Ingat masa-masa waktu duduk di SD. Sebenarnya memorinya banyak yang
hilang sih, tapi ada beberapa yang tertanam kuat, salah satunya ketika
saya dipilih oleh guru kelas sebagai salah satu murid yang diharuskan
untuk mengikuti les tambahan matematika setelah pulang sekolah. Lesnya
disediakan gratis oleh sekolah, dan yang mengajar guru kelas juga.
Pertama kali merasakan ikut tambahan matematika waktu kelas empat
(4)SD, saat itu gurunya Almarhum Pak Odjo. Saya ingat betul beliau
begitu sabar dan tidak pernah didapati marah-marah dalam kelas. Cara
mengajarnya simpel sebenarnya, jadi mudah dipahami oleh saya yang
memusuhi matematika, tapi karena kelas isinya banyak kepala, jadi butuh
konsentrasi ekstra untuk memahaminya. Untung sekolah tanggap dan Pak
Odjo rela memberi pelajaran tambahan bagi beberapa murid, termasuk saya.
Saya kira bukan cuma saya di dunia ini yang agak anti dengan
hitung-hitungan. Banyak orang di luar sana berharap kelas baru atau
jurusan yang akan diambil tidak ada matematika. Sayang seribu sayang,
harapan tinggal harapan. Mau ke arah Utara, Timur, Barat, atau Selatan,
tetap ketemu hitung-hitungan dengan berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk
pelajaran statistic dan semacamnya. Atau untuk mereka yang mengambil
kuliah perawatan, pasti bertemu hitung-hitungan di dalam pelajaran
farmakologi – ini jatohnya hitung takaran obat – belum lagi menghitung
tetesan infus permenit. Dan lain sebagainya. Ga bisa di hindari.
Nah, balik ke romantika masa SD. Selain kelas penuh anak-anak yang
kadang sibuk sendiri sehingga membuat konsentrasi pecah berkeping,
ditambah lagi jumlah mata pelajaran yang banyak – 9 ya kalau ga salah –
dan berhubung saya sekolah di sekolah swasta dengan basic agama, pasti
ada tambahan beberapa mata pelajaran tentang agama. Intinya, ga salah
kalau disebut “beban pelajaran.” Kadang memang benar terasa membebani.
Tapi toh kita tidak punya pilihan selain mengikuti apa yang sudah
tertulis di peraturan yang ada. Nilai akademik menjadi prioritas selain
perilaku.
Ada seorang teman satu kelompok, saya ingat namanya
Rafiqi. Orangnya gendut, pintar matematika. Ayahnya salah satu guru
kelas di sekolah kami walaupun beliau tidak pernah memegang kelas kami.
Beberapa kali Pak Izi Rahman, namanya, memberi les tambahan matematika
pagi hari. Sangat membantu. Tapi memang sudah dari sananya lemot untuk
menyerap matematika, ditambah lagi dengan rasa tertekan mendengar
‘pelajaran matematika’, rasanya makin mati kutu. Tapi toh tetap hal itu
dijalani dan sangat bersyukur meski nilai matematika paling tinggi 7
(itu pun Aljabar, satu-satunya materi favorit saya. Bangun ruang? Forget
it, please….). Makin itu diingat, makin merasa bodoh karena tulalit
memahami rumus. Waktu SMP pernah membuat contekan rumus, ternyata nilai
yang didapat hanya 3. Memalukan.
Sebenarnya bukan cuma
matematika, hampir semua mata pelajaran, kecuali menggambar, nilai saya
bikin panik, kalau ditiup sedikit bisa jatuh dan terjun bebas ditambah
lagi kotak hitamnya jatuh ke dalam pasir hidup. Kadang-kadang berkhayal
menjadi orang cerdas seperti salah satu idola saya, Bp. BJ. Habibie, Bp.
Jusuf Kalla atau setidaknya seperti Macgyver lah….(Tapi “mana
mungkin???? Membaca saja aku sulittttt)
Setelah sebesar ini
baru saya mempelajari bahwa kecerdasan bukan cuma seberapa besar nilai
ulangan atau di raport. Dalam teori Howard Gardner (1983), seorang ahli
riset dari Amerika, menyebutkan bahwa ada 8 (delapan) jenis kecerdasan,
antara lain:
a. Kecerdasan liguistik
b. Kecerdasan logis-matematis
c. Kecerdasan spasial
d. Kecerdasan musical
e. Kecerdasan kinestetik-jasmani
f. Kecerdasan antarpribadi
g. Kecerdasan intrapribadi
h. Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence)
Tiap macam kecerdasan ada karakternya, misalnya nih, seseorang yang
memiliki kecedasan linguistic, bisa dipastikan dia itu mampu
berargumentasi, meyakinkan orang lain (bakat jadi sales or pengacara),
menghibur atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata. Gemar membaca
dan dapat mengartikan bahasa tulisan dengan jelas. Cocok untuk mereka
yang berminat menjadi penyair, jurnalis.
Well, pass. Saya bukan tipe ini. Ada sedikit tipe yang nyerempet. Cuma nyerempet, belum nabrak!
Lalu kecerdasan logis-matematis. Yah, udah pasti saya di luar kotak.
Ciri-ciri orang dengan kecerdasan ini adalah; mudah membuat klasifikasi
dan kategorisasi (kalau saya mudah membuat orang lain marah); berpikir
dalam pola sebab akibat, menciptakan hipotesis; pandangan hidupnya
bersifat rasional (saya irrasional, main tabrak dan sedikit ambisius).
Yak, yang mau jadi ilmuwan, akuntan, programmer silahkan diasah
kecerdasan ini.
Kecerdasan musical? Wah, jauh dari ciri-ciri
ini; Peka nada dan menyanyi lagu dengan tepat; dapat mengikuti irama;
mendengar music dengan tingkat ketajaman lebih. (Pengalaman buruk saya
terakhir ketika saya bernyanyi adalah membuat sholat teman batal karena
dia tidak mampu menahan tawa mendengar saya bernyanyi).
Orang
dengan kecerdasan kinestetik-jasmani ciri-cirinya; menikmati kegiatan
fisik (olahraga) ; cekatan dan tidak bisa tinggal diam; berminat dengan
segala sesuatu. Yang merasa mempunyai ciri-ciri ini disarankan mempunyai
cita-cita seperti atlet, pengrajin, montir, menjahit, merakit model.
Lagi-lagi saya “ga bangeetttt” kalau kata anak ABG.
Lain lagi
dengan orang yang cerdas dalam aspek antarpribadi. Ini adalah kemampuan
untuk memahami dan bekerjasama dengan orang lain. Kecerdasan ini
terutama menuntut kemampuan untuk menyerap dan tanggap terhadap suasana
hati dan hasrat orang lain. Bisa mempunyai rasa belas kasihan dan
tanggung jawab sosial yang besar. Mereka mempunyai kemampuan untuk
memahami orang lain dan melihat dunia dari sudut pandang orang yang
bersangkutan. Cocok untuk mereka yang bercita-cita menjadi networker,
negosiator, guru. (Sepertinya bukan lagi….bekerjasama dalam sebuah
kelompok salah satu tantangan berat untuk orang macam saya yang tingkat
toleransinya kadang di bawah 0 derajat Celsius).
Kecerdasan
intrapribadi maksudnya mereka yang mampu untuk memahami diri sendiri dan
percaya kepada diri sendiri. Anak-anak dengan kecerdasan intrapribadi
tinggi umumnya lebih suka bermain sendiri, berkehendak kuat, dan tidak
mudah dipengaruhi maupun diatur, bahkan mungkin kerap kali dicap keras
kepala atau pemberontak. Padahal, yang sebenarnya diinginkan oleh
anak-anak ini adalah melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri.
Yak, yang merasa punya percaya diri tinggi setinggi anda memakai rexona,
silakan ngacung dan masuk kelompok ini dan cocok menjadi konselor atau
teolog, contohnya.
Mereka yang mempunyai kecerdasan naturalis
adalah yang mempunyai kemampuan mengenali bentuk-bentuk alam serta hidup
harmoni bersama alam. Anak-anak dengan kecerdasan naturalis tinggi
mungkin akan suka bermain tanah atau pasir, berani memegang anjing,
kucing, atau binatang lainnya. Mereka suka bermain dan berada di alam
terbuka. Cita-cita yang cocok petani, nelayan, pendaki, pemburu.
Yah… sebenarnya ga parah-parah amat sih. Dari sekian jenis kecerdasan,
ada satu atau dua kritria yang dibuat Gardner ada dalam diri saya. Tapi
lagi-lagi kalau dibuat skor, mungkin maksimal 7. Bagaimana dengan
teman-teman?
Oh iya, ada satu jenis kecerdasan yang benar-benar
tidak saya punyai, yaitu kecerdasan spatial. Untuk orang yang hobi
nyasar, selamat datang, bagian ini bukan untuk kita. Kecerdasan yang
mencakup berpikir dalam gambar, serta mampu untuk menyerap, mengubah dan
menciptakan kembali berbagai macam aspek visual (arsitek, fotografer,
designer, pilot, insinyur)
Ciri-ciri mereka yang mempunyai kecerdasan jenis ini adalah;
- Kepekaan tajam untuk detail visual, keseimbangan, warna, garis, bentuk dan ruang
- Mudah memperkirakan jarak dan ruang
- Membuat sketsa ide dengan jelas
Pengalaman nyasar saya punya banyak. Di dalam mall atau ITC di Jakarta saja saya seringa nyasar, apalagi ini di negeri orang.
To be continued…
Sukses ya… semua….
(dikutip sebagian dari Mbah Google)
Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 29 Juli 2012
Arti Kehadiran Teman I
Saya, dan saya yakin banyak dari kita, terikat dengan internet. Tidak
mengecek situs pertemanan seperti twitter, tagged, myspace, tumblr,
facebook, dan lainnya dalam sehari sepertinya ada yang ganjil. Bukan
Cuma situs pertemanan, tapi juga mengecek email atau membaca berita on
line. Padahal dulu, sebelum internet mulai booming diawal tahun 90-an,
hidup asik-asik saja. Tapi memang zaman
berubah. Dulu sebelum ponsel booming, kemana-mana, yang penting bawa
doku dan KTP, aman, sekarang ketinggalan KTP lebih baik daripada
ketinggalan ponsel.
Dulu ponsel Nokia 8201 sudah cukup, bentuk sudah cukup oke, walaupun sekarang harganya hampir sama dengan harga BB, sekarang, BB menjamur. Dari anak TK sampai oma opa, familiar dengan benda yang disebut telepon pintar. Saya pun cukup familiar dengan itu, walaupun tidak menggunakannya dan tidak tertarik menggunakannya.
Semua berawal dari niat, begitu salah satu ajaran di agama. Semuanya. Termasuk penggunaan internet. Saya pribadi menggunakan internet awalnya untuk membantu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya, dengan cara mengobrol dengan kawan-kawan dari negara luar, entah itu dari Asia, Amerika, Afrika, maupun Eropa. Alhasil, sewaktu masih menjadi mahasiswa, nilai menulis saya selalu jadi andalan untuk mendongkrak IPK yang bisa jadi miring karena nilai lain, seperti statistic, yang anjlok tak karuan.
Kalau fungsi lain internet, yah, seperti yang lain, mencari informasi, mencari pekerjaan, melamar pekerjaan, ataupun belajar membuat blog. Intinya, memanfaatkan semaksimal mungkin untuk pengembangan diri. Situs pertemanan pasti saya buat juga, tapi jujur lebih karena penasaran, walaupun ujung-ujungnya digunakan sebagai alat komunikasi kedua setelah ponsel. Pak Pos sudah sangat jarang digunakan, apalagi merpati pos.
Dulu seringnya saya hanya menggunakan yahoo messanger, lalu iseng mengikuti Evan bergabung di situs pertemanan yang akhirnya paling sering saya gunakan, yaitu tagged, karena dengan mudah saya bisa mendapatkan teman asing. Belakangan ini saya cukup sering menggunakan facebook karena menjadi sarana komunikasi ketiga dengan teman dan keluarga setelah telepon dan sms, malah kadang lebih sering menggunakan sarana ini untuk menyapa teman.
Namanya saja situs pertemanan, biasanya dengan mudah kita mendapatkan teman. Begitu pula dengan saya. Tidak masalah menjawab pertanyaan “apa kabar?” atau “rumahnya dimana?” berkali-kali. Jawaban saya pun hanya “baik”, dan “di Jakarta”, kalaupun berkembang lebih jauh, seperti “Jakartanya dimana?”, tanpa dosa saya pasti menjawab, “Jakarta Selatan.” Biasanya, berkembang “iya tau, tepatnya dimana?” Pasti tidak saya jawab. Apalagi pertanyaan tentang telepon atau PIN BB. Pasti tidak saya jawab. Yang pertama karena saya lebih percaya teman yang bisa saya jumpai secara langsung, dan bukan bertemu ala kopi darat, yang kedua adalah karena saya bukan pengguna BB.
Tapi bukan berarti saya tidak pernah member nomor telepon. Beberapa kali saya memberikan nomor ponsel saya, dengan satu syarat: orang itu bukan berada di Indonesia. Terdengar sombong? Bisa ya, bisa tidak. Tapi saya punya alasannya. Selain karena menjaga keamanan diri, dalam hal ini saya agak was was bila bertemu dengan seorang yang saya temui pertama kali lewat internet, karena bisa jadi itu profil palsu (walaupun saya yakin banyak orang yang menggunakan profil asli), yang kedua adalah karena niat awal saya memang bukan mencari teman, tapi meningkatkan kemapuan bahasa Inggris saya. Semua tergantung niat.
Alasan selanjutnya kenapa saya cenderung hanya memberi nomor ponsel pada kenalan di luar Indonesia adalah karena kemungkinan mereka menelpon dan mengirim sms kecil. Memang ada beberapa yang berkirim sms atau telepon, tapi itupun tidak terlalu sering, akan jauh berbeda bila teman di Indonesia. Seorang teman yang gemar memberikan nomornya bercerita bahwa dia sering mendapat sms perhatian seperti “sedang apa?”, “sudah makan belum?”, “selamat pagi”, “jangan lupa makan ya” atau sms ‘basa-basi’ – menurut saya lohhh – walaupun bisa jadi mungkin salah satu dari pengirim sms itu adalah pelabuhan terakhirnya. Kita tidak pernah tahu. Tapi saya belum berniat mencoba.
Itu dulu, ketika saya masih di Jakarta. Maaf, bukan jual mahal, sekali lagi karena kewaspadaan saya keterlaluan hingga menimbulkan rasa parno tersendiri. Tapi ceritanya lain sekarang. Saya di negeri orang dimana orang-orangnya terlihat begitu sibuk. Saya suka menyendiri tapi saya tidak terbiasa sendiri. Saya butuh teman. Urgent!
Kalau ada survey tentang seberapa cepat mendapatkan teman, saya bisa jadi keluar sebagai orang yang terlama. Bukan hal yang mudah untuk saya merasa nyaman pada orang yang baru saya temui. Dulu keadaan ini sangat menyiksa, tapi sekarang terbiasa. Mungkin dengan butuh waktu lebih panjang, saya bisa punya waktu lebih banyak untuk mengobservasi karakter seseorang dan merasa nyaman. Semua ada sisi positif maupun negativnya. Dunia ini seimbang.
Dari 41 orang teman di SMA, hanya 2-3 orang yang benar-benar dekat dan sampai sekarang kami masih berhubungan meski hanya lewat situs pertemanan. Kadang kontak terjadi agak lama, tapi bila ada teman yang sakit atau mengalami musibah, kami pasti bergerak, walaupun hanya sekedar mengirim pesan berduka ataupun datang mengunjungi. Ada juga teman dari tempat kerja sebelumnya. Insha Allah silaturahim tetap terjaga. Tapi kalau ditotal, jumlahnya tak lebih dari ‘a handful’ kata orang bule, alias ga lebih dari sepuluh.
Itu cerita dulu, waktu masih di Jakarta yang dengan mudah kita temui orang bergerombol. Tapi sekarang saya di negeri orang, dimana kondisinya sangat berbeda.
Ketika pertama kali merasakan pagi disini, pandapat yang keluar dari mulut saya adalah, “sepi sekali.” Host family hanya tertawa dan mengatakan, “itu juga hal pertama yang istri saya katakana waktu pertama kali disini.”
Di depan rumahnya terdapat jalan yang cukup besar untuk dua mobil, bisa jadi lebih. Kiri kanannya rumah yang tipenya sama, tidak berpagar seperti di banyak kota besar di Indonesia, tapi yang lewat berjalan kaki bisa di hitung dengan jari. Selain karena anginnya yang dingin menusuk, juga karena sibuknya orang-orang bekerja untuk mempersiapkan masa depannya. Tidak ada orang kongkow-kongkow. Kalaupun ada sesekali orang lewat, mereka terlihat seperti berolahraga, karena berpakaian olah raga lengkap dan langkah kaki agak cepat.
Bersambung….
Dulu ponsel Nokia 8201 sudah cukup, bentuk sudah cukup oke, walaupun sekarang harganya hampir sama dengan harga BB, sekarang, BB menjamur. Dari anak TK sampai oma opa, familiar dengan benda yang disebut telepon pintar. Saya pun cukup familiar dengan itu, walaupun tidak menggunakannya dan tidak tertarik menggunakannya.
Semua berawal dari niat, begitu salah satu ajaran di agama. Semuanya. Termasuk penggunaan internet. Saya pribadi menggunakan internet awalnya untuk membantu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya, dengan cara mengobrol dengan kawan-kawan dari negara luar, entah itu dari Asia, Amerika, Afrika, maupun Eropa. Alhasil, sewaktu masih menjadi mahasiswa, nilai menulis saya selalu jadi andalan untuk mendongkrak IPK yang bisa jadi miring karena nilai lain, seperti statistic, yang anjlok tak karuan.
Kalau fungsi lain internet, yah, seperti yang lain, mencari informasi, mencari pekerjaan, melamar pekerjaan, ataupun belajar membuat blog. Intinya, memanfaatkan semaksimal mungkin untuk pengembangan diri. Situs pertemanan pasti saya buat juga, tapi jujur lebih karena penasaran, walaupun ujung-ujungnya digunakan sebagai alat komunikasi kedua setelah ponsel. Pak Pos sudah sangat jarang digunakan, apalagi merpati pos.
Dulu seringnya saya hanya menggunakan yahoo messanger, lalu iseng mengikuti Evan bergabung di situs pertemanan yang akhirnya paling sering saya gunakan, yaitu tagged, karena dengan mudah saya bisa mendapatkan teman asing. Belakangan ini saya cukup sering menggunakan facebook karena menjadi sarana komunikasi ketiga dengan teman dan keluarga setelah telepon dan sms, malah kadang lebih sering menggunakan sarana ini untuk menyapa teman.
Namanya saja situs pertemanan, biasanya dengan mudah kita mendapatkan teman. Begitu pula dengan saya. Tidak masalah menjawab pertanyaan “apa kabar?” atau “rumahnya dimana?” berkali-kali. Jawaban saya pun hanya “baik”, dan “di Jakarta”, kalaupun berkembang lebih jauh, seperti “Jakartanya dimana?”, tanpa dosa saya pasti menjawab, “Jakarta Selatan.” Biasanya, berkembang “iya tau, tepatnya dimana?” Pasti tidak saya jawab. Apalagi pertanyaan tentang telepon atau PIN BB. Pasti tidak saya jawab. Yang pertama karena saya lebih percaya teman yang bisa saya jumpai secara langsung, dan bukan bertemu ala kopi darat, yang kedua adalah karena saya bukan pengguna BB.
Tapi bukan berarti saya tidak pernah member nomor telepon. Beberapa kali saya memberikan nomor ponsel saya, dengan satu syarat: orang itu bukan berada di Indonesia. Terdengar sombong? Bisa ya, bisa tidak. Tapi saya punya alasannya. Selain karena menjaga keamanan diri, dalam hal ini saya agak was was bila bertemu dengan seorang yang saya temui pertama kali lewat internet, karena bisa jadi itu profil palsu (walaupun saya yakin banyak orang yang menggunakan profil asli), yang kedua adalah karena niat awal saya memang bukan mencari teman, tapi meningkatkan kemapuan bahasa Inggris saya. Semua tergantung niat.
Alasan selanjutnya kenapa saya cenderung hanya memberi nomor ponsel pada kenalan di luar Indonesia adalah karena kemungkinan mereka menelpon dan mengirim sms kecil. Memang ada beberapa yang berkirim sms atau telepon, tapi itupun tidak terlalu sering, akan jauh berbeda bila teman di Indonesia. Seorang teman yang gemar memberikan nomornya bercerita bahwa dia sering mendapat sms perhatian seperti “sedang apa?”, “sudah makan belum?”, “selamat pagi”, “jangan lupa makan ya” atau sms ‘basa-basi’ – menurut saya lohhh – walaupun bisa jadi mungkin salah satu dari pengirim sms itu adalah pelabuhan terakhirnya. Kita tidak pernah tahu. Tapi saya belum berniat mencoba.
Itu dulu, ketika saya masih di Jakarta. Maaf, bukan jual mahal, sekali lagi karena kewaspadaan saya keterlaluan hingga menimbulkan rasa parno tersendiri. Tapi ceritanya lain sekarang. Saya di negeri orang dimana orang-orangnya terlihat begitu sibuk. Saya suka menyendiri tapi saya tidak terbiasa sendiri. Saya butuh teman. Urgent!
Kalau ada survey tentang seberapa cepat mendapatkan teman, saya bisa jadi keluar sebagai orang yang terlama. Bukan hal yang mudah untuk saya merasa nyaman pada orang yang baru saya temui. Dulu keadaan ini sangat menyiksa, tapi sekarang terbiasa. Mungkin dengan butuh waktu lebih panjang, saya bisa punya waktu lebih banyak untuk mengobservasi karakter seseorang dan merasa nyaman. Semua ada sisi positif maupun negativnya. Dunia ini seimbang.
Dari 41 orang teman di SMA, hanya 2-3 orang yang benar-benar dekat dan sampai sekarang kami masih berhubungan meski hanya lewat situs pertemanan. Kadang kontak terjadi agak lama, tapi bila ada teman yang sakit atau mengalami musibah, kami pasti bergerak, walaupun hanya sekedar mengirim pesan berduka ataupun datang mengunjungi. Ada juga teman dari tempat kerja sebelumnya. Insha Allah silaturahim tetap terjaga. Tapi kalau ditotal, jumlahnya tak lebih dari ‘a handful’ kata orang bule, alias ga lebih dari sepuluh.
Itu cerita dulu, waktu masih di Jakarta yang dengan mudah kita temui orang bergerombol. Tapi sekarang saya di negeri orang, dimana kondisinya sangat berbeda.
Ketika pertama kali merasakan pagi disini, pandapat yang keluar dari mulut saya adalah, “sepi sekali.” Host family hanya tertawa dan mengatakan, “itu juga hal pertama yang istri saya katakana waktu pertama kali disini.”
Di depan rumahnya terdapat jalan yang cukup besar untuk dua mobil, bisa jadi lebih. Kiri kanannya rumah yang tipenya sama, tidak berpagar seperti di banyak kota besar di Indonesia, tapi yang lewat berjalan kaki bisa di hitung dengan jari. Selain karena anginnya yang dingin menusuk, juga karena sibuknya orang-orang bekerja untuk mempersiapkan masa depannya. Tidak ada orang kongkow-kongkow. Kalaupun ada sesekali orang lewat, mereka terlihat seperti berolahraga, karena berpakaian olah raga lengkap dan langkah kaki agak cepat.
Bersambung….
Pusaran Kebingungan
Menunggu adalah hal yang menjengkelkan bagi hampir semua orang. Mungkin
satu-satunya orang yang suka menunggu adalah Ridho Irama, karena dengan
menunggumu, ia mendapatkan support financial, dalam bentuk penjualan
album tentunya. Yah, ini menunggu dalam arti yang sesungguhnya. Menunggu
antrian di kasir, menunggu hujan berhenti, menunggu bis, menunggu
pacar, sama. Semuanya menjemukan. Melakukan sesuatu yang menyebalkan selama beberapa menit terasa beberapa jam.
Hal itu saya alami. Berkali-kali. Tapi kalau mau jujur sih, saya juga sering menyebabkan teman lain menunggu akibat dari budaya jam karet yang sudah masuk terlalu jauh dan bercampur dengan darah saya. Mencoba untuk menghilangkan, tapi rasanya sama susahnya seperti berhenti merokok pada perokok kronis.
Ketika saya mendapatkan telepon dari pihak VFS bahwa visa saya di telah selesai, saat itulah saya mengontak host family dan memberitahu tentang hal itu. Singkatnya, mereka segera mengecek penerbangan ke Ottawa dan mengirim email, menanyakan konfirmasi saya tentang tiket yang akan dipesan. Tertulis bahwa saya akan transit dua kali, di Narita, Jepang dan Toronto. Mereka katakan bahwa ada penerbangan lain mengharuskan saya transit di negeri Paman Sam, dan itu mustahil karena walaupun hanya transit, tetap saja penduduk Indonesia dan beberapa negara lain membutuhkan visa Amerika. Jadilah saya transit si Jepang.
Saya katakan pada keluarga tersebut bahwa saya tidak bermasalah dengan itu. Jadilah tiket dan jadwal penerbangan dikirim melalui email. Tertulis berangkat tanggal 1 Mei, pukul 09.45 pm dan transit di Jepang, lalu terbang lagi dan transit di Toronto sebelum ke Ottawa. Saya pikir, ok, ndak masalah. Tapi begitu saya lihat lebih teliti dan menghitung waktunya, ternyata di Narita saya harus transit selama 10 jam. 10 jam!
Dulu, waktu menghadiri resepsi pernikahan keluarga di Bali, ada delay dua jam. Dua jam terasa lambat. Saya mondar mandir di pertokoan di dalam bandara, tapi gerak gerik saya diawasi dengan tajam oleh seorang sekuriti yang gerakannya terlalu mencolok untuk sekedar disebut ‘mengecek keadaan baju.’ Saya lalu duduk diam, sang sekuriti kembali ketempatnya. PUAS?!
Dua jam menunggu sulit dikatakan ‘tak masalah.’ Tapi kali ini 10 jam. Beberapa rencana ada di dalam kepala saya. Dari sekedar membawa novel Laskar Pelangi kesukaan saya, sampai rencana keluar sebentar dari bandara den mengelilingi Jepang, walaupun hanya sedikit lingkungan luar bandara. Tapi niat kedua saya urungkan karena untuk itu kemungkinan saya butuh menukarkan uang ke Yen. Lagi ngirit nih.
Jadilah rencana pertama yang saya lakukan.
Sampai di Narita sekitar pukul 07.00 pagi waktu Jepang. Sepi. Bandaranya luas dan berkarpet. Beda sekali dengan Bandara Soekarno Hatta (maaf bila saya membandingkan banyak hal, antara negara saya, Indonesia, dengan negara lain. Tidak ada maksud buruk. Hanya mencoba membuka mata, semoga akan ada perbaikan lebih baik nantinya).
Tas cangklong yang saya bawa sebenarnya cukup besar untuk ukuran saya. Isinya hal-hal yang saya butuhkan – atau mungkin saya ‘pikir’ saya butuhkan selama di pesawat – tissue basah, tissue kering, mukena dan sajadah, jaket tebal, jaket iseng, roti gandum plus keju (kejunya belum saya makan sampai tulisan ini dibuat), netbook dan chargernya dan sweater dari seorang sahabat. Selain itu ada juga tas kecil berisi passport, tiket, surat dari kedutaan, surat kontrak kerja dan LMO, dan dompet berisi uang beberapa ratus dollar dan beberapa ratus ribu rupiah.
Terasa berat. Tapi perlu. Well, mungkin saya typical ‘just in case’ traveler. Maksudnya saya cenderung memasukkan apa yang saya pikir saya butuhkan ke dalam tas, untuk jaga-jaga, begitu pikir saya.
Demi keamanan, tiap orang diperiksa. Pasti. Tapi ketika di Narita, netbook yang letaknya di dasar tas terpaksa saya keluarkan sesuai keinginan security bandara. Jadilah beberapa benda diatasnya keluar semua dari tas cangklong saya. Repot. Netbook pun diperiksa apakah asli atau tidak. Lulus.
Bandara sepi. Penerbangan dari Jakarta ke Jepang sekitar tujuh jam. Berpikir untuk mandi, tapi saya urungkan. Akhirnya ke toilet bandara untuk membasuh muka dan ke toilet. Di toilet ini ada cerita tersendiri. Di Indonesia, kita familiar dengan toilet jongkok, walaupun banyak juga gedung yang memasang toilet duduk. Saya tidak suka toilet duduk di tempat umum, tapi tidak ada pilihan.
Ketika saya masuk ke toilet di Narita, jiwa kampungan gaptek saya keluar. Tidak ada ember dan bak sudah bisa diprediksi, tapi di Indonesia biasanya tersedia shower untuk membilas. Alih-alih menemukan shower, yang saya temui adalah beberapa tombol di sebelah toilet. Yah, terpaksa keinginan untuk BAK tertahan sekitar tiga menit untuk memahami fungsi tombol-tombol tersebut. Alhamdulillah setelah itu lancar.
Untuk membunuh waktu, saya berkeliling bandara dengan tas yang seberat nyaris delapan kilo. Mencoba mencari pintu keluar bandara, tapi menyadari kemapuan spatial saya rendah, saya terpaksa katakan “TIDAK” kepada “EXIT”. Ada puluhan gate, yang saya lihat sampai nyaris 50. Akhirnya karena lelah, saya berhenti dan duduk ditempat dimana saya bisa melihat pesawat hilir mudik. Pagi itu hanya dua orang disana, saya dan seorang Caucasian. Ngantuk, saya putuskan untuk tidur.
Ketika mencari tempat nyaman untuk tidur, saya melewati beberapa sofa yang ditata seperti di sebuah ruang tamu nyaman yang bisa kita lihat di sinetron-sinetron Indonesia yang menjual mimpi. Terlihat nyaman untuk tidur. Tapi karena diletakkan di tengah ruangan, hhh…. Tidur di tengah ruangan sementara yang lain hilir mudik? Tidak lah yau…
Entah berapa lama saya tertidur, yang pasti saya terbangun karena lapar. Teringat roti dan keju yang saya bawa dari Indonesia. Tapi saya urungkan. Belum makan namanya kalau belum masuk nasi ke perut. Tapi saya teringat pesan orang tua saya yang menganjurkan untuk menelpon mereka ketika sudah tiba di Jepang. Saya berkeliling mecari telepon umum. Keluar kembali sifat gaptek norak saya. Berkali-kali saya baca cara menggunakan telepon umum tersebut. Berkali-kali juga saya dibuat bingung. Intinya saya tidak punya Yen untuk membeli kartu telepon. Titik.
Satu hal yang membuat saya nyengir kuda adalah saat itu, sofa-sofa yang tertata apik tersebut hampir penuh dengan orang-orang Caucasian yang tertidur terlentang. Laki-laki dan perempuan. Cuek saja. Mereka bisa jadi terdampar juga sekian jam di bandara ini seperti saya. Yang lain saya lihat tertidur di lantai bandara yang beralaskan karpet nyaman. Yah, mau bagaimana lagi? Daripada tidur dalam posisi duduk seperti saya, memang lebih nyaman terlentang. Tapi saya tidak punya cukup nyali untuk tidur ditengah ruangan seperti itu.
Karena tidak mengerti cara menggunakan telepon umum tersebut, ujung-ujungnya saya putuskan kembali ke tempat saya tidur untuk membuka netbook yang saya bawa, berharap ada sinyal wifi, ternyata tidak. Netbook saya tutup. Celingak-celinguk sebentar, saya menangkap bayangan internet corner. Serasa mendapat air di padang pasir, dengan semangat saya dekati. Ternyata perlu izin dan membayar. Ok, saya pikir, tak masalah. Masalahnya adalah dimana?
Seorang sekuriti yang melintas saya hadang dan bertanya tentang cara pemakaian internet tersebut. Dia mengerti maksud saya, tapi bukan jawaban yang saya dapatkan, tapi security bohay itu mengajak saya melihat peta. Yang dia lakukan hanya menunjuk keberadaan kami sekarang, lalu information centre. Intinya, dia meminta saya bertanya di information centre dan dia mengajak saya kesana. Saya menurut.
Beberapa langkah dari sana, saya katakan pada security bahwa saya tidak jadi menggunakan internet di lokasi tersebut. Ada dua buah meja wifi saya lihat tak jauh dari sana. Jadilah saya mengirim berita ke keluarga melalui fb adik saya. Masalah teratasi. Nyaris satu jam saya berdiri disana, karena tidak disediakan bangku, tapi satu jam menggunakan internet tidak terasa kan? Lapar pun tidak terasa pula.
Hal selanjutnya yang harus dihadapi adalah sholat. Sebisa mungkin tetap berkomunikasi kepada Yang Maha Pemberi Kehidupan untuk bersyukur. Information centre saya datangi, bertanya tentang ruang sholat, sayangnya mereka tidak menyediakan ruang tersebut. Solusinya saya minta izin untuk sholat di ruang ganti. Nona tersebut mengizinkan. Jujur, saya tidak tahu kiblatnya. Saya berniat sholat dan saya lakukan itu. Dia Maha Tahu.
Sepanjang bandara terdapat banyak toko yang menyediakan souvenir, mulai dari parfum, kimono, tas, buku, dan lain sebagainya. Bermacam makanan ala Jepang pun pasti ada. Berhubung saya tidak tahu satu pun tentang nama makanan yang saya baca – dan jaga-jaga dari kemungkinan harga makanan mengagetkan – saya memilih cara aman. Cari Mc Donald. Harapan saya ada Panas, alias paket nasi, tapi harapan tinggal harapan. Saya disana, diantrian, sambil membaca menu satu persatu. Menu didominasi burger dan kentang goreng. Bungkus.
Satu burger ayam, kentang goreng ukuran sedang, dan air mineral segelas, delapan dollar. Yen saya tidak punya. Jadinya bayar pakai 10 dollar, kembaliannya yen. Entah berapa yen. Tapi dari kembalian itu saya masih bisa membeli sebotol air mineral seharga 15 yen dan sisanya masih ada, untuk kenang-kenangan.
Sepuluh jam tidak terlalu terasa 10 jam. Mungkin terasa 9,5 jam. Selain karena banyak yang bisa dilihat, juga karena bawaan yang berat memecah konsentrasi dan tenaga. Tenaga untuk mengutuk sudah terkuras.
Satu hal. Saya tidak terlalu bermasalah untuk makan. Apa saja, yang penting halal, dan saya tidak perlu tahu namanya. Karena akan membingungkan saya. Kenapa? Karena pasti akan banyak pertanyaan dalam benak saya tentang makanan tersebut: namanya, bahannya, asalnya, cara masaknya, sampai dari mana mereka mendapat bumbunya. Mereka hanya mengganggu nafsu makan. Lebih baik sajikan saja.
Di ANA, All Nippon Airways, maskapai yang saya gunakan, makanan tidak terlalu berpengaruh. Masih aman. Tapi dimenu terakhir, sedikit bermasalah. Makanan yang disajikan seperti daging yang digoreng, roti dan yang lain, saya lupa. Yang pasti saat itu saya baru bangun tidur, jadi bisa dikatakan itu sarapan. Sarapan berat. Saya paksakan karena saya saya tidak mau sakit setibanya disana. Hasilnya? Makanan keluar kembali setelah beberapa menit masuk. Pelajaran baru: ikuti kata hatimu. Ketika hatimu bilang jangan makan, PATUHI!!!
Yah, sebenarnya banyak lagi printilan yang bisa diceritakan. Mungkin lain kali, kalo memorinya ter-recall.
Sukses!
Hal itu saya alami. Berkali-kali. Tapi kalau mau jujur sih, saya juga sering menyebabkan teman lain menunggu akibat dari budaya jam karet yang sudah masuk terlalu jauh dan bercampur dengan darah saya. Mencoba untuk menghilangkan, tapi rasanya sama susahnya seperti berhenti merokok pada perokok kronis.
Ketika saya mendapatkan telepon dari pihak VFS bahwa visa saya di telah selesai, saat itulah saya mengontak host family dan memberitahu tentang hal itu. Singkatnya, mereka segera mengecek penerbangan ke Ottawa dan mengirim email, menanyakan konfirmasi saya tentang tiket yang akan dipesan. Tertulis bahwa saya akan transit dua kali, di Narita, Jepang dan Toronto. Mereka katakan bahwa ada penerbangan lain mengharuskan saya transit di negeri Paman Sam, dan itu mustahil karena walaupun hanya transit, tetap saja penduduk Indonesia dan beberapa negara lain membutuhkan visa Amerika. Jadilah saya transit si Jepang.
Saya katakan pada keluarga tersebut bahwa saya tidak bermasalah dengan itu. Jadilah tiket dan jadwal penerbangan dikirim melalui email. Tertulis berangkat tanggal 1 Mei, pukul 09.45 pm dan transit di Jepang, lalu terbang lagi dan transit di Toronto sebelum ke Ottawa. Saya pikir, ok, ndak masalah. Tapi begitu saya lihat lebih teliti dan menghitung waktunya, ternyata di Narita saya harus transit selama 10 jam. 10 jam!
Dulu, waktu menghadiri resepsi pernikahan keluarga di Bali, ada delay dua jam. Dua jam terasa lambat. Saya mondar mandir di pertokoan di dalam bandara, tapi gerak gerik saya diawasi dengan tajam oleh seorang sekuriti yang gerakannya terlalu mencolok untuk sekedar disebut ‘mengecek keadaan baju.’ Saya lalu duduk diam, sang sekuriti kembali ketempatnya. PUAS?!
Dua jam menunggu sulit dikatakan ‘tak masalah.’ Tapi kali ini 10 jam. Beberapa rencana ada di dalam kepala saya. Dari sekedar membawa novel Laskar Pelangi kesukaan saya, sampai rencana keluar sebentar dari bandara den mengelilingi Jepang, walaupun hanya sedikit lingkungan luar bandara. Tapi niat kedua saya urungkan karena untuk itu kemungkinan saya butuh menukarkan uang ke Yen. Lagi ngirit nih.
Jadilah rencana pertama yang saya lakukan.
Sampai di Narita sekitar pukul 07.00 pagi waktu Jepang. Sepi. Bandaranya luas dan berkarpet. Beda sekali dengan Bandara Soekarno Hatta (maaf bila saya membandingkan banyak hal, antara negara saya, Indonesia, dengan negara lain. Tidak ada maksud buruk. Hanya mencoba membuka mata, semoga akan ada perbaikan lebih baik nantinya).
Tas cangklong yang saya bawa sebenarnya cukup besar untuk ukuran saya. Isinya hal-hal yang saya butuhkan – atau mungkin saya ‘pikir’ saya butuhkan selama di pesawat – tissue basah, tissue kering, mukena dan sajadah, jaket tebal, jaket iseng, roti gandum plus keju (kejunya belum saya makan sampai tulisan ini dibuat), netbook dan chargernya dan sweater dari seorang sahabat. Selain itu ada juga tas kecil berisi passport, tiket, surat dari kedutaan, surat kontrak kerja dan LMO, dan dompet berisi uang beberapa ratus dollar dan beberapa ratus ribu rupiah.
Terasa berat. Tapi perlu. Well, mungkin saya typical ‘just in case’ traveler. Maksudnya saya cenderung memasukkan apa yang saya pikir saya butuhkan ke dalam tas, untuk jaga-jaga, begitu pikir saya.
Demi keamanan, tiap orang diperiksa. Pasti. Tapi ketika di Narita, netbook yang letaknya di dasar tas terpaksa saya keluarkan sesuai keinginan security bandara. Jadilah beberapa benda diatasnya keluar semua dari tas cangklong saya. Repot. Netbook pun diperiksa apakah asli atau tidak. Lulus.
Bandara sepi. Penerbangan dari Jakarta ke Jepang sekitar tujuh jam. Berpikir untuk mandi, tapi saya urungkan. Akhirnya ke toilet bandara untuk membasuh muka dan ke toilet. Di toilet ini ada cerita tersendiri. Di Indonesia, kita familiar dengan toilet jongkok, walaupun banyak juga gedung yang memasang toilet duduk. Saya tidak suka toilet duduk di tempat umum, tapi tidak ada pilihan.
Ketika saya masuk ke toilet di Narita, jiwa kampungan gaptek saya keluar. Tidak ada ember dan bak sudah bisa diprediksi, tapi di Indonesia biasanya tersedia shower untuk membilas. Alih-alih menemukan shower, yang saya temui adalah beberapa tombol di sebelah toilet. Yah, terpaksa keinginan untuk BAK tertahan sekitar tiga menit untuk memahami fungsi tombol-tombol tersebut. Alhamdulillah setelah itu lancar.
Untuk membunuh waktu, saya berkeliling bandara dengan tas yang seberat nyaris delapan kilo. Mencoba mencari pintu keluar bandara, tapi menyadari kemapuan spatial saya rendah, saya terpaksa katakan “TIDAK” kepada “EXIT”. Ada puluhan gate, yang saya lihat sampai nyaris 50. Akhirnya karena lelah, saya berhenti dan duduk ditempat dimana saya bisa melihat pesawat hilir mudik. Pagi itu hanya dua orang disana, saya dan seorang Caucasian. Ngantuk, saya putuskan untuk tidur.
Ketika mencari tempat nyaman untuk tidur, saya melewati beberapa sofa yang ditata seperti di sebuah ruang tamu nyaman yang bisa kita lihat di sinetron-sinetron Indonesia yang menjual mimpi. Terlihat nyaman untuk tidur. Tapi karena diletakkan di tengah ruangan, hhh…. Tidur di tengah ruangan sementara yang lain hilir mudik? Tidak lah yau…
Entah berapa lama saya tertidur, yang pasti saya terbangun karena lapar. Teringat roti dan keju yang saya bawa dari Indonesia. Tapi saya urungkan. Belum makan namanya kalau belum masuk nasi ke perut. Tapi saya teringat pesan orang tua saya yang menganjurkan untuk menelpon mereka ketika sudah tiba di Jepang. Saya berkeliling mecari telepon umum. Keluar kembali sifat gaptek norak saya. Berkali-kali saya baca cara menggunakan telepon umum tersebut. Berkali-kali juga saya dibuat bingung. Intinya saya tidak punya Yen untuk membeli kartu telepon. Titik.
Satu hal yang membuat saya nyengir kuda adalah saat itu, sofa-sofa yang tertata apik tersebut hampir penuh dengan orang-orang Caucasian yang tertidur terlentang. Laki-laki dan perempuan. Cuek saja. Mereka bisa jadi terdampar juga sekian jam di bandara ini seperti saya. Yang lain saya lihat tertidur di lantai bandara yang beralaskan karpet nyaman. Yah, mau bagaimana lagi? Daripada tidur dalam posisi duduk seperti saya, memang lebih nyaman terlentang. Tapi saya tidak punya cukup nyali untuk tidur ditengah ruangan seperti itu.
Karena tidak mengerti cara menggunakan telepon umum tersebut, ujung-ujungnya saya putuskan kembali ke tempat saya tidur untuk membuka netbook yang saya bawa, berharap ada sinyal wifi, ternyata tidak. Netbook saya tutup. Celingak-celinguk sebentar, saya menangkap bayangan internet corner. Serasa mendapat air di padang pasir, dengan semangat saya dekati. Ternyata perlu izin dan membayar. Ok, saya pikir, tak masalah. Masalahnya adalah dimana?
Seorang sekuriti yang melintas saya hadang dan bertanya tentang cara pemakaian internet tersebut. Dia mengerti maksud saya, tapi bukan jawaban yang saya dapatkan, tapi security bohay itu mengajak saya melihat peta. Yang dia lakukan hanya menunjuk keberadaan kami sekarang, lalu information centre. Intinya, dia meminta saya bertanya di information centre dan dia mengajak saya kesana. Saya menurut.
Beberapa langkah dari sana, saya katakan pada security bahwa saya tidak jadi menggunakan internet di lokasi tersebut. Ada dua buah meja wifi saya lihat tak jauh dari sana. Jadilah saya mengirim berita ke keluarga melalui fb adik saya. Masalah teratasi. Nyaris satu jam saya berdiri disana, karena tidak disediakan bangku, tapi satu jam menggunakan internet tidak terasa kan? Lapar pun tidak terasa pula.
Hal selanjutnya yang harus dihadapi adalah sholat. Sebisa mungkin tetap berkomunikasi kepada Yang Maha Pemberi Kehidupan untuk bersyukur. Information centre saya datangi, bertanya tentang ruang sholat, sayangnya mereka tidak menyediakan ruang tersebut. Solusinya saya minta izin untuk sholat di ruang ganti. Nona tersebut mengizinkan. Jujur, saya tidak tahu kiblatnya. Saya berniat sholat dan saya lakukan itu. Dia Maha Tahu.
Sepanjang bandara terdapat banyak toko yang menyediakan souvenir, mulai dari parfum, kimono, tas, buku, dan lain sebagainya. Bermacam makanan ala Jepang pun pasti ada. Berhubung saya tidak tahu satu pun tentang nama makanan yang saya baca – dan jaga-jaga dari kemungkinan harga makanan mengagetkan – saya memilih cara aman. Cari Mc Donald. Harapan saya ada Panas, alias paket nasi, tapi harapan tinggal harapan. Saya disana, diantrian, sambil membaca menu satu persatu. Menu didominasi burger dan kentang goreng. Bungkus.
Satu burger ayam, kentang goreng ukuran sedang, dan air mineral segelas, delapan dollar. Yen saya tidak punya. Jadinya bayar pakai 10 dollar, kembaliannya yen. Entah berapa yen. Tapi dari kembalian itu saya masih bisa membeli sebotol air mineral seharga 15 yen dan sisanya masih ada, untuk kenang-kenangan.
Sepuluh jam tidak terlalu terasa 10 jam. Mungkin terasa 9,5 jam. Selain karena banyak yang bisa dilihat, juga karena bawaan yang berat memecah konsentrasi dan tenaga. Tenaga untuk mengutuk sudah terkuras.
Satu hal. Saya tidak terlalu bermasalah untuk makan. Apa saja, yang penting halal, dan saya tidak perlu tahu namanya. Karena akan membingungkan saya. Kenapa? Karena pasti akan banyak pertanyaan dalam benak saya tentang makanan tersebut: namanya, bahannya, asalnya, cara masaknya, sampai dari mana mereka mendapat bumbunya. Mereka hanya mengganggu nafsu makan. Lebih baik sajikan saja.
Di ANA, All Nippon Airways, maskapai yang saya gunakan, makanan tidak terlalu berpengaruh. Masih aman. Tapi dimenu terakhir, sedikit bermasalah. Makanan yang disajikan seperti daging yang digoreng, roti dan yang lain, saya lupa. Yang pasti saat itu saya baru bangun tidur, jadi bisa dikatakan itu sarapan. Sarapan berat. Saya paksakan karena saya saya tidak mau sakit setibanya disana. Hasilnya? Makanan keluar kembali setelah beberapa menit masuk. Pelajaran baru: ikuti kata hatimu. Ketika hatimu bilang jangan makan, PATUHI!!!
Yah, sebenarnya banyak lagi printilan yang bisa diceritakan. Mungkin lain kali, kalo memorinya ter-recall.
Sukses!
Potongan Pertama dari Puzzle Perjalanan Kecil
Tahu cabutan ga? Itu loh... potongan kertas kecil yang dilipat dan
disusun ke bawah. Di dalam tiap kertas ada nomor, dan kalau beruntung,
kita bisa menukarkan nomor tersebut dengan hadiah yang sudah disediakan.
Saya ga tau namanya apa, tapi saya menyebutnya cabutan.
Waktu kecil saya beberapa kali membeli cabutan. Seringnya mendapat hadiah kecil seperti chiki atau malah tidak mendapat hadiah apa-apa, alias medali "anda kurang beruntung." Tapi ada satu momen bagus, ketika saya mendapat minyak goreng Bimoli satu botol (isinya 500 ml atau setengah liter). Waktu itu saya kelas satu atau dua SD. Nenek saya, almarhumah, terkejut waktu saya pulang membawa minyak itu. Dia pikir minyak itu hasil curian. Dengan panik, nenek bertanya kepada saya asal minyak tersebut dengan bahasa daerah. Saya mengerti artinya, tapi saya tidak bisa menjawab dengan bahasa daerah, jadi saya hanya menjawab, "cabutan." Naas, nenek tidak mengerti maksud saya, alhasil, panik beliau teratasi beberapa jam kemudian setelah mama pulang bekerja dan menjelaskan pada nenek dalam bahasa daerah tentang apa yang saya maksud.
Cabutan itu untung-untungan. Gambling juga. Saya suka gambling, bukan berjudi secara harfiah, tapi suka bermain dengan keadaan, untung-untungan.
Begitu juga ketika saya membuat profil di situs tersebut. Nothing to lose, kata orang bule. Dapet syukur.... ga dapet? Tuhan, please dech.....
Nah, tanggal 29 Juni 2011 mulailah saya isi pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam situs tersebut. Pertanyaannya lumayan banyak, dan tidak semua pertanyaan saya mengerti. Alhasil, demi menjawab semua pertanyaan (kadang saya merasa bahwa menjawab pertanyaan, entah di kuisioner atau di sebuah situs atau di tempat apapun, harus dilakukan. Saya sering merasa bahwa itu adalah ujian tulis yang harus dilakukan secara serius! Pikiran bodoh!), saya menanyakan maksud pertanyaan itu kepada seorang teman asal negeri Paman Sam yang telah saya kenal di dunia maya selama kurang lebih empat tahun. Dengan sabar dia membimbing saya dan memberi tahu jawaban diplomatis yang tepat untuk tiap pertanyaan yang saya hadapi. Dia banyak membantu.
Beberapa bulan berselang, saya mengecek email. Biasanya yang saya dapatkan adalah fast match notifications dari situs tersebut. Isinya beberapa keluarga yang kemungkinan masuk dengan kriteria yang saya masukkan untuk menjadi host family saya. Jujur, saya jarang meng- add keluarga untuk menjadi favorit saya, karena jujur juga, saya tidak punya gambaran apapun tentang hal yang akan saya hadapi. Pintar bukan?
Mala menganjurkan saya untuk meng- add keluarga. Saya mencobanya sekali dua. Sebanyak itulah saya menerima surat penolakan secara halus. Entah harus bersyukur atau senang. Sama saja rasanya.
Berselang sekitar tiga bulan sejak pertama kali mendaftar, 8 September 2011 tepatnya, saya menerima sebuah email notification, tertulis bahwa sebuah keluarga di Kanata, Canada meng - add saya menjadi favorit mereka (apa ya terjemahan Indonesia yang cocok untuk meng - add? Menambah? Memasukkan?). Saya mengkonfirmasi request mereka. Sejak itulah kami bercakap untuk mencari informasi, apa yang mereka harapkan dari saya dan apa yang akan saya dapatkan dari mereka (tidak salah kan? ini bukan kerja sosial). Saya setuju dan mulai bergerak mempersiapkan semuanya. Dimulai dari paspor dan hal-hal lain. Tiap hal yang saya tidak ketahui, saya konsulkan pada Mala melalui fb.
Satu hal yang saya ingat. Beberapa hari sebelum profil saya dijadikan favorit, saya bercerita pada Evan tentang situs tersebut. Sambil tertawa saya mengatakan bahwa saya lakukan itu hanya iseng, karena saya yakin hampir 100% bahwa saya tidak akan mungkin mendapatkan host family, karena saya member biasa, jadi bagaimana bisa ada keluarga yang melihat profil saya?
Pelajaran berharga buat saya: hati-hati kalau bicara. Ucapan seringan apapun bisa jadi bumerang. Ucapkanlah yang baik-baik saja, insha Allah hasilnya akan baik. Saya bersyukur, ini adalah hal yang baik, insha Allah.
Sebenarnya ada beberapa keluarga yang menambahkan saya dalam daftar favorit mereka, kebanyakan dari mereka berlokasi di Timur Tengah, namun saya, dengan senang hati - tapi tetap berusaha sopan - menolak request tersebut. Berita yang sampai di Indonesia tentang pekerja di kawasan itu banyak yang membuat saya bergidik. Saya tidak suka termakan streotype, tapi untuk hal ini, saya membuat pengecualian yang BESAR. Bukan orangnya yang saya hindari, tapi daerahnya.
Ada juga sebuah keluarga yang berlokasi di Australia, mereka termasuk warga minoritas disana, menulis surat yang panjang tentang pekerjaan yang harus saya kerjakan. Begitu panjang sehingga membuat saya berguman, "untuk baca suratnya aja butuh seharian, bagaimana kalau benar-benar bekerja di keluarga mereka?" Saya menarik napas panjang. Surat tidak saya balas. Tidak bernafsu.
Hal-hal yang perlu saya siapkan untuk mendapat izin bekerja di Canada tersedia secara lengkap di website mereka. Baca, pahami, bergerak. Cukup itu. Terlihat simpel? Ya, tentu saja, tapi dalam kenyataannya, dari rumah Pak RT, RW, Kelurahan, kecamatan, Polres, Mabes, Dephankam, hingga kantor kependudukan di Jakarta Barat harus didatangi demi menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Semangat 2011 - 2012 dinyalakan!!!
Waktu kecil saya beberapa kali membeli cabutan. Seringnya mendapat hadiah kecil seperti chiki atau malah tidak mendapat hadiah apa-apa, alias medali "anda kurang beruntung." Tapi ada satu momen bagus, ketika saya mendapat minyak goreng Bimoli satu botol (isinya 500 ml atau setengah liter). Waktu itu saya kelas satu atau dua SD. Nenek saya, almarhumah, terkejut waktu saya pulang membawa minyak itu. Dia pikir minyak itu hasil curian. Dengan panik, nenek bertanya kepada saya asal minyak tersebut dengan bahasa daerah. Saya mengerti artinya, tapi saya tidak bisa menjawab dengan bahasa daerah, jadi saya hanya menjawab, "cabutan." Naas, nenek tidak mengerti maksud saya, alhasil, panik beliau teratasi beberapa jam kemudian setelah mama pulang bekerja dan menjelaskan pada nenek dalam bahasa daerah tentang apa yang saya maksud.
Cabutan itu untung-untungan. Gambling juga. Saya suka gambling, bukan berjudi secara harfiah, tapi suka bermain dengan keadaan, untung-untungan.
Begitu juga ketika saya membuat profil di situs tersebut. Nothing to lose, kata orang bule. Dapet syukur.... ga dapet? Tuhan, please dech.....
Nah, tanggal 29 Juni 2011 mulailah saya isi pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam situs tersebut. Pertanyaannya lumayan banyak, dan tidak semua pertanyaan saya mengerti. Alhasil, demi menjawab semua pertanyaan (kadang saya merasa bahwa menjawab pertanyaan, entah di kuisioner atau di sebuah situs atau di tempat apapun, harus dilakukan. Saya sering merasa bahwa itu adalah ujian tulis yang harus dilakukan secara serius! Pikiran bodoh!), saya menanyakan maksud pertanyaan itu kepada seorang teman asal negeri Paman Sam yang telah saya kenal di dunia maya selama kurang lebih empat tahun. Dengan sabar dia membimbing saya dan memberi tahu jawaban diplomatis yang tepat untuk tiap pertanyaan yang saya hadapi. Dia banyak membantu.
Beberapa bulan berselang, saya mengecek email. Biasanya yang saya dapatkan adalah fast match notifications dari situs tersebut. Isinya beberapa keluarga yang kemungkinan masuk dengan kriteria yang saya masukkan untuk menjadi host family saya. Jujur, saya jarang meng- add keluarga untuk menjadi favorit saya, karena jujur juga, saya tidak punya gambaran apapun tentang hal yang akan saya hadapi. Pintar bukan?
Mala menganjurkan saya untuk meng- add keluarga. Saya mencobanya sekali dua. Sebanyak itulah saya menerima surat penolakan secara halus. Entah harus bersyukur atau senang. Sama saja rasanya.
Berselang sekitar tiga bulan sejak pertama kali mendaftar, 8 September 2011 tepatnya, saya menerima sebuah email notification, tertulis bahwa sebuah keluarga di Kanata, Canada meng - add saya menjadi favorit mereka (apa ya terjemahan Indonesia yang cocok untuk meng - add? Menambah? Memasukkan?). Saya mengkonfirmasi request mereka. Sejak itulah kami bercakap untuk mencari informasi, apa yang mereka harapkan dari saya dan apa yang akan saya dapatkan dari mereka (tidak salah kan? ini bukan kerja sosial). Saya setuju dan mulai bergerak mempersiapkan semuanya. Dimulai dari paspor dan hal-hal lain. Tiap hal yang saya tidak ketahui, saya konsulkan pada Mala melalui fb.
Satu hal yang saya ingat. Beberapa hari sebelum profil saya dijadikan favorit, saya bercerita pada Evan tentang situs tersebut. Sambil tertawa saya mengatakan bahwa saya lakukan itu hanya iseng, karena saya yakin hampir 100% bahwa saya tidak akan mungkin mendapatkan host family, karena saya member biasa, jadi bagaimana bisa ada keluarga yang melihat profil saya?
Pelajaran berharga buat saya: hati-hati kalau bicara. Ucapan seringan apapun bisa jadi bumerang. Ucapkanlah yang baik-baik saja, insha Allah hasilnya akan baik. Saya bersyukur, ini adalah hal yang baik, insha Allah.
Sebenarnya ada beberapa keluarga yang menambahkan saya dalam daftar favorit mereka, kebanyakan dari mereka berlokasi di Timur Tengah, namun saya, dengan senang hati - tapi tetap berusaha sopan - menolak request tersebut. Berita yang sampai di Indonesia tentang pekerja di kawasan itu banyak yang membuat saya bergidik. Saya tidak suka termakan streotype, tapi untuk hal ini, saya membuat pengecualian yang BESAR. Bukan orangnya yang saya hindari, tapi daerahnya.
Ada juga sebuah keluarga yang berlokasi di Australia, mereka termasuk warga minoritas disana, menulis surat yang panjang tentang pekerjaan yang harus saya kerjakan. Begitu panjang sehingga membuat saya berguman, "untuk baca suratnya aja butuh seharian, bagaimana kalau benar-benar bekerja di keluarga mereka?" Saya menarik napas panjang. Surat tidak saya balas. Tidak bernafsu.
Hal-hal yang perlu saya siapkan untuk mendapat izin bekerja di Canada tersedia secara lengkap di website mereka. Baca, pahami, bergerak. Cukup itu. Terlihat simpel? Ya, tentu saja, tapi dalam kenyataannya, dari rumah Pak RT, RW, Kelurahan, kecamatan, Polres, Mabes, Dephankam, hingga kantor kependudukan di Jakarta Barat harus didatangi demi menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Semangat 2011 - 2012 dinyalakan!!!
Langganan:
Postingan (Atom)