Real friends stab you from in front of – kalimat yang entah saya baca
dimana. Bisa jadi di jalan atau status salah satu teman. Tapi saya
setuju. Seorang teman – yang benar-benar teman – akan mengingatkan kita
ketika kita berjalan di jalur yang salah. Tidak peduli seberapa pahit
hal yang harus dikatakan, atau sebesar apa konsekuensi yang nantinya
akan dihadapi, seorang ‘real friend’
akan mengambil langkah itu walaupun berat. Hal yang muncul di benak saya
adalah: saya belum menjadi ‘a real friend’ untuk teman-teman saya. Saya
cenderung menghindar ketika harus mengatakan hal berat, walaupun
niatnya baik. Saya cenderung mengambil jalan aman, dengan mengatakan:
terserah, itu hidupmu, kamu sudah cukup besar. Cuma itu. Kasarnya: Itu
bukan urusan saya. Atau bisa juga artinya: saya tidak mau mencampuri
hidupmu. Saya siap mendengarkan. Hanya mendengarkan. Bila kamu meminta,
saya akan memberikan pendapat saya. Tidak lebih dari itu. Tommy Page
bilang “a shoulder to cry on.” Saya cenderung memakai alasan yang
terakhir ini.
Mencari teman sejati itu susah susah gampang.
Kalau nasib baik, dengan mudah kita dapatkan, kalau sebaliknya, yah,
pasrah. Jalani hidup tanpa bersandar pada orang lain sebenarnya tidak
ada salahnya, selama masih punya ‘The Real Guiding Star’, tapi tentu
hidup bisa lebih ringan bila kita mempunyai kawan-kawan tempat berbagi
suka apalagi duka. Bukankah kita adalah makhluk sosial dan tidak bisa
hidup sendiri? Tidakkah segelas es teh di malam hari yang dinikmati di
puncak gunung Rinjani terasa hangat bila kita membaginya bersama seorang
karib?
Kalau di flash back, entah berapa kali saya mengalami
konflik dengan teman. Ada yang kembali dan menjadi lebih dekat dari
sebelumnya, ada justru yang tadinya dekat, malah menjauh karena konflik
tersebut. Bukan perkara mudah mengelola konflik. Yah, sebenarnya mudah
saja, asal ada kemauan, meskipun sedikit. Kemauan apa? Kemauan untuk
mengakui kesalahan, kemauan untuk belajar menerima kritik, kemauan untuk
menerima kelemahan teman dan kemauan bertoleransi.
Well,
secara teori terlihat mudah. Prakteknya sangat berat. Sepertinya lebih
ringan mengangkut beras 10 kilo ke lantai dua daripada berbesar hari
mengakui kesalahan dan meminta maaf. Dan karena hidup ini adalah ‘school
of life’, pasti banyak pengalaman yang bisa dipetik dari setiap momen
yang kita, terutama saya, hadapi. Salah satu hal yang saya pelajari
adalah bagaimana mulai berteman dan mempertahankan teman.
Cheers
Tampilkan postingan dengan label jati diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jati diri. Tampilkan semua postingan
Minggu, 29 Juli 2012
Arti Kehadiran Teman I
Saya, dan saya yakin banyak dari kita, terikat dengan internet. Tidak
mengecek situs pertemanan seperti twitter, tagged, myspace, tumblr,
facebook, dan lainnya dalam sehari sepertinya ada yang ganjil. Bukan
Cuma situs pertemanan, tapi juga mengecek email atau membaca berita on
line. Padahal dulu, sebelum internet mulai booming diawal tahun 90-an,
hidup asik-asik saja. Tapi memang zaman
berubah. Dulu sebelum ponsel booming, kemana-mana, yang penting bawa
doku dan KTP, aman, sekarang ketinggalan KTP lebih baik daripada
ketinggalan ponsel.
Dulu ponsel Nokia 8201 sudah cukup, bentuk sudah cukup oke, walaupun sekarang harganya hampir sama dengan harga BB, sekarang, BB menjamur. Dari anak TK sampai oma opa, familiar dengan benda yang disebut telepon pintar. Saya pun cukup familiar dengan itu, walaupun tidak menggunakannya dan tidak tertarik menggunakannya.
Semua berawal dari niat, begitu salah satu ajaran di agama. Semuanya. Termasuk penggunaan internet. Saya pribadi menggunakan internet awalnya untuk membantu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya, dengan cara mengobrol dengan kawan-kawan dari negara luar, entah itu dari Asia, Amerika, Afrika, maupun Eropa. Alhasil, sewaktu masih menjadi mahasiswa, nilai menulis saya selalu jadi andalan untuk mendongkrak IPK yang bisa jadi miring karena nilai lain, seperti statistic, yang anjlok tak karuan.
Kalau fungsi lain internet, yah, seperti yang lain, mencari informasi, mencari pekerjaan, melamar pekerjaan, ataupun belajar membuat blog. Intinya, memanfaatkan semaksimal mungkin untuk pengembangan diri. Situs pertemanan pasti saya buat juga, tapi jujur lebih karena penasaran, walaupun ujung-ujungnya digunakan sebagai alat komunikasi kedua setelah ponsel. Pak Pos sudah sangat jarang digunakan, apalagi merpati pos.
Dulu seringnya saya hanya menggunakan yahoo messanger, lalu iseng mengikuti Evan bergabung di situs pertemanan yang akhirnya paling sering saya gunakan, yaitu tagged, karena dengan mudah saya bisa mendapatkan teman asing. Belakangan ini saya cukup sering menggunakan facebook karena menjadi sarana komunikasi ketiga dengan teman dan keluarga setelah telepon dan sms, malah kadang lebih sering menggunakan sarana ini untuk menyapa teman.
Namanya saja situs pertemanan, biasanya dengan mudah kita mendapatkan teman. Begitu pula dengan saya. Tidak masalah menjawab pertanyaan “apa kabar?” atau “rumahnya dimana?” berkali-kali. Jawaban saya pun hanya “baik”, dan “di Jakarta”, kalaupun berkembang lebih jauh, seperti “Jakartanya dimana?”, tanpa dosa saya pasti menjawab, “Jakarta Selatan.” Biasanya, berkembang “iya tau, tepatnya dimana?” Pasti tidak saya jawab. Apalagi pertanyaan tentang telepon atau PIN BB. Pasti tidak saya jawab. Yang pertama karena saya lebih percaya teman yang bisa saya jumpai secara langsung, dan bukan bertemu ala kopi darat, yang kedua adalah karena saya bukan pengguna BB.
Tapi bukan berarti saya tidak pernah member nomor telepon. Beberapa kali saya memberikan nomor ponsel saya, dengan satu syarat: orang itu bukan berada di Indonesia. Terdengar sombong? Bisa ya, bisa tidak. Tapi saya punya alasannya. Selain karena menjaga keamanan diri, dalam hal ini saya agak was was bila bertemu dengan seorang yang saya temui pertama kali lewat internet, karena bisa jadi itu profil palsu (walaupun saya yakin banyak orang yang menggunakan profil asli), yang kedua adalah karena niat awal saya memang bukan mencari teman, tapi meningkatkan kemapuan bahasa Inggris saya. Semua tergantung niat.
Alasan selanjutnya kenapa saya cenderung hanya memberi nomor ponsel pada kenalan di luar Indonesia adalah karena kemungkinan mereka menelpon dan mengirim sms kecil. Memang ada beberapa yang berkirim sms atau telepon, tapi itupun tidak terlalu sering, akan jauh berbeda bila teman di Indonesia. Seorang teman yang gemar memberikan nomornya bercerita bahwa dia sering mendapat sms perhatian seperti “sedang apa?”, “sudah makan belum?”, “selamat pagi”, “jangan lupa makan ya” atau sms ‘basa-basi’ – menurut saya lohhh – walaupun bisa jadi mungkin salah satu dari pengirim sms itu adalah pelabuhan terakhirnya. Kita tidak pernah tahu. Tapi saya belum berniat mencoba.
Itu dulu, ketika saya masih di Jakarta. Maaf, bukan jual mahal, sekali lagi karena kewaspadaan saya keterlaluan hingga menimbulkan rasa parno tersendiri. Tapi ceritanya lain sekarang. Saya di negeri orang dimana orang-orangnya terlihat begitu sibuk. Saya suka menyendiri tapi saya tidak terbiasa sendiri. Saya butuh teman. Urgent!
Kalau ada survey tentang seberapa cepat mendapatkan teman, saya bisa jadi keluar sebagai orang yang terlama. Bukan hal yang mudah untuk saya merasa nyaman pada orang yang baru saya temui. Dulu keadaan ini sangat menyiksa, tapi sekarang terbiasa. Mungkin dengan butuh waktu lebih panjang, saya bisa punya waktu lebih banyak untuk mengobservasi karakter seseorang dan merasa nyaman. Semua ada sisi positif maupun negativnya. Dunia ini seimbang.
Dari 41 orang teman di SMA, hanya 2-3 orang yang benar-benar dekat dan sampai sekarang kami masih berhubungan meski hanya lewat situs pertemanan. Kadang kontak terjadi agak lama, tapi bila ada teman yang sakit atau mengalami musibah, kami pasti bergerak, walaupun hanya sekedar mengirim pesan berduka ataupun datang mengunjungi. Ada juga teman dari tempat kerja sebelumnya. Insha Allah silaturahim tetap terjaga. Tapi kalau ditotal, jumlahnya tak lebih dari ‘a handful’ kata orang bule, alias ga lebih dari sepuluh.
Itu cerita dulu, waktu masih di Jakarta yang dengan mudah kita temui orang bergerombol. Tapi sekarang saya di negeri orang, dimana kondisinya sangat berbeda.
Ketika pertama kali merasakan pagi disini, pandapat yang keluar dari mulut saya adalah, “sepi sekali.” Host family hanya tertawa dan mengatakan, “itu juga hal pertama yang istri saya katakana waktu pertama kali disini.”
Di depan rumahnya terdapat jalan yang cukup besar untuk dua mobil, bisa jadi lebih. Kiri kanannya rumah yang tipenya sama, tidak berpagar seperti di banyak kota besar di Indonesia, tapi yang lewat berjalan kaki bisa di hitung dengan jari. Selain karena anginnya yang dingin menusuk, juga karena sibuknya orang-orang bekerja untuk mempersiapkan masa depannya. Tidak ada orang kongkow-kongkow. Kalaupun ada sesekali orang lewat, mereka terlihat seperti berolahraga, karena berpakaian olah raga lengkap dan langkah kaki agak cepat.
Bersambung….
Dulu ponsel Nokia 8201 sudah cukup, bentuk sudah cukup oke, walaupun sekarang harganya hampir sama dengan harga BB, sekarang, BB menjamur. Dari anak TK sampai oma opa, familiar dengan benda yang disebut telepon pintar. Saya pun cukup familiar dengan itu, walaupun tidak menggunakannya dan tidak tertarik menggunakannya.
Semua berawal dari niat, begitu salah satu ajaran di agama. Semuanya. Termasuk penggunaan internet. Saya pribadi menggunakan internet awalnya untuk membantu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya, dengan cara mengobrol dengan kawan-kawan dari negara luar, entah itu dari Asia, Amerika, Afrika, maupun Eropa. Alhasil, sewaktu masih menjadi mahasiswa, nilai menulis saya selalu jadi andalan untuk mendongkrak IPK yang bisa jadi miring karena nilai lain, seperti statistic, yang anjlok tak karuan.
Kalau fungsi lain internet, yah, seperti yang lain, mencari informasi, mencari pekerjaan, melamar pekerjaan, ataupun belajar membuat blog. Intinya, memanfaatkan semaksimal mungkin untuk pengembangan diri. Situs pertemanan pasti saya buat juga, tapi jujur lebih karena penasaran, walaupun ujung-ujungnya digunakan sebagai alat komunikasi kedua setelah ponsel. Pak Pos sudah sangat jarang digunakan, apalagi merpati pos.
Dulu seringnya saya hanya menggunakan yahoo messanger, lalu iseng mengikuti Evan bergabung di situs pertemanan yang akhirnya paling sering saya gunakan, yaitu tagged, karena dengan mudah saya bisa mendapatkan teman asing. Belakangan ini saya cukup sering menggunakan facebook karena menjadi sarana komunikasi ketiga dengan teman dan keluarga setelah telepon dan sms, malah kadang lebih sering menggunakan sarana ini untuk menyapa teman.
Namanya saja situs pertemanan, biasanya dengan mudah kita mendapatkan teman. Begitu pula dengan saya. Tidak masalah menjawab pertanyaan “apa kabar?” atau “rumahnya dimana?” berkali-kali. Jawaban saya pun hanya “baik”, dan “di Jakarta”, kalaupun berkembang lebih jauh, seperti “Jakartanya dimana?”, tanpa dosa saya pasti menjawab, “Jakarta Selatan.” Biasanya, berkembang “iya tau, tepatnya dimana?” Pasti tidak saya jawab. Apalagi pertanyaan tentang telepon atau PIN BB. Pasti tidak saya jawab. Yang pertama karena saya lebih percaya teman yang bisa saya jumpai secara langsung, dan bukan bertemu ala kopi darat, yang kedua adalah karena saya bukan pengguna BB.
Tapi bukan berarti saya tidak pernah member nomor telepon. Beberapa kali saya memberikan nomor ponsel saya, dengan satu syarat: orang itu bukan berada di Indonesia. Terdengar sombong? Bisa ya, bisa tidak. Tapi saya punya alasannya. Selain karena menjaga keamanan diri, dalam hal ini saya agak was was bila bertemu dengan seorang yang saya temui pertama kali lewat internet, karena bisa jadi itu profil palsu (walaupun saya yakin banyak orang yang menggunakan profil asli), yang kedua adalah karena niat awal saya memang bukan mencari teman, tapi meningkatkan kemapuan bahasa Inggris saya. Semua tergantung niat.
Alasan selanjutnya kenapa saya cenderung hanya memberi nomor ponsel pada kenalan di luar Indonesia adalah karena kemungkinan mereka menelpon dan mengirim sms kecil. Memang ada beberapa yang berkirim sms atau telepon, tapi itupun tidak terlalu sering, akan jauh berbeda bila teman di Indonesia. Seorang teman yang gemar memberikan nomornya bercerita bahwa dia sering mendapat sms perhatian seperti “sedang apa?”, “sudah makan belum?”, “selamat pagi”, “jangan lupa makan ya” atau sms ‘basa-basi’ – menurut saya lohhh – walaupun bisa jadi mungkin salah satu dari pengirim sms itu adalah pelabuhan terakhirnya. Kita tidak pernah tahu. Tapi saya belum berniat mencoba.
Itu dulu, ketika saya masih di Jakarta. Maaf, bukan jual mahal, sekali lagi karena kewaspadaan saya keterlaluan hingga menimbulkan rasa parno tersendiri. Tapi ceritanya lain sekarang. Saya di negeri orang dimana orang-orangnya terlihat begitu sibuk. Saya suka menyendiri tapi saya tidak terbiasa sendiri. Saya butuh teman. Urgent!
Kalau ada survey tentang seberapa cepat mendapatkan teman, saya bisa jadi keluar sebagai orang yang terlama. Bukan hal yang mudah untuk saya merasa nyaman pada orang yang baru saya temui. Dulu keadaan ini sangat menyiksa, tapi sekarang terbiasa. Mungkin dengan butuh waktu lebih panjang, saya bisa punya waktu lebih banyak untuk mengobservasi karakter seseorang dan merasa nyaman. Semua ada sisi positif maupun negativnya. Dunia ini seimbang.
Dari 41 orang teman di SMA, hanya 2-3 orang yang benar-benar dekat dan sampai sekarang kami masih berhubungan meski hanya lewat situs pertemanan. Kadang kontak terjadi agak lama, tapi bila ada teman yang sakit atau mengalami musibah, kami pasti bergerak, walaupun hanya sekedar mengirim pesan berduka ataupun datang mengunjungi. Ada juga teman dari tempat kerja sebelumnya. Insha Allah silaturahim tetap terjaga. Tapi kalau ditotal, jumlahnya tak lebih dari ‘a handful’ kata orang bule, alias ga lebih dari sepuluh.
Itu cerita dulu, waktu masih di Jakarta yang dengan mudah kita temui orang bergerombol. Tapi sekarang saya di negeri orang, dimana kondisinya sangat berbeda.
Ketika pertama kali merasakan pagi disini, pandapat yang keluar dari mulut saya adalah, “sepi sekali.” Host family hanya tertawa dan mengatakan, “itu juga hal pertama yang istri saya katakana waktu pertama kali disini.”
Di depan rumahnya terdapat jalan yang cukup besar untuk dua mobil, bisa jadi lebih. Kiri kanannya rumah yang tipenya sama, tidak berpagar seperti di banyak kota besar di Indonesia, tapi yang lewat berjalan kaki bisa di hitung dengan jari. Selain karena anginnya yang dingin menusuk, juga karena sibuknya orang-orang bekerja untuk mempersiapkan masa depannya. Tidak ada orang kongkow-kongkow. Kalaupun ada sesekali orang lewat, mereka terlihat seperti berolahraga, karena berpakaian olah raga lengkap dan langkah kaki agak cepat.
Bersambung….
Puzzle yang Mulai Terbentuk
Dalam sebuah artikel di sebuah majalah terbitan ibukota beberapa tahun
yang lalu, pernah dibahas tentang ciri-ciri orang yang sulit untuk
menjadi prosperous - bukan mau 'sok' gaya menggunakan istilah asing,
hanya mencoba memindahkan apa yang saya baca dari majalah itu,
prosperous. Catet! - tertulis salah satunya, dan yang satu-satunya saya ingat, adalah tipikal orang yang suka berpindah tempat kerja. Wuiyyyy saya buanget!!
Sejak saat itu saya, demi menjadi 'prosperous', mencoba untuk mencintai pekerjaan saya dan bertekad untuk tidak loncat sana sini lagi. Belajar untuk membuang rasa mudah bosan, belajar untuk berhenti mengejar kesempatan yang fatamorgana, belajar untuk loyal kepada institusi, dan belajar untuk mengalahkan ego diri. Belajar, tapi sejauh ini, saya belum cukup baik untuk naik kelas. Saya masih tetap mudah bosan pada satu posisi dan seringkali pindah tempat kerja. Pernah dalam dua tahun, saya pindah empat kali. Semua karena alasan yang klise: bosan.
Tapi kalau mau jujur, saya tidak tahu apa yang saya mau.
Keluar dari institusi di Cakung, saya pindah di Cilandak, lalu pindah lagi di Saharjo, lalu pindah ke dekat rumah, lembaga kursus di daerah Lenteng Agung. Tempat ini satu-satunya tempat saya bekerja paling lama: sekitar empat tahun. Walaupun sempat break sebentar dari sana karena fokus untuk menyelesaikan skripsi, toh kalau ditotal, sekitar nyaris empat tahun saya bekerja disana, sebagai pengajar paruh waktu.
Pemilik kursus yang terbuka dan suasana kekeluargaan yang kental antara kami, termasuk antara murid dan pengajar, bisa jadi magnet untuk tinggal. All about our heart.
Sempat juga bekerja di sebuah TK dekat tempat tinggal orang tua selama setahun - kalau tidak ada sistem pinalti, saya sudah pasti tidak akan bertahan disana lebih dari beberapa bulan saja - tapi Yang Maha Kuasa toh punya rencana apik untuk hidup saya. Pengalaman bekerja di TK tersebut membuka kesempatan saya untuk mewujudkan mimpi 'ngaco' saya untuk bekerja di negeri orang makin besar.
Hal pertama yang terlintas pertama kali ketika saya tahu bahwa fakultas yang saya pilih akan mendaratkan saya dengan mulus disebuah profesi yang dianggap "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" adalah: saya tidak akan mau mengajar anak kecil, apalagi anak TK!!!
Dipikiran saya, anak-anak lincah itu akan sangat sulit diajak bekerja sama, hanya menangis, BAB/ BAK dengan bantuan 'sang pahlawan tanpa tanda jasa', lalu berlari kesana kemari seperti seorang Ayu Ting-Ting yang sedang mencari alamat. Saya salah!
Hari pertama mengajar di TK, saya disambut ramah oleh senyum manis - beberapa 'nakal' - dari wajah-wajah tanpa dosa, malaikat-malaikat kecil yang sering memberi pelukan hangat di pagi hari, malaikat-malaikat kecil yang suka berbagi, walaupun ada juga yang sulit diatur, tapi toh mereka berbuat sesuatu lebih banyak berdasarkan spontanitas. Kenapa disalahkan? Bukankah lebih bijak mengarahkan?
Satu tahun memberi pelajaran yang cukup banyak, tidak hanya pelajaran tentang menghadapi anak-anak, tapi juga belajar menyelami kepribadian orang lain yang kadang tanpa ampun menghakimi diri kita. Hal yang mengejutkan, mengesalkan, membahagiakan, terjadi, bercampur aduk tiap kali. Tapi bukankah memang dunia diciptakan dengan sempurna, seimbang, dimana ada kebahagiaan, disana pula ada kesedihan? Ada hal yang mengesalkan, banyak juga yang membahagiakan. Belajar untuk melihat dari sisi positif. Belajar untuk bertoleransi. Belajar untuk tidak mengutuk seseorang yang mengesalkan. Hal yang terakhir adalah hal terrrrrrrsulit yang harus dipelajari. Saya masih belum bisa naik kelas.
Makin banyak tempat disinggahi, umumnya kenalan makin banyak. Teori itu bisa 100% terjadi pada mereka yang extrovert, bagi yang introvert seperti saya? Tambah kenalan satu pun sudah sangat bersyukur.
Ada beberapa orang yang sangat menyenangkan yang saya temui disana dan kami masih tetap bersilaturahim sampai saat ini. Yah, kalau tidak lewat sms atau telepon, minimal lewat telepati, biar ga keluar ongkos, tapi karena tanpa ongkos, telepatinya selalu gagal, akibatnya, agak lama tidak berkirim kabar. Tapi tak apa, hati kita diciptakan cukup luas untuk menampung kebaikan banyak orang.
Ada banyak cara Yang Maha Kuasa mendekatkan orang ke orang. Mendekatkan mimpi yang jauh, melebarkan sayap optimisme ke pikiran kita. Banyak cara. Dan hanya sedikit yang bisa kita ketahui. Dia bekerja dengan cara yang sangat ajaib.
Ketika saya berniat tidak melanjutkan kontrak kerja di TK tersebut, ternyata saya bukan satu-satunya orang yang berniat chao. Ada empat orang lain yang punya niat mulia yang sama, walaupun dengan alasan yang berbeda. Salah satunya adalah seorang perempuan muda bernama Mala.
Mala, lulusan Sastra Belanda UI, pernah bekerja sebagai au pair di Belanda selama satu tahun, dan sekarang dia di Belgia untuk pekerjaan yang sama, wah.... saya sangat tertarik mendengarnya. Untuk sebagian orang, pekerjaan au pair bisa jadi dipandang sebelah mata. Siapa sih yang ga bisa jagain anak? Siapa sih yang ga bisa ajarin anak beberapa kata dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lain yang kita kuasai? Siapa sih yang ga bisa membantu meningkatkan aktivitas motorik anak? Untuk apa sekolah sampai tingkat universitas kalau hanya untuk bekerja seperti itu? Mungkin itu yang ada dipikiran banyak orang. Tapi saya sebaliknya. Saya sangat tertarik.
Saya bekerja di TK tersebut beberapa bulan lebih awal daripada Mala. Saya pun tidak terlalu kenal dia sebelumnya. Tapi nasib membawa kami sering bercakap. Kapan? Seminggu sebelum kami benar-benar berpisah.
Seminggu sebelum kontrak kami - yang dengan senang hati kami akhiri - selesai, kami, lima orang resigners (ngarang istilah) diharuskan untuk masuk, beres-beres kelas yang akan dipakai pada semester selanjutnya, nah, saat itulah komunikasi intens saya dan Mala dimulai. Singkatnya, dia menganjurkan saya untuk membuat profil disalah satu situs untuk mereka yang berniat ataupun keluarga pencari au pair.
Satu langkah lebih maju sudah dibuka...
Sejak saat itu saya, demi menjadi 'prosperous', mencoba untuk mencintai pekerjaan saya dan bertekad untuk tidak loncat sana sini lagi. Belajar untuk membuang rasa mudah bosan, belajar untuk berhenti mengejar kesempatan yang fatamorgana, belajar untuk loyal kepada institusi, dan belajar untuk mengalahkan ego diri. Belajar, tapi sejauh ini, saya belum cukup baik untuk naik kelas. Saya masih tetap mudah bosan pada satu posisi dan seringkali pindah tempat kerja. Pernah dalam dua tahun, saya pindah empat kali. Semua karena alasan yang klise: bosan.
Tapi kalau mau jujur, saya tidak tahu apa yang saya mau.
Keluar dari institusi di Cakung, saya pindah di Cilandak, lalu pindah lagi di Saharjo, lalu pindah ke dekat rumah, lembaga kursus di daerah Lenteng Agung. Tempat ini satu-satunya tempat saya bekerja paling lama: sekitar empat tahun. Walaupun sempat break sebentar dari sana karena fokus untuk menyelesaikan skripsi, toh kalau ditotal, sekitar nyaris empat tahun saya bekerja disana, sebagai pengajar paruh waktu.
Pemilik kursus yang terbuka dan suasana kekeluargaan yang kental antara kami, termasuk antara murid dan pengajar, bisa jadi magnet untuk tinggal. All about our heart.
Sempat juga bekerja di sebuah TK dekat tempat tinggal orang tua selama setahun - kalau tidak ada sistem pinalti, saya sudah pasti tidak akan bertahan disana lebih dari beberapa bulan saja - tapi Yang Maha Kuasa toh punya rencana apik untuk hidup saya. Pengalaman bekerja di TK tersebut membuka kesempatan saya untuk mewujudkan mimpi 'ngaco' saya untuk bekerja di negeri orang makin besar.
Hal pertama yang terlintas pertama kali ketika saya tahu bahwa fakultas yang saya pilih akan mendaratkan saya dengan mulus disebuah profesi yang dianggap "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" adalah: saya tidak akan mau mengajar anak kecil, apalagi anak TK!!!
Dipikiran saya, anak-anak lincah itu akan sangat sulit diajak bekerja sama, hanya menangis, BAB/ BAK dengan bantuan 'sang pahlawan tanpa tanda jasa', lalu berlari kesana kemari seperti seorang Ayu Ting-Ting yang sedang mencari alamat. Saya salah!
Hari pertama mengajar di TK, saya disambut ramah oleh senyum manis - beberapa 'nakal' - dari wajah-wajah tanpa dosa, malaikat-malaikat kecil yang sering memberi pelukan hangat di pagi hari, malaikat-malaikat kecil yang suka berbagi, walaupun ada juga yang sulit diatur, tapi toh mereka berbuat sesuatu lebih banyak berdasarkan spontanitas. Kenapa disalahkan? Bukankah lebih bijak mengarahkan?
Satu tahun memberi pelajaran yang cukup banyak, tidak hanya pelajaran tentang menghadapi anak-anak, tapi juga belajar menyelami kepribadian orang lain yang kadang tanpa ampun menghakimi diri kita. Hal yang mengejutkan, mengesalkan, membahagiakan, terjadi, bercampur aduk tiap kali. Tapi bukankah memang dunia diciptakan dengan sempurna, seimbang, dimana ada kebahagiaan, disana pula ada kesedihan? Ada hal yang mengesalkan, banyak juga yang membahagiakan. Belajar untuk melihat dari sisi positif. Belajar untuk bertoleransi. Belajar untuk tidak mengutuk seseorang yang mengesalkan. Hal yang terakhir adalah hal terrrrrrrsulit yang harus dipelajari. Saya masih belum bisa naik kelas.
Makin banyak tempat disinggahi, umumnya kenalan makin banyak. Teori itu bisa 100% terjadi pada mereka yang extrovert, bagi yang introvert seperti saya? Tambah kenalan satu pun sudah sangat bersyukur.
Ada beberapa orang yang sangat menyenangkan yang saya temui disana dan kami masih tetap bersilaturahim sampai saat ini. Yah, kalau tidak lewat sms atau telepon, minimal lewat telepati, biar ga keluar ongkos, tapi karena tanpa ongkos, telepatinya selalu gagal, akibatnya, agak lama tidak berkirim kabar. Tapi tak apa, hati kita diciptakan cukup luas untuk menampung kebaikan banyak orang.
Ada banyak cara Yang Maha Kuasa mendekatkan orang ke orang. Mendekatkan mimpi yang jauh, melebarkan sayap optimisme ke pikiran kita. Banyak cara. Dan hanya sedikit yang bisa kita ketahui. Dia bekerja dengan cara yang sangat ajaib.
Ketika saya berniat tidak melanjutkan kontrak kerja di TK tersebut, ternyata saya bukan satu-satunya orang yang berniat chao. Ada empat orang lain yang punya niat mulia yang sama, walaupun dengan alasan yang berbeda. Salah satunya adalah seorang perempuan muda bernama Mala.
Mala, lulusan Sastra Belanda UI, pernah bekerja sebagai au pair di Belanda selama satu tahun, dan sekarang dia di Belgia untuk pekerjaan yang sama, wah.... saya sangat tertarik mendengarnya. Untuk sebagian orang, pekerjaan au pair bisa jadi dipandang sebelah mata. Siapa sih yang ga bisa jagain anak? Siapa sih yang ga bisa ajarin anak beberapa kata dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lain yang kita kuasai? Siapa sih yang ga bisa membantu meningkatkan aktivitas motorik anak? Untuk apa sekolah sampai tingkat universitas kalau hanya untuk bekerja seperti itu? Mungkin itu yang ada dipikiran banyak orang. Tapi saya sebaliknya. Saya sangat tertarik.
Saya bekerja di TK tersebut beberapa bulan lebih awal daripada Mala. Saya pun tidak terlalu kenal dia sebelumnya. Tapi nasib membawa kami sering bercakap. Kapan? Seminggu sebelum kami benar-benar berpisah.
Seminggu sebelum kontrak kami - yang dengan senang hati kami akhiri - selesai, kami, lima orang resigners (ngarang istilah) diharuskan untuk masuk, beres-beres kelas yang akan dipakai pada semester selanjutnya, nah, saat itulah komunikasi intens saya dan Mala dimulai. Singkatnya, dia menganjurkan saya untuk membuat profil disalah satu situs untuk mereka yang berniat ataupun keluarga pencari au pair.
Satu langkah lebih maju sudah dibuka...
Pencarian Jati Diri
Bergabung dibeberapa klub Bahasa Inggris banyak membantu saya
meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris, perlu digarisbawahi bahwa saya
bukan tipikal orang yang dengan mudah menghafal sesuatu, jadi.... bisa
menghafal percakapan dalam bahasa asing adalah "sesuatu" (meminjam
bahasa kenes Syahrini).
Pindah kuliah ke Ahmad Dahlan, beberapa kali saya masih bergabung di klub tersebut alasan terbesarnya adalah karena pertemanan dengan beberapa orang di sana. Tapi satu persatu teman 'menghilang' karena bekerja di luar kota atau karena pulang kampung, maka saya pun berhenti bergabung - tidak kalah dengan anak SD yang kemana-mana tergantung teman hehehe.
Kuliah di Ahmad Dahlan dengan sistem konversi membuat jadwal harian saya sedikit acak kadul. Karena harus mengikuti jadwal dosen. Kadang ke kampus hanya untuk mengikuti satu atau dua pelajaran, kadang jadwal tinggal jadwal, karena dosen yang bersangkutan berhalangan masuk.
Mengajar tetap jalan, walaupun cuma seminggu dua kali. Dalam dua tahun, saya bisa empat kali pindah tempat kerja. Pernah bekerja di Akademi perawat dan Akademi Kebidanan di daerah Cikarang selama beberapa bulan sebelum akhirnya resign karena masalah kesehatan. Saya cukup menikmati mengajar mereka, tapi belum cukup merasa 'klik.' - If you know what i mean. Perjalanan berlanjut, perjalanan pencarian 'klik' dalam banyak hal. Baik itu klik dalam pekerjaan, klik dalam pertemanan, klik dalam hal apapun, intinya, pencarian 'jati diri'.
berlanjut.........
Pindah kuliah ke Ahmad Dahlan, beberapa kali saya masih bergabung di klub tersebut alasan terbesarnya adalah karena pertemanan dengan beberapa orang di sana. Tapi satu persatu teman 'menghilang' karena bekerja di luar kota atau karena pulang kampung, maka saya pun berhenti bergabung - tidak kalah dengan anak SD yang kemana-mana tergantung teman hehehe.
Kuliah di Ahmad Dahlan dengan sistem konversi membuat jadwal harian saya sedikit acak kadul. Karena harus mengikuti jadwal dosen. Kadang ke kampus hanya untuk mengikuti satu atau dua pelajaran, kadang jadwal tinggal jadwal, karena dosen yang bersangkutan berhalangan masuk.
Mengajar tetap jalan, walaupun cuma seminggu dua kali. Dalam dua tahun, saya bisa empat kali pindah tempat kerja. Pernah bekerja di Akademi perawat dan Akademi Kebidanan di daerah Cikarang selama beberapa bulan sebelum akhirnya resign karena masalah kesehatan. Saya cukup menikmati mengajar mereka, tapi belum cukup merasa 'klik.' - If you know what i mean. Perjalanan berlanjut, perjalanan pencarian 'klik' dalam banyak hal. Baik itu klik dalam pekerjaan, klik dalam pertemanan, klik dalam hal apapun, intinya, pencarian 'jati diri'.
berlanjut.........
Langganan:
Postingan (Atom)