Banyak orang yang membantu saya dalam belajar bahasa asing ini, terutama
teman di dalam klub-klub tersebut. Saya masih tetap bersilaturahim -
meski hanya lewat fesbuk - dengan beberapa orang dari mereka, salah
satunya dengan seorang teman yang asli Flores, berambut gimbal, berkulit
eksotis (kata orang caucasian, tapi menurut saya sangat 'biasa' hahaha, peace bro), Namanya Evan.
Pertama kali saya bertemu dengan Evan adalah ketika dia menjadi penjual
tiket seminar. Ceritanya di NRC beberapa kali diadakan seminar dalam
Bahasa Inggris. Pembicaranya beragam. Pertama dan terakhir kali saya
ikut seminar yang diadakan mereka, saat itu pembicaranya ada seorang
penyiar radio, runner-up putri Indonesia (saya lupa tahun berapa), dan
seorang pemerhati media (kalau ga salah ingat).
Saat itu Evan,
duduk berdua dengan anggota yang lain, membuka lapaknya tepat di dekat
pintu masuk kampus - saat itu saya masih kuliah di daerah Jatinegara -
dia menjelaskan tentang seminarnya dengan sedikit gugup, siapa pun akan
mudah menebak kalau hal yang sedang dilakukannya adalah hal yang baru.
Saya tertarik dan membeli tiketnya.
Seminarnya cukup bagus, kalau ga salah tentang media. Selebihnya, saya lupa - maap. Kapasitas memori terbatas bo...
Nah, setelah itu pertemanan berlanjut. Seingat saya karena kami
sama-sama anggota komite dari klub Bahasa Inggris di sana, walaupun dari
klub yang berbeda.
Kebetulan saat itu menjelang puasa
Ramadhan. Saat itu, institusi ingin mengadakan buka puasa bersama dengan
anak-anak yatim. Anggota klub dilibatkan. Termasuk saya dan Evan. Kami
ditugaskan untuk mengirimkan proposal kebeberapa perusahaan atau bank
demi menunjang acara tersebut. Saya dipasangkan dengan Evan. Mungkin
sejak saat itulah kami berteman lebih baik dan saling share ketika
masing-masing mempunyai masalah.
Ada dua hal menarik tentang
Evan. Yang pertama adalah tekadnya dalam belajar Bahasa Inggris. Evan
saat itu baru datang ke Jakarta. Seorang teman mengatakan bahwa saat
itu, jangankan bahasa Inggris, bahasa Indonesia pun dia masih belum
lancar, tapi dalam beberapa bulan dua bahasa itu berhasil dikuasai dalam
waktu singkat, meninggalkan kami yang telah lebih lama belajar Bahasa
asing ini, secara formal maupun informal.
Itu yang pertama.
Yang kedua adalah namanya.
Ini hal yang unik.
Dulu saya berpikir nama aslinya adalah Evan Sanders, atau Evan
Sullivan, atau Evan Donnovan. Ternyata salah besar saudara-saudara!
Nama aslinya terungkap tidak sengaja ketika Evan bergabung dengan SMC.
Saya lupa topik apa yang sedang dibahas, tapi saat itu, entah siapa yang
memulai, membuka percakapan tentang nama. Terungkaplah nama aslinya
yang tidak sedikitpun berbau 'Evan.' Sedikit dijadikan jokes oleh yang
lain, tapi berhubung Evan termasuk orang yang lapang dada, dia ikut
tertawa. Nama aslinya Evan? Off the record ya....
Awalnya Evan
ini kuliah mengambil jurusan Kesehatan. Sekali saya menemani dia
mendaftar kuliah, saya tahu dengan pasti tempatnya karena saya lulus
dari akademi disana beberapa tahun sebelumnya.
Ternyata Evan
hanya bertahan dalam hitungan bulan disana. Bukan karena dia tidak mampu
mengikuti perkuliahan, tapi hatinya tidak 'klik' dengan jurusan
tersebut. It's all about your heart. Mungkin kita bisa membohongi orang
lain, tapi dua hal yang tidak bisa kita bohongi: Yang Maha Kuasa dan
hati kita.
Suatu ketika Evan mengatakan ketertarikannya yang
lebih mendalam kepada bahasa asing. Dia mengatakan puluhan kali tentang
keinginannya bersekolah di sebuah akademi pariwisata dan bekerja di
sebuah kapal pesiar. Berkali-kali dia mengatakan ingin pindah dari
akademi kesehatan dan pindah ke pariwisata dan berkali-kali juga dia
urungkan karena adanya sebuah hal yang sulit dilangkahi.
Liburan semester saat itu sudah hampir habis, Evan menelepon saya dan
mengatakan tentang keinginannya untuk kesekian kalinya. Biasanya saya
memberi dukungan, tapi pada saat itu saya hanya tertawa, bukan mengejek,
tapi sedikit sedih, karena tahu pendaftaran untuk sekolah sudah nyaris
ditutup. Itu artinya kesempatan untuk pindah sekolah menipis, dan.....
mimpi bisa jadi tertunda untuk jangka waktu yang lama dan bukan dalam
waktu yang sesingkat-singkatnya. Saya pikir itulah yang akan terjadi.
Saya ternyata salah. Laki-laki hitam ini mempunyai nyali dan keinginan
yang gigantic.
Satu hari setelah saya mengira bahwa
kesempatannya untuk mengejar mimpinya sudah tamat, dia menelepon dengan
suara pelan dan terbata, tidak seperti biasanya. Dia mengatakan bahwa
uang yang diberikan oleh kakaknya untuk membayar semester selanjutnya
sudah dipakai untuk mendaftar sekolah pariwisata. Saya tercekat dan
salut. Saya tahu seberapa garang kakaknya dalam soal ini, dan tak heran
Evan menolak memberi tahu apa yang kakaknya katakan. Dia terdengar
trauma. Tapi kalau kata orang bule, it's worthy. Yes, it is.
Setahun Evan menempuh sekolah pariwisata dan training di Bali, sejak
saat itulah saya jarang bergabung dengan klub. Berkurang teman yang
'klik.'
Beberapa bulan kemudian Evan kembali ke Jakarta,
mencari celah untuk bekerja di sebuah kapal pesiar. Dia mendapatkan
kesempatan itu. Latar belakang pendidikannya memungkinkan, bahasa
Inggrisnya excellent, kata orang bule, tapi Yang Maha Kuasa punya
rencana lain, yang pasti yang lebih baik, walaupun awalnya sangat pahit
bagi Evan.
Evan lolos hampir semua tes. Saya ikut senang,
walaupun sempat sedih juga ketika membayangkan bahwa saya akan
kehilangan seorang teman baik. Tapi membayangkan Evan bekerja di sebuah
tempat yang sesuai mimpinya, saya merasa seolah-olah saya yang berhasil
meraih mimpi saya. Berulang kali saya katakan, "lu jangan lupain gue
ya... kalau udah disana. Ntar kaya Andra lagi, ga inget temen di
Indonesia lagi." Biasanya dia menjawab, "nggak lah, saya ga kaya gitu."
Andra dulunya salah seorang komite di SMC, setahun sebelumnya dia
mendapat pekerjaan di Kuwait, beberapa kali dia on line di YM atau
tagged, tapi tidak pernah menyapa, kalaupun disapa, responnya selalu
lama dan hanya singkat. Tak ada kabar darinya sampai sekarang. Tapi kami
yakin bahwa dia baik-baik saja - seperti lagu Pingkan Mambo.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, begitu istilahnya,
begitu pula yang terjadi dengan Evan. Semua tes dilalui dengan mulus,
tapi tidak dengan tes kesehatan. Ada sebuah virus dalam darahnya yang
tidak memungkinkan dia untuk bekerja di luar. Secara fisik dia oke,
apalagi dia rajin membentuk tubuh di gym, yang membuatnya menjadi magnet
bule girls di Bali, tempatnya kini bekerja, tapi hasil tes laboraturium
menjadi satu penghambat yang harus diterima, dan bukan peforma fisik.
Sulit dilukiskan keadaannya, kalau ada istilah the sedihest dalam
bahasa Indonesia, bisa jadi itu kata yang nyaris tepat untuk
menggambarkan perasaannya. Saya merasakan sedih yang sama, tapi tidak
ada seorang pun yang akan mampu menyelami perasaannya selain Evan
sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang akan mampu mendorongnya untuk
tegak berdiri kembali selain Evan sendiri. He did.
Tak berapa
lama setelah itu, dia bangkit perlahan, mencoba melihat semua dari sisi
baiknya, semua sudah direncanakan oleh- Nya. Pasrah dan berusaha.
Sempat beberapa lama di Jakarta setelah magang sekian bulan di Bali,
Evan memutuskan kembali ke Bali. Dia bekerja sebagai salesman di salah
satu perusahaan jasa turisme disana. Saya yakin bahwa caranya menawarkan
sebuah produk pasti jauh berbeda dengan Evan yang dulu saya kenal
pertama kali ketika menawarkan seminar.
No doubt. Buktinya,
teman-teman di fesbuknya banyak orang asing yang pernah jadi customernya
dan bahkan sebuah keluarga dari Australia tetap menjalin silaturahim
dengannya. Sampai sekarang. Entah episode apalagi yang akan terjadi
dikehidupan Evan, tapi dengan sifatnya yang ramah, dan pantang menyerah,
dengan izin Yang Maha Kuasa, semuanya akan mudah diatasi.
Sukses untuk kita semua
Tampilkan postingan dengan label bahasa Inggris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa Inggris. Tampilkan semua postingan
Minggu, 29 Juli 2012
Pencarian Jati Diri
Bergabung dibeberapa klub Bahasa Inggris banyak membantu saya
meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris, perlu digarisbawahi bahwa saya
bukan tipikal orang yang dengan mudah menghafal sesuatu, jadi.... bisa
menghafal percakapan dalam bahasa asing adalah "sesuatu" (meminjam
bahasa kenes Syahrini).
Pindah kuliah ke Ahmad Dahlan, beberapa kali saya masih bergabung di klub tersebut alasan terbesarnya adalah karena pertemanan dengan beberapa orang di sana. Tapi satu persatu teman 'menghilang' karena bekerja di luar kota atau karena pulang kampung, maka saya pun berhenti bergabung - tidak kalah dengan anak SD yang kemana-mana tergantung teman hehehe.
Kuliah di Ahmad Dahlan dengan sistem konversi membuat jadwal harian saya sedikit acak kadul. Karena harus mengikuti jadwal dosen. Kadang ke kampus hanya untuk mengikuti satu atau dua pelajaran, kadang jadwal tinggal jadwal, karena dosen yang bersangkutan berhalangan masuk.
Mengajar tetap jalan, walaupun cuma seminggu dua kali. Dalam dua tahun, saya bisa empat kali pindah tempat kerja. Pernah bekerja di Akademi perawat dan Akademi Kebidanan di daerah Cikarang selama beberapa bulan sebelum akhirnya resign karena masalah kesehatan. Saya cukup menikmati mengajar mereka, tapi belum cukup merasa 'klik.' - If you know what i mean. Perjalanan berlanjut, perjalanan pencarian 'klik' dalam banyak hal. Baik itu klik dalam pekerjaan, klik dalam pertemanan, klik dalam hal apapun, intinya, pencarian 'jati diri'.
berlanjut.........
Pindah kuliah ke Ahmad Dahlan, beberapa kali saya masih bergabung di klub tersebut alasan terbesarnya adalah karena pertemanan dengan beberapa orang di sana. Tapi satu persatu teman 'menghilang' karena bekerja di luar kota atau karena pulang kampung, maka saya pun berhenti bergabung - tidak kalah dengan anak SD yang kemana-mana tergantung teman hehehe.
Kuliah di Ahmad Dahlan dengan sistem konversi membuat jadwal harian saya sedikit acak kadul. Karena harus mengikuti jadwal dosen. Kadang ke kampus hanya untuk mengikuti satu atau dua pelajaran, kadang jadwal tinggal jadwal, karena dosen yang bersangkutan berhalangan masuk.
Mengajar tetap jalan, walaupun cuma seminggu dua kali. Dalam dua tahun, saya bisa empat kali pindah tempat kerja. Pernah bekerja di Akademi perawat dan Akademi Kebidanan di daerah Cikarang selama beberapa bulan sebelum akhirnya resign karena masalah kesehatan. Saya cukup menikmati mengajar mereka, tapi belum cukup merasa 'klik.' - If you know what i mean. Perjalanan berlanjut, perjalanan pencarian 'klik' dalam banyak hal. Baik itu klik dalam pekerjaan, klik dalam pertemanan, klik dalam hal apapun, intinya, pencarian 'jati diri'.
berlanjut.........
Langkah Pertama
Dulu waktu masih kuliah di Jatinegara saya selalu naik kereta api dari
stasiun Tanjung Barat sampai stasiun Tebet. Di Tebet saya lanjut
sebentar naik angkot. Biasanya saya jalan dari rumah jam 08.30 pagi,
kejar kereta jam 08.45 pagi. Kadang bisa dapet kereta tepat waktu,
seringnya kelewatan atau keretanya telat. Alhasil saya terlambat sampai
kampus. Waktu belajar selalu sama: pukul 09.00 WIB.
Beker sudah di setel pada waktu yang sama tiap harinya. Tapi biasanya saya mematikan beker segera setelah deringan pertama. Lanjut tidur lima menit ke depan. Tambahan lima menit membuat saya kocar-kacir. Selalu.
Tiap hal yang terjadi pasti ada hikmahnya, kata orang bijak, kadang saya setuju, kadang tidak. Nah, pengalaman terlambat saya suatu hari menuntun saya pada sebuah kejadian yang mematik - sebenarnya "memaksa" - saya untuk mengubah pola pikir saya dalam belajar bahasa asing yang sedang saya pelajari.
Dulu saya berpikir bahwa saya akan pandai berbahasa Inggris dengan cara rajin masuk kuliah, duduk dengan manis, mencatat yang perlu, mengerjakan tugas. Titik. Saya dulu berpikir bahwa tempat kuliah ini seperti ATM: Kita memasukkan uang - dalam hal ini membayar kuliah - lalu kita melakukan hal pasif seperti itu, dan saya bisa lancar berbahasa Inggris. Tipikal manusia yang ingin serba instan. Saya totally salah. Pola pikir yang benar-benar salah.
Nah kembali kepengalaman terlambat.
Kemalasan saya untuk bangun pagi sukar berubah meski pada saat ujian. Bisa dibayangkan kesalnya teman-teman yang konsentrasinya buyar karena ketukan pintu ketika saya meminta izin untuk masuk ruangan. Saya tidak peduli. Tapi seorang dosen peduli. Sangat.
Saya tidak diperbolehkan masuk, tapi saya tetap diijinkan untuk mengikuti ujian, tapi pada hari minggu, karena pada hari itu sang dosen sedang ada kegiatan yang harus diikuti. Minggu jam 09.00 WIB. Saya manut. Hari minggu, jam sembilan kurang, saya sudah duduk manis menunggu dosen. Yang ditunggu super ngaret. Jam 10.00 WIB baru datang. Tapi toh tak apa, kan dua pasal di kampus berlaku.
Oi, tapi justru karena itu saya beruntung.
Ceritanya, setiap minggu di kampus saya ada English Club, namanya NRC alias Newspaper Reading Club. Dari namanya sudah terbaca bahwa club ini membahas berita terkini dalam bahasa Inggris.
Sang ketua club, selanjutnya saya tahu bernama Ibnu, mendekati saya yang sedang bengong. Sedikit berbasa-basi, lalu dia memperkenalkan clubnya. saya tertarik. Saya katakan, setelah ujian saya akan bergabung di club tersebut. Janji saya tepati.
Selesai ujian, saya bergabung di lantai dua, tempat NRC diadakan. Pesertanya lumayan banyak. Oh iya, hampir lupa. Ketika saya sedang menunggu dosen, ada seorang laki-laki berbadan tinggi tegap, putih, dengan rambut panjang awut-awutan memasuki kampus. Saya berkata dalam hati, "preman dari mana tuh? Semogaaaa ga pernah kenal preman ini."
Nah, balik ke NRC.
Ketika saya membuka pintu, Ibnu mempersilakan saya untuk duduk karena topik akan segera dibahas oleh seorang leader yang ditunjuk bergantian tiap minggunya. Pada saat itu topiknya adalah tentang Tourism dan pembicaranya adalah Harry. Saya tidak tahu seorang pun kecuali Ibnu. Tapi ketika Ibnu mempersilakan Harry untuk memulai penjelasan, barulah saya tahu bahwa Harry adalah orang yang saya pikir "preman" tadi.
Gaya dia menjelaskan tentang Tourism di Indonesia sangat bagus, apalagi dengan aksen yang jauh dari aksen Indonesia. Saya langsung minder. Untungnya lingkungan club itu sangat mendukung mereka yang memang tertarik belajar Bahasa Inggris.
Sebenarnya saya hanya beberapa kali bergabung dalam club itu, jujur, saya kewalahan. Apalagi kebanyakan orang yang ikut adalah mereka yang Bahasa Inggrisnya lancar dan bagus secara pengucapan dan grammarnya. Belakangan saya tahu bahwa club Bahasa Inggris tiap hari minggu bukan cuma NRC, tapi juga ada SMC atau Sunday Meeting Club, club ini banyak diisi oleh mereka yang baru belajar berbicara Bahasa Inggris seperti saya. Selanjutnya, saya lompat dari NRC ke SMC. Saya bergabung di SMC cukup lama, hampir dua tahun. Beberapa bulan pertama saya cukup aktif, karena saya aktif datang, dan memaksa diri untuk aktif ngomong, akhirnya saya diminta untuk menjadi salah satu dari komite yang baru.
Saya setuju. Saat itu ketuanya adalah Dani, sekertarisnya saya sendiri, anggota lain ada Andra, dan yang lain. Saya lupa. Yang pasti ada lima orang termasuk saya.
Pengalaman di SMC, kadang NRC, kadang VDC (saya lupa ini singkatan dari apa, tapi yang pasti, ini juga English Club tapi diadakan setiap Sabtu).
Bersambung....
Beker sudah di setel pada waktu yang sama tiap harinya. Tapi biasanya saya mematikan beker segera setelah deringan pertama. Lanjut tidur lima menit ke depan. Tambahan lima menit membuat saya kocar-kacir. Selalu.
Tiap hal yang terjadi pasti ada hikmahnya, kata orang bijak, kadang saya setuju, kadang tidak. Nah, pengalaman terlambat saya suatu hari menuntun saya pada sebuah kejadian yang mematik - sebenarnya "memaksa" - saya untuk mengubah pola pikir saya dalam belajar bahasa asing yang sedang saya pelajari.
Dulu saya berpikir bahwa saya akan pandai berbahasa Inggris dengan cara rajin masuk kuliah, duduk dengan manis, mencatat yang perlu, mengerjakan tugas. Titik. Saya dulu berpikir bahwa tempat kuliah ini seperti ATM: Kita memasukkan uang - dalam hal ini membayar kuliah - lalu kita melakukan hal pasif seperti itu, dan saya bisa lancar berbahasa Inggris. Tipikal manusia yang ingin serba instan. Saya totally salah. Pola pikir yang benar-benar salah.
Nah kembali kepengalaman terlambat.
Kemalasan saya untuk bangun pagi sukar berubah meski pada saat ujian. Bisa dibayangkan kesalnya teman-teman yang konsentrasinya buyar karena ketukan pintu ketika saya meminta izin untuk masuk ruangan. Saya tidak peduli. Tapi seorang dosen peduli. Sangat.
Saya tidak diperbolehkan masuk, tapi saya tetap diijinkan untuk mengikuti ujian, tapi pada hari minggu, karena pada hari itu sang dosen sedang ada kegiatan yang harus diikuti. Minggu jam 09.00 WIB. Saya manut. Hari minggu, jam sembilan kurang, saya sudah duduk manis menunggu dosen. Yang ditunggu super ngaret. Jam 10.00 WIB baru datang. Tapi toh tak apa, kan dua pasal di kampus berlaku.
Oi, tapi justru karena itu saya beruntung.
Ceritanya, setiap minggu di kampus saya ada English Club, namanya NRC alias Newspaper Reading Club. Dari namanya sudah terbaca bahwa club ini membahas berita terkini dalam bahasa Inggris.
Sang ketua club, selanjutnya saya tahu bernama Ibnu, mendekati saya yang sedang bengong. Sedikit berbasa-basi, lalu dia memperkenalkan clubnya. saya tertarik. Saya katakan, setelah ujian saya akan bergabung di club tersebut. Janji saya tepati.
Selesai ujian, saya bergabung di lantai dua, tempat NRC diadakan. Pesertanya lumayan banyak. Oh iya, hampir lupa. Ketika saya sedang menunggu dosen, ada seorang laki-laki berbadan tinggi tegap, putih, dengan rambut panjang awut-awutan memasuki kampus. Saya berkata dalam hati, "preman dari mana tuh? Semogaaaa ga pernah kenal preman ini."
Nah, balik ke NRC.
Ketika saya membuka pintu, Ibnu mempersilakan saya untuk duduk karena topik akan segera dibahas oleh seorang leader yang ditunjuk bergantian tiap minggunya. Pada saat itu topiknya adalah tentang Tourism dan pembicaranya adalah Harry. Saya tidak tahu seorang pun kecuali Ibnu. Tapi ketika Ibnu mempersilakan Harry untuk memulai penjelasan, barulah saya tahu bahwa Harry adalah orang yang saya pikir "preman" tadi.
Gaya dia menjelaskan tentang Tourism di Indonesia sangat bagus, apalagi dengan aksen yang jauh dari aksen Indonesia. Saya langsung minder. Untungnya lingkungan club itu sangat mendukung mereka yang memang tertarik belajar Bahasa Inggris.
Sebenarnya saya hanya beberapa kali bergabung dalam club itu, jujur, saya kewalahan. Apalagi kebanyakan orang yang ikut adalah mereka yang Bahasa Inggrisnya lancar dan bagus secara pengucapan dan grammarnya. Belakangan saya tahu bahwa club Bahasa Inggris tiap hari minggu bukan cuma NRC, tapi juga ada SMC atau Sunday Meeting Club, club ini banyak diisi oleh mereka yang baru belajar berbicara Bahasa Inggris seperti saya. Selanjutnya, saya lompat dari NRC ke SMC. Saya bergabung di SMC cukup lama, hampir dua tahun. Beberapa bulan pertama saya cukup aktif, karena saya aktif datang, dan memaksa diri untuk aktif ngomong, akhirnya saya diminta untuk menjadi salah satu dari komite yang baru.
Saya setuju. Saat itu ketuanya adalah Dani, sekertarisnya saya sendiri, anggota lain ada Andra, dan yang lain. Saya lupa. Yang pasti ada lima orang termasuk saya.
Pengalaman di SMC, kadang NRC, kadang VDC (saya lupa ini singkatan dari apa, tapi yang pasti, ini juga English Club tapi diadakan setiap Sabtu).
Bersambung....
Berawal Tanpa Sengaja
Jalan-jalan atau berkunjung ke negeri orang atau bekerja ke negeri orang
mungkin keinginan banyak orang, saya salah satunya, dan alhamdulillah
keinginan saya terwujud beberapa hari menjelang ulang tahun ke- 30.
Ceritanya dulu, sebelum lulus dari akademi, pernah iseng bilang ke mama, "ma, iye mau kerja di luar negeri." Kejadian itu terjadi ketika saya berumur awal 20-an. Waktu itu ga terpikir bekerja dalam bidang apa, hanya tertarik untuk menjelajah negeri orang sambil bekerja.
Tiap hal yang kita inginkan pasti didengar oleh- Nya, entah disimpan untuk dikabulkan kemudian atau diberikan hal lain yang lebih baik. Hak prerogativ- Nya.
Nah, kembali ke laptop.
Lepas dari akademi, saya tidak tertarik untuk bekerja dalam bidang yang sesuai dengan background saya. Tanya kenapa? Yah, alasan klise: karena jurusan itu adalah keinginan orang tua. Saya tidak menyesali (dulu iya sih, sebenarnya).
Bekerja sekitar 2 tahun dengan mengandalkan ijazah tersebut - walaupun berulang kali ganti tempat kerja (paling lama sembilan bulan di satu tempat kerja), akhirnya, ketika bekerja di sebuah hotel di bilangan Sudirman, saya memutuskan mengambil kuliah jurusan Bahasa Inggris - itu niat awalnya sebenarnya karena banyaknya tamu asing yang mengharuskan saya berkomunikasi dengan bahasa Inggris - bahasa terumum, akhirnya justru saya sangat menikmati belajar bahasa Inggris. Tadinya hanya niat mengambil D1, tapi karena suka, ya lanjut S1 Sastra Inggris.
Semester ke-4, saya chao lagi dari hotel ketika masa kerja saya baru menginjak sembilan bulan, selain karena alasan pulangnya selalu tengah malam - ini karena saya mengambil shift sore, jam kerjanya pukul 15.00 - 23.00, karena paginya saya kuliah, juga karena suasana di hotel sudah ga kondusif lagi, gesekan antar partner jadi alasan kedua terbesar. Saya mundur.
Mundur dari hotel, padahal saya harus membayar kuliah sendiri yang saat itu baru masuk semester ke-4, saya iseng menjawab tantangan teman untuk bekerja di sebuah lembaga kursus besar di Sunter, Jakarta Utara. Tes tulis, aman. Psikotes, lewat. Micro teaching? haaaa..... ini butuh dikasihani biar bisa lulus. Serius!
Nah, ceritanya itu, Sang Manager HRD, Bp. Marion memberitahu saya bahwa micro teaching saya anjlok sekitar 3 kilo dibawah laut. Setuju! Lha, wong bahasa Inggris saya saat itu hanya oke, ehm, ralat, LUMAYAN oke, di atas kertas. Di percakapan? super memalukan. Nah, sang koordinator guru, Ko Jekvent, meminta saya menjelaskan pelajaran dengan menggunakan bahasa Inggris. Setelah menelan ludah dan garuk-garuk kepala yang ga gatal, saya mulai lah show memalukan itu. Responnya? Kerenyit dahi. Bisa ditebak artinya apa: dia ga ngerti sama sekali hal yang saya katakan. Lalu, dengan nada putus asa dia bilang, "pake bahasa Indonesia aja deh."
Saya diminta menjelaskan present tense dan past tense dalam satu waktu. Itu papan tulis putih, habis saya tulisi. Isinya? hoah... saya sendiri ga paham apa yang saya tulis.
Nah, sekarang semoga jelas apa yang saya maksud dengan "lulus dengan belas kasihan."
Yah, sebenarnya sih ga separah itu - membela diri - Pak Marion dengan bijak mengatakan, "Sarah nilai micro teachingnya ga memuaskan, tapi kami tidak menilai seseorang hanya dengan satu aspek. Nilai tes tulis Sarah cukup bagus, jadi Saya mengambil keputusan untuk menerima Sarah. Training akan disediakan oleh Mr. Jekvent 30 menit sebelum atau sesudah mengajar tiap harinya. Kita bisa tes lagi micro teachingnya tiga bulan ke depan." Saya belajar dari hal ini: mencoba menilai seseorang secara utuh dan berkompromi untuk hasil yang, insha Allah, baik untuk kedepannya.
Akhirnya, setelah sekitar sebulan jadi pengangguran, saya bekerja kembali, kali ini dengan hal yang sangat berbeda. Tapi ada satu hal yang sama: saya tetap pulang malam, nyaris tengah malam. Pagi hari saya kuliah, dari tempat kuliah di Jatinegara, saya langsung chao ke Sunter, untuk mengajar mulai pukul 13.30-21.00. Kediaman orang tua saya di lenteng agung. Nah, dari ujung ke ujung kan? Tapi saya jalani. Enjoy aja, kalau kata iklan.
Orang tua, terutama bapak, akhirnya mengambil keputusan untuk memindahkan kuliah saya ke FKIP B. Inggris - tanggung, katanya, kalau mau jadi guru, kudu punya sertifikat ngajar alias Akta 4 (sampai sekarang saya ga tau kenapa disebut Akta 4, apa yang terjadi kalau diganti jadi Akta 10, misalnya?) Nah, angkat koper deh dari jatinegara ke Ahmad Dahlan. Sistem konversi, lulus dua tahun kemudian.
Pindah kuliah, otomatis pindah tempat kerja. Akhirnya, setelah sembilan bulan kerja di Sunter, dengan berat hati saya mengajukan pengunduran diri. Banyak alasan, selain karena destinasi makkkiiinnnnn dari ujung ke ujung, yang mengambil sistem konversi biasanya punya jadwal yang acak kadul. Bukan karena kita not well-managed, tapi karena dosen yang harus kita kejar. Kadang kalau dosen ga bisa masuk sesuai jadwal, mereka kadang minta waktu lain. Sesuai kesepakatan. Entah kesepakatan siapa, tapi ada jokes yang mengatakan kalau atau ada 2 Pasal yang ga bisa dilanggar di kampus:
Pasal I: Dosen selalu benar.
Pasal II: Kalau ada hal-hal yang terjadi, kembali ke pasal I.
Amin.
Kesepakatan "bersama".
Ketika bekerja di sSunter itu ga boleh freelance, kudu permanent, nah, sebenarnya Pak Marion membuat pengecualian untuk saya, saya boleh jadi freelance, tapi setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk jarak, kesehatan, keuangan, akhirnya dengan berat hati, saya mundur.
Tadinya saya pikir dengan kuliah setiap hari, otomatis saya bisa lancar berbahasa yang diklaim digunakan oleh sekitar satu milyar orang, tapi saya salah besssaaaarrrrrrr.
Ceritanya dulu, sebelum lulus dari akademi, pernah iseng bilang ke mama, "ma, iye mau kerja di luar negeri." Kejadian itu terjadi ketika saya berumur awal 20-an. Waktu itu ga terpikir bekerja dalam bidang apa, hanya tertarik untuk menjelajah negeri orang sambil bekerja.
Tiap hal yang kita inginkan pasti didengar oleh- Nya, entah disimpan untuk dikabulkan kemudian atau diberikan hal lain yang lebih baik. Hak prerogativ- Nya.
Nah, kembali ke laptop.
Lepas dari akademi, saya tidak tertarik untuk bekerja dalam bidang yang sesuai dengan background saya. Tanya kenapa? Yah, alasan klise: karena jurusan itu adalah keinginan orang tua. Saya tidak menyesali (dulu iya sih, sebenarnya).
Bekerja sekitar 2 tahun dengan mengandalkan ijazah tersebut - walaupun berulang kali ganti tempat kerja (paling lama sembilan bulan di satu tempat kerja), akhirnya, ketika bekerja di sebuah hotel di bilangan Sudirman, saya memutuskan mengambil kuliah jurusan Bahasa Inggris - itu niat awalnya sebenarnya karena banyaknya tamu asing yang mengharuskan saya berkomunikasi dengan bahasa Inggris - bahasa terumum, akhirnya justru saya sangat menikmati belajar bahasa Inggris. Tadinya hanya niat mengambil D1, tapi karena suka, ya lanjut S1 Sastra Inggris.
Semester ke-4, saya chao lagi dari hotel ketika masa kerja saya baru menginjak sembilan bulan, selain karena alasan pulangnya selalu tengah malam - ini karena saya mengambil shift sore, jam kerjanya pukul 15.00 - 23.00, karena paginya saya kuliah, juga karena suasana di hotel sudah ga kondusif lagi, gesekan antar partner jadi alasan kedua terbesar. Saya mundur.
Mundur dari hotel, padahal saya harus membayar kuliah sendiri yang saat itu baru masuk semester ke-4, saya iseng menjawab tantangan teman untuk bekerja di sebuah lembaga kursus besar di Sunter, Jakarta Utara. Tes tulis, aman. Psikotes, lewat. Micro teaching? haaaa..... ini butuh dikasihani biar bisa lulus. Serius!
Nah, ceritanya itu, Sang Manager HRD, Bp. Marion memberitahu saya bahwa micro teaching saya anjlok sekitar 3 kilo dibawah laut. Setuju! Lha, wong bahasa Inggris saya saat itu hanya oke, ehm, ralat, LUMAYAN oke, di atas kertas. Di percakapan? super memalukan. Nah, sang koordinator guru, Ko Jekvent, meminta saya menjelaskan pelajaran dengan menggunakan bahasa Inggris. Setelah menelan ludah dan garuk-garuk kepala yang ga gatal, saya mulai lah show memalukan itu. Responnya? Kerenyit dahi. Bisa ditebak artinya apa: dia ga ngerti sama sekali hal yang saya katakan. Lalu, dengan nada putus asa dia bilang, "pake bahasa Indonesia aja deh."
Saya diminta menjelaskan present tense dan past tense dalam satu waktu. Itu papan tulis putih, habis saya tulisi. Isinya? hoah... saya sendiri ga paham apa yang saya tulis.
Nah, sekarang semoga jelas apa yang saya maksud dengan "lulus dengan belas kasihan."
Yah, sebenarnya sih ga separah itu - membela diri - Pak Marion dengan bijak mengatakan, "Sarah nilai micro teachingnya ga memuaskan, tapi kami tidak menilai seseorang hanya dengan satu aspek. Nilai tes tulis Sarah cukup bagus, jadi Saya mengambil keputusan untuk menerima Sarah. Training akan disediakan oleh Mr. Jekvent 30 menit sebelum atau sesudah mengajar tiap harinya. Kita bisa tes lagi micro teachingnya tiga bulan ke depan." Saya belajar dari hal ini: mencoba menilai seseorang secara utuh dan berkompromi untuk hasil yang, insha Allah, baik untuk kedepannya.
Akhirnya, setelah sekitar sebulan jadi pengangguran, saya bekerja kembali, kali ini dengan hal yang sangat berbeda. Tapi ada satu hal yang sama: saya tetap pulang malam, nyaris tengah malam. Pagi hari saya kuliah, dari tempat kuliah di Jatinegara, saya langsung chao ke Sunter, untuk mengajar mulai pukul 13.30-21.00. Kediaman orang tua saya di lenteng agung. Nah, dari ujung ke ujung kan? Tapi saya jalani. Enjoy aja, kalau kata iklan.
Orang tua, terutama bapak, akhirnya mengambil keputusan untuk memindahkan kuliah saya ke FKIP B. Inggris - tanggung, katanya, kalau mau jadi guru, kudu punya sertifikat ngajar alias Akta 4 (sampai sekarang saya ga tau kenapa disebut Akta 4, apa yang terjadi kalau diganti jadi Akta 10, misalnya?) Nah, angkat koper deh dari jatinegara ke Ahmad Dahlan. Sistem konversi, lulus dua tahun kemudian.
Pindah kuliah, otomatis pindah tempat kerja. Akhirnya, setelah sembilan bulan kerja di Sunter, dengan berat hati saya mengajukan pengunduran diri. Banyak alasan, selain karena destinasi makkkiiinnnnn dari ujung ke ujung, yang mengambil sistem konversi biasanya punya jadwal yang acak kadul. Bukan karena kita not well-managed, tapi karena dosen yang harus kita kejar. Kadang kalau dosen ga bisa masuk sesuai jadwal, mereka kadang minta waktu lain. Sesuai kesepakatan. Entah kesepakatan siapa, tapi ada jokes yang mengatakan kalau atau ada 2 Pasal yang ga bisa dilanggar di kampus:
Pasal I: Dosen selalu benar.
Pasal II: Kalau ada hal-hal yang terjadi, kembali ke pasal I.
Amin.
Kesepakatan "bersama".
Ketika bekerja di sSunter itu ga boleh freelance, kudu permanent, nah, sebenarnya Pak Marion membuat pengecualian untuk saya, saya boleh jadi freelance, tapi setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk jarak, kesehatan, keuangan, akhirnya dengan berat hati, saya mundur.
Tadinya saya pikir dengan kuliah setiap hari, otomatis saya bisa lancar berbahasa yang diklaim digunakan oleh sekitar satu milyar orang, tapi saya salah besssaaaarrrrrrr.
Langganan:
Postingan (Atom)