unggulan. Di antara hari ada hari istimewa, yaitu hari Jumat.
Dan, diantara dua belas bulan ada bulan unggulan, dialah bulan
Ramadhan. No doubt.
Ketika pertama kali menginstal software
adzan dari Islamic Finder, saya langsung melotot tak percaya melihat
waktu subuh dengan magrib yang berjarak kurang lebih 17 jam. Saya
bandingkan dengan di Jakarta yang sekitar 13 atau 14 jam. Saya pikir,
“haduh, berat banget ya kalau pas puasa?” jadilah saya berulang kali
menghitung ulang, saya pikir mungkin jadwalnya salah, belakangan saya
sadar, bahwa sayalah yang tukang nawar.
Seperti tahun
sebelumnya, Ramadhan disambut dengan semangat, walaupun orang lain
melihat saya datar-datar saja, tapi sebenarnya saya suka senyum-senyum
sendiri ketika mendekati Ramadhan, Tanya Kenapa? Saya tidak tahu.
Begitupun ketika disini, walaupun mencoba ‘menjajah’ perasaan excited
tersebut dengan berulang kali mengucap, “17 jam bo! 17 jam!” tetap saja
euphoria itu muncul.
Beberapa hari sebelum Ramadhan, keluarga
ini menanyakan apakah saya akan berpuasa. Saya katakan, “insha Allah.”
Saya tanyakan apakah mereka berpuasa, mereka katakan, mereka memilih
membayar fidyah, karena lamanya waktu puasa dan ancaman dehidrasi
menakutkan mereka. Saya mengangguk-angguk saja. Bukan mengiyakan, tapi
sekedar menghormati pendapat mereka.
Sesuai jadwal puasa dari
toko yang menjual makanan halal yang saya dapatkan, awal puasa di kota
ini tanggal 20 Juli. Saya ikut. Sehari sebelumnya sudah mempersiapkan
diri dengan gelas yang menampung 900 cc demi menghindari ‘dehidrasi’,
mie instan kalau malas sahur terlalu lama, dan printilan lain yang kalau
dilihat-lihat ‘sangat tidak penting dan ngawur’, seperti potato chip
dan coklat chip.
Bangun sahur pukul 03.00 pagi, imsak pukul
03.39. Otomatis saya hanya punya waktu 39 menit. Mie instan ala Jepang
produksi US jadi pembuka. Cukup masukkan air dan taruh di microwave
selama 4 menit, begitu petunjuknya. Saya ikut. Karbohidrat tersedia,
protein siap, vitamin dari sayur dan buah dan vitamin sintetik jadi
pelengkap. Sahur ngebut. Kebiasaan yang memperlambat waktu makan sulit
dihilangakan. Jadilah selama sahur mepet itu, tetap mata saya membaca.
Apa saja. Kebetulan saat itu saya menyimpan selebaran yang dibagikan di
lingkungan ini. Selebaran dari supermarket-supermarket. Selebaran paling
atas saya lihat dan saya baca. Terdapat gambar berbagai macam biscuit
dengan bentuk tulang yang terlihat sangat anggun berada digigitan seekor
anjing. Selebaran dari supermarket yang menjual makanan binatang
peliharaan.
Mie habis lima menit sebelum imsak,
menurut jam dalam ponsel yang saya lirik sekilas. Jadilah buah sebagai
hidangan terakhir saya lahap dengan cepat. Dalam hati saya bertanya,
sepertinya ada yang hilang. Saya tertegun sejenak. Saya menyadari segera
bahwa suara-suara bacaan ayat suci dan suara merbot yang mengingatkan
bahwa imsak sebentar lagi dari TOA mussala yang bersahut-sahutan tidak
ada. Sepi dan dingin pada sahur pertama dan pasti sepanjang Ramadhan
ini. Saya rindu suara itu.
Selamat berpuasa...
Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 29 Juli 2012
Dari Menara (yang pernah menjadi) Tertinggi di Dunia
Terletak di area downtown Toronto dan pernah menjadi tower tertinggi di
dunia selama tiga decade, Canadian National Tower atau CN Tower dibuka
untuk umum pada 26 Juni 1976. Sekarang menara yang tertinggi terletak di
Dubai, namanya Burj Khalifa, tingginya 800 meter atau sekitar enam kali
lipat tingginya monas. Menara tertinggi kedua ada
di China, namanya Canton Tower yang tingginya sekitar 600 meter. CN
Tower muncul dinomor tiga dengan ketinggian 553.3 meter. Dari 76 daftar
mas Wiki tentang menara tertinggi di dunia, Indonesia belum masuk
daftar. Kalaupun masuk daftar, bukan kategori menara yang tertinggi,
tapi menara dengan tinggi antara 200-250 meter, ada Indonesia
didalamnya, yaitu menara TVRI yang dibangun pada tahun 1994 di Jakarta,
dengan tinggi sekitar 239 meter. Lumayan.
Saat memutuskan mau ke Toronto, terus terang hanya mau keliling downtown, cari suasana baru, cari pengetahuan baru. Tapi beberapa hari sebelum hari H, keluarga ini menyarankan untuk mengunjungi CN Tower dan menceritakan dengan heboh tentang menara tersebut. Bagaimana saya bisa melihat pemandangan dari tempat tinggi, bagaimana menyeramkannya berdiri di glass floor, dan lain sebagainya. Saya tertarik karena melihat betapa berapi-apinya dia bercerita tentang tempat tersebut.
Pukul 9 pagi saya meninggalkan rumah kenalan saya dan sampai di tempat pukul 11. Itupun entah berapa orang yang saya tanyai. Yang pasti orang pertama adalah Pak Polisi yang sedang berjaga di lingkungan tempat kenalan saya tersebut, lalu kenalan asal Indonesia yang tinggal di Toronto sana juga menelpon dan membantu saya mencari jalan yang baik dan benar. Tapi karena nama-nama yang diberikan asing, maka tak lama setelah telepon ditutup saya kembali bingung. “Ha? Dia bilang apa tadi?” Alhasil, bis yang lewat saya naiki dan tanya pada pak supir.
Ada beberapa paket tur yang ditawarkan. Saya sengaja ambil paket komplit karena terpengaruh dengan ocehan host fam ini dan semakin bersemangat karena dalam brosur yang diberikan, terdapat gambar dua orang yang bergantung di dinding hanya dengan seutas tali. Wow,Saya mau itu!!!
Ada lima kegiatan atau atraksi yang ditawarkan, antara lain: look out, glass floor, sky pod, Himalamazon, dan Legends of Flight. Tidak harus mengambil semua, bisa saja hanya mengambil LookOut + Glass Floor + Choice of SkyPod, Film or Motion Theatre Ride atau hanya LookOut + Glass Floor. Tentu saja harga tiket akan disesuaikan. Kalau paket combo alias komplit, tiketnya seharga 35.99 belum pajak. Setelah pajak jadinya 40an. Kalau hanya empat atraksi harga tiketnya 29.99, dan hanya dua atraksi seharga 23.99. Itu harga dewasa. Untuk anak-anak dan sepuh beda lagi, yang pasti lebih murah.
Saya sengaja ambil paket komplit, karena mengharapkan atraksi menggantung di dinding seperti dalam gambar di buku Guest Guide. Semangat sekali.
Banyak orang yang berkunjung pada hari itu, bisa jadi karena long weekend. Sabtu lalu Minggu bablas Senin, libur karena 1 Juli merupakan Canada Day. Sebenarnya 1 Juli jatuh pada hari Minggu, tapi Senin diliburkan juga. Public Holiday kalau jatuh pada hari Minggu kurang terasa, karena itu Senin diliburkan. Asoy.
Rata-rata yang datang kesana berpasangan atau dengan teman. Diantrian yang saya lihat, banyak anak-anak ABG datang segerombolan, juga yang sedang kasmaran (uhuy!!!), keluarga juga banyak. Di belakang saya ada seorang ayah dengan anak perempuannya yang masih kecil. Saya berpikir, “kemana tuh emaknya?” Usil sekali kadang-kadang.
Masuk ke sana melewati pemeriksaan dan juga masuk ruangan dan disemprot, entah dengan cairan apa. Yang pasti saya kaget karena si Mbak hanya meminta saya masuk. Ternyata bukan saya saja yang kaget, tapi seorang laki-laki yang sebelumnya masuk juga kaget ketika kena semprot.
Antrian mengular dan berisik karena kawanan ABG tersebut. Saya belum mampu menangkap apa yang mereka ucapkan, jujur. Para ABG perempuan berpakaian nyaris sama yaitu tank top dipadu dengan hot pants. Yang laki-laki T- shirt dan celana dombrong, beberapa memakai topi yang entah sengaja dimiringkan atau memang miring secara natural mengikuti pikirannya.
Lift yang difungsikan untuk pengunjung saat itu hanya satu. Lumayan memakan waktu walaupun kecapatan lift tersebut 22 km/ jam dan hanya perlu kurang dari satu menit mencapai ketinggian 346 meter tidak lain dan tidak bukan karena banyaknya pengunjung yang datang, sementara kapasitas lift kurang lebih 15 orang. Liftnya unik, karena berdiding kaca, jadi sepanjang nyaris satu menit itu, penghuni lift bisa melihat dunia lain di bawah sana. Maksudnya area downtown. Yang takut ketinggian pasti melengos tanpa ampun.
Selama menunggu, para pengunjung ditawari berfoto. Yang berombongan, yaaa difoto bersama rombongannya, yang datang bersama keluarga, berfoto bersama keluarga, saling berhimpitan. Saya? Lega… berfoto sendiri. Saya angkat tiket dan brosur tempat itu. Hanya beberapa detik, lalu diberikan kertas sebesar kartu nama untuk mengambil foto itu nantinya. Entah dimana, tapi pasti masih dalam tower ini.
Area yang pertama dikunjungi adalah Look Out. Saya hanya tahu artinya literally. Tapi berhubung teringat akan cerita host fam tentang tempat tersebut, jadi yang ada di pikiran saya adalah sebuah tempat yang bisa memacu adrenalin.
Sang gadis muda guide berbaju merah menjelaskan tentang area yang dituju dan tentang kecepatan lift diantara riuh rendahnya ocehan para ABG. Sang guide tidak peduli didengar atau tidak oleh para ABG, senyum riangnya tetap terpampang. Terlihat jelas dia sangat menikmati pekerjaannya.
Keluar dari lift, saya menengok kiri kanan seperti orang mau menyebrang jalan, lalu mengikuti rombongan yang satu lift dengan saya tadi. Mereka semua melihat keluar jendela berkaca lalu membentuk ekspresi kagum. Saya ikutan melihat keluar jendela. Di bawah sana terdapat pemandangan Toronto. Oh, ini toh. Ternyata Look Out yaaaa look out. Saya baru nyambung, harapan saya tentang ‘memacu adrenalin’ meluncur turun secepat lift tadi. Tapi toh tetap saya foto pemandangan dari atas untuk mengisi page ini.
Masih ada empat kegiatan lain, pikir saya. Pasti ada yang bikin deg degan. Tanpa buang waktu, saya ikuti antrian yang mengular di depan saya. Entah kemana, saya ikut saja.
Antrian tersebut ternyata mengarah ke Sky Pod. Apapula ini. Setelah mengantri nyaris 10 menit, sampailah pada tempat tersebut. Sky Pod dan Look Out intinya sama: sama-sama melihat pemandangan kota dari ketinggian. Bedanya di Sky Pod, bukan lagi diketinggian 346 meter, tapi 447 meter. Saya, yang lemah dalam kalkulasi dan kurang sensitive terhadap perubahan pemandangan dari ketinggian yang berbeda tersebut, hanya melongok sebentar keluar jendela kaca, memutari tempat kecil tersebut, lalu chao.
Antri lift lagi, karena hanya ada satu lift. Tak lama, mungkin sekitar lima enam menit. Tujuannya? Hanya ikut-ikutan orang. Ternyata lift tersebut membawa saya ke Glass Floor. Glass Floor, sesuai namanya, ya lantai yang terbuat dari kaca. Jadi selama berdiri di atas lantai tersebut, kita bisa melihat pemandangan di bawah sana. Banyak pengunjung hanya berlutut di pinggir Glass Floor dan melongok ke bawah. Banyak juga yang mencoba jalan diatasnya dan minta difoto oleh koleganya. Seorang anak perempuan kecil dengan santai berjalan menyusuri lantai tersebut. Saya, setelah berusaha sedikit mencari celah untuk berjalan diatasnya, merekam pemandangan dari tempat tersebut. Tak sampai sepuluh menit disana, tetap berharap sesuatu yang ‘memacu adrenalin’, saya chao.
Sambil berjalan menuju lift untuk turun, saya melihat tiket yang saya pegang. Tersisa Himalamazon dan Legends of Flight.
Lift membawa kami turun ke toko yang menjual souvenir tempat tersebut. Banyak barang, seperti bendera, tas, mug, gantungan kunci, kaos, topi, dan lain-lain. Sempat menyentuh benda-benda seperti mug, botol minuman, dan benda-benda kecil lain yang tertera gambar bendera Kanada dan atau CN Tower. Saya bolak balik dan menemukan kesamannya dari benda-benda tersebut: Made in China.
Saya bertanya pada guide yang saya temui di lift pertama tentang Himalamazon. Dia katakan, silahkan lihat-lihat souvenir dulu. Saya berlalu dan mencari sendiri lokasinya.
Keluar dari toko souvenir, saya mendekati security dan menanyakan tentang lokasi Himalamazon. Sang bapak menujuk sebuah pintu di sebelahnya. Langsung saya masuki.
Ruangan tersebut seperti bioskop mini. Hanya ada beberapa bangku panjang dan layar kecil. Tak lama film diputar, dibuka oleh seorang professor animasi yang bercerita intinya tentang alam. Kurang lebih 10 menit, lalu pengunjung pindah ke ruang sebelah. Disana pengunjung diajak merasakan menjadi sebongkah kayu yang dipotong lalu dihanyutkan di sungai yang banyak buayanya. Seperti de javu. Pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Mungkin di Dufan beberapa tahun yang lalu. Tapi yang ini, benar-benar kena semprot air, walau sedikit, ketika sang kayu terkena kecipak air dari buaya ketika hanyut di sungai. Kebetulan saya duduk di paling depan dan paling ujung. Bukan keinginan saya duduk disana, tapi karena saya paling akhir masuk, itu satu-satunya posisi yang kosong.
Pertunjukkan pamungkas adalah Legend of Flight. Energy nyaris abis. Tas canglong yang isinya netbook dan chargernya, dan sekotak anggur untuk orang satu orang kawan asal Indonesia yang berkerja di Toronto terasa lebih berat, ditambah rasa lapar dan makin berat karena berkhayal tentang Rumah Makan Padang. Khayalan tingkat tinggi.
Legend of Flight. Pintu masuknya Maple Leaf Cinema. Nonton film tentang legend of flight di Canada, sesuai namanya. Bedanya pengunjung memakai kacamata 3D, jadi film terasa real. Pesawat dan orang-orang yang ada di dalam film terasa dekat, seakan bisa disentuh. Film kurang lebih 20 menit. Saya menguap lebar.
Sedikit terhuyung ketika meninggalkan cinema tersebut karena ngantuk. Seperti biasa, keluar pintu saya tengok kiri kanan, kali ini tujuannya mencari toilet. Sambil menuju toilet, saya menandai Exit. Itu pasti artinya keluar.
Saya teringat kertas kecil pengambilan foto. Kebetulan melewati tempat tersebut. Jadilah saya ikutan antri (entah berapa kali saya hanya ikut-ikutan). Orang di depan saya yang berparas Asia Selatan, sepertinya dari Pakistan, saya tanyai tentang foto tersebut, apakah free atau tidak. Pertanyaan bodoh sebenarnya. Mana ada yang free?
Pasangan itu menjawab tidak tahu lalu menyarankan saya untuk memberikan kertas kecil tadi pada petugas. Kartu dilihat dan saya diminta menunggu sebentar. Saya tanyakan berapa harganya. Dijawab, kalau hanya satu foto, seharga 23 dollar, kalau paket, 30 dollar. Dia tunjukkan contohnya. Belum sempat menimbang, seorang laki-laki di sebelah saya bertanya pada petugas.
“So, what will happen with my picture if I don’t wanna take it? You will throw it into garbage?”
Sang petugas hanya tersenyum.
Lalu sang laki-laki berkata, “I don’t wanna pay 30 for these.” Dia pun berlalu.
Fotonya kemungkinan besar memang masuk tempat sampah. Tapi saya salut, dia punya sikap. Sementara saya? Saya ambil foto tersebut dan membayar untuk satu paket. Sebenarnya cuma foto sebesar 4R, kurang lebih, tapi diberi map dengan gambar CN Tower dan bendera Kanada dengan tulisan "Happy Canada Day" serta dua foto kecil dalam sebuah pigura imut yang hanya berumur tiga hari. Anak yang saya asuh ‘tak sengaja’ mematahkan kakinya ketika dia melihat-lihat foto tersebut. Saya protes kecil.
“Hey, you broke my picture.” Protes saya.
Dia menjawab ringan sambil mengangkat bahu dan alis matanya, gayanya seperti orang dewasa, “It’s okay.”
“It’s okay for you, not for me!” jawab saya gusar sambil mengambil foto tersebut dan berjanji akan menjauhkan barang-barang penting saya dari jangkauannya. Seharusnya saya ingat tragedy beberapa hari sebelum saya berangkat ke Toronto, saat itu habis kacamata saya dilumuri body lotion.
Meninggalkan tower tersebut sekitar pukul tiga sore. Matahari terik. Udara di Toronto lebih panas daripada di Ottawa. Yah, pemicu adrenalin tak ada. Tapi paling tidak, penasaran akan tower itu hilang. Bisa jadi itu kunjungan yang pertama dan terakhir, kecuali bila saya beruntung mendapatkan kesempatan untuk mencoba Edge Walk di CN Tower. Namanya baru saya dapatkan ketika saya menulis ini sambil membuka-buka buku Guest Guide tower tersebut. Sedikit kecewa, tapi tetap bersykur. Yah, teringat salah satu ajaran dalam agama: Bersyukurlah, maka akan Ku tambah nikmatmu.
Alhamdulillah
Sukses untuk semua….
Saat memutuskan mau ke Toronto, terus terang hanya mau keliling downtown, cari suasana baru, cari pengetahuan baru. Tapi beberapa hari sebelum hari H, keluarga ini menyarankan untuk mengunjungi CN Tower dan menceritakan dengan heboh tentang menara tersebut. Bagaimana saya bisa melihat pemandangan dari tempat tinggi, bagaimana menyeramkannya berdiri di glass floor, dan lain sebagainya. Saya tertarik karena melihat betapa berapi-apinya dia bercerita tentang tempat tersebut.
Pukul 9 pagi saya meninggalkan rumah kenalan saya dan sampai di tempat pukul 11. Itupun entah berapa orang yang saya tanyai. Yang pasti orang pertama adalah Pak Polisi yang sedang berjaga di lingkungan tempat kenalan saya tersebut, lalu kenalan asal Indonesia yang tinggal di Toronto sana juga menelpon dan membantu saya mencari jalan yang baik dan benar. Tapi karena nama-nama yang diberikan asing, maka tak lama setelah telepon ditutup saya kembali bingung. “Ha? Dia bilang apa tadi?” Alhasil, bis yang lewat saya naiki dan tanya pada pak supir.
Ada beberapa paket tur yang ditawarkan. Saya sengaja ambil paket komplit karena terpengaruh dengan ocehan host fam ini dan semakin bersemangat karena dalam brosur yang diberikan, terdapat gambar dua orang yang bergantung di dinding hanya dengan seutas tali. Wow,Saya mau itu!!!
Ada lima kegiatan atau atraksi yang ditawarkan, antara lain: look out, glass floor, sky pod, Himalamazon, dan Legends of Flight. Tidak harus mengambil semua, bisa saja hanya mengambil LookOut + Glass Floor + Choice of SkyPod, Film or Motion Theatre Ride atau hanya LookOut + Glass Floor. Tentu saja harga tiket akan disesuaikan. Kalau paket combo alias komplit, tiketnya seharga 35.99 belum pajak. Setelah pajak jadinya 40an. Kalau hanya empat atraksi harga tiketnya 29.99, dan hanya dua atraksi seharga 23.99. Itu harga dewasa. Untuk anak-anak dan sepuh beda lagi, yang pasti lebih murah.
Saya sengaja ambil paket komplit, karena mengharapkan atraksi menggantung di dinding seperti dalam gambar di buku Guest Guide. Semangat sekali.
Banyak orang yang berkunjung pada hari itu, bisa jadi karena long weekend. Sabtu lalu Minggu bablas Senin, libur karena 1 Juli merupakan Canada Day. Sebenarnya 1 Juli jatuh pada hari Minggu, tapi Senin diliburkan juga. Public Holiday kalau jatuh pada hari Minggu kurang terasa, karena itu Senin diliburkan. Asoy.
Rata-rata yang datang kesana berpasangan atau dengan teman. Diantrian yang saya lihat, banyak anak-anak ABG datang segerombolan, juga yang sedang kasmaran (uhuy!!!), keluarga juga banyak. Di belakang saya ada seorang ayah dengan anak perempuannya yang masih kecil. Saya berpikir, “kemana tuh emaknya?” Usil sekali kadang-kadang.
Masuk ke sana melewati pemeriksaan dan juga masuk ruangan dan disemprot, entah dengan cairan apa. Yang pasti saya kaget karena si Mbak hanya meminta saya masuk. Ternyata bukan saya saja yang kaget, tapi seorang laki-laki yang sebelumnya masuk juga kaget ketika kena semprot.
Antrian mengular dan berisik karena kawanan ABG tersebut. Saya belum mampu menangkap apa yang mereka ucapkan, jujur. Para ABG perempuan berpakaian nyaris sama yaitu tank top dipadu dengan hot pants. Yang laki-laki T- shirt dan celana dombrong, beberapa memakai topi yang entah sengaja dimiringkan atau memang miring secara natural mengikuti pikirannya.
Lift yang difungsikan untuk pengunjung saat itu hanya satu. Lumayan memakan waktu walaupun kecapatan lift tersebut 22 km/ jam dan hanya perlu kurang dari satu menit mencapai ketinggian 346 meter tidak lain dan tidak bukan karena banyaknya pengunjung yang datang, sementara kapasitas lift kurang lebih 15 orang. Liftnya unik, karena berdiding kaca, jadi sepanjang nyaris satu menit itu, penghuni lift bisa melihat dunia lain di bawah sana. Maksudnya area downtown. Yang takut ketinggian pasti melengos tanpa ampun.
Selama menunggu, para pengunjung ditawari berfoto. Yang berombongan, yaaa difoto bersama rombongannya, yang datang bersama keluarga, berfoto bersama keluarga, saling berhimpitan. Saya? Lega… berfoto sendiri. Saya angkat tiket dan brosur tempat itu. Hanya beberapa detik, lalu diberikan kertas sebesar kartu nama untuk mengambil foto itu nantinya. Entah dimana, tapi pasti masih dalam tower ini.
Area yang pertama dikunjungi adalah Look Out. Saya hanya tahu artinya literally. Tapi berhubung teringat akan cerita host fam tentang tempat tersebut, jadi yang ada di pikiran saya adalah sebuah tempat yang bisa memacu adrenalin.
Sang gadis muda guide berbaju merah menjelaskan tentang area yang dituju dan tentang kecepatan lift diantara riuh rendahnya ocehan para ABG. Sang guide tidak peduli didengar atau tidak oleh para ABG, senyum riangnya tetap terpampang. Terlihat jelas dia sangat menikmati pekerjaannya.
Keluar dari lift, saya menengok kiri kanan seperti orang mau menyebrang jalan, lalu mengikuti rombongan yang satu lift dengan saya tadi. Mereka semua melihat keluar jendela berkaca lalu membentuk ekspresi kagum. Saya ikutan melihat keluar jendela. Di bawah sana terdapat pemandangan Toronto. Oh, ini toh. Ternyata Look Out yaaaa look out. Saya baru nyambung, harapan saya tentang ‘memacu adrenalin’ meluncur turun secepat lift tadi. Tapi toh tetap saya foto pemandangan dari atas untuk mengisi page ini.
Masih ada empat kegiatan lain, pikir saya. Pasti ada yang bikin deg degan. Tanpa buang waktu, saya ikuti antrian yang mengular di depan saya. Entah kemana, saya ikut saja.
Antrian tersebut ternyata mengarah ke Sky Pod. Apapula ini. Setelah mengantri nyaris 10 menit, sampailah pada tempat tersebut. Sky Pod dan Look Out intinya sama: sama-sama melihat pemandangan kota dari ketinggian. Bedanya di Sky Pod, bukan lagi diketinggian 346 meter, tapi 447 meter. Saya, yang lemah dalam kalkulasi dan kurang sensitive terhadap perubahan pemandangan dari ketinggian yang berbeda tersebut, hanya melongok sebentar keluar jendela kaca, memutari tempat kecil tersebut, lalu chao.
Antri lift lagi, karena hanya ada satu lift. Tak lama, mungkin sekitar lima enam menit. Tujuannya? Hanya ikut-ikutan orang. Ternyata lift tersebut membawa saya ke Glass Floor. Glass Floor, sesuai namanya, ya lantai yang terbuat dari kaca. Jadi selama berdiri di atas lantai tersebut, kita bisa melihat pemandangan di bawah sana. Banyak pengunjung hanya berlutut di pinggir Glass Floor dan melongok ke bawah. Banyak juga yang mencoba jalan diatasnya dan minta difoto oleh koleganya. Seorang anak perempuan kecil dengan santai berjalan menyusuri lantai tersebut. Saya, setelah berusaha sedikit mencari celah untuk berjalan diatasnya, merekam pemandangan dari tempat tersebut. Tak sampai sepuluh menit disana, tetap berharap sesuatu yang ‘memacu adrenalin’, saya chao.
Sambil berjalan menuju lift untuk turun, saya melihat tiket yang saya pegang. Tersisa Himalamazon dan Legends of Flight.
Lift membawa kami turun ke toko yang menjual souvenir tempat tersebut. Banyak barang, seperti bendera, tas, mug, gantungan kunci, kaos, topi, dan lain-lain. Sempat menyentuh benda-benda seperti mug, botol minuman, dan benda-benda kecil lain yang tertera gambar bendera Kanada dan atau CN Tower. Saya bolak balik dan menemukan kesamannya dari benda-benda tersebut: Made in China.
Saya bertanya pada guide yang saya temui di lift pertama tentang Himalamazon. Dia katakan, silahkan lihat-lihat souvenir dulu. Saya berlalu dan mencari sendiri lokasinya.
Keluar dari toko souvenir, saya mendekati security dan menanyakan tentang lokasi Himalamazon. Sang bapak menujuk sebuah pintu di sebelahnya. Langsung saya masuki.
Ruangan tersebut seperti bioskop mini. Hanya ada beberapa bangku panjang dan layar kecil. Tak lama film diputar, dibuka oleh seorang professor animasi yang bercerita intinya tentang alam. Kurang lebih 10 menit, lalu pengunjung pindah ke ruang sebelah. Disana pengunjung diajak merasakan menjadi sebongkah kayu yang dipotong lalu dihanyutkan di sungai yang banyak buayanya. Seperti de javu. Pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Mungkin di Dufan beberapa tahun yang lalu. Tapi yang ini, benar-benar kena semprot air, walau sedikit, ketika sang kayu terkena kecipak air dari buaya ketika hanyut di sungai. Kebetulan saya duduk di paling depan dan paling ujung. Bukan keinginan saya duduk disana, tapi karena saya paling akhir masuk, itu satu-satunya posisi yang kosong.
Pertunjukkan pamungkas adalah Legend of Flight. Energy nyaris abis. Tas canglong yang isinya netbook dan chargernya, dan sekotak anggur untuk orang satu orang kawan asal Indonesia yang berkerja di Toronto terasa lebih berat, ditambah rasa lapar dan makin berat karena berkhayal tentang Rumah Makan Padang. Khayalan tingkat tinggi.
Legend of Flight. Pintu masuknya Maple Leaf Cinema. Nonton film tentang legend of flight di Canada, sesuai namanya. Bedanya pengunjung memakai kacamata 3D, jadi film terasa real. Pesawat dan orang-orang yang ada di dalam film terasa dekat, seakan bisa disentuh. Film kurang lebih 20 menit. Saya menguap lebar.
Sedikit terhuyung ketika meninggalkan cinema tersebut karena ngantuk. Seperti biasa, keluar pintu saya tengok kiri kanan, kali ini tujuannya mencari toilet. Sambil menuju toilet, saya menandai Exit. Itu pasti artinya keluar.
Saya teringat kertas kecil pengambilan foto. Kebetulan melewati tempat tersebut. Jadilah saya ikutan antri (entah berapa kali saya hanya ikut-ikutan). Orang di depan saya yang berparas Asia Selatan, sepertinya dari Pakistan, saya tanyai tentang foto tersebut, apakah free atau tidak. Pertanyaan bodoh sebenarnya. Mana ada yang free?
Pasangan itu menjawab tidak tahu lalu menyarankan saya untuk memberikan kertas kecil tadi pada petugas. Kartu dilihat dan saya diminta menunggu sebentar. Saya tanyakan berapa harganya. Dijawab, kalau hanya satu foto, seharga 23 dollar, kalau paket, 30 dollar. Dia tunjukkan contohnya. Belum sempat menimbang, seorang laki-laki di sebelah saya bertanya pada petugas.
“So, what will happen with my picture if I don’t wanna take it? You will throw it into garbage?”
Sang petugas hanya tersenyum.
Lalu sang laki-laki berkata, “I don’t wanna pay 30 for these.” Dia pun berlalu.
Fotonya kemungkinan besar memang masuk tempat sampah. Tapi saya salut, dia punya sikap. Sementara saya? Saya ambil foto tersebut dan membayar untuk satu paket. Sebenarnya cuma foto sebesar 4R, kurang lebih, tapi diberi map dengan gambar CN Tower dan bendera Kanada dengan tulisan "Happy Canada Day" serta dua foto kecil dalam sebuah pigura imut yang hanya berumur tiga hari. Anak yang saya asuh ‘tak sengaja’ mematahkan kakinya ketika dia melihat-lihat foto tersebut. Saya protes kecil.
“Hey, you broke my picture.” Protes saya.
Dia menjawab ringan sambil mengangkat bahu dan alis matanya, gayanya seperti orang dewasa, “It’s okay.”
“It’s okay for you, not for me!” jawab saya gusar sambil mengambil foto tersebut dan berjanji akan menjauhkan barang-barang penting saya dari jangkauannya. Seharusnya saya ingat tragedy beberapa hari sebelum saya berangkat ke Toronto, saat itu habis kacamata saya dilumuri body lotion.
Meninggalkan tower tersebut sekitar pukul tiga sore. Matahari terik. Udara di Toronto lebih panas daripada di Ottawa. Yah, pemicu adrenalin tak ada. Tapi paling tidak, penasaran akan tower itu hilang. Bisa jadi itu kunjungan yang pertama dan terakhir, kecuali bila saya beruntung mendapatkan kesempatan untuk mencoba Edge Walk di CN Tower. Namanya baru saya dapatkan ketika saya menulis ini sambil membuka-buka buku Guest Guide tower tersebut. Sedikit kecewa, tapi tetap bersykur. Yah, teringat salah satu ajaran dalam agama: Bersyukurlah, maka akan Ku tambah nikmatmu.
Alhamdulillah
Sukses untuk semua….
Cita-Cita (yang ga) Penting: Backpacker (Toronto II)
Masa-masa kuliah kadang menyenangkan, kadang tidak. Alasan kenapa tidak
menyenangkan salah satunya bisa karena dosen berhalangan hadir lalu
mahasiswa (seperti saya) merasa sia-sia datang ke kampus. Mending kalau
mata kuliahnya minimal empat sehari. Kadang mata kuliah sehari cuma satu
atau dua. Parahnya, mata kuliah awal pada jam 8 atau
9 pagi, dan yang kedua siang atau sore nanti. Buang-buang waktu macam
itu membuat badan pegal, karena sudah dengan semangat seadanya untuk
bangun di pagi hari, buru-buru ke kampus, dan mendapatkan berita
peng-cancel-an jadwal. Tapi sebenarnya serba salah juga. Kadang dosennya
ada, mahasiswanya menggerutu, dosen tidak masuk, mahasiswa juga
menggerutu. Yah, itulah manusia. Bikin bingung.
Salah satu hiburan pembunuh waktu selain ngobrol ngalor ngidul dengan teman, atau tidur di masjid adalah memelototi computer yang terhubung dengan internet. Padahal ga ada yang penting juga. Yah, adalah beberapa hal yang penting yang perlu ditanyakan ke Mbah, tapi biasanya cuma googling sebentar, copied ke word, saved dan that’s it. Baca hasil googling urusan belakangan, toh ga ada tanggal kadaluarsanya itu copyan. Yang paling paling paling sering dibuka mahasiswa paling-paling fesbuk.
Sewaktu masih di bangku kuliah saya membuat account fb, tapi dibukanya hanya sekali dua kali dalam beberapa bulan. Tidak ada alasan lain membuat account tersebut selain karena penasaran. Jadilah account tersebut di nonaktifkan. Saya jarang buat status, status terakhir dengan account yang lama adalah: I feel like I wanna exile myself.
Deactivated.
Sedikit terdengar lebay, tapi memang saat itu, itulah yang benar-benar dirasakan. Mau pergi kemana gitu, cari tempat buat mengasingkan diri dari hingar bingar dunia gemerlap (hello… siapa kamu???). Itulah saat pertama berpikir ingin menjadi seorang backpacker.
Saat itu sadar belum mampu untuk menjadi backpacker. Banyak hal, antara lain karena kuliah sekalian kerja juga belum tahu komunitasnya. Berpergian sendiri alamat ga mungkin, karena saya sadari dari awal, kemampuan spatial saya ala kadarnya. Sempat juga membicarakan hal ini dengan seorang kawan yang saya panggil Uni Desy. Dia pun merasakan hal yang sama, ada saatnya ingin keluar dari rutinitas dan menjalani hal yang benar-benar baru. Tapi kendala yang dia punya lebih besar dari yang saya hadapi, karena dia sudah menjadi seorang ibu. Sulit dibayangkan seorang ibu menjadi backpacker sementara anaknya menghadapi buku pelajaran dan Iqro hampir setiap harinya :)
Mimpi itu tersimpan di alam bawah sadar, tersimpan di angan-angan paling tinggi, dan yang tertinggi adalah, tersimpan dalam catatan-Nya. Entah itu terkabul atau tidak, yang pasti Dia berjanji akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.
Kawan saya yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri itu pasti mendapatkan hal yang lebih baik daripada menjadi seorang backpacker. Well, mungkin belum sekarang, tapi Dia pasti menuntun hamba-hamba-Nya untuk mendapatkan hal yang terbaik. Selalu. Sementara saya? Belum menjadi real backpacker, tapi setidaknya pernah merasakan. Walaupun tidak 100% ala backpacker.
Mas Wikipedia menjelaskan backpacker sebagai orang yang berpergian di dalam maupun ke luar negeri hanya dengan membawa ransel, pakaian secukupnya, dan barang lain yang dianggap perlu. Menginap pun tidak di hotel, paling ke motel atau hostel. Liburan prihatin.
Ketika memutuskan untuk pergi ke Toronto, motel jadi sasaran awal saya. Cek ricek di Mbah, biaya permalam berkisar antara 45an sampai 100. Banyak yang menawarkan dikisaran harga 50an. Saya menimbang-nimbang sebentar, lalu mencari lagi yang lebih murah, jadilah hostel. Harganya sekitar 15-40an permalam. Fasilitasnya kalau yang paling murah disebutkan tidak mendapat linen (terus?? Maksudnya suruh bawa sendiri?). Satu tempat tidur bisa berdua, atau satu kamar bisa isinya berempat dan kamar mandi berbagi dengan penghuni lain. Internet rata-rata tersedia, walaupun dibeberapa review orang yang pernah memakai hostel, internetnya lambat. Yah, apa mau dikata. Kalau mau yang asoy, ya ke hotel yang pasti jauh lebih mahal. Untuk harga tertinggi di hostel, bisa mendapat kamar sendiri dan kamar mandi di dalam. Nyaris seperti motel, tapi dengan harga yang lebih rendah.
Sempat membidik beberapa hostel, walaupun ternyata jadinya nebeng di tempat teman untuk dua malam. Imbalannya hanya sekotak anggur dan bertukar cerita tentang banyak hal, salah satunya tentang makanan dan menu orang Indonesia yang didominasi oleh nasi. Sarapan: nasi. Makan siang: nasi. Makan malam: nasi. Dia berujar, “gosh… I will not marry Indonesian.” Saya hanya nyengir melihat roti yang dihidangankan di depan saya. Sarapan: roti. Makan siang: roti. Makan malam: roti. Saya berujar, dalam hati tentunya, “kami pun akan sedih bila makan roti terus menerus.”
Pakaian yang saya bawa pun seadanya. Yang pasti, celana jeans saya pakai selama dua malam tiga hari itu. Ga ganti, ga masalah. Hati toh tetap gembira dan puas, selain karena menjelajah daerah baru (plus nyasarnya) kesampain juga menjadi seorang backpacker selama sekian jam. Dalam perjalanan pulang, saya berpikir tujuan selanjutnya.
Montreal.
Sukses untuk semua
Salah satu hiburan pembunuh waktu selain ngobrol ngalor ngidul dengan teman, atau tidur di masjid adalah memelototi computer yang terhubung dengan internet. Padahal ga ada yang penting juga. Yah, adalah beberapa hal yang penting yang perlu ditanyakan ke Mbah, tapi biasanya cuma googling sebentar, copied ke word, saved dan that’s it. Baca hasil googling urusan belakangan, toh ga ada tanggal kadaluarsanya itu copyan. Yang paling paling paling sering dibuka mahasiswa paling-paling fesbuk.
Sewaktu masih di bangku kuliah saya membuat account fb, tapi dibukanya hanya sekali dua kali dalam beberapa bulan. Tidak ada alasan lain membuat account tersebut selain karena penasaran. Jadilah account tersebut di nonaktifkan. Saya jarang buat status, status terakhir dengan account yang lama adalah: I feel like I wanna exile myself.
Deactivated.
Sedikit terdengar lebay, tapi memang saat itu, itulah yang benar-benar dirasakan. Mau pergi kemana gitu, cari tempat buat mengasingkan diri dari hingar bingar dunia gemerlap (hello… siapa kamu???). Itulah saat pertama berpikir ingin menjadi seorang backpacker.
Saat itu sadar belum mampu untuk menjadi backpacker. Banyak hal, antara lain karena kuliah sekalian kerja juga belum tahu komunitasnya. Berpergian sendiri alamat ga mungkin, karena saya sadari dari awal, kemampuan spatial saya ala kadarnya. Sempat juga membicarakan hal ini dengan seorang kawan yang saya panggil Uni Desy. Dia pun merasakan hal yang sama, ada saatnya ingin keluar dari rutinitas dan menjalani hal yang benar-benar baru. Tapi kendala yang dia punya lebih besar dari yang saya hadapi, karena dia sudah menjadi seorang ibu. Sulit dibayangkan seorang ibu menjadi backpacker sementara anaknya menghadapi buku pelajaran dan Iqro hampir setiap harinya :)
Mimpi itu tersimpan di alam bawah sadar, tersimpan di angan-angan paling tinggi, dan yang tertinggi adalah, tersimpan dalam catatan-Nya. Entah itu terkabul atau tidak, yang pasti Dia berjanji akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.
Kawan saya yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri itu pasti mendapatkan hal yang lebih baik daripada menjadi seorang backpacker. Well, mungkin belum sekarang, tapi Dia pasti menuntun hamba-hamba-Nya untuk mendapatkan hal yang terbaik. Selalu. Sementara saya? Belum menjadi real backpacker, tapi setidaknya pernah merasakan. Walaupun tidak 100% ala backpacker.
Mas Wikipedia menjelaskan backpacker sebagai orang yang berpergian di dalam maupun ke luar negeri hanya dengan membawa ransel, pakaian secukupnya, dan barang lain yang dianggap perlu. Menginap pun tidak di hotel, paling ke motel atau hostel. Liburan prihatin.
Ketika memutuskan untuk pergi ke Toronto, motel jadi sasaran awal saya. Cek ricek di Mbah, biaya permalam berkisar antara 45an sampai 100. Banyak yang menawarkan dikisaran harga 50an. Saya menimbang-nimbang sebentar, lalu mencari lagi yang lebih murah, jadilah hostel. Harganya sekitar 15-40an permalam. Fasilitasnya kalau yang paling murah disebutkan tidak mendapat linen (terus?? Maksudnya suruh bawa sendiri?). Satu tempat tidur bisa berdua, atau satu kamar bisa isinya berempat dan kamar mandi berbagi dengan penghuni lain. Internet rata-rata tersedia, walaupun dibeberapa review orang yang pernah memakai hostel, internetnya lambat. Yah, apa mau dikata. Kalau mau yang asoy, ya ke hotel yang pasti jauh lebih mahal. Untuk harga tertinggi di hostel, bisa mendapat kamar sendiri dan kamar mandi di dalam. Nyaris seperti motel, tapi dengan harga yang lebih rendah.
Sempat membidik beberapa hostel, walaupun ternyata jadinya nebeng di tempat teman untuk dua malam. Imbalannya hanya sekotak anggur dan bertukar cerita tentang banyak hal, salah satunya tentang makanan dan menu orang Indonesia yang didominasi oleh nasi. Sarapan: nasi. Makan siang: nasi. Makan malam: nasi. Dia berujar, “gosh… I will not marry Indonesian.” Saya hanya nyengir melihat roti yang dihidangankan di depan saya. Sarapan: roti. Makan siang: roti. Makan malam: roti. Saya berujar, dalam hati tentunya, “kami pun akan sedih bila makan roti terus menerus.”
Pakaian yang saya bawa pun seadanya. Yang pasti, celana jeans saya pakai selama dua malam tiga hari itu. Ga ganti, ga masalah. Hati toh tetap gembira dan puas, selain karena menjelajah daerah baru (plus nyasarnya) kesampain juga menjadi seorang backpacker selama sekian jam. Dalam perjalanan pulang, saya berpikir tujuan selanjutnya.
Montreal.
Sukses untuk semua
Serba Nyaris (Toronto I)
Hari libur. Hari bebas untuk membuka mata lebih lebar dan memperkaya wawasan tentang sekitar. Libur satu hari setiap minggunya sudah cukup ditunggu-tunggu, apalagi long weekend seperti ini. Minggu dan Senin. Pikiran saya jauh-jauh hari sudah membidik Toronto. Walaupun jaraknya cukup jauh, sekitar 5 jam, kalau memakai takaran Google Maps, toh tak menghalangi niat saya tersebut. Jauh-jauh hari pula saya katakan niat saya pada keluarga ini. Mereka mengizinkan, dan mengecek informasi tentang bis tujuan Toronto, biayanya 70 dollar. Saya menimbang-nimbang sejenak. Nyaris saya masukkan ide tersebut di dalam kantong, karena terbentur akomodasi yang lumayan untuk saya.
Malamnya kebetulan seorang kenalan dari internet yang sudah cukup lama menjadi penduduk sini on line. Sedikit berbasa-basi awalnya, dia menanyakan rencana long weekend saya. Saya katakan rencana ke Toronto, tapi kemungkinan kecil, karena ongkos bisnya cukup besar. Dia menyarankan saya menggunakan rideshare yang bisa ditemui di situs bernama kijiji. Jari saya langsung mengetik beberapa tombol dan dalam waktu singkat sudah didapatkan informasinya.
Rideshare, dari namanya sudah bisa ditebak, intinya, yang punya mobil dan menuju ke Toronto atau terserah yang punya mobil, mau memberi tumpangan, sekalian jalan, seperti itu. Tapi ada juga yang memang dikelola seperti bisnis. Kalau ke Toronto biaya yang dikenakan 30 dollar sekali jalan, lebih murah dari bis. Tentu saja saya memilih rideshare. Api semangat untuk mengeksplor Toronto kembali dinyalakan. Siap!
Sesuai nasihat teman saya tersebut, saya dianjurkan memasang iklan dua minggu sebelumnya. Terlalu jauh, pikir saya, jadilah satu minggu sebelumnya saya pasang iklan saya tentang butuh rideshare pada hari sekian dan tanggal sekian. Setiap hari saya cek email saya, tapi tidak ada yang tertarik. Atau bisa jadi belum ada yang merencanakan kemana dan kapan menuju Toronto. Mulailah saya nothing to lose. Jadi syukur… ga jadi, ya kecewa juga sih.
Selain ingin merasakan sebagai Dora the Explorer, saya juga berniat bertemu dua orang Indonesia yang tinggal disana. Dua-duanya saya temui lewat situs pertemanan.
Keluarga ini menyarankan saya untuk pergi hari minggu pagi, jadi sampai sekitar minggu siang. Berpikir sejenak, saya putuskan untuk berbicara dengan keluarga ini mengenai waktu bebas saya setengah hari pada hari Sabtu. Sedikit alot, tapi toh saya dapatkan juga. Saya katakan saya kerjakan pekerjaan saya, kewajiban saya, saya tidak akan melanggar aturan rumah dan kontrak saya, dan yang saya gunakan adalah hari bebas saya setengah hari pada hari Sabtu. Jadilah saya meluncur pada Sabtu sore menuju Toronto.
Dua hari menjelang hari Sabtu, nyaris saya batalkan, karena tidak adanya rideshare yang bisa sesuai dengan waktu bebas saya. Yang saya cari adalah rideshare pada pukul 4 atau 5 sore di tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat ini, dan kalau bisa, menjemput saya disini, walaupun saya harus membayar lebih untuk itu. Bukan manja, tapi memang ada beberapa yang menawarkan untuk jemput di tempat dengan biaya lebih tinggi 5 atau 10 dollar. Saya pikir tak apa, toh biaya day pass pun 7 dollar, beda tipis.
Sempat membatalkan dan mencari aktivitas lain untuk mengisi libur. Tapi ada sedikit keyakinan saya, bahwa saya bisa mengunjungi Toronto. Entah keyakinan, entah sok yakin, karena saya sedikit kepala batu. Tapi yang pasti, rideshare masih saya buru.
Akhirnya saya menemukan iklan rideshare yang meninggalkan Ottawa pada pukul 5 sore. Tempat pemberangkatannya di Greenboro, sekitar satu jam dari sini. Jadwalnya hari Sabtu ada yang jam 10 dan jam 5. Saya memilih jam 5. Tapi di hari Jumat, hari dimana saya di minta untuk konfirmasi ulang, ternyata jadwal pada jam tersebut tidak ada, karena ‘shortgage.’ Entah apa maksudnya, tapi saya pikir mungkin penumpang sedikit. Terbayang itu adalah van yang cukup besar yang dikelola memang untuk bisnis rideshare. Saya kecewa dan menyerah.
Iseng mengecek email setelah bekerja, ada sebuah email yang menjawab email saya sebelumnya. Saya baru ingat saat membaca itu, saya pernah mengirim sebuah email ke orang yang menawarkan rideshare pada hari Sabtu, pukul 5 sore. Pengirimnya bernama Anam Ahmed. Saya menelponnya, ternyata seorang perempuan beraksen India. Singkat cerita, jadilah saya ikut rideshare Anam.
Tempat pertemuan di Billings Bridge, sebuah mall yang besar. Hanya dua kali bis dari sini. Saya tiba di mall tersebut pukul 4.30 sore. Masih lama, pikir saya. Jadilah saya masuk mall, bukan untuk melihat-lihat atau berbelanja, tapi mencari toilet.
Memasuki mall tersebut, pengunjung melewati terowongan yang hanya beberapa meter. Baru menginjak muka tunel, saya dihadang oleh seorang perempuan beraksen Filipina yang memberikan brosur untuk saya baca, isinya tentang lembaga kemanusiaan yang butuh sumbangan. Halah! Kebelet, dihadang ini pula. Tak mau repot, terlebih lagi langkah saya terhadang si Mbak tersebut, saya pilih mengikuti apa yang diminta. Masalah ikhlas ga ikhlas, yang penting ketemu toilet segera.
Keluar dari mall dengan perasaan lega, saya menelpon Anam, memberi tahu posisi saya. Dikatakan dia akan telat sekitar 15 menit. Pasrah.
Duduk manis melihat pemandangan orang yang lewat silih berganti di pemberhentian bis tak terlalu mengecewakan. Ada banyak yang bisa dilihat. Banyak perempuan yang memakai jilbab, terutama yang berparas timur tengah dan Afrika. Melintas santai di depan saya seorang perempuan Afrika tinggi langsing, memakai sepatu hak tinggi pula. Saya pikir saya pasti akan terlihat aneh sekali bila berjalan bersisian dengan dia. Jomplang.
20 menit berlalu, saya mulai lapar. Teringat McDonald di pintu masuk mall setelah tunel. Saya pun memasuki mal untuk kedua kalinya. Antri, tapi telepon berbunyi, Anam mengabarkan bahwa dia sudah ada di parkir mall, segera saya keluar dan menuju parkiran. Dia melambai dari sedan civic berwarna biru. Mengucap terima kasih, saya pun masuk kemobilnya.
Di sebelah Anam, si supir, ada ibunya. Di sebelah saya seorang perempuan berparas Afrika. Saya nyengir sambil menyapa.
“I thought I saw you at the bus stop.” Saya membuka percakapan.
“Oh, yes, yes, I saw you too.” Jawabnya ramah.
Dia adalah perempuan Afrika tinggi bersepatu hak tinggi itu. Harapan saya untuk tidak berjalan di sebelah perempuan tinggi ini terhempas jauh karena ketika Anam berhenti untuk membeli makan malam setelah sekitar 3 jam berkendara, saya dan perempuan muda tersebut, yang selanjutnya saya tahu bernama Ayan dan berasal dari Somalia, berjalan bersisian untuk membeli makanan di KFC lalu berjalan bersama ke parkiran. Momen yang indah….
Mbah Google mengatakan untuk mencapai Toronto waktu yang digunakan sekitar 4 jam. Tapi tidak disebutkan dalam kecepatan berapa km/jam. Dan saya tidak tertarik mencari tahu. Saya terima beres.
Yang pasti, GPS di depan supir menunjukkan waktu sampai tujuan sekitar pukul 10 malam. Beberapa kali melirik speedometer, jarum nyaris statis diangka 120 Km/ jam, lalu lintas surga alias kosong. Tancap neng….
Seorang teman yang sudah tinggal di Toronto sekitar 5 tahun sudah menunggu di sekitar Victoria Park and Highway. Saya berterima kasih berkali-kali. Besok saya akan mengekspor Downtown, pikir saya, with or without company.
Kepala batu.
Wisata Seputar Downtown
Tanggal merah. Tanggal yang dinanti kedua setelah tanggal gajian. Banyak dari kita memilih tinggal di rumah dan ‘bernapas’ (emang hari biasa ga bernapas?) atau saatnya hang out bareng teman atau keluarga, keluar rumah sekadar cuci mata atau justru mengunjungi tempat baru.
Bersama teman, saya kadang ngumpul Sabtu pagi di sekitar Depok. Sekedar ngumpul buat diskusi atau iseng karena tidak ada kegiatan. Lumayan dapet korban untuk di isengin atau dicela. Kalau Minggu, masih asik di sekitar Depok, kampus UI tepatnya, bersama seorang kawan, kadang anaknya ikut, kami bertiga berjalan pagi. Niatnya olah raga, tapi biasanya sarapan dan ngemilnya lumayan banyak. Ga masalah, kadang tujuan utama menjadi tidak penting setelah bertemu teman. Tujuan yang tidak dipikirkan, seperti curhat, justru lebih banyak membuang waktu dan membuang beban pikiran pada saat bersamaan. Curhat menyehatkan.
Disini, dimana kedekatan teman tidak secara fisik, tidak mungkin hang out bersama, saya lebih memilih mengelilingi tempat ini ketika libur. Tidak peduli berapa kali nyasar. Pengalaman pertama kali nyasar disini salah masuk blok. Alhamdulillah bisa balik dengan mengingat pepatah “Malu bertanya sesat di jalan.”
Setelah tiga kali ke Orleans, dua kali berkunjung ke tempat kawan dan sekali mampir di Asian Mart untuk membeli saos Indofood, telur puyuh, telur asin, dan ubi untuk membuat ubi goreng, akhirnya rute bis kesana bisa juga diingat. Sesuatu sekali rasanya.
Minggu lalu saya putuskan untuk mengelilingi downtown. Cuma berjalan berkeliling saja sambil mengambil gambar disana sini. Sebelumnya saya mengirim sms ke seorang teman yang saya kenal lewat internet untuk menanyakan apakah dia free hari itu. Namun tak ada balasan setelah satu jam berlalu. Sore hari baru saya mendapatkan telepon darinya mengabarkan bahwa dia baru saja bangun tidur. Hibernasi dimusim semi, pikir saya geli. Sebenarnya nothing to lose juga, karena saya mengajaknya mendadak.
Downtown tidak begitu asing lagi untuk saya. Sebelumnya saya pernah kesini bersama keluarga ini untuk melihat Tulip Festival. Walaupun ternyata tulip festival bukan di dekat sana, tapi berjalan beberapa blok disana saat itu meninggalkan gambaran sedikit diingatan saya tentang tempat tersebut. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di Tulip Festival, serba Tulip. Tapi tetap saja pengetahuan saya tentang bunga tidak bertambah. Anggrek, kembang sepatu, kamboja merupakan tiga bunga yang familiar bagi saya selain mawar, melati semuanya indah.
Downtown, awalnya yang saya tahu hanya sekadar tempat dimana banyak gedung antic berjejer, mall, kedutaan-kedutaan, tapi ternyata menyimpan banyak keunikan tujuan wisata, salah satunya Rideau Canal. Itupun tahunya secara tidak sengaja ketika seorang kenalan yang ‘open mided’ menceritakan hal tersebut secara sekilas. Rasa penasaran saya timbul. Mbah Google langsung jadi tempat pertama yang saya tanya. Tanpa kemenyan dan sesajen, dalam sekian detik si Mbah memuaskan penasaran saya. Sambungan internet disini memang yahud!
Dengan modal handycam standar yang saya beli dari XS Cargo beberapa hari lalu, memori external 4 GB dan 4 baterai AAA rechargable, jadilah Sarah the Explorer mulai memutari tempat tersebut. Tujuan awal adalah gedung parlemen, karena hanya itu yang saya tahu. Sebenarnya beberapa hari lalu sempat googling letak Rideau Canal, tapi yang ditunjukkan adalah alamat dan peta. Alamat, jelas saya tidak tahu, peta? Saya buta peta.
Keluar dari Mall, yang merupakan penghubung dua pemberhentian bis, langsung jalan mengikuti pandangan mata yang menangkap menara gedung parlemen. Langkah saya terhenti ketika saya melihat potret-potret besar tentang Paul’s Boat Lines. Hore… sorak saya dalam hati, disini toh pemberangkatan dan tiket Rideau Canal. Lain kali saya akan kesini, mungkin sendiri atau dengan kawan, belum tau, tapi yang pasti, kalau tidak dicoba, akan penasaran seperti kata Bang Haji: sungguh mati aku jadi jadi penasaran….. lanjut mang!!!
Terpampang beberapa foto yang tidak saya baca keterangannya – mungkin lain kali – mungkin. Berjarak beberapa meter dari situ, terdapat tiket box yang menyediakan brosur tentang objek tersebut. Sebenarnya ada dua tiket box yang saya lihat. Satu lagi di bawah jembatan, di dekat boatnya. Dalam brosur disebutkan bahwa Paul’s Boat Lines ini ada sejak 1936. Penawaran wisata ada dua; Rideau Canal cruise dan Ottawa River Cruise.
Rideau Canal pada tahun 2012 ini tersedia sampai 2 September, jadi sekitar musim semi – panas. Musim dingin jelas ga ada. Berangkatnya dari Conference Centre dan memakan waktu kurang lebih 75 menit. Point of Interestnya disebutkan di brosur antara lain National Art Centre, Government Conference Centre, Lansdowne Park, University of Ottawa, Carleton University, Dow’s Lake, Experimental Farm, dan lain-lain. Tarifnya untuk dewasa CAD 20, senior dan pelajar CAD 18, anak-anak CAD 12, keluarga yang terdiri dari 2 dewasa dan 2 anak-anak CAD 52.
Kalau Ottawa River Cruise memakan waktu sekitar 90 menit dan point of interestsnya Parliament Buildings, Museum of Civilization, Napean Point, National Gallery of Canada, Royal Canadian Mint, dan lain-lain. Tarifnya untuk dewasa CAD 23, senior dan pelajar CAD 20, anak-anak CAD 14, keluarga yang terdiri dari 2 dewasa dan 2 anak-anak CAD 60. Paket combo ada juga, maksudnya ambil sekalian dua paket pada hari itu. Kalau dewasa CAD 38. Jangan lupa, harga sewaktu-waktu bisa berubah.
Selain Rideau Canal, ada juga Lady Dive, ini unik karena bisa mengelilingi kota dengan bis khusus dan bis tersebut bisa dive atau menyelam juga, sesuai namanya Lady Dive Land and Water Experience. Ada tujuh tour yang ditawarkan:
1. Ottawa – Gatineau Splash Amphibious Tour.
Tertulis di brosurnya: It’s a boat! It’s a bus! It’s Lady Dive Splash Tour. Menarik dan membuat penasaran. Turis akan dibawa berkeliling area National Capital di Ottawa dan Gatineau melalui jalan darat dan air. Perjalanan sekitar satu jam. Range tariff CAD 10.62 untuk anak-anak di bawah 2 tahun, dan CAD 86.73 untuk keluarga yang terdiri dari 2 dewasa dan 2 anak-anak. Dewasa CAD 30.97.
2. Amphibious and Bus Tour.
Tur ini menawarkan 1 dan 3 hari tur. Beda tariff tur satu hari san tiga hari kurang dari 3 dollar. Range tiket untuk bayi di bawah 2 tahun CAD 15.93 dan keluarga 132.30. Dewasa CAD 46.45.
3. Full Grand City Tour Hop On and Off 1 – 3 days.
Ini pas digunakan untuk mereka yang mau mengunjungi National Capital of Ottawa dan Gatineau. Bisa berhenti dibanyak tempat seperti museum, taman, galleri, dan banyak lagi menurut brosur di tangan saya. Tiket dewasa CAD 30.90 untuk tur 1 hari. Untuk 3 hari, CAD 35.40 untuk dewasa.
4. Bus and Canadian Museum of Nature Combo.
Tour ini menawarkan tur 1 dan 3 hari untuk ke Canadian Museum of Nature. 1 hari tur biayanya untuk dewasa CAD 38.97. kalau ambil yang 3 hari untuk dewasa biayanya CAD 43.40.
5. Exclusive Bus and Museum Combo.
Ini tur ke museum, ada paket yang sehari, ada yang tiga hari. Tarif dewasa sama dengan tur nomor 4.
6. Sunset Tour.
Sesuai namanya, sunset, pasti waktu turnya dan mepet ke gelap. Durasinya sekitar satu jam dan menawarkan lebih dari 75 sites yang penting dan popular di kota indang booooo.
7. Gatineau Park Fall Colours Tour.
Kalau yang ini butuh reservasi dan waktu turnya sekitar 4 jam – panjang bo – mengelilingi taman Gatineau dan berhenti sekitar 20 menit untuk mengunjungi the Champlain Belvederes, Lake Pink and MacKenzie Residence. Tiketnya untuk dewasa, senior, pelajar CAD 35.40 dan anak-anak 3-12 CAD 25.67.
Harga belum pajak dan sewaktu-waktu bisa berubah tanpa pemberitahuan, tertulis di brosur.
Masih ada hal lain lagi di downtown. Bersambung…
Semoga harinya menyenangkan dan sukses untuk semua ya…..
Wassalam.
Cerita Ringan
Ada salah satu cerita inspiratif yang saya baca beberapa tahun yang lalu. Kurang lebih seperti ini, cekidot:
Pada suatu masa, ada seorang tukang kayu yang yang telah bekerja pada sebuah perusahaan selama puluhan tahun. Si bapak telah membuat ratusan rumah yang indah bagi tiap pelanggan yang datang. Dia melakukan tugasnya selalu dengan segenap hati. Sang bos, yang juga sahabatnya, sangat sayang pada sang tukang kayu. Sang sahabat sudah menganggapnya sebagai keluarganya sendiri dan dia tidak mau kehilangan bapak tersebut. Tapi ada masa dimana seseorang butuh berhenti melakukan hal yang sama dalam hidupnya. Termasuk bapak tukang kayu tersebut.
Akhirnya pada suatu hari bapak tersebut mengatakan niatnya untuk beristirahat pada sang sahabat. Sang sahabat termangu, mencoba menanyakan hal yang membuat bapak tersebut berhenti. Dia menawarkan apa saja yang diminta oleh sang tukang kayu. Namun hal itu tidak mengubah keputusan bapak tukang kayu.
“Saya lelah.” Hanya itu jawabnya dengan senyum. Tidak ada permintaan apapun dari sang tukang kayu kepada sang sahabat.
Setelah mencoba berulang kali, sang sahabat menyerah. Akhirnya dia bisa menerima keadaan tersebut. Namun satu hal yang diminta oleh sang sahabat kepadanya, yaitu membuat sebuah rumah, untuk terakhir kalinya.
Bapak tukang kayu diam dan menimbang. Dengan segan dia lakukan permintaan sang sahabat. Tak lama, jadilah sebuah rumah mungil seadanya. Tanpa rasa dan ruh dari si pembuat rumah. Sang sahabat merasa senang karena permintaannya dikabulkan oleh bapak tukang kayu. Bapak tukang kayu pun merasa senang dan lega karena akhirnya dia tidak akan terganggu lagi dengan hal yang sama, yang selalu dilakukannya selama puluhan tahun.
Datanglah waktu memberikan kunci rumah tersebut pada sang sahabat. Sang sahabat tersenyum dan berkata, “ambilah rumah itu untukmu. Saya tidak bisa memberi sesuatu padamu dan kamu pun tidak meminta sesuatu apapun padaku. Hanya ini yang bisa aku berikan.”
Bapak tukang kayu hanya terdiam dan menatap rumah tersebut, rasa menyesal sedikit datang. “Seandainya saya membuat rumah itu dengan segenap hati saya, pasti rumah itu akan lebih baik dan terasa hidup.”
Yea, penyesalan selalu datang belakangan. Sebuah status fesbuk teman saya berbunyi “PENYESALAN itu selalu datang di akhir, kalau di depan namanya PENDAFTARAN.” Bener juga, dimana-mana meja pendaftaran memang adanya di depan, yang di belakang biasanya toilet atau lahan parkir (malah dibahas??!).
Tapi seperti kata Craig David dalam lagunya Human;
“I'm only human
Of flesh and blood I'm made
I'm only human (what what?)
Born to make mistakes (tell me whatcha gonna do?”)
Bukanya mau memaklumi setiap kesalahan yang sudah ataupun yang pasti akan dibuat, dengan sengaja ataupun tidak sengaja, tapi memang melakukan kesalahan adalah sangat manusiawi. Bukankan kita pasti selalu membayarnya setelah melakukan kesalahan? Entah dalam bentuk konsekuensi logis dari tindakan kita, atau setidaknya rasa penyesalan yang datang sudah merupakan ‘bayaran’ atas tindakan kita yang menyimpang.
Sebenarnya nilai moral dari cerita tersebut bukan cuma tentang penyesalan yang membuntuti, tapi banyak lagi, tergantung mengambil sisi yang mana.
Untuk saya itu merupakan alarm untuk bekerja secara ikhlas dan jangan banyak mengeluh kurang ini kurang itu. Kerjakan sajalah yang ada di depan mata. Enjoy every moment in this life, maka semuanya akan lebih ringan. Kalau belum bisa, tetap mencoba. Try. Paling kalau hasilnya ngaco, jadinya error. Bisa kitanya yang error, bisa keadaannya jadi error karena keadaan psikis yang buruk, mood jadi runtuh. Semua akan terasa buruk. Lolipop yang termanis pun akan terasa terasi bila mood berada dalam titik terendah
Cerita tersebut saya baca sekitar hampir delapan tahun yang lalu. Reminder yang bagus ketika saya mulai ogah-ogahan untuk melakukan sesuatu yang saya tahu jelas, hal tersebut baik untuk saya. Tapi ketika reminder itu lemah, yang datang adalah Craig David yang selalu memaklumi keadaan.
Kamu pilih yang mana?
Have a nice day…….
Pada suatu masa, ada seorang tukang kayu yang yang telah bekerja pada sebuah perusahaan selama puluhan tahun. Si bapak telah membuat ratusan rumah yang indah bagi tiap pelanggan yang datang. Dia melakukan tugasnya selalu dengan segenap hati. Sang bos, yang juga sahabatnya, sangat sayang pada sang tukang kayu. Sang sahabat sudah menganggapnya sebagai keluarganya sendiri dan dia tidak mau kehilangan bapak tersebut. Tapi ada masa dimana seseorang butuh berhenti melakukan hal yang sama dalam hidupnya. Termasuk bapak tukang kayu tersebut.
Akhirnya pada suatu hari bapak tersebut mengatakan niatnya untuk beristirahat pada sang sahabat. Sang sahabat termangu, mencoba menanyakan hal yang membuat bapak tersebut berhenti. Dia menawarkan apa saja yang diminta oleh sang tukang kayu. Namun hal itu tidak mengubah keputusan bapak tukang kayu.
“Saya lelah.” Hanya itu jawabnya dengan senyum. Tidak ada permintaan apapun dari sang tukang kayu kepada sang sahabat.
Setelah mencoba berulang kali, sang sahabat menyerah. Akhirnya dia bisa menerima keadaan tersebut. Namun satu hal yang diminta oleh sang sahabat kepadanya, yaitu membuat sebuah rumah, untuk terakhir kalinya.
Bapak tukang kayu diam dan menimbang. Dengan segan dia lakukan permintaan sang sahabat. Tak lama, jadilah sebuah rumah mungil seadanya. Tanpa rasa dan ruh dari si pembuat rumah. Sang sahabat merasa senang karena permintaannya dikabulkan oleh bapak tukang kayu. Bapak tukang kayu pun merasa senang dan lega karena akhirnya dia tidak akan terganggu lagi dengan hal yang sama, yang selalu dilakukannya selama puluhan tahun.
Datanglah waktu memberikan kunci rumah tersebut pada sang sahabat. Sang sahabat tersenyum dan berkata, “ambilah rumah itu untukmu. Saya tidak bisa memberi sesuatu padamu dan kamu pun tidak meminta sesuatu apapun padaku. Hanya ini yang bisa aku berikan.”
Bapak tukang kayu hanya terdiam dan menatap rumah tersebut, rasa menyesal sedikit datang. “Seandainya saya membuat rumah itu dengan segenap hati saya, pasti rumah itu akan lebih baik dan terasa hidup.”
Yea, penyesalan selalu datang belakangan. Sebuah status fesbuk teman saya berbunyi “PENYESALAN itu selalu datang di akhir, kalau di depan namanya PENDAFTARAN.” Bener juga, dimana-mana meja pendaftaran memang adanya di depan, yang di belakang biasanya toilet atau lahan parkir (malah dibahas??!).
Tapi seperti kata Craig David dalam lagunya Human;
“I'm only human
Of flesh and blood I'm made
I'm only human (what what?)
Born to make mistakes (tell me whatcha gonna do?”)
Bukanya mau memaklumi setiap kesalahan yang sudah ataupun yang pasti akan dibuat, dengan sengaja ataupun tidak sengaja, tapi memang melakukan kesalahan adalah sangat manusiawi. Bukankan kita pasti selalu membayarnya setelah melakukan kesalahan? Entah dalam bentuk konsekuensi logis dari tindakan kita, atau setidaknya rasa penyesalan yang datang sudah merupakan ‘bayaran’ atas tindakan kita yang menyimpang.
Sebenarnya nilai moral dari cerita tersebut bukan cuma tentang penyesalan yang membuntuti, tapi banyak lagi, tergantung mengambil sisi yang mana.
Untuk saya itu merupakan alarm untuk bekerja secara ikhlas dan jangan banyak mengeluh kurang ini kurang itu. Kerjakan sajalah yang ada di depan mata. Enjoy every moment in this life, maka semuanya akan lebih ringan. Kalau belum bisa, tetap mencoba. Try. Paling kalau hasilnya ngaco, jadinya error. Bisa kitanya yang error, bisa keadaannya jadi error karena keadaan psikis yang buruk, mood jadi runtuh. Semua akan terasa buruk. Lolipop yang termanis pun akan terasa terasi bila mood berada dalam titik terendah
Cerita tersebut saya baca sekitar hampir delapan tahun yang lalu. Reminder yang bagus ketika saya mulai ogah-ogahan untuk melakukan sesuatu yang saya tahu jelas, hal tersebut baik untuk saya. Tapi ketika reminder itu lemah, yang datang adalah Craig David yang selalu memaklumi keadaan.
Kamu pilih yang mana?
Have a nice day…….
Cultural Shock a.k.a Gegar Budaya*
Salah satu mata kuliah favorit saya ketika masih di bangku FKIP adalah
CCU atau Cross Culture Understanding. Selain dosennya merupakan dosen
favorit saya, Bp. Bahrul Hasibuan, juga karena mata kuliah ini
mempelajari tentang budaya di negeri Paman Sam. Namun budaya yang
dibahas lebih kepada pergaulan sehari-hari dan system pendidikan di
sana. Sangat menarik apalagi ditambah
dengan pengetahuan Bp. Bahrul tentang negara sana dan beberapa negara di
Eropa, karena memang beliau pernah mendapat beasiswa di Inggris untuk
S2. Membuat iri – dalam arti yang positif tentunya, sebagai motivasi.
Membandingkan sesuatu merupakan hal yang menarik, tapi bukan untuk membandingkan orang perorang. Hal yang paling menarik adalah ketika mendapatkan sebuah informasi baru yang menarik dan membuat penasaran. Sepanjang kuliah kadang saya membayangkan diri saya berada di sebuah tempat dimana saya buta akan budayanya dan segala macam. Membuat adrenalin terpacu tapi penasaran, seperti kata Bang Haji; PE NA SA RAN!
Sebelumnya pernah meminjam buku tentang Cultural Shock di perpustakaan Diknas. Kalau tidak salah ingat saya pernah meminjam buku tentang Amerika, Arab, dan satu lagi Malaysia. Saya sendiri di rumah punya sebuah buku Cultural Shock tentang Indonesia yang ditulis oleh dua orang expatriate yang telah belasan tahun tinggal di Jakarta. Buku lama, tahunnya lupa, tapi yang pasti saat itu menteri Pariwisatanya adalah Bp. Joop Ave karena beliau memberi kata pengantar di halaman awal buku. Ada yang ingat tahun berapa, selain Mbah Google?
Bukunya belum habis saya baca, tapi ada beberapa hal yang saya ingat dimana kita, sebagai orang Indonesia dikenal memang mempunyai budaya ‘Rubber Watch’alias “jam Karet.” Sang penulis menyarankan bila diundang oleh orang Indonesia, 15 menit atau 30 menit telat adalah hal yang ‘biasa.’ Jadi… forget about on time or in time.
Selain itu juga dibahas tentang adat perkawinan maupun kematian di beberapa suku di Indonesia. Yah, memang kalau membicarakan Indonesia akan lebih asyik bila persuku karena tiap suku unik dan mempunyai hal yang berbeda dengan yang lain. Indonesia adalah negara multicultural dimana kita saling melengkapi dan bertoleransi. Agak sulit diterima akal sehat bila kita membicarakan budaya yang beragam di sini dan tidak ada secercah rasa bangga terhadap hal tersebut. Tapi berhubung banyak koran nasional lebih tertarik membahas banyaknya ‘wakil rakyat’ (entah rakyat mana yang dimaksud) yang teridentifikasi melakukan korupsi, yah, kalau hal ini saya ikut merasa malu sebagai bagian dari warga negara yang bekerja untuk menggemukkan koruptor dan keluarganya. Hell is the perfect place for all the curroptors.
Angan-angan saya terjawab. Meski saya di sini bukan sebagai sebagai penerima beasiswa, tapi sebagai pekerja, setidaknya rasa penasaran yang pernah ada sedikit banyak terjawab.
Cultural shock yang pertama saya alami ketika sampai di bandara Toronto. Saat itu sekitar pukul 7 malam dan sebelum memutuskan untuk antri untuk trasit lagi, saya ke toilet. Toilet tidak ada yang kosong dan ada seorang pegawai perempuan yang sedang mengepel lantai toilet. Saya tersenyum sambil mengucap ‘hallo’ dan dijawab ramah, lalu saya berdiri di depan pintu salah satu toilet, seperti yang biasa saya lakukan di tanah air. Saya pun kena tegur, “line up over there, please.” Katanya sambil menunjuk toilet ujung. Ok, saya menurut. Memang lebih bagus begini, antri artinya ya antri.
Itu satu.
Setelah terbang lagi sekitar satu jam menuju Ottawa, saya sudah ditunggu oleh host family di bandara. Saya minta maaf karena telat. Mereka pun mengerti karena saya bukan pemegang paspor Kanada dan harus melalui imigrasi yang antriannya mengular.
Satu hal yang unik dan saya anggap blessing in disguise saat saya di bandara Toronto adalah adanya seorang ibu asal India yang menggunakan kursi roda yang mengantri di depan saya. Dia tidak mengerti Bahasa Inggris sama sekali. Ketika ditanya, dia menjawab dalam bahasa Hindi yang membuat saya menganga bingung sambil menerima sebuah surat dari ibu tersebut yang ternyata berisi nama ibu tersebut, alamat di India, alamat yang dituju di Kanada, serta penjelasan tujuan dia datang ke Kanada. Tertulis bahwa sang anak berada di distrik lain. Wow, saya takjub. Sang anak, entah disebut tega atau memang BENAR-BENAR percaya terhadap negara ini sehingga membiarkan ibunya terbang sendiri dari India menuju Kanada hanya dengan secarik kertas. Yang pasti, saya salut dengan professionalitas petugas bandara.
Kenapa saya sebut blessing in disguise? Karena saat saya sedang mengantri di imigrasi, ibu itu berada di depan saya, tak ada petugas disana. Saya bermaksud menanyakan di mana keluarganya, tapi seorang petugas imigrasi yang melihat itu bertanya apakah saya keluarga dari ibu tersebut. Saya jawab bukan. Lalu sang petugas meminta saya untuk mendorong kursi roda ibu tersebut. Saya lakukan walau dalam hati saya merasa deg deg-an, takut ketinggalan pesawat ke Ottawa mengingat pemberangkatan kurang dari satu jam lagi dan di depan saya ada sekitar 50 orang.
Antrian berjalan lambat. Tak disangka, seorang petugas imigrasi membuka batas dan meminta saya keluar dari antrian. Saya ditanya pertanyaan yang sama, apakah kami pergi berdua. Saya katakan, “no. im going to Ottawa and this lady is going to another dictric.” Saya meminta surat di tangan ibu tersebut. Beruntung, meski diminta mendorong, saya diberikan prioritas juga. Pesawat tetap ketinggalan, tapi tak apa karena saya tidak perlu membayar apapun – hal yang sebenarnya saya takutkan. Mengeluarkan uang!
Penerbangan dari Toronto ke Ottawa sekitar satu jam dengan Air Canada. Nyaman. Namun satu hal yang selalu saya lihat: layar di depan saya yang menunjukkan sisa waktu tempuh!
Ternyata saya telah ditunggu oleh host family. Kami segera ke parkir setelah saya mengambil koper saya. Saya dipersilakan duduk di depan, sebelah supir, karena sang ibu menjaga anaknya yang masih bayi di bangku belakang. Karena di Indonesia pengemudi mobil berada di sebelah kanan, maka saya dengan manis membuka pintu sebelah kiri. Sementara sang ayah, si pengemudi, berada di kanan sambil membuka pintu. Dia mengatakan, “Sarah, over here.” Dengan pelan saya melongok ke dalam. Ups, bangku pengemudi. Saya pun memutar. Di dalam mobil sang ayah berkata, “so in Indonesia the driver is on the right. Wow, the same like in England. I went studying in England. So I knew it.” Saya hanya tersenyum dan berkomentar sedikit-sedikit tentang cuaca, tentang lalu lintasnya, dan hal lainnya sebagai ice breaker.
Nah, berhubung supir berada di sebelah kiri, otomatis menunggu bis di sebelah kanan. Kalau kita berjalan pun, seharusnya berada di sebelah kanan. Suatu kali saya berjalan sore sendirian di sebuah taman dekat tempat tinggal host family. Karena terbiasa berjalan di sebelah kiri, maka hal itu tidak berubah. Di depan saya ada seorang bapak-bapak yang berjalan berlawanan arah dengan saya, dia berjalan tepat di depan saya. Saya pikir, “lah, nih babeh-babeh kok ga minggir.” Dua meter sebelum menabrak bapak itu, saya berpindah jalur mendadak. Orang itu tetap berjalan seolah tidak ada orang lain. Saat itulah saya sadar bahwa saya harus mulai belajar untuk terbiasa berjalan di sebelah kanan.
Selain transportasi dan lalu lintas, teknologi juga berbeda jauh. Serba mesin, serba listrik. Mulai dari vacuum cleaner yang umum di Indonesia sampai dengan tutup tempat sampah yang terbuka secara otomatis ketika kita berjalan melewati tempat sampah tersebut. Terserah mau dikatakan norak atau apapun, tapi memang saya tertegun dan tersenyum norak mengalami itu semua.
Ada satu hal menarik. Karena menu utama di sebagian besar daerah di Indonesia adalah nasi, rice cooker menjadi benda yang umum ditemui di hampir setiap rumah. Nah, berhubung menu utama di sini adalah roti, jadi yang umum ada adalah microwave atau toaster. Suatu kali host family ingin memasak nasi. Saya melihat berkeliling dapur modern yang lumayan besar itu, lalu bertanya, “where do you put the rice cooker?” host family balik bertanya, “what is rice cooker?” Saya jelaskan tentang rice cooker dan cara pemakaiannya. Dia hanya mengangkat bahu dan berkata, “we don’t have it.” Haaa… akhirnya ada juga teknologi yang tidak umum di sini.
Sudah sekitar tiga minggu saya di sini dan host family membuatkan rekening bank untuk saya. Kartu pengenal Kanada saya tidak punya, hanya passport dan surat dari imigrasi. Ternyata itu cukup. Tellernya seorang wanita berparas manis dengan aksen India yang ringan. Sangat ramah. Dia menjelaskan semuanya dengan jelas dan disudahi dengan pertanyaan, “do you have any question?” Saya katakan, “yea. How much is the minimum amount if I wanna put some cash here?” Dijawab dengan senyum, “we don’t have minimum amount. I will show you the machine.” Saya, dan host family mengikuti ibu teller tersebut.
Di depan bank yang terletak di dalam sebuah pusat perbelanjaan itu ada sebuah mesin seperti ATM, tapi sedikit lebih besar. Saya diminta membuat PIN, 4 digit. Saya lakukan. Lalu dijelaskanlah, “on the right, you can use for putting some cash, and on your left is for withdrawing money.” Saya bertanya ulang, “I don’t need to go to the teller?” Dia menjawab, “no, let me show you how it work.” Dan dia mendemonstrasikannya.
Diakhir penjelasan, dengan polos dan saya katakan, “gosh…. so sophisticated.” Dia tersenyum lebar, “just let me know when you wanna put some money or withdraw some money for the first time. I will be on that desk.” dia menunjuk meja tempat kami duduk tadi.
Saya lega. Malu tidak ada, karena bisa jadi dia sudah bisa menebak bahwa saya tidak terbiasa atau belum pernah menggunakan mesin seperti itu sebelumnya. Paling tidak, satu lagi pengetahuan saya dapatkan hari itu dan saya yakin masih banyak “shock shock” lain yang akan saya temui.
Have a nice day…
* Cultural Shock: Gegar budaya merupakan istilah yang digunakan bagi menggambarkan kegelisahan dan perasaan (terkejut, kekeliruan, dll.) yang dirasakan apabila seseorang tinggal dalam kebudayaan yang berlainan sama sekali, seperti ketika berada di negara asing. Perasaan ini timbul akibat kesukaran dalam asimilasi kebudayaan baru, menyebabkan seseorang sulit mengenali apa yang wajar dan tidak wajar. Sering kali perasaan ini digabung dengan kebencian moral atau estatik yang kuat mengenai beberapa aspek dari budaya yang berlainan atau budaya baru tersebut. Istilah ini mulai diperkenalkan pertama kali pada tahun 1954 oleh Kalvero Oberg.
Membandingkan sesuatu merupakan hal yang menarik, tapi bukan untuk membandingkan orang perorang. Hal yang paling menarik adalah ketika mendapatkan sebuah informasi baru yang menarik dan membuat penasaran. Sepanjang kuliah kadang saya membayangkan diri saya berada di sebuah tempat dimana saya buta akan budayanya dan segala macam. Membuat adrenalin terpacu tapi penasaran, seperti kata Bang Haji; PE NA SA RAN!
Sebelumnya pernah meminjam buku tentang Cultural Shock di perpustakaan Diknas. Kalau tidak salah ingat saya pernah meminjam buku tentang Amerika, Arab, dan satu lagi Malaysia. Saya sendiri di rumah punya sebuah buku Cultural Shock tentang Indonesia yang ditulis oleh dua orang expatriate yang telah belasan tahun tinggal di Jakarta. Buku lama, tahunnya lupa, tapi yang pasti saat itu menteri Pariwisatanya adalah Bp. Joop Ave karena beliau memberi kata pengantar di halaman awal buku. Ada yang ingat tahun berapa, selain Mbah Google?
Bukunya belum habis saya baca, tapi ada beberapa hal yang saya ingat dimana kita, sebagai orang Indonesia dikenal memang mempunyai budaya ‘Rubber Watch’alias “jam Karet.” Sang penulis menyarankan bila diundang oleh orang Indonesia, 15 menit atau 30 menit telat adalah hal yang ‘biasa.’ Jadi… forget about on time or in time.
Selain itu juga dibahas tentang adat perkawinan maupun kematian di beberapa suku di Indonesia. Yah, memang kalau membicarakan Indonesia akan lebih asyik bila persuku karena tiap suku unik dan mempunyai hal yang berbeda dengan yang lain. Indonesia adalah negara multicultural dimana kita saling melengkapi dan bertoleransi. Agak sulit diterima akal sehat bila kita membicarakan budaya yang beragam di sini dan tidak ada secercah rasa bangga terhadap hal tersebut. Tapi berhubung banyak koran nasional lebih tertarik membahas banyaknya ‘wakil rakyat’ (entah rakyat mana yang dimaksud) yang teridentifikasi melakukan korupsi, yah, kalau hal ini saya ikut merasa malu sebagai bagian dari warga negara yang bekerja untuk menggemukkan koruptor dan keluarganya. Hell is the perfect place for all the curroptors.
Angan-angan saya terjawab. Meski saya di sini bukan sebagai sebagai penerima beasiswa, tapi sebagai pekerja, setidaknya rasa penasaran yang pernah ada sedikit banyak terjawab.
Cultural shock yang pertama saya alami ketika sampai di bandara Toronto. Saat itu sekitar pukul 7 malam dan sebelum memutuskan untuk antri untuk trasit lagi, saya ke toilet. Toilet tidak ada yang kosong dan ada seorang pegawai perempuan yang sedang mengepel lantai toilet. Saya tersenyum sambil mengucap ‘hallo’ dan dijawab ramah, lalu saya berdiri di depan pintu salah satu toilet, seperti yang biasa saya lakukan di tanah air. Saya pun kena tegur, “line up over there, please.” Katanya sambil menunjuk toilet ujung. Ok, saya menurut. Memang lebih bagus begini, antri artinya ya antri.
Itu satu.
Setelah terbang lagi sekitar satu jam menuju Ottawa, saya sudah ditunggu oleh host family di bandara. Saya minta maaf karena telat. Mereka pun mengerti karena saya bukan pemegang paspor Kanada dan harus melalui imigrasi yang antriannya mengular.
Satu hal yang unik dan saya anggap blessing in disguise saat saya di bandara Toronto adalah adanya seorang ibu asal India yang menggunakan kursi roda yang mengantri di depan saya. Dia tidak mengerti Bahasa Inggris sama sekali. Ketika ditanya, dia menjawab dalam bahasa Hindi yang membuat saya menganga bingung sambil menerima sebuah surat dari ibu tersebut yang ternyata berisi nama ibu tersebut, alamat di India, alamat yang dituju di Kanada, serta penjelasan tujuan dia datang ke Kanada. Tertulis bahwa sang anak berada di distrik lain. Wow, saya takjub. Sang anak, entah disebut tega atau memang BENAR-BENAR percaya terhadap negara ini sehingga membiarkan ibunya terbang sendiri dari India menuju Kanada hanya dengan secarik kertas. Yang pasti, saya salut dengan professionalitas petugas bandara.
Kenapa saya sebut blessing in disguise? Karena saat saya sedang mengantri di imigrasi, ibu itu berada di depan saya, tak ada petugas disana. Saya bermaksud menanyakan di mana keluarganya, tapi seorang petugas imigrasi yang melihat itu bertanya apakah saya keluarga dari ibu tersebut. Saya jawab bukan. Lalu sang petugas meminta saya untuk mendorong kursi roda ibu tersebut. Saya lakukan walau dalam hati saya merasa deg deg-an, takut ketinggalan pesawat ke Ottawa mengingat pemberangkatan kurang dari satu jam lagi dan di depan saya ada sekitar 50 orang.
Antrian berjalan lambat. Tak disangka, seorang petugas imigrasi membuka batas dan meminta saya keluar dari antrian. Saya ditanya pertanyaan yang sama, apakah kami pergi berdua. Saya katakan, “no. im going to Ottawa and this lady is going to another dictric.” Saya meminta surat di tangan ibu tersebut. Beruntung, meski diminta mendorong, saya diberikan prioritas juga. Pesawat tetap ketinggalan, tapi tak apa karena saya tidak perlu membayar apapun – hal yang sebenarnya saya takutkan. Mengeluarkan uang!
Penerbangan dari Toronto ke Ottawa sekitar satu jam dengan Air Canada. Nyaman. Namun satu hal yang selalu saya lihat: layar di depan saya yang menunjukkan sisa waktu tempuh!
Ternyata saya telah ditunggu oleh host family. Kami segera ke parkir setelah saya mengambil koper saya. Saya dipersilakan duduk di depan, sebelah supir, karena sang ibu menjaga anaknya yang masih bayi di bangku belakang. Karena di Indonesia pengemudi mobil berada di sebelah kanan, maka saya dengan manis membuka pintu sebelah kiri. Sementara sang ayah, si pengemudi, berada di kanan sambil membuka pintu. Dia mengatakan, “Sarah, over here.” Dengan pelan saya melongok ke dalam. Ups, bangku pengemudi. Saya pun memutar. Di dalam mobil sang ayah berkata, “so in Indonesia the driver is on the right. Wow, the same like in England. I went studying in England. So I knew it.” Saya hanya tersenyum dan berkomentar sedikit-sedikit tentang cuaca, tentang lalu lintasnya, dan hal lainnya sebagai ice breaker.
Nah, berhubung supir berada di sebelah kiri, otomatis menunggu bis di sebelah kanan. Kalau kita berjalan pun, seharusnya berada di sebelah kanan. Suatu kali saya berjalan sore sendirian di sebuah taman dekat tempat tinggal host family. Karena terbiasa berjalan di sebelah kiri, maka hal itu tidak berubah. Di depan saya ada seorang bapak-bapak yang berjalan berlawanan arah dengan saya, dia berjalan tepat di depan saya. Saya pikir, “lah, nih babeh-babeh kok ga minggir.” Dua meter sebelum menabrak bapak itu, saya berpindah jalur mendadak. Orang itu tetap berjalan seolah tidak ada orang lain. Saat itulah saya sadar bahwa saya harus mulai belajar untuk terbiasa berjalan di sebelah kanan.
Selain transportasi dan lalu lintas, teknologi juga berbeda jauh. Serba mesin, serba listrik. Mulai dari vacuum cleaner yang umum di Indonesia sampai dengan tutup tempat sampah yang terbuka secara otomatis ketika kita berjalan melewati tempat sampah tersebut. Terserah mau dikatakan norak atau apapun, tapi memang saya tertegun dan tersenyum norak mengalami itu semua.
Ada satu hal menarik. Karena menu utama di sebagian besar daerah di Indonesia adalah nasi, rice cooker menjadi benda yang umum ditemui di hampir setiap rumah. Nah, berhubung menu utama di sini adalah roti, jadi yang umum ada adalah microwave atau toaster. Suatu kali host family ingin memasak nasi. Saya melihat berkeliling dapur modern yang lumayan besar itu, lalu bertanya, “where do you put the rice cooker?” host family balik bertanya, “what is rice cooker?” Saya jelaskan tentang rice cooker dan cara pemakaiannya. Dia hanya mengangkat bahu dan berkata, “we don’t have it.” Haaa… akhirnya ada juga teknologi yang tidak umum di sini.
Sudah sekitar tiga minggu saya di sini dan host family membuatkan rekening bank untuk saya. Kartu pengenal Kanada saya tidak punya, hanya passport dan surat dari imigrasi. Ternyata itu cukup. Tellernya seorang wanita berparas manis dengan aksen India yang ringan. Sangat ramah. Dia menjelaskan semuanya dengan jelas dan disudahi dengan pertanyaan, “do you have any question?” Saya katakan, “yea. How much is the minimum amount if I wanna put some cash here?” Dijawab dengan senyum, “we don’t have minimum amount. I will show you the machine.” Saya, dan host family mengikuti ibu teller tersebut.
Di depan bank yang terletak di dalam sebuah pusat perbelanjaan itu ada sebuah mesin seperti ATM, tapi sedikit lebih besar. Saya diminta membuat PIN, 4 digit. Saya lakukan. Lalu dijelaskanlah, “on the right, you can use for putting some cash, and on your left is for withdrawing money.” Saya bertanya ulang, “I don’t need to go to the teller?” Dia menjawab, “no, let me show you how it work.” Dan dia mendemonstrasikannya.
Diakhir penjelasan, dengan polos dan saya katakan, “gosh…. so sophisticated.” Dia tersenyum lebar, “just let me know when you wanna put some money or withdraw some money for the first time. I will be on that desk.” dia menunjuk meja tempat kami duduk tadi.
Saya lega. Malu tidak ada, karena bisa jadi dia sudah bisa menebak bahwa saya tidak terbiasa atau belum pernah menggunakan mesin seperti itu sebelumnya. Paling tidak, satu lagi pengetahuan saya dapatkan hari itu dan saya yakin masih banyak “shock shock” lain yang akan saya temui.
Have a nice day…
* Cultural Shock: Gegar budaya merupakan istilah yang digunakan bagi menggambarkan kegelisahan dan perasaan (terkejut, kekeliruan, dll.) yang dirasakan apabila seseorang tinggal dalam kebudayaan yang berlainan sama sekali, seperti ketika berada di negara asing. Perasaan ini timbul akibat kesukaran dalam asimilasi kebudayaan baru, menyebabkan seseorang sulit mengenali apa yang wajar dan tidak wajar. Sering kali perasaan ini digabung dengan kebencian moral atau estatik yang kuat mengenai beberapa aspek dari budaya yang berlainan atau budaya baru tersebut. Istilah ini mulai diperkenalkan pertama kali pada tahun 1954 oleh Kalvero Oberg.
Labirin Raksasa I
Menghabiskan hampir seumur hidup di sebuah wilayah tidak otomatis
membuat kita mengenal baik wilayah tersebut. Pasti ada yang terlewat
atau bahkan tidak kenal sama sekali. Selain bisa karena wilayahnya
terlalu luas, bisa juga karena kemampuan menjelajah terbatas atau…
karena sulit memahami sebuah wilayah. Hal ini biasanya dialami oleh
mereka yang mempunyai kemampuan spatial
yang ala kadarnya. Jadi kadang meski sudah berulang kali menjelajah
tempat yang sama, tetap saja arah pintu keluar pasti berbeda dengan
pintu masuk, alias nyasar dan tidak mampu menemukan posisi awal.
Tamat SMP, orang tua saya menyekolahkan saya di sekolah kejuruan di daerah Benhil. Tiga tahun bolak balik daerah tersebut seharusnya membuat saya hafal nama-nama gedung di sekitar sekolah tersebut, atau nama gedung yang selalu saya lewati tiap kali berangkat dan pulang sekolah. Tapi ternyata bukan jaminan. Gedung Jamsostek di Jalan Gatot Subroto pun baru tahu, itupun karena ada keperluan di sana. Kalau tidak ada keperluan dan ketika ada yang tanya gedung tersebut pada saya, kemungkinan akan saya jawab, “ha? Emang ada gedung jamsostek di Gatot?”
Beberapa bulan lalu, ketika mendapat panggilan untuk interview di Kedutaan Kanada di daerah Karet, tiga kali saya melewati gedung yang saya tuju. Alhasil, pada saat interview hasilnya kacau balau, karena rasa keki dan cape tidak bisa dihilangkan hanya dalam sekian menit. Untung tidak telat interview.
Selain menuju ke gedung itu, ada beberapa pengalaman serupa tapi tak sama yang saya hadapi. Ketika akan mengajukan visa melalui VFS, tertulis alamatnya Jln. Jendral Sudirman. Meluncurlah saya dengan Beat kesayangan berisi full bensin ke arah Sudirman, lanjut Thamrin, Bunderan HI, sampai Sarinah. Blank. Target lewat. Akhirnya putar balik, tanya pak polisi beberapa kali sambil menunjukkan alamat lengkap dan nama gedung tersebut. Akhirnya diketahui bahwa gedung tersebut setelah gedung BEJ. Meluncur….
Betapa bersyukurnya saya ketika menemukan gedung yang saya maksud. Motor saya belokan, berniat masuk dan parkir motor, apa daya, banyak gedung di sana tidak menyediakan area untuk parkir motor. Kalau pun ada, area tersebut hanya untuk yang langganan. Tak ada jalan lain, terpaksa putar balik dan mencari parkir liar yang sebelumnya saya lihat. Letaknya agak jauh dari gedung tujuan, sekitar 3 atau 4 gedung jaraknya, tapi saya tidak punya pilihan.
Proses yang saya butuhkan untuk membereskan dokumen yang dibutuhkan hanya beberapa menit, nyasarnya dua jam lebih.
Keluar dari gedung, saya bertanya pada abang penunggu parkir liar tersebut jalan menuju Blok M, satu-satunya patokan saya untuk pulang. Dengan simpel abang itu mengatakan, “lurus aja mba.” Jadilah saya lurus di jalur kiri, ketika saya sadar bahwa jalur kiri tidak selamanya untuk lurus, sudah telat. Saya terbawa arus kendaraan yang belok kiri. Alhasil, harus putar balik dan kembali melewati gedung tadi dan segera ambil jalur kanan agar kejadian tidak terulang. Parahnya, sebelumnya beberapa kali saya melewati daerah tersebut untuk meminjam buku di Perpustakaan Diknas, sebelah Ratu Plaza. Rasanya dongkol berat, seberat Pretty Asmara!
Sampai rumah, si Beat haus. Jarum sudah di angka merah hanya dalam waktu sekian jam.
Banyak lagi. Belum terhitung sekian kali nyasar di Robinson Ps. Minggu. Bayangkan! Tempat sekecil itu cukup membuat saya bingung. Kalau ITC Cempaka Mas jangan ditanya. Seorang teman sejak sekolah kejuruan bernama Novi pun nyasar. Ceritanya dia membeli baju anak-anak, tak dinyana ukurannya kekecilan. Dari Bekasi ke Cempaka Mas berniat menukar baju keesokan harinya, apa daya, tempat tersebut seperti labirin. Hanya lelah yang didapat. Cempaka Mas – Bekasi ditempuh tanpa hasil yang diharapkan.
Banyak orang saya rasa punya rasa bingung yang sama ketika memasuki area yang besar dan tidak familiar, tapi sebagian dari mereka mempunyai feeling yang bagus terhadap arah atau mampu memperkirakan jarak dan ruang, jadi seberapa jauh pun mereka masuk, pasti mereka mampu menangkap secara visual apa yang telah dilewati dan posisi awal dengan mudah ditemui.
Saya tidak mempunyai dua duanya.
Ketika masih di akademi, saya dan beberapa teman mengunjungi Mal Kelapa Gading. Kami semua tidak familiar dengan mal tersebut. Semua bingung. Sebenarnya ada seorang teman yang mempunyai kemampuan spatial yang baik, tapi saya dengan bodohnya meyakinkan mereka untuk mengikuti feeling saya. Dan bodohnya lagi, mereka menurut. Alhasil, kami makin jauh masuk ke dalam. Buang waktu dan tenaga. Sejak saat itu saya tidak percaya feeling saya dalam hal menuntun pada jalan yang benar.
Pengalaman terakhir nyasar di Jakarta saya alami dengan seorang teman bernama Iwan. Mendapat undangan pernikahan dari seorang kawan SMA, pasti saya sanggupi untuk datang meski tertulis undangan mulai jam 7 malam sampai jam 9. Berhubung Jakarta bukan tempat yang aman untuk berkendara, apalagi malam hari, dan ditambah lokasi yang masih belum jelas, saya putuskan untuk mengajak seorang teman laki-laki untuk menemani saya – selain menemani nyasar, juga sebagai tameng bila di jalan ada hal yang tidak diharapkan terjadi. Sedia payung sebelum hujan. Sedia bodyguard sebelum dipalak. Walaupun saya ragu apakah teman saya ini lebih berani dari saya bila keadaan genting, meski dia laki-laki (peace Wan hehehe).
Seminggu sebelumnya saya sudah mem-booking Iwan untuk menemani saya. Alhamdulillah dia bersedia. Saya beri jaminan bahwa saya akan menjemput dan antar dia dengan selamat sampai di rumah, karena dia tanggung jawab saya sepanjang jam itu.
Hari itu Iwan baru selesai melakukan seleksi terakhir pemilihan calon Abang None Jakarta di Jakarta Utara. Saya sarankan untuk berhenti di stasiun Tanjung Barat agar bisa saya jemput, mampir sebentar di rumah untuk magriban, lalu jalan menghadiri resepsi.
Mama tertawa begitu melihat saya yang memboncengi Iwan, berhubung dia belum bisa mengendarai motor. Saya tidak bermasalah dengan itu sama sekali. Mama tertawa pun bukan mengejek, hanya merasa bahagia karena bukan cuma mama yang belum bisa mengendarai motor, tenyata seorang laki-laki muda pun belum tentu bisa, itu intinya.
Di peta tertulis lokasinya berada di lingkungan DPR/MPR. Pikiran saya melayang tempat demo, dari Gatot Subroto lurus ke arah Slipi. Tapi adik saya menyarankan untuk mengambil rute Pondok Indah. Beberapa kali terpaksa berhenti untuk bertanya. Walaupun akhirnya sampai juga setelah nyaris 2 jam. Masalah kecil terjadi. Seharusnya belok kanan masuk gedung, saya lurus karena buta peta, dan Iwan pun idem. Akhirnya motor numpang parkir di gedung agak jauh dari target. Penjaga gedung dengan meyakinkan mengatakan, “lurus aja, nanti jalan sekitar 5 menit.”
Kami lurus. 5 menit lewat. Ketika melewati penjaga, sang sekuriti sudah menebak tujuan kami. Dia mengatakan, “jalan ke arah sana, sekitar 500 meter.” Gubrak!!!
Yah, untungnya masih ada beberapa kawan lama di sana, termasuk Novi, yang mungkin telah ikhlas menerima bahwa ITC Cempaka Mas belumlah jadi levelnya untuk hunting toko yang sama :) , sama seperti saya.
Dan, untungnya juga, makanan masih tersedia cukup untuk mengisi perut kami yang mencari alamat kesana kemari, seperti seorang Ayu Ting Ting yang mencari Alamat Palsu pacarnya. Cukup pula untuk mengisi tenaga Iwan yang berjuang seharian untuk mencoba menjadi calon dari Pulau Seribu, dan pasti cukup untuk mengobati kekecewaannya ketika namanya tidak keluar sebagai wakil dari sana. Well, see from the bright side. Saya pun begitu. Tak apalah nyasar, minimal bisa jadi bahan untuk memancing senyum kawan-kawan yang mungkin terlilit masalah yang pasti tak ada kata akhir.
Semoga menghibur dan have a nice day….
Nyasar tiada bertepi…
Tamat SMP, orang tua saya menyekolahkan saya di sekolah kejuruan di daerah Benhil. Tiga tahun bolak balik daerah tersebut seharusnya membuat saya hafal nama-nama gedung di sekitar sekolah tersebut, atau nama gedung yang selalu saya lewati tiap kali berangkat dan pulang sekolah. Tapi ternyata bukan jaminan. Gedung Jamsostek di Jalan Gatot Subroto pun baru tahu, itupun karena ada keperluan di sana. Kalau tidak ada keperluan dan ketika ada yang tanya gedung tersebut pada saya, kemungkinan akan saya jawab, “ha? Emang ada gedung jamsostek di Gatot?”
Beberapa bulan lalu, ketika mendapat panggilan untuk interview di Kedutaan Kanada di daerah Karet, tiga kali saya melewati gedung yang saya tuju. Alhasil, pada saat interview hasilnya kacau balau, karena rasa keki dan cape tidak bisa dihilangkan hanya dalam sekian menit. Untung tidak telat interview.
Selain menuju ke gedung itu, ada beberapa pengalaman serupa tapi tak sama yang saya hadapi. Ketika akan mengajukan visa melalui VFS, tertulis alamatnya Jln. Jendral Sudirman. Meluncurlah saya dengan Beat kesayangan berisi full bensin ke arah Sudirman, lanjut Thamrin, Bunderan HI, sampai Sarinah. Blank. Target lewat. Akhirnya putar balik, tanya pak polisi beberapa kali sambil menunjukkan alamat lengkap dan nama gedung tersebut. Akhirnya diketahui bahwa gedung tersebut setelah gedung BEJ. Meluncur….
Betapa bersyukurnya saya ketika menemukan gedung yang saya maksud. Motor saya belokan, berniat masuk dan parkir motor, apa daya, banyak gedung di sana tidak menyediakan area untuk parkir motor. Kalau pun ada, area tersebut hanya untuk yang langganan. Tak ada jalan lain, terpaksa putar balik dan mencari parkir liar yang sebelumnya saya lihat. Letaknya agak jauh dari gedung tujuan, sekitar 3 atau 4 gedung jaraknya, tapi saya tidak punya pilihan.
Proses yang saya butuhkan untuk membereskan dokumen yang dibutuhkan hanya beberapa menit, nyasarnya dua jam lebih.
Keluar dari gedung, saya bertanya pada abang penunggu parkir liar tersebut jalan menuju Blok M, satu-satunya patokan saya untuk pulang. Dengan simpel abang itu mengatakan, “lurus aja mba.” Jadilah saya lurus di jalur kiri, ketika saya sadar bahwa jalur kiri tidak selamanya untuk lurus, sudah telat. Saya terbawa arus kendaraan yang belok kiri. Alhasil, harus putar balik dan kembali melewati gedung tadi dan segera ambil jalur kanan agar kejadian tidak terulang. Parahnya, sebelumnya beberapa kali saya melewati daerah tersebut untuk meminjam buku di Perpustakaan Diknas, sebelah Ratu Plaza. Rasanya dongkol berat, seberat Pretty Asmara!
Sampai rumah, si Beat haus. Jarum sudah di angka merah hanya dalam waktu sekian jam.
Banyak lagi. Belum terhitung sekian kali nyasar di Robinson Ps. Minggu. Bayangkan! Tempat sekecil itu cukup membuat saya bingung. Kalau ITC Cempaka Mas jangan ditanya. Seorang teman sejak sekolah kejuruan bernama Novi pun nyasar. Ceritanya dia membeli baju anak-anak, tak dinyana ukurannya kekecilan. Dari Bekasi ke Cempaka Mas berniat menukar baju keesokan harinya, apa daya, tempat tersebut seperti labirin. Hanya lelah yang didapat. Cempaka Mas – Bekasi ditempuh tanpa hasil yang diharapkan.
Banyak orang saya rasa punya rasa bingung yang sama ketika memasuki area yang besar dan tidak familiar, tapi sebagian dari mereka mempunyai feeling yang bagus terhadap arah atau mampu memperkirakan jarak dan ruang, jadi seberapa jauh pun mereka masuk, pasti mereka mampu menangkap secara visual apa yang telah dilewati dan posisi awal dengan mudah ditemui.
Saya tidak mempunyai dua duanya.
Ketika masih di akademi, saya dan beberapa teman mengunjungi Mal Kelapa Gading. Kami semua tidak familiar dengan mal tersebut. Semua bingung. Sebenarnya ada seorang teman yang mempunyai kemampuan spatial yang baik, tapi saya dengan bodohnya meyakinkan mereka untuk mengikuti feeling saya. Dan bodohnya lagi, mereka menurut. Alhasil, kami makin jauh masuk ke dalam. Buang waktu dan tenaga. Sejak saat itu saya tidak percaya feeling saya dalam hal menuntun pada jalan yang benar.
Pengalaman terakhir nyasar di Jakarta saya alami dengan seorang teman bernama Iwan. Mendapat undangan pernikahan dari seorang kawan SMA, pasti saya sanggupi untuk datang meski tertulis undangan mulai jam 7 malam sampai jam 9. Berhubung Jakarta bukan tempat yang aman untuk berkendara, apalagi malam hari, dan ditambah lokasi yang masih belum jelas, saya putuskan untuk mengajak seorang teman laki-laki untuk menemani saya – selain menemani nyasar, juga sebagai tameng bila di jalan ada hal yang tidak diharapkan terjadi. Sedia payung sebelum hujan. Sedia bodyguard sebelum dipalak. Walaupun saya ragu apakah teman saya ini lebih berani dari saya bila keadaan genting, meski dia laki-laki (peace Wan hehehe).
Seminggu sebelumnya saya sudah mem-booking Iwan untuk menemani saya. Alhamdulillah dia bersedia. Saya beri jaminan bahwa saya akan menjemput dan antar dia dengan selamat sampai di rumah, karena dia tanggung jawab saya sepanjang jam itu.
Hari itu Iwan baru selesai melakukan seleksi terakhir pemilihan calon Abang None Jakarta di Jakarta Utara. Saya sarankan untuk berhenti di stasiun Tanjung Barat agar bisa saya jemput, mampir sebentar di rumah untuk magriban, lalu jalan menghadiri resepsi.
Mama tertawa begitu melihat saya yang memboncengi Iwan, berhubung dia belum bisa mengendarai motor. Saya tidak bermasalah dengan itu sama sekali. Mama tertawa pun bukan mengejek, hanya merasa bahagia karena bukan cuma mama yang belum bisa mengendarai motor, tenyata seorang laki-laki muda pun belum tentu bisa, itu intinya.
Di peta tertulis lokasinya berada di lingkungan DPR/MPR. Pikiran saya melayang tempat demo, dari Gatot Subroto lurus ke arah Slipi. Tapi adik saya menyarankan untuk mengambil rute Pondok Indah. Beberapa kali terpaksa berhenti untuk bertanya. Walaupun akhirnya sampai juga setelah nyaris 2 jam. Masalah kecil terjadi. Seharusnya belok kanan masuk gedung, saya lurus karena buta peta, dan Iwan pun idem. Akhirnya motor numpang parkir di gedung agak jauh dari target. Penjaga gedung dengan meyakinkan mengatakan, “lurus aja, nanti jalan sekitar 5 menit.”
Kami lurus. 5 menit lewat. Ketika melewati penjaga, sang sekuriti sudah menebak tujuan kami. Dia mengatakan, “jalan ke arah sana, sekitar 500 meter.” Gubrak!!!
Yah, untungnya masih ada beberapa kawan lama di sana, termasuk Novi, yang mungkin telah ikhlas menerima bahwa ITC Cempaka Mas belumlah jadi levelnya untuk hunting toko yang sama :) , sama seperti saya.
Dan, untungnya juga, makanan masih tersedia cukup untuk mengisi perut kami yang mencari alamat kesana kemari, seperti seorang Ayu Ting Ting yang mencari Alamat Palsu pacarnya. Cukup pula untuk mengisi tenaga Iwan yang berjuang seharian untuk mencoba menjadi calon dari Pulau Seribu, dan pasti cukup untuk mengobati kekecewaannya ketika namanya tidak keluar sebagai wakil dari sana. Well, see from the bright side. Saya pun begitu. Tak apalah nyasar, minimal bisa jadi bahan untuk memancing senyum kawan-kawan yang mungkin terlilit masalah yang pasti tak ada kata akhir.
Semoga menghibur dan have a nice day….
Nyasar tiada bertepi…
Tentang Kecerdasan – Tentang Eksistensi Diri
Ingat masa-masa waktu duduk di SD. Sebenarnya memorinya banyak yang
hilang sih, tapi ada beberapa yang tertanam kuat, salah satunya ketika
saya dipilih oleh guru kelas sebagai salah satu murid yang diharuskan
untuk mengikuti les tambahan matematika setelah pulang sekolah. Lesnya
disediakan gratis oleh sekolah, dan yang mengajar guru kelas juga.
Pertama kali merasakan ikut tambahan matematika waktu kelas empat (4)SD, saat itu gurunya Almarhum Pak Odjo. Saya ingat betul beliau begitu sabar dan tidak pernah didapati marah-marah dalam kelas. Cara mengajarnya simpel sebenarnya, jadi mudah dipahami oleh saya yang memusuhi matematika, tapi karena kelas isinya banyak kepala, jadi butuh konsentrasi ekstra untuk memahaminya. Untung sekolah tanggap dan Pak Odjo rela memberi pelajaran tambahan bagi beberapa murid, termasuk saya.
Saya kira bukan cuma saya di dunia ini yang agak anti dengan hitung-hitungan. Banyak orang di luar sana berharap kelas baru atau jurusan yang akan diambil tidak ada matematika. Sayang seribu sayang, harapan tinggal harapan. Mau ke arah Utara, Timur, Barat, atau Selatan, tetap ketemu hitung-hitungan dengan berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk pelajaran statistic dan semacamnya. Atau untuk mereka yang mengambil kuliah perawatan, pasti bertemu hitung-hitungan di dalam pelajaran farmakologi – ini jatohnya hitung takaran obat – belum lagi menghitung tetesan infus permenit. Dan lain sebagainya. Ga bisa di hindari.
Nah, balik ke romantika masa SD. Selain kelas penuh anak-anak yang kadang sibuk sendiri sehingga membuat konsentrasi pecah berkeping, ditambah lagi jumlah mata pelajaran yang banyak – 9 ya kalau ga salah – dan berhubung saya sekolah di sekolah swasta dengan basic agama, pasti ada tambahan beberapa mata pelajaran tentang agama. Intinya, ga salah kalau disebut “beban pelajaran.” Kadang memang benar terasa membebani. Tapi toh kita tidak punya pilihan selain mengikuti apa yang sudah tertulis di peraturan yang ada. Nilai akademik menjadi prioritas selain perilaku.
Ada seorang teman satu kelompok, saya ingat namanya Rafiqi. Orangnya gendut, pintar matematika. Ayahnya salah satu guru kelas di sekolah kami walaupun beliau tidak pernah memegang kelas kami. Beberapa kali Pak Izi Rahman, namanya, memberi les tambahan matematika pagi hari. Sangat membantu. Tapi memang sudah dari sananya lemot untuk menyerap matematika, ditambah lagi dengan rasa tertekan mendengar ‘pelajaran matematika’, rasanya makin mati kutu. Tapi toh tetap hal itu dijalani dan sangat bersyukur meski nilai matematika paling tinggi 7 (itu pun Aljabar, satu-satunya materi favorit saya. Bangun ruang? Forget it, please….). Makin itu diingat, makin merasa bodoh karena tulalit memahami rumus. Waktu SMP pernah membuat contekan rumus, ternyata nilai yang didapat hanya 3. Memalukan.
Sebenarnya bukan cuma matematika, hampir semua mata pelajaran, kecuali menggambar, nilai saya bikin panik, kalau ditiup sedikit bisa jatuh dan terjun bebas ditambah lagi kotak hitamnya jatuh ke dalam pasir hidup. Kadang-kadang berkhayal menjadi orang cerdas seperti salah satu idola saya, Bp. BJ. Habibie, Bp. Jusuf Kalla atau setidaknya seperti Macgyver lah….(Tapi “mana mungkin???? Membaca saja aku sulittttt)
Setelah sebesar ini baru saya mempelajari bahwa kecerdasan bukan cuma seberapa besar nilai ulangan atau di raport. Dalam teori Howard Gardner (1983), seorang ahli riset dari Amerika, menyebutkan bahwa ada 8 (delapan) jenis kecerdasan, antara lain:
a. Kecerdasan liguistik
b. Kecerdasan logis-matematis
c. Kecerdasan spasial
d. Kecerdasan musical
e. Kecerdasan kinestetik-jasmani
f. Kecerdasan antarpribadi
g. Kecerdasan intrapribadi
h. Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence)
Tiap macam kecerdasan ada karakternya, misalnya nih, seseorang yang memiliki kecedasan linguistic, bisa dipastikan dia itu mampu berargumentasi, meyakinkan orang lain (bakat jadi sales or pengacara), menghibur atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata. Gemar membaca dan dapat mengartikan bahasa tulisan dengan jelas. Cocok untuk mereka yang berminat menjadi penyair, jurnalis.
Well, pass. Saya bukan tipe ini. Ada sedikit tipe yang nyerempet. Cuma nyerempet, belum nabrak!
Lalu kecerdasan logis-matematis. Yah, udah pasti saya di luar kotak. Ciri-ciri orang dengan kecerdasan ini adalah; mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi (kalau saya mudah membuat orang lain marah); berpikir dalam pola sebab akibat, menciptakan hipotesis; pandangan hidupnya bersifat rasional (saya irrasional, main tabrak dan sedikit ambisius). Yak, yang mau jadi ilmuwan, akuntan, programmer silahkan diasah kecerdasan ini.
Kecerdasan musical? Wah, jauh dari ciri-ciri ini; Peka nada dan menyanyi lagu dengan tepat; dapat mengikuti irama; mendengar music dengan tingkat ketajaman lebih. (Pengalaman buruk saya terakhir ketika saya bernyanyi adalah membuat sholat teman batal karena dia tidak mampu menahan tawa mendengar saya bernyanyi).
Orang dengan kecerdasan kinestetik-jasmani ciri-cirinya; menikmati kegiatan fisik (olahraga) ; cekatan dan tidak bisa tinggal diam; berminat dengan segala sesuatu. Yang merasa mempunyai ciri-ciri ini disarankan mempunyai cita-cita seperti atlet, pengrajin, montir, menjahit, merakit model. Lagi-lagi saya “ga bangeetttt” kalau kata anak ABG.
Lain lagi dengan orang yang cerdas dalam aspek antarpribadi. Ini adalah kemampuan untuk memahami dan bekerjasama dengan orang lain. Kecerdasan ini terutama menuntut kemampuan untuk menyerap dan tanggap terhadap suasana hati dan hasrat orang lain. Bisa mempunyai rasa belas kasihan dan tanggung jawab sosial yang besar. Mereka mempunyai kemampuan untuk memahami orang lain dan melihat dunia dari sudut pandang orang yang bersangkutan. Cocok untuk mereka yang bercita-cita menjadi networker, negosiator, guru. (Sepertinya bukan lagi….bekerjasama dalam sebuah kelompok salah satu tantangan berat untuk orang macam saya yang tingkat toleransinya kadang di bawah 0 derajat Celsius).
Kecerdasan intrapribadi maksudnya mereka yang mampu untuk memahami diri sendiri dan percaya kepada diri sendiri. Anak-anak dengan kecerdasan intrapribadi tinggi umumnya lebih suka bermain sendiri, berkehendak kuat, dan tidak mudah dipengaruhi maupun diatur, bahkan mungkin kerap kali dicap keras kepala atau pemberontak. Padahal, yang sebenarnya diinginkan oleh anak-anak ini adalah melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri. Yak, yang merasa punya percaya diri tinggi setinggi anda memakai rexona, silakan ngacung dan masuk kelompok ini dan cocok menjadi konselor atau teolog, contohnya.
Mereka yang mempunyai kecerdasan naturalis adalah yang mempunyai kemampuan mengenali bentuk-bentuk alam serta hidup harmoni bersama alam. Anak-anak dengan kecerdasan naturalis tinggi mungkin akan suka bermain tanah atau pasir, berani memegang anjing, kucing, atau binatang lainnya. Mereka suka bermain dan berada di alam terbuka. Cita-cita yang cocok petani, nelayan, pendaki, pemburu.
Yah… sebenarnya ga parah-parah amat sih. Dari sekian jenis kecerdasan, ada satu atau dua kritria yang dibuat Gardner ada dalam diri saya. Tapi lagi-lagi kalau dibuat skor, mungkin maksimal 7. Bagaimana dengan teman-teman?
Oh iya, ada satu jenis kecerdasan yang benar-benar tidak saya punyai, yaitu kecerdasan spatial. Untuk orang yang hobi nyasar, selamat datang, bagian ini bukan untuk kita. Kecerdasan yang mencakup berpikir dalam gambar, serta mampu untuk menyerap, mengubah dan menciptakan kembali berbagai macam aspek visual (arsitek, fotografer, designer, pilot, insinyur)
Ciri-ciri mereka yang mempunyai kecerdasan jenis ini adalah;
- Kepekaan tajam untuk detail visual, keseimbangan, warna, garis, bentuk dan ruang
- Mudah memperkirakan jarak dan ruang
- Membuat sketsa ide dengan jelas
Pengalaman nyasar saya punya banyak. Di dalam mall atau ITC di Jakarta saja saya seringa nyasar, apalagi ini di negeri orang.
To be continued…
Sukses ya… semua….
(dikutip sebagian dari Mbah Google)
Pertama kali merasakan ikut tambahan matematika waktu kelas empat (4)SD, saat itu gurunya Almarhum Pak Odjo. Saya ingat betul beliau begitu sabar dan tidak pernah didapati marah-marah dalam kelas. Cara mengajarnya simpel sebenarnya, jadi mudah dipahami oleh saya yang memusuhi matematika, tapi karena kelas isinya banyak kepala, jadi butuh konsentrasi ekstra untuk memahaminya. Untung sekolah tanggap dan Pak Odjo rela memberi pelajaran tambahan bagi beberapa murid, termasuk saya.
Saya kira bukan cuma saya di dunia ini yang agak anti dengan hitung-hitungan. Banyak orang di luar sana berharap kelas baru atau jurusan yang akan diambil tidak ada matematika. Sayang seribu sayang, harapan tinggal harapan. Mau ke arah Utara, Timur, Barat, atau Selatan, tetap ketemu hitung-hitungan dengan berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk pelajaran statistic dan semacamnya. Atau untuk mereka yang mengambil kuliah perawatan, pasti bertemu hitung-hitungan di dalam pelajaran farmakologi – ini jatohnya hitung takaran obat – belum lagi menghitung tetesan infus permenit. Dan lain sebagainya. Ga bisa di hindari.
Nah, balik ke romantika masa SD. Selain kelas penuh anak-anak yang kadang sibuk sendiri sehingga membuat konsentrasi pecah berkeping, ditambah lagi jumlah mata pelajaran yang banyak – 9 ya kalau ga salah – dan berhubung saya sekolah di sekolah swasta dengan basic agama, pasti ada tambahan beberapa mata pelajaran tentang agama. Intinya, ga salah kalau disebut “beban pelajaran.” Kadang memang benar terasa membebani. Tapi toh kita tidak punya pilihan selain mengikuti apa yang sudah tertulis di peraturan yang ada. Nilai akademik menjadi prioritas selain perilaku.
Ada seorang teman satu kelompok, saya ingat namanya Rafiqi. Orangnya gendut, pintar matematika. Ayahnya salah satu guru kelas di sekolah kami walaupun beliau tidak pernah memegang kelas kami. Beberapa kali Pak Izi Rahman, namanya, memberi les tambahan matematika pagi hari. Sangat membantu. Tapi memang sudah dari sananya lemot untuk menyerap matematika, ditambah lagi dengan rasa tertekan mendengar ‘pelajaran matematika’, rasanya makin mati kutu. Tapi toh tetap hal itu dijalani dan sangat bersyukur meski nilai matematika paling tinggi 7 (itu pun Aljabar, satu-satunya materi favorit saya. Bangun ruang? Forget it, please….). Makin itu diingat, makin merasa bodoh karena tulalit memahami rumus. Waktu SMP pernah membuat contekan rumus, ternyata nilai yang didapat hanya 3. Memalukan.
Sebenarnya bukan cuma matematika, hampir semua mata pelajaran, kecuali menggambar, nilai saya bikin panik, kalau ditiup sedikit bisa jatuh dan terjun bebas ditambah lagi kotak hitamnya jatuh ke dalam pasir hidup. Kadang-kadang berkhayal menjadi orang cerdas seperti salah satu idola saya, Bp. BJ. Habibie, Bp. Jusuf Kalla atau setidaknya seperti Macgyver lah….(Tapi “mana mungkin???? Membaca saja aku sulittttt)
Setelah sebesar ini baru saya mempelajari bahwa kecerdasan bukan cuma seberapa besar nilai ulangan atau di raport. Dalam teori Howard Gardner (1983), seorang ahli riset dari Amerika, menyebutkan bahwa ada 8 (delapan) jenis kecerdasan, antara lain:
a. Kecerdasan liguistik
b. Kecerdasan logis-matematis
c. Kecerdasan spasial
d. Kecerdasan musical
e. Kecerdasan kinestetik-jasmani
f. Kecerdasan antarpribadi
g. Kecerdasan intrapribadi
h. Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence)
Tiap macam kecerdasan ada karakternya, misalnya nih, seseorang yang memiliki kecedasan linguistic, bisa dipastikan dia itu mampu berargumentasi, meyakinkan orang lain (bakat jadi sales or pengacara), menghibur atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata. Gemar membaca dan dapat mengartikan bahasa tulisan dengan jelas. Cocok untuk mereka yang berminat menjadi penyair, jurnalis.
Well, pass. Saya bukan tipe ini. Ada sedikit tipe yang nyerempet. Cuma nyerempet, belum nabrak!
Lalu kecerdasan logis-matematis. Yah, udah pasti saya di luar kotak. Ciri-ciri orang dengan kecerdasan ini adalah; mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi (kalau saya mudah membuat orang lain marah); berpikir dalam pola sebab akibat, menciptakan hipotesis; pandangan hidupnya bersifat rasional (saya irrasional, main tabrak dan sedikit ambisius). Yak, yang mau jadi ilmuwan, akuntan, programmer silahkan diasah kecerdasan ini.
Kecerdasan musical? Wah, jauh dari ciri-ciri ini; Peka nada dan menyanyi lagu dengan tepat; dapat mengikuti irama; mendengar music dengan tingkat ketajaman lebih. (Pengalaman buruk saya terakhir ketika saya bernyanyi adalah membuat sholat teman batal karena dia tidak mampu menahan tawa mendengar saya bernyanyi).
Orang dengan kecerdasan kinestetik-jasmani ciri-cirinya; menikmati kegiatan fisik (olahraga) ; cekatan dan tidak bisa tinggal diam; berminat dengan segala sesuatu. Yang merasa mempunyai ciri-ciri ini disarankan mempunyai cita-cita seperti atlet, pengrajin, montir, menjahit, merakit model. Lagi-lagi saya “ga bangeetttt” kalau kata anak ABG.
Lain lagi dengan orang yang cerdas dalam aspek antarpribadi. Ini adalah kemampuan untuk memahami dan bekerjasama dengan orang lain. Kecerdasan ini terutama menuntut kemampuan untuk menyerap dan tanggap terhadap suasana hati dan hasrat orang lain. Bisa mempunyai rasa belas kasihan dan tanggung jawab sosial yang besar. Mereka mempunyai kemampuan untuk memahami orang lain dan melihat dunia dari sudut pandang orang yang bersangkutan. Cocok untuk mereka yang bercita-cita menjadi networker, negosiator, guru. (Sepertinya bukan lagi….bekerjasama dalam sebuah kelompok salah satu tantangan berat untuk orang macam saya yang tingkat toleransinya kadang di bawah 0 derajat Celsius).
Kecerdasan intrapribadi maksudnya mereka yang mampu untuk memahami diri sendiri dan percaya kepada diri sendiri. Anak-anak dengan kecerdasan intrapribadi tinggi umumnya lebih suka bermain sendiri, berkehendak kuat, dan tidak mudah dipengaruhi maupun diatur, bahkan mungkin kerap kali dicap keras kepala atau pemberontak. Padahal, yang sebenarnya diinginkan oleh anak-anak ini adalah melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri. Yak, yang merasa punya percaya diri tinggi setinggi anda memakai rexona, silakan ngacung dan masuk kelompok ini dan cocok menjadi konselor atau teolog, contohnya.
Mereka yang mempunyai kecerdasan naturalis adalah yang mempunyai kemampuan mengenali bentuk-bentuk alam serta hidup harmoni bersama alam. Anak-anak dengan kecerdasan naturalis tinggi mungkin akan suka bermain tanah atau pasir, berani memegang anjing, kucing, atau binatang lainnya. Mereka suka bermain dan berada di alam terbuka. Cita-cita yang cocok petani, nelayan, pendaki, pemburu.
Yah… sebenarnya ga parah-parah amat sih. Dari sekian jenis kecerdasan, ada satu atau dua kritria yang dibuat Gardner ada dalam diri saya. Tapi lagi-lagi kalau dibuat skor, mungkin maksimal 7. Bagaimana dengan teman-teman?
Oh iya, ada satu jenis kecerdasan yang benar-benar tidak saya punyai, yaitu kecerdasan spatial. Untuk orang yang hobi nyasar, selamat datang, bagian ini bukan untuk kita. Kecerdasan yang mencakup berpikir dalam gambar, serta mampu untuk menyerap, mengubah dan menciptakan kembali berbagai macam aspek visual (arsitek, fotografer, designer, pilot, insinyur)
Ciri-ciri mereka yang mempunyai kecerdasan jenis ini adalah;
- Kepekaan tajam untuk detail visual, keseimbangan, warna, garis, bentuk dan ruang
- Mudah memperkirakan jarak dan ruang
- Membuat sketsa ide dengan jelas
Pengalaman nyasar saya punya banyak. Di dalam mall atau ITC di Jakarta saja saya seringa nyasar, apalagi ini di negeri orang.
To be continued…
Sukses ya… semua….
(dikutip sebagian dari Mbah Google)
Arti Kehadiran Teman III
Kopi darat. Istilah ini awalnya dipakai oleh pemakai radio amatir.
Maksudnya ya bertemu dengan orang yang awalnya cuma didengar suaranya
melalui radio. Kalau zaman internet sekarang, kopi darat lebih sering
berarti bertemu dengan seseorang yang kita temui di dunia maya.
Kebanyakan yang ditemui melalui situs pertemanan atau chatting.
Sekali saya kopi darat, tapi setelah itu tidak lagi. Itupun iseng. Lebih sering menemani teman yang kopi darat karena pasti ditraktir makan. Saya asik makan, teman saya asik ngobrol atau malah asik bingung cari topik yang tepat untuk dibicarakan. Tapi kalau lihat dari pengalaman teman saya tersebut sih, dia lebih banyak bingungnya. Saya? Kenyang…..
Entah berapa kali saya menemani teman saya tersebut untuk kopi darat. Mungkin nyaris sepuluh kali. Sepuluh-sepuluhnya meleset alias tidak berlanjut menjadi hubungan serius seperti yang dia harapkan. Jangankan hubungan serius, berteman pun tidak. Alasannya banyak. Tapi secara umum karena apa yang digambarkan melalui dunia maya jauh berbeda dengan aslinya (saya bukan membicarakan tentang performa fisik).
Ketika mengobrol di dunia maya, semua terasa lancar, seolah-olah sudah kenal baik, atau begitu perhatian. Tapi ketika ditemui? Ada saja komplain dari teman saya, entah orangnya terlalu pendiam, atau terlalu possesif, atau ga nyambung ketika diajak bicara. Itu hak dia. Saya angkat tangan. Lah gimana saya bisa mengiyakan atau memberi penilaian, kan saya asik makan? Tapi ada saat saya memberi komentar. Cuma sekali, itupun karena perbedaannya terlihat sekali.
Sekali itu teman saya dengan heboh mengatakan akan bertemu dengan seorang laki-laki yang begitu baik dan berumur hanya tiga tahun lebih tua darinya. Namun ketika ditemui? Ternyata seorang laki-laki yang jauh lebih dewasa daripada teman saya dan berstatus single parent. Ha??? Untuk umur pun dia menipu, siapa yang bisa menjamin kalau dia benar-benar single?
Itulah dunia maya. Serba abstrak. Kabur. Kadang ngaco. Kadang lebay. Kadang meleset. Kadang tepat. Untung-untungan. Nah, itulah mengapa saya tidak tertarik memberikan, minimal nomor telepon kepada orang-orang yang saya temui di dunia maya. Karena serba unpredictable. Kudu siap dengan kejutan yang timbul. Saya bermain aman. Berteman dengan orang yang bisa diajak bertatap muka langsung. Tapi itu dulu. Waktu masih di Jakarta, dimana orang dengan mudah ditemui. Tapi saya di kampung orang sekarang yang kondisinya jauh berbeda. Dimana saya tidak mempunyai teman yang bisa mengenalkan saya ketemannya yang lain, yang bisa membantu saya memperluas pergaulan.
Hari kerja saya hampir sama dengan orang yang bekerja kantoran. Hari Sabtu bekerja setengah hari. Hari minggu libur. Dua minggu sebelumnya saya mengunjungi seorang teman asal Indonesia yang tinggal sekitar tiga jam dari tempat host family saya. Minggu setelahnya saya sibuk memutar otak mencari cara untuk keluar seharian, mencari tempat yang bisa dituju. Di kepala saya terbayang mall yang dikunjungi sebelumnya, dimana saya melihat orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Itu tujuan awal saya. Tapi saya urungkan. Akhirnya saya hanya mengunjungi walmart yang tidak jauh dari sini, membeli oreo, keripik kentang, dan….. kuaci!!!! Mereka akan jadi teman baik saya sebelum saya menemukan teman yang benar-benar bisa diajak berbicara. Seorang teman chatting berkomentar bahwa saya akan gemuk bila mengkonsumsi itu. Saya hanya memutar bola mata saya. Untung dia tidak melihat dan merasakan frustasinya saya membaca komentarnya.
Perbedaan dulu dengan sekarang.
Dulu:
- Ketika ditanya “rumahnya dimana?” paling jauh saya katakan, “dekat Ragunan.” Titik. Tidak akan ada alamat terperinci.
- Ketika diminta nomor telepon, pasti saya diamkan. Dibilang sombong pun tidak peduli. Jujur, saya terlalu waspada (baca: takut).
- Ketika ditanya PIN BB pasti saya jawab, “kere, ga pake bebe.” Amin.
- Ketika ditanya, “boleh kenalan ga?” Jawaban saya lurus, “boleh.” Orang tersebut langsung ilfil. Pasti.
Itu dulu, ketika saya dikelilingi teman-teman
Tapi sekarang apapun saya lakukan untuk mendapatkan teman. Saya suka menyendiri, tapi tidak terbiasa sendiri. Hal pertama yang saya lakukan adalah googling mencari komunitas orang Indonesia disini. Tidak ditemukan.
Sebelum kesini, seorang teman mengingatkan untuk tidak terlalu bergabung dengan komunitas Indonesia demi meningkatkan kemampuan bahasa asing. Saya harus katakan tidak terhadap ide itu sekarang.
Komunitas tidak terdeteksi. Tidak hilang akal, saya bergabung di dating sites! Mencari satu persatu orang-orang dengan wajah atau nama asia tenggara yang tinggal di negara ini, syukur-syukur di kota yang sama. Laki-laki dan perempuan. Tabrak semua. Hasilnya? dari sekitar 10 orang yang saya kirimi surat, yang benar-benar tinggal disini hanya dua orang: satu orang Indonesia di Toronto, sekitar empat jam jalan darat, satu jam bila naik pesawat. Dengan cuek saya katakan pada teman baru saya yang di Toronto kalau saya baru tinggal disini dan butuh teman, saya pun dengan santai mengirim sms, “mau ya jadi teman saya?” Duh, kasihan ga sih???
Yang kedua adalah seorang teman yang belakangan saya tahu berasal dari Afghanistan. Dalam profilnya ditulis bahwa dia baru di Ottawa. Idem. Akhirnya…. Pikir saya, ada juga. Ditulis juga dia butuh teman. Bernapas lebih lega. Saya juga butuh!!! Akhirnya, dengan senang hati, saya tulis bahwa saya juga baru di kota ini dan saya pun butuh teman. Dengan memelas saya katakan, “would you be my friend?” gayung bersambut. Dia bertanya nomor telepon saya. Tidak perlu berpikir dua kali atau mempertahankan rasa parno, nomor telepon langsung saya berikan, dan ditelepon hari itu juga.
Satu kelegaan tersendiri ketika kita merasa kita tidak sendiri. Sampai sini saya mendapat pelajaran baru: lebih menyayangi teman-teman yang ada di depan mata dan buka kesempatan berteman.
I love you full, my friends…
Sekali saya kopi darat, tapi setelah itu tidak lagi. Itupun iseng. Lebih sering menemani teman yang kopi darat karena pasti ditraktir makan. Saya asik makan, teman saya asik ngobrol atau malah asik bingung cari topik yang tepat untuk dibicarakan. Tapi kalau lihat dari pengalaman teman saya tersebut sih, dia lebih banyak bingungnya. Saya? Kenyang…..
Entah berapa kali saya menemani teman saya tersebut untuk kopi darat. Mungkin nyaris sepuluh kali. Sepuluh-sepuluhnya meleset alias tidak berlanjut menjadi hubungan serius seperti yang dia harapkan. Jangankan hubungan serius, berteman pun tidak. Alasannya banyak. Tapi secara umum karena apa yang digambarkan melalui dunia maya jauh berbeda dengan aslinya (saya bukan membicarakan tentang performa fisik).
Ketika mengobrol di dunia maya, semua terasa lancar, seolah-olah sudah kenal baik, atau begitu perhatian. Tapi ketika ditemui? Ada saja komplain dari teman saya, entah orangnya terlalu pendiam, atau terlalu possesif, atau ga nyambung ketika diajak bicara. Itu hak dia. Saya angkat tangan. Lah gimana saya bisa mengiyakan atau memberi penilaian, kan saya asik makan? Tapi ada saat saya memberi komentar. Cuma sekali, itupun karena perbedaannya terlihat sekali.
Sekali itu teman saya dengan heboh mengatakan akan bertemu dengan seorang laki-laki yang begitu baik dan berumur hanya tiga tahun lebih tua darinya. Namun ketika ditemui? Ternyata seorang laki-laki yang jauh lebih dewasa daripada teman saya dan berstatus single parent. Ha??? Untuk umur pun dia menipu, siapa yang bisa menjamin kalau dia benar-benar single?
Itulah dunia maya. Serba abstrak. Kabur. Kadang ngaco. Kadang lebay. Kadang meleset. Kadang tepat. Untung-untungan. Nah, itulah mengapa saya tidak tertarik memberikan, minimal nomor telepon kepada orang-orang yang saya temui di dunia maya. Karena serba unpredictable. Kudu siap dengan kejutan yang timbul. Saya bermain aman. Berteman dengan orang yang bisa diajak bertatap muka langsung. Tapi itu dulu. Waktu masih di Jakarta, dimana orang dengan mudah ditemui. Tapi saya di kampung orang sekarang yang kondisinya jauh berbeda. Dimana saya tidak mempunyai teman yang bisa mengenalkan saya ketemannya yang lain, yang bisa membantu saya memperluas pergaulan.
Hari kerja saya hampir sama dengan orang yang bekerja kantoran. Hari Sabtu bekerja setengah hari. Hari minggu libur. Dua minggu sebelumnya saya mengunjungi seorang teman asal Indonesia yang tinggal sekitar tiga jam dari tempat host family saya. Minggu setelahnya saya sibuk memutar otak mencari cara untuk keluar seharian, mencari tempat yang bisa dituju. Di kepala saya terbayang mall yang dikunjungi sebelumnya, dimana saya melihat orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Itu tujuan awal saya. Tapi saya urungkan. Akhirnya saya hanya mengunjungi walmart yang tidak jauh dari sini, membeli oreo, keripik kentang, dan….. kuaci!!!! Mereka akan jadi teman baik saya sebelum saya menemukan teman yang benar-benar bisa diajak berbicara. Seorang teman chatting berkomentar bahwa saya akan gemuk bila mengkonsumsi itu. Saya hanya memutar bola mata saya. Untung dia tidak melihat dan merasakan frustasinya saya membaca komentarnya.
Perbedaan dulu dengan sekarang.
Dulu:
- Ketika ditanya “rumahnya dimana?” paling jauh saya katakan, “dekat Ragunan.” Titik. Tidak akan ada alamat terperinci.
- Ketika diminta nomor telepon, pasti saya diamkan. Dibilang sombong pun tidak peduli. Jujur, saya terlalu waspada (baca: takut).
- Ketika ditanya PIN BB pasti saya jawab, “kere, ga pake bebe.” Amin.
- Ketika ditanya, “boleh kenalan ga?” Jawaban saya lurus, “boleh.” Orang tersebut langsung ilfil. Pasti.
Itu dulu, ketika saya dikelilingi teman-teman
Tapi sekarang apapun saya lakukan untuk mendapatkan teman. Saya suka menyendiri, tapi tidak terbiasa sendiri. Hal pertama yang saya lakukan adalah googling mencari komunitas orang Indonesia disini. Tidak ditemukan.
Sebelum kesini, seorang teman mengingatkan untuk tidak terlalu bergabung dengan komunitas Indonesia demi meningkatkan kemampuan bahasa asing. Saya harus katakan tidak terhadap ide itu sekarang.
Komunitas tidak terdeteksi. Tidak hilang akal, saya bergabung di dating sites! Mencari satu persatu orang-orang dengan wajah atau nama asia tenggara yang tinggal di negara ini, syukur-syukur di kota yang sama. Laki-laki dan perempuan. Tabrak semua. Hasilnya? dari sekitar 10 orang yang saya kirimi surat, yang benar-benar tinggal disini hanya dua orang: satu orang Indonesia di Toronto, sekitar empat jam jalan darat, satu jam bila naik pesawat. Dengan cuek saya katakan pada teman baru saya yang di Toronto kalau saya baru tinggal disini dan butuh teman, saya pun dengan santai mengirim sms, “mau ya jadi teman saya?” Duh, kasihan ga sih???
Yang kedua adalah seorang teman yang belakangan saya tahu berasal dari Afghanistan. Dalam profilnya ditulis bahwa dia baru di Ottawa. Idem. Akhirnya…. Pikir saya, ada juga. Ditulis juga dia butuh teman. Bernapas lebih lega. Saya juga butuh!!! Akhirnya, dengan senang hati, saya tulis bahwa saya juga baru di kota ini dan saya pun butuh teman. Dengan memelas saya katakan, “would you be my friend?” gayung bersambut. Dia bertanya nomor telepon saya. Tidak perlu berpikir dua kali atau mempertahankan rasa parno, nomor telepon langsung saya berikan, dan ditelepon hari itu juga.
Satu kelegaan tersendiri ketika kita merasa kita tidak sendiri. Sampai sini saya mendapat pelajaran baru: lebih menyayangi teman-teman yang ada di depan mata dan buka kesempatan berteman.
I love you full, my friends…
Arti Kehadiran Teman II
Real friends stab you from in front of – kalimat yang entah saya baca
dimana. Bisa jadi di jalan atau status salah satu teman. Tapi saya
setuju. Seorang teman – yang benar-benar teman – akan mengingatkan kita
ketika kita berjalan di jalur yang salah. Tidak peduli seberapa pahit
hal yang harus dikatakan, atau sebesar apa konsekuensi yang nantinya
akan dihadapi, seorang ‘real friend’
akan mengambil langkah itu walaupun berat. Hal yang muncul di benak saya
adalah: saya belum menjadi ‘a real friend’ untuk teman-teman saya. Saya
cenderung menghindar ketika harus mengatakan hal berat, walaupun
niatnya baik. Saya cenderung mengambil jalan aman, dengan mengatakan:
terserah, itu hidupmu, kamu sudah cukup besar. Cuma itu. Kasarnya: Itu
bukan urusan saya. Atau bisa juga artinya: saya tidak mau mencampuri
hidupmu. Saya siap mendengarkan. Hanya mendengarkan. Bila kamu meminta,
saya akan memberikan pendapat saya. Tidak lebih dari itu. Tommy Page
bilang “a shoulder to cry on.” Saya cenderung memakai alasan yang
terakhir ini.
Mencari teman sejati itu susah susah gampang. Kalau nasib baik, dengan mudah kita dapatkan, kalau sebaliknya, yah, pasrah. Jalani hidup tanpa bersandar pada orang lain sebenarnya tidak ada salahnya, selama masih punya ‘The Real Guiding Star’, tapi tentu hidup bisa lebih ringan bila kita mempunyai kawan-kawan tempat berbagi suka apalagi duka. Bukankah kita adalah makhluk sosial dan tidak bisa hidup sendiri? Tidakkah segelas es teh di malam hari yang dinikmati di puncak gunung Rinjani terasa hangat bila kita membaginya bersama seorang karib?
Kalau di flash back, entah berapa kali saya mengalami konflik dengan teman. Ada yang kembali dan menjadi lebih dekat dari sebelumnya, ada justru yang tadinya dekat, malah menjauh karena konflik tersebut. Bukan perkara mudah mengelola konflik. Yah, sebenarnya mudah saja, asal ada kemauan, meskipun sedikit. Kemauan apa? Kemauan untuk mengakui kesalahan, kemauan untuk belajar menerima kritik, kemauan untuk menerima kelemahan teman dan kemauan bertoleransi.
Well, secara teori terlihat mudah. Prakteknya sangat berat. Sepertinya lebih ringan mengangkut beras 10 kilo ke lantai dua daripada berbesar hari mengakui kesalahan dan meminta maaf. Dan karena hidup ini adalah ‘school of life’, pasti banyak pengalaman yang bisa dipetik dari setiap momen yang kita, terutama saya, hadapi. Salah satu hal yang saya pelajari adalah bagaimana mulai berteman dan mempertahankan teman.
Cheers
Mencari teman sejati itu susah susah gampang. Kalau nasib baik, dengan mudah kita dapatkan, kalau sebaliknya, yah, pasrah. Jalani hidup tanpa bersandar pada orang lain sebenarnya tidak ada salahnya, selama masih punya ‘The Real Guiding Star’, tapi tentu hidup bisa lebih ringan bila kita mempunyai kawan-kawan tempat berbagi suka apalagi duka. Bukankah kita adalah makhluk sosial dan tidak bisa hidup sendiri? Tidakkah segelas es teh di malam hari yang dinikmati di puncak gunung Rinjani terasa hangat bila kita membaginya bersama seorang karib?
Kalau di flash back, entah berapa kali saya mengalami konflik dengan teman. Ada yang kembali dan menjadi lebih dekat dari sebelumnya, ada justru yang tadinya dekat, malah menjauh karena konflik tersebut. Bukan perkara mudah mengelola konflik. Yah, sebenarnya mudah saja, asal ada kemauan, meskipun sedikit. Kemauan apa? Kemauan untuk mengakui kesalahan, kemauan untuk belajar menerima kritik, kemauan untuk menerima kelemahan teman dan kemauan bertoleransi.
Well, secara teori terlihat mudah. Prakteknya sangat berat. Sepertinya lebih ringan mengangkut beras 10 kilo ke lantai dua daripada berbesar hari mengakui kesalahan dan meminta maaf. Dan karena hidup ini adalah ‘school of life’, pasti banyak pengalaman yang bisa dipetik dari setiap momen yang kita, terutama saya, hadapi. Salah satu hal yang saya pelajari adalah bagaimana mulai berteman dan mempertahankan teman.
Cheers
Arti Kehadiran Teman I
Saya, dan saya yakin banyak dari kita, terikat dengan internet. Tidak
mengecek situs pertemanan seperti twitter, tagged, myspace, tumblr,
facebook, dan lainnya dalam sehari sepertinya ada yang ganjil. Bukan
Cuma situs pertemanan, tapi juga mengecek email atau membaca berita on
line. Padahal dulu, sebelum internet mulai booming diawal tahun 90-an,
hidup asik-asik saja. Tapi memang zaman
berubah. Dulu sebelum ponsel booming, kemana-mana, yang penting bawa
doku dan KTP, aman, sekarang ketinggalan KTP lebih baik daripada
ketinggalan ponsel.
Dulu ponsel Nokia 8201 sudah cukup, bentuk sudah cukup oke, walaupun sekarang harganya hampir sama dengan harga BB, sekarang, BB menjamur. Dari anak TK sampai oma opa, familiar dengan benda yang disebut telepon pintar. Saya pun cukup familiar dengan itu, walaupun tidak menggunakannya dan tidak tertarik menggunakannya.
Semua berawal dari niat, begitu salah satu ajaran di agama. Semuanya. Termasuk penggunaan internet. Saya pribadi menggunakan internet awalnya untuk membantu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya, dengan cara mengobrol dengan kawan-kawan dari negara luar, entah itu dari Asia, Amerika, Afrika, maupun Eropa. Alhasil, sewaktu masih menjadi mahasiswa, nilai menulis saya selalu jadi andalan untuk mendongkrak IPK yang bisa jadi miring karena nilai lain, seperti statistic, yang anjlok tak karuan.
Kalau fungsi lain internet, yah, seperti yang lain, mencari informasi, mencari pekerjaan, melamar pekerjaan, ataupun belajar membuat blog. Intinya, memanfaatkan semaksimal mungkin untuk pengembangan diri. Situs pertemanan pasti saya buat juga, tapi jujur lebih karena penasaran, walaupun ujung-ujungnya digunakan sebagai alat komunikasi kedua setelah ponsel. Pak Pos sudah sangat jarang digunakan, apalagi merpati pos.
Dulu seringnya saya hanya menggunakan yahoo messanger, lalu iseng mengikuti Evan bergabung di situs pertemanan yang akhirnya paling sering saya gunakan, yaitu tagged, karena dengan mudah saya bisa mendapatkan teman asing. Belakangan ini saya cukup sering menggunakan facebook karena menjadi sarana komunikasi ketiga dengan teman dan keluarga setelah telepon dan sms, malah kadang lebih sering menggunakan sarana ini untuk menyapa teman.
Namanya saja situs pertemanan, biasanya dengan mudah kita mendapatkan teman. Begitu pula dengan saya. Tidak masalah menjawab pertanyaan “apa kabar?” atau “rumahnya dimana?” berkali-kali. Jawaban saya pun hanya “baik”, dan “di Jakarta”, kalaupun berkembang lebih jauh, seperti “Jakartanya dimana?”, tanpa dosa saya pasti menjawab, “Jakarta Selatan.” Biasanya, berkembang “iya tau, tepatnya dimana?” Pasti tidak saya jawab. Apalagi pertanyaan tentang telepon atau PIN BB. Pasti tidak saya jawab. Yang pertama karena saya lebih percaya teman yang bisa saya jumpai secara langsung, dan bukan bertemu ala kopi darat, yang kedua adalah karena saya bukan pengguna BB.
Tapi bukan berarti saya tidak pernah member nomor telepon. Beberapa kali saya memberikan nomor ponsel saya, dengan satu syarat: orang itu bukan berada di Indonesia. Terdengar sombong? Bisa ya, bisa tidak. Tapi saya punya alasannya. Selain karena menjaga keamanan diri, dalam hal ini saya agak was was bila bertemu dengan seorang yang saya temui pertama kali lewat internet, karena bisa jadi itu profil palsu (walaupun saya yakin banyak orang yang menggunakan profil asli), yang kedua adalah karena niat awal saya memang bukan mencari teman, tapi meningkatkan kemapuan bahasa Inggris saya. Semua tergantung niat.
Alasan selanjutnya kenapa saya cenderung hanya memberi nomor ponsel pada kenalan di luar Indonesia adalah karena kemungkinan mereka menelpon dan mengirim sms kecil. Memang ada beberapa yang berkirim sms atau telepon, tapi itupun tidak terlalu sering, akan jauh berbeda bila teman di Indonesia. Seorang teman yang gemar memberikan nomornya bercerita bahwa dia sering mendapat sms perhatian seperti “sedang apa?”, “sudah makan belum?”, “selamat pagi”, “jangan lupa makan ya” atau sms ‘basa-basi’ – menurut saya lohhh – walaupun bisa jadi mungkin salah satu dari pengirim sms itu adalah pelabuhan terakhirnya. Kita tidak pernah tahu. Tapi saya belum berniat mencoba.
Itu dulu, ketika saya masih di Jakarta. Maaf, bukan jual mahal, sekali lagi karena kewaspadaan saya keterlaluan hingga menimbulkan rasa parno tersendiri. Tapi ceritanya lain sekarang. Saya di negeri orang dimana orang-orangnya terlihat begitu sibuk. Saya suka menyendiri tapi saya tidak terbiasa sendiri. Saya butuh teman. Urgent!
Kalau ada survey tentang seberapa cepat mendapatkan teman, saya bisa jadi keluar sebagai orang yang terlama. Bukan hal yang mudah untuk saya merasa nyaman pada orang yang baru saya temui. Dulu keadaan ini sangat menyiksa, tapi sekarang terbiasa. Mungkin dengan butuh waktu lebih panjang, saya bisa punya waktu lebih banyak untuk mengobservasi karakter seseorang dan merasa nyaman. Semua ada sisi positif maupun negativnya. Dunia ini seimbang.
Dari 41 orang teman di SMA, hanya 2-3 orang yang benar-benar dekat dan sampai sekarang kami masih berhubungan meski hanya lewat situs pertemanan. Kadang kontak terjadi agak lama, tapi bila ada teman yang sakit atau mengalami musibah, kami pasti bergerak, walaupun hanya sekedar mengirim pesan berduka ataupun datang mengunjungi. Ada juga teman dari tempat kerja sebelumnya. Insha Allah silaturahim tetap terjaga. Tapi kalau ditotal, jumlahnya tak lebih dari ‘a handful’ kata orang bule, alias ga lebih dari sepuluh.
Itu cerita dulu, waktu masih di Jakarta yang dengan mudah kita temui orang bergerombol. Tapi sekarang saya di negeri orang, dimana kondisinya sangat berbeda.
Ketika pertama kali merasakan pagi disini, pandapat yang keluar dari mulut saya adalah, “sepi sekali.” Host family hanya tertawa dan mengatakan, “itu juga hal pertama yang istri saya katakana waktu pertama kali disini.”
Di depan rumahnya terdapat jalan yang cukup besar untuk dua mobil, bisa jadi lebih. Kiri kanannya rumah yang tipenya sama, tidak berpagar seperti di banyak kota besar di Indonesia, tapi yang lewat berjalan kaki bisa di hitung dengan jari. Selain karena anginnya yang dingin menusuk, juga karena sibuknya orang-orang bekerja untuk mempersiapkan masa depannya. Tidak ada orang kongkow-kongkow. Kalaupun ada sesekali orang lewat, mereka terlihat seperti berolahraga, karena berpakaian olah raga lengkap dan langkah kaki agak cepat.
Bersambung….
Dulu ponsel Nokia 8201 sudah cukup, bentuk sudah cukup oke, walaupun sekarang harganya hampir sama dengan harga BB, sekarang, BB menjamur. Dari anak TK sampai oma opa, familiar dengan benda yang disebut telepon pintar. Saya pun cukup familiar dengan itu, walaupun tidak menggunakannya dan tidak tertarik menggunakannya.
Semua berawal dari niat, begitu salah satu ajaran di agama. Semuanya. Termasuk penggunaan internet. Saya pribadi menggunakan internet awalnya untuk membantu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya, dengan cara mengobrol dengan kawan-kawan dari negara luar, entah itu dari Asia, Amerika, Afrika, maupun Eropa. Alhasil, sewaktu masih menjadi mahasiswa, nilai menulis saya selalu jadi andalan untuk mendongkrak IPK yang bisa jadi miring karena nilai lain, seperti statistic, yang anjlok tak karuan.
Kalau fungsi lain internet, yah, seperti yang lain, mencari informasi, mencari pekerjaan, melamar pekerjaan, ataupun belajar membuat blog. Intinya, memanfaatkan semaksimal mungkin untuk pengembangan diri. Situs pertemanan pasti saya buat juga, tapi jujur lebih karena penasaran, walaupun ujung-ujungnya digunakan sebagai alat komunikasi kedua setelah ponsel. Pak Pos sudah sangat jarang digunakan, apalagi merpati pos.
Dulu seringnya saya hanya menggunakan yahoo messanger, lalu iseng mengikuti Evan bergabung di situs pertemanan yang akhirnya paling sering saya gunakan, yaitu tagged, karena dengan mudah saya bisa mendapatkan teman asing. Belakangan ini saya cukup sering menggunakan facebook karena menjadi sarana komunikasi ketiga dengan teman dan keluarga setelah telepon dan sms, malah kadang lebih sering menggunakan sarana ini untuk menyapa teman.
Namanya saja situs pertemanan, biasanya dengan mudah kita mendapatkan teman. Begitu pula dengan saya. Tidak masalah menjawab pertanyaan “apa kabar?” atau “rumahnya dimana?” berkali-kali. Jawaban saya pun hanya “baik”, dan “di Jakarta”, kalaupun berkembang lebih jauh, seperti “Jakartanya dimana?”, tanpa dosa saya pasti menjawab, “Jakarta Selatan.” Biasanya, berkembang “iya tau, tepatnya dimana?” Pasti tidak saya jawab. Apalagi pertanyaan tentang telepon atau PIN BB. Pasti tidak saya jawab. Yang pertama karena saya lebih percaya teman yang bisa saya jumpai secara langsung, dan bukan bertemu ala kopi darat, yang kedua adalah karena saya bukan pengguna BB.
Tapi bukan berarti saya tidak pernah member nomor telepon. Beberapa kali saya memberikan nomor ponsel saya, dengan satu syarat: orang itu bukan berada di Indonesia. Terdengar sombong? Bisa ya, bisa tidak. Tapi saya punya alasannya. Selain karena menjaga keamanan diri, dalam hal ini saya agak was was bila bertemu dengan seorang yang saya temui pertama kali lewat internet, karena bisa jadi itu profil palsu (walaupun saya yakin banyak orang yang menggunakan profil asli), yang kedua adalah karena niat awal saya memang bukan mencari teman, tapi meningkatkan kemapuan bahasa Inggris saya. Semua tergantung niat.
Alasan selanjutnya kenapa saya cenderung hanya memberi nomor ponsel pada kenalan di luar Indonesia adalah karena kemungkinan mereka menelpon dan mengirim sms kecil. Memang ada beberapa yang berkirim sms atau telepon, tapi itupun tidak terlalu sering, akan jauh berbeda bila teman di Indonesia. Seorang teman yang gemar memberikan nomornya bercerita bahwa dia sering mendapat sms perhatian seperti “sedang apa?”, “sudah makan belum?”, “selamat pagi”, “jangan lupa makan ya” atau sms ‘basa-basi’ – menurut saya lohhh – walaupun bisa jadi mungkin salah satu dari pengirim sms itu adalah pelabuhan terakhirnya. Kita tidak pernah tahu. Tapi saya belum berniat mencoba.
Itu dulu, ketika saya masih di Jakarta. Maaf, bukan jual mahal, sekali lagi karena kewaspadaan saya keterlaluan hingga menimbulkan rasa parno tersendiri. Tapi ceritanya lain sekarang. Saya di negeri orang dimana orang-orangnya terlihat begitu sibuk. Saya suka menyendiri tapi saya tidak terbiasa sendiri. Saya butuh teman. Urgent!
Kalau ada survey tentang seberapa cepat mendapatkan teman, saya bisa jadi keluar sebagai orang yang terlama. Bukan hal yang mudah untuk saya merasa nyaman pada orang yang baru saya temui. Dulu keadaan ini sangat menyiksa, tapi sekarang terbiasa. Mungkin dengan butuh waktu lebih panjang, saya bisa punya waktu lebih banyak untuk mengobservasi karakter seseorang dan merasa nyaman. Semua ada sisi positif maupun negativnya. Dunia ini seimbang.
Dari 41 orang teman di SMA, hanya 2-3 orang yang benar-benar dekat dan sampai sekarang kami masih berhubungan meski hanya lewat situs pertemanan. Kadang kontak terjadi agak lama, tapi bila ada teman yang sakit atau mengalami musibah, kami pasti bergerak, walaupun hanya sekedar mengirim pesan berduka ataupun datang mengunjungi. Ada juga teman dari tempat kerja sebelumnya. Insha Allah silaturahim tetap terjaga. Tapi kalau ditotal, jumlahnya tak lebih dari ‘a handful’ kata orang bule, alias ga lebih dari sepuluh.
Itu cerita dulu, waktu masih di Jakarta yang dengan mudah kita temui orang bergerombol. Tapi sekarang saya di negeri orang, dimana kondisinya sangat berbeda.
Ketika pertama kali merasakan pagi disini, pandapat yang keluar dari mulut saya adalah, “sepi sekali.” Host family hanya tertawa dan mengatakan, “itu juga hal pertama yang istri saya katakana waktu pertama kali disini.”
Di depan rumahnya terdapat jalan yang cukup besar untuk dua mobil, bisa jadi lebih. Kiri kanannya rumah yang tipenya sama, tidak berpagar seperti di banyak kota besar di Indonesia, tapi yang lewat berjalan kaki bisa di hitung dengan jari. Selain karena anginnya yang dingin menusuk, juga karena sibuknya orang-orang bekerja untuk mempersiapkan masa depannya. Tidak ada orang kongkow-kongkow. Kalaupun ada sesekali orang lewat, mereka terlihat seperti berolahraga, karena berpakaian olah raga lengkap dan langkah kaki agak cepat.
Bersambung….
Pusaran Kebingungan
Menunggu adalah hal yang menjengkelkan bagi hampir semua orang. Mungkin
satu-satunya orang yang suka menunggu adalah Ridho Irama, karena dengan
menunggumu, ia mendapatkan support financial, dalam bentuk penjualan
album tentunya. Yah, ini menunggu dalam arti yang sesungguhnya. Menunggu
antrian di kasir, menunggu hujan berhenti, menunggu bis, menunggu
pacar, sama. Semuanya menjemukan. Melakukan sesuatu yang menyebalkan selama beberapa menit terasa beberapa jam.
Hal itu saya alami. Berkali-kali. Tapi kalau mau jujur sih, saya juga sering menyebabkan teman lain menunggu akibat dari budaya jam karet yang sudah masuk terlalu jauh dan bercampur dengan darah saya. Mencoba untuk menghilangkan, tapi rasanya sama susahnya seperti berhenti merokok pada perokok kronis.
Ketika saya mendapatkan telepon dari pihak VFS bahwa visa saya di telah selesai, saat itulah saya mengontak host family dan memberitahu tentang hal itu. Singkatnya, mereka segera mengecek penerbangan ke Ottawa dan mengirim email, menanyakan konfirmasi saya tentang tiket yang akan dipesan. Tertulis bahwa saya akan transit dua kali, di Narita, Jepang dan Toronto. Mereka katakan bahwa ada penerbangan lain mengharuskan saya transit di negeri Paman Sam, dan itu mustahil karena walaupun hanya transit, tetap saja penduduk Indonesia dan beberapa negara lain membutuhkan visa Amerika. Jadilah saya transit si Jepang.
Saya katakan pada keluarga tersebut bahwa saya tidak bermasalah dengan itu. Jadilah tiket dan jadwal penerbangan dikirim melalui email. Tertulis berangkat tanggal 1 Mei, pukul 09.45 pm dan transit di Jepang, lalu terbang lagi dan transit di Toronto sebelum ke Ottawa. Saya pikir, ok, ndak masalah. Tapi begitu saya lihat lebih teliti dan menghitung waktunya, ternyata di Narita saya harus transit selama 10 jam. 10 jam!
Dulu, waktu menghadiri resepsi pernikahan keluarga di Bali, ada delay dua jam. Dua jam terasa lambat. Saya mondar mandir di pertokoan di dalam bandara, tapi gerak gerik saya diawasi dengan tajam oleh seorang sekuriti yang gerakannya terlalu mencolok untuk sekedar disebut ‘mengecek keadaan baju.’ Saya lalu duduk diam, sang sekuriti kembali ketempatnya. PUAS?!
Dua jam menunggu sulit dikatakan ‘tak masalah.’ Tapi kali ini 10 jam. Beberapa rencana ada di dalam kepala saya. Dari sekedar membawa novel Laskar Pelangi kesukaan saya, sampai rencana keluar sebentar dari bandara den mengelilingi Jepang, walaupun hanya sedikit lingkungan luar bandara. Tapi niat kedua saya urungkan karena untuk itu kemungkinan saya butuh menukarkan uang ke Yen. Lagi ngirit nih.
Jadilah rencana pertama yang saya lakukan.
Sampai di Narita sekitar pukul 07.00 pagi waktu Jepang. Sepi. Bandaranya luas dan berkarpet. Beda sekali dengan Bandara Soekarno Hatta (maaf bila saya membandingkan banyak hal, antara negara saya, Indonesia, dengan negara lain. Tidak ada maksud buruk. Hanya mencoba membuka mata, semoga akan ada perbaikan lebih baik nantinya).
Tas cangklong yang saya bawa sebenarnya cukup besar untuk ukuran saya. Isinya hal-hal yang saya butuhkan – atau mungkin saya ‘pikir’ saya butuhkan selama di pesawat – tissue basah, tissue kering, mukena dan sajadah, jaket tebal, jaket iseng, roti gandum plus keju (kejunya belum saya makan sampai tulisan ini dibuat), netbook dan chargernya dan sweater dari seorang sahabat. Selain itu ada juga tas kecil berisi passport, tiket, surat dari kedutaan, surat kontrak kerja dan LMO, dan dompet berisi uang beberapa ratus dollar dan beberapa ratus ribu rupiah.
Terasa berat. Tapi perlu. Well, mungkin saya typical ‘just in case’ traveler. Maksudnya saya cenderung memasukkan apa yang saya pikir saya butuhkan ke dalam tas, untuk jaga-jaga, begitu pikir saya.
Demi keamanan, tiap orang diperiksa. Pasti. Tapi ketika di Narita, netbook yang letaknya di dasar tas terpaksa saya keluarkan sesuai keinginan security bandara. Jadilah beberapa benda diatasnya keluar semua dari tas cangklong saya. Repot. Netbook pun diperiksa apakah asli atau tidak. Lulus.
Bandara sepi. Penerbangan dari Jakarta ke Jepang sekitar tujuh jam. Berpikir untuk mandi, tapi saya urungkan. Akhirnya ke toilet bandara untuk membasuh muka dan ke toilet. Di toilet ini ada cerita tersendiri. Di Indonesia, kita familiar dengan toilet jongkok, walaupun banyak juga gedung yang memasang toilet duduk. Saya tidak suka toilet duduk di tempat umum, tapi tidak ada pilihan.
Ketika saya masuk ke toilet di Narita, jiwa kampungan gaptek saya keluar. Tidak ada ember dan bak sudah bisa diprediksi, tapi di Indonesia biasanya tersedia shower untuk membilas. Alih-alih menemukan shower, yang saya temui adalah beberapa tombol di sebelah toilet. Yah, terpaksa keinginan untuk BAK tertahan sekitar tiga menit untuk memahami fungsi tombol-tombol tersebut. Alhamdulillah setelah itu lancar.
Untuk membunuh waktu, saya berkeliling bandara dengan tas yang seberat nyaris delapan kilo. Mencoba mencari pintu keluar bandara, tapi menyadari kemapuan spatial saya rendah, saya terpaksa katakan “TIDAK” kepada “EXIT”. Ada puluhan gate, yang saya lihat sampai nyaris 50. Akhirnya karena lelah, saya berhenti dan duduk ditempat dimana saya bisa melihat pesawat hilir mudik. Pagi itu hanya dua orang disana, saya dan seorang Caucasian. Ngantuk, saya putuskan untuk tidur.
Ketika mencari tempat nyaman untuk tidur, saya melewati beberapa sofa yang ditata seperti di sebuah ruang tamu nyaman yang bisa kita lihat di sinetron-sinetron Indonesia yang menjual mimpi. Terlihat nyaman untuk tidur. Tapi karena diletakkan di tengah ruangan, hhh…. Tidur di tengah ruangan sementara yang lain hilir mudik? Tidak lah yau…
Entah berapa lama saya tertidur, yang pasti saya terbangun karena lapar. Teringat roti dan keju yang saya bawa dari Indonesia. Tapi saya urungkan. Belum makan namanya kalau belum masuk nasi ke perut. Tapi saya teringat pesan orang tua saya yang menganjurkan untuk menelpon mereka ketika sudah tiba di Jepang. Saya berkeliling mecari telepon umum. Keluar kembali sifat gaptek norak saya. Berkali-kali saya baca cara menggunakan telepon umum tersebut. Berkali-kali juga saya dibuat bingung. Intinya saya tidak punya Yen untuk membeli kartu telepon. Titik.
Satu hal yang membuat saya nyengir kuda adalah saat itu, sofa-sofa yang tertata apik tersebut hampir penuh dengan orang-orang Caucasian yang tertidur terlentang. Laki-laki dan perempuan. Cuek saja. Mereka bisa jadi terdampar juga sekian jam di bandara ini seperti saya. Yang lain saya lihat tertidur di lantai bandara yang beralaskan karpet nyaman. Yah, mau bagaimana lagi? Daripada tidur dalam posisi duduk seperti saya, memang lebih nyaman terlentang. Tapi saya tidak punya cukup nyali untuk tidur ditengah ruangan seperti itu.
Karena tidak mengerti cara menggunakan telepon umum tersebut, ujung-ujungnya saya putuskan kembali ke tempat saya tidur untuk membuka netbook yang saya bawa, berharap ada sinyal wifi, ternyata tidak. Netbook saya tutup. Celingak-celinguk sebentar, saya menangkap bayangan internet corner. Serasa mendapat air di padang pasir, dengan semangat saya dekati. Ternyata perlu izin dan membayar. Ok, saya pikir, tak masalah. Masalahnya adalah dimana?
Seorang sekuriti yang melintas saya hadang dan bertanya tentang cara pemakaian internet tersebut. Dia mengerti maksud saya, tapi bukan jawaban yang saya dapatkan, tapi security bohay itu mengajak saya melihat peta. Yang dia lakukan hanya menunjuk keberadaan kami sekarang, lalu information centre. Intinya, dia meminta saya bertanya di information centre dan dia mengajak saya kesana. Saya menurut.
Beberapa langkah dari sana, saya katakan pada security bahwa saya tidak jadi menggunakan internet di lokasi tersebut. Ada dua buah meja wifi saya lihat tak jauh dari sana. Jadilah saya mengirim berita ke keluarga melalui fb adik saya. Masalah teratasi. Nyaris satu jam saya berdiri disana, karena tidak disediakan bangku, tapi satu jam menggunakan internet tidak terasa kan? Lapar pun tidak terasa pula.
Hal selanjutnya yang harus dihadapi adalah sholat. Sebisa mungkin tetap berkomunikasi kepada Yang Maha Pemberi Kehidupan untuk bersyukur. Information centre saya datangi, bertanya tentang ruang sholat, sayangnya mereka tidak menyediakan ruang tersebut. Solusinya saya minta izin untuk sholat di ruang ganti. Nona tersebut mengizinkan. Jujur, saya tidak tahu kiblatnya. Saya berniat sholat dan saya lakukan itu. Dia Maha Tahu.
Sepanjang bandara terdapat banyak toko yang menyediakan souvenir, mulai dari parfum, kimono, tas, buku, dan lain sebagainya. Bermacam makanan ala Jepang pun pasti ada. Berhubung saya tidak tahu satu pun tentang nama makanan yang saya baca – dan jaga-jaga dari kemungkinan harga makanan mengagetkan – saya memilih cara aman. Cari Mc Donald. Harapan saya ada Panas, alias paket nasi, tapi harapan tinggal harapan. Saya disana, diantrian, sambil membaca menu satu persatu. Menu didominasi burger dan kentang goreng. Bungkus.
Satu burger ayam, kentang goreng ukuran sedang, dan air mineral segelas, delapan dollar. Yen saya tidak punya. Jadinya bayar pakai 10 dollar, kembaliannya yen. Entah berapa yen. Tapi dari kembalian itu saya masih bisa membeli sebotol air mineral seharga 15 yen dan sisanya masih ada, untuk kenang-kenangan.
Sepuluh jam tidak terlalu terasa 10 jam. Mungkin terasa 9,5 jam. Selain karena banyak yang bisa dilihat, juga karena bawaan yang berat memecah konsentrasi dan tenaga. Tenaga untuk mengutuk sudah terkuras.
Satu hal. Saya tidak terlalu bermasalah untuk makan. Apa saja, yang penting halal, dan saya tidak perlu tahu namanya. Karena akan membingungkan saya. Kenapa? Karena pasti akan banyak pertanyaan dalam benak saya tentang makanan tersebut: namanya, bahannya, asalnya, cara masaknya, sampai dari mana mereka mendapat bumbunya. Mereka hanya mengganggu nafsu makan. Lebih baik sajikan saja.
Di ANA, All Nippon Airways, maskapai yang saya gunakan, makanan tidak terlalu berpengaruh. Masih aman. Tapi dimenu terakhir, sedikit bermasalah. Makanan yang disajikan seperti daging yang digoreng, roti dan yang lain, saya lupa. Yang pasti saat itu saya baru bangun tidur, jadi bisa dikatakan itu sarapan. Sarapan berat. Saya paksakan karena saya saya tidak mau sakit setibanya disana. Hasilnya? Makanan keluar kembali setelah beberapa menit masuk. Pelajaran baru: ikuti kata hatimu. Ketika hatimu bilang jangan makan, PATUHI!!!
Yah, sebenarnya banyak lagi printilan yang bisa diceritakan. Mungkin lain kali, kalo memorinya ter-recall.
Sukses!
Hal itu saya alami. Berkali-kali. Tapi kalau mau jujur sih, saya juga sering menyebabkan teman lain menunggu akibat dari budaya jam karet yang sudah masuk terlalu jauh dan bercampur dengan darah saya. Mencoba untuk menghilangkan, tapi rasanya sama susahnya seperti berhenti merokok pada perokok kronis.
Ketika saya mendapatkan telepon dari pihak VFS bahwa visa saya di telah selesai, saat itulah saya mengontak host family dan memberitahu tentang hal itu. Singkatnya, mereka segera mengecek penerbangan ke Ottawa dan mengirim email, menanyakan konfirmasi saya tentang tiket yang akan dipesan. Tertulis bahwa saya akan transit dua kali, di Narita, Jepang dan Toronto. Mereka katakan bahwa ada penerbangan lain mengharuskan saya transit di negeri Paman Sam, dan itu mustahil karena walaupun hanya transit, tetap saja penduduk Indonesia dan beberapa negara lain membutuhkan visa Amerika. Jadilah saya transit si Jepang.
Saya katakan pada keluarga tersebut bahwa saya tidak bermasalah dengan itu. Jadilah tiket dan jadwal penerbangan dikirim melalui email. Tertulis berangkat tanggal 1 Mei, pukul 09.45 pm dan transit di Jepang, lalu terbang lagi dan transit di Toronto sebelum ke Ottawa. Saya pikir, ok, ndak masalah. Tapi begitu saya lihat lebih teliti dan menghitung waktunya, ternyata di Narita saya harus transit selama 10 jam. 10 jam!
Dulu, waktu menghadiri resepsi pernikahan keluarga di Bali, ada delay dua jam. Dua jam terasa lambat. Saya mondar mandir di pertokoan di dalam bandara, tapi gerak gerik saya diawasi dengan tajam oleh seorang sekuriti yang gerakannya terlalu mencolok untuk sekedar disebut ‘mengecek keadaan baju.’ Saya lalu duduk diam, sang sekuriti kembali ketempatnya. PUAS?!
Dua jam menunggu sulit dikatakan ‘tak masalah.’ Tapi kali ini 10 jam. Beberapa rencana ada di dalam kepala saya. Dari sekedar membawa novel Laskar Pelangi kesukaan saya, sampai rencana keluar sebentar dari bandara den mengelilingi Jepang, walaupun hanya sedikit lingkungan luar bandara. Tapi niat kedua saya urungkan karena untuk itu kemungkinan saya butuh menukarkan uang ke Yen. Lagi ngirit nih.
Jadilah rencana pertama yang saya lakukan.
Sampai di Narita sekitar pukul 07.00 pagi waktu Jepang. Sepi. Bandaranya luas dan berkarpet. Beda sekali dengan Bandara Soekarno Hatta (maaf bila saya membandingkan banyak hal, antara negara saya, Indonesia, dengan negara lain. Tidak ada maksud buruk. Hanya mencoba membuka mata, semoga akan ada perbaikan lebih baik nantinya).
Tas cangklong yang saya bawa sebenarnya cukup besar untuk ukuran saya. Isinya hal-hal yang saya butuhkan – atau mungkin saya ‘pikir’ saya butuhkan selama di pesawat – tissue basah, tissue kering, mukena dan sajadah, jaket tebal, jaket iseng, roti gandum plus keju (kejunya belum saya makan sampai tulisan ini dibuat), netbook dan chargernya dan sweater dari seorang sahabat. Selain itu ada juga tas kecil berisi passport, tiket, surat dari kedutaan, surat kontrak kerja dan LMO, dan dompet berisi uang beberapa ratus dollar dan beberapa ratus ribu rupiah.
Terasa berat. Tapi perlu. Well, mungkin saya typical ‘just in case’ traveler. Maksudnya saya cenderung memasukkan apa yang saya pikir saya butuhkan ke dalam tas, untuk jaga-jaga, begitu pikir saya.
Demi keamanan, tiap orang diperiksa. Pasti. Tapi ketika di Narita, netbook yang letaknya di dasar tas terpaksa saya keluarkan sesuai keinginan security bandara. Jadilah beberapa benda diatasnya keluar semua dari tas cangklong saya. Repot. Netbook pun diperiksa apakah asli atau tidak. Lulus.
Bandara sepi. Penerbangan dari Jakarta ke Jepang sekitar tujuh jam. Berpikir untuk mandi, tapi saya urungkan. Akhirnya ke toilet bandara untuk membasuh muka dan ke toilet. Di toilet ini ada cerita tersendiri. Di Indonesia, kita familiar dengan toilet jongkok, walaupun banyak juga gedung yang memasang toilet duduk. Saya tidak suka toilet duduk di tempat umum, tapi tidak ada pilihan.
Ketika saya masuk ke toilet di Narita, jiwa kampungan gaptek saya keluar. Tidak ada ember dan bak sudah bisa diprediksi, tapi di Indonesia biasanya tersedia shower untuk membilas. Alih-alih menemukan shower, yang saya temui adalah beberapa tombol di sebelah toilet. Yah, terpaksa keinginan untuk BAK tertahan sekitar tiga menit untuk memahami fungsi tombol-tombol tersebut. Alhamdulillah setelah itu lancar.
Untuk membunuh waktu, saya berkeliling bandara dengan tas yang seberat nyaris delapan kilo. Mencoba mencari pintu keluar bandara, tapi menyadari kemapuan spatial saya rendah, saya terpaksa katakan “TIDAK” kepada “EXIT”. Ada puluhan gate, yang saya lihat sampai nyaris 50. Akhirnya karena lelah, saya berhenti dan duduk ditempat dimana saya bisa melihat pesawat hilir mudik. Pagi itu hanya dua orang disana, saya dan seorang Caucasian. Ngantuk, saya putuskan untuk tidur.
Ketika mencari tempat nyaman untuk tidur, saya melewati beberapa sofa yang ditata seperti di sebuah ruang tamu nyaman yang bisa kita lihat di sinetron-sinetron Indonesia yang menjual mimpi. Terlihat nyaman untuk tidur. Tapi karena diletakkan di tengah ruangan, hhh…. Tidur di tengah ruangan sementara yang lain hilir mudik? Tidak lah yau…
Entah berapa lama saya tertidur, yang pasti saya terbangun karena lapar. Teringat roti dan keju yang saya bawa dari Indonesia. Tapi saya urungkan. Belum makan namanya kalau belum masuk nasi ke perut. Tapi saya teringat pesan orang tua saya yang menganjurkan untuk menelpon mereka ketika sudah tiba di Jepang. Saya berkeliling mecari telepon umum. Keluar kembali sifat gaptek norak saya. Berkali-kali saya baca cara menggunakan telepon umum tersebut. Berkali-kali juga saya dibuat bingung. Intinya saya tidak punya Yen untuk membeli kartu telepon. Titik.
Satu hal yang membuat saya nyengir kuda adalah saat itu, sofa-sofa yang tertata apik tersebut hampir penuh dengan orang-orang Caucasian yang tertidur terlentang. Laki-laki dan perempuan. Cuek saja. Mereka bisa jadi terdampar juga sekian jam di bandara ini seperti saya. Yang lain saya lihat tertidur di lantai bandara yang beralaskan karpet nyaman. Yah, mau bagaimana lagi? Daripada tidur dalam posisi duduk seperti saya, memang lebih nyaman terlentang. Tapi saya tidak punya cukup nyali untuk tidur ditengah ruangan seperti itu.
Karena tidak mengerti cara menggunakan telepon umum tersebut, ujung-ujungnya saya putuskan kembali ke tempat saya tidur untuk membuka netbook yang saya bawa, berharap ada sinyal wifi, ternyata tidak. Netbook saya tutup. Celingak-celinguk sebentar, saya menangkap bayangan internet corner. Serasa mendapat air di padang pasir, dengan semangat saya dekati. Ternyata perlu izin dan membayar. Ok, saya pikir, tak masalah. Masalahnya adalah dimana?
Seorang sekuriti yang melintas saya hadang dan bertanya tentang cara pemakaian internet tersebut. Dia mengerti maksud saya, tapi bukan jawaban yang saya dapatkan, tapi security bohay itu mengajak saya melihat peta. Yang dia lakukan hanya menunjuk keberadaan kami sekarang, lalu information centre. Intinya, dia meminta saya bertanya di information centre dan dia mengajak saya kesana. Saya menurut.
Beberapa langkah dari sana, saya katakan pada security bahwa saya tidak jadi menggunakan internet di lokasi tersebut. Ada dua buah meja wifi saya lihat tak jauh dari sana. Jadilah saya mengirim berita ke keluarga melalui fb adik saya. Masalah teratasi. Nyaris satu jam saya berdiri disana, karena tidak disediakan bangku, tapi satu jam menggunakan internet tidak terasa kan? Lapar pun tidak terasa pula.
Hal selanjutnya yang harus dihadapi adalah sholat. Sebisa mungkin tetap berkomunikasi kepada Yang Maha Pemberi Kehidupan untuk bersyukur. Information centre saya datangi, bertanya tentang ruang sholat, sayangnya mereka tidak menyediakan ruang tersebut. Solusinya saya minta izin untuk sholat di ruang ganti. Nona tersebut mengizinkan. Jujur, saya tidak tahu kiblatnya. Saya berniat sholat dan saya lakukan itu. Dia Maha Tahu.
Sepanjang bandara terdapat banyak toko yang menyediakan souvenir, mulai dari parfum, kimono, tas, buku, dan lain sebagainya. Bermacam makanan ala Jepang pun pasti ada. Berhubung saya tidak tahu satu pun tentang nama makanan yang saya baca – dan jaga-jaga dari kemungkinan harga makanan mengagetkan – saya memilih cara aman. Cari Mc Donald. Harapan saya ada Panas, alias paket nasi, tapi harapan tinggal harapan. Saya disana, diantrian, sambil membaca menu satu persatu. Menu didominasi burger dan kentang goreng. Bungkus.
Satu burger ayam, kentang goreng ukuran sedang, dan air mineral segelas, delapan dollar. Yen saya tidak punya. Jadinya bayar pakai 10 dollar, kembaliannya yen. Entah berapa yen. Tapi dari kembalian itu saya masih bisa membeli sebotol air mineral seharga 15 yen dan sisanya masih ada, untuk kenang-kenangan.
Sepuluh jam tidak terlalu terasa 10 jam. Mungkin terasa 9,5 jam. Selain karena banyak yang bisa dilihat, juga karena bawaan yang berat memecah konsentrasi dan tenaga. Tenaga untuk mengutuk sudah terkuras.
Satu hal. Saya tidak terlalu bermasalah untuk makan. Apa saja, yang penting halal, dan saya tidak perlu tahu namanya. Karena akan membingungkan saya. Kenapa? Karena pasti akan banyak pertanyaan dalam benak saya tentang makanan tersebut: namanya, bahannya, asalnya, cara masaknya, sampai dari mana mereka mendapat bumbunya. Mereka hanya mengganggu nafsu makan. Lebih baik sajikan saja.
Di ANA, All Nippon Airways, maskapai yang saya gunakan, makanan tidak terlalu berpengaruh. Masih aman. Tapi dimenu terakhir, sedikit bermasalah. Makanan yang disajikan seperti daging yang digoreng, roti dan yang lain, saya lupa. Yang pasti saat itu saya baru bangun tidur, jadi bisa dikatakan itu sarapan. Sarapan berat. Saya paksakan karena saya saya tidak mau sakit setibanya disana. Hasilnya? Makanan keluar kembali setelah beberapa menit masuk. Pelajaran baru: ikuti kata hatimu. Ketika hatimu bilang jangan makan, PATUHI!!!
Yah, sebenarnya banyak lagi printilan yang bisa diceritakan. Mungkin lain kali, kalo memorinya ter-recall.
Sukses!
Langganan:
Postingan (Atom)