Senyum itu bahasa universal. Senyum merupakan salah satu gesture yang
seharusnya tetap terpasang entah bagaimana mood kita saat itu.
Seharusnya. Namun beberapa orang sulit tersenyum, saya salah satunya,
apalagi tersenyum kepada orang yang tidak kita kenal.
Baru 5 hari di kota ini, saya sudah nekat pergi sendirian ke tempat teman, seorang Indonesia yang menikah dengan warga
Kanada. Jaraknya sekitar 3 jam dari tempat saya tinggal. Host family
dengan was-was mewanti wanti untuk berhati-hati dan dengan detail
memberi tahu nomor bis dan dimana saja saya harus transfer bis. Sangat
detail info yang dia dapat dari internet.
Tempat pemberhentian
bis di sini hanya seperti tiang bendera. Bedanya yang terpasang bukan
bendera tapi lempengan besi yang tertulis bis nomor berapa saja yang
berhenti di tempat tersebut dan juga nomor telepon operator bis. Jadi
tidak bisa melambai dengan santai dimana saya suka seperti yang bisa
dilakukan di Jakarta. Bis pasti berhenti bila ada penumpang yang berdiri
di sana.
Ketika pintu bis membuka, “good morning,” sapa supir
bis ramah. Saya langsung takjub norak dan hanya nyengir kuda lalu
mengatakan tujuan saya serta bertanya harga tiket daypass. Bapak supir
dengan sabar memberi tahu harga tiket dan menunjukkan berapa jumlah koin
25 sen yang diperlukan selain 7 dollar yang telah saya siapkan.
Day pass ini semacam tiket terusan. Kalau membeli tiket ketengan akan
lebih mahal karena jarak yang akan saya tempuh jauh dan harus berganti
bis 4 kali (belum termasuk kalau nyasar). Tiket biasa seharga 3.30
dollar. Dengan day pass, saya cukup menunjukkan tiket tersebut ketika
naik bis selanjutnya. Lebih irit kan?
Mengetahui bapak supir
ramah, lalu saya putuskan untuk bertanya tiap kali saya ganti bis
walaupun rute menuju Orleans sudah di tangan. Syaratnya dua: senyum dan
“thank you.”
Bis yang pertama saya naiki bernomor 168 jurusan
Katimavik. Pemberhentian pertama saya di Lord Byng/ Kanata untuk
selanjutnya transfer bis bernomor 96 menuju Stasiun Hurdman. Yang
dimaksud stasiun pun bukan untuk kereta api, tapi seperti terminal bis
atau halte yang ditandai dengan tiang bendera atau di beberapa
pemberhentian bis disediakan bangku . Bedanya bis yang datang sesuai
jadwal, kalaupun telat pasti cuma beberapa menit, tapi kalau ketinggalan
bis, ya harus menunggu bis selanjutnya, jaraknya bisa 15 atau 30 menit.
Operator bis pun hanya satu, yaitu OC Transpo. Jadi kalau berniat
menggunakan bis, lebih baik cek duku di internet jadwalnya agar tidak
menunggu terlalu lama.
Turun dari bis 168, saya naik bis 96
menuju Stasiun Hurdman. sampai sana sekitar jam 8, matahari cukup cerah,
tapi cuacanya dingin, sekitar 10 derajat Celsius. Saya memaki diri saya
yang sempat meminum segelas teh sebelum berangkat. Karena minuman
tersebut bersifat diuresis, jadilah saya sibuk menahan BAK sementara
saya belum tahu berapa lama lagi perjalanan menuju kediaman teman saya
tersebut.
Di stasiun Hurdman, pandangan saya tertuju oleh
seorang perempuan berkulit hitam yang mengenakan jilbab. Dengan senyum
pede, saya mengatakan “hallo.” Jawaban yang didapat hanya senyum
sekilas. Jauh dari harapan saya. Well, ternyata jurus senyum tidak bisa
selalu lancar. Harapan saya untuk mempunyai teman kandas pada langkah
awal.
Bapak supir 96 mengingatkan saya untuk naik bis bernomor
95 jurusan Orleans dan berhenti di Stasiun Jeanne D’arc (baca: jandark)
sebelum saya turun. Saya mengucap terima kasih dan dijawab lantang,
“you’re welcome.” Cuaca dingin, tapi tanggapan hangat. So lucky.
Turun di stasiun Jeanne D’Arc 1B, sesuai yang saya salin dari internet,
saya harus berjalan ke Jeanne D’Arc 3B, yang berada beberapa meter
berlawanan dari 1B. dari stasiun tersebut terlihat papan reklame besar
berisi pemberitahuan tentang tanggal dan suhu saat itu: 13 derajat
Celsius meski matahari terlihat terik .
Hal yang selalu
membuat saya takjub di tempat ini salah satunya adalah kebersihan dari
tiap stasiun (sebenarnya sejauh ini dimana-mana tidak terlihat sampah
yang berserakan). Memang terlihat beberapa koran yang bersebaran, tapi
tak ada bungkus permen, atau sampah lain yang sangat mudah ditemui di
halte-halte di Jakarta. Tak lama, seorang laki-laki dengan rompi
berwarna kuning ngejreng turun dari sebuah van. Ternyata perugas
kebersihan. Dalam beberapa menit stasiun bersih tanpa Koran. Wow, pikir
saya takjub. Sudah tata kotanya bagus, masyarakatnya pun aware terhadap
kebersihan. No comment.
Di stasiun Jeanne D’Arc saya menunggu
bis bernomor 131 jurusan Charlemangne/ Valin. Agak lama, makin menyiksa,
karena di stasiun besar macam Hurdman tidak ada toilet umum, apalagi di
stasiun Jeanne D’Arc yang kecil.
Jarak dari Jeanne D’Arc ke
Charlemangne/ Valin sekitar 30 menit. Seperti biasa, tiap kali naik bis
pasti saya tanyakan pada pak supir tempat yang saya tuju. Iseng aja
karena supirnya ramah-ramah dan terlihat cool dengan seragam plus topi,
dasi, beberapa ada yang berkacamata hitam dan memakai sarung tangan.
Supir-supir yang masih muda ada yang memakai celana selutut dan sepatu
sneaker. Berseragam tapi tetap funky. Tiap bis dilengkapi dengan GPS.
Canggih. Norak saya muncul. Oh iya, supirnya dari berbagai macam latar
belakang dari mulai orang Caucasian, India, Sikh, China yang sempat saya
lihat. Semua sama ramahnya. Selain karena Kanada adalah negara yang
cukup ramah terhadap imigran, juga semua petugas dari OC Transpo ini
mendapat training yang disebut “race and enthnicity training” secara
konstan.
Turun dari 131, saya celingak celinguk mencari Jalan
Sunland, alamat kawan saya tersebut. Dua orang perempuan paruh baya
terlihat jogging berlawanan arah dengan saya. Mereka bercakap dalam
bahasa Perancis, karena memang 2 bahasa yang dipakai; bahasa Inggris dan
Perancis. Mereka melewati saya yang sedang bingung. Tak disangka,
beberapa detik kemudian mereka berbalik dan menyapa saya, “can I help
you?” Tanya salah satu dari mereka. Saya mengangguk. “Can you tell me
where the Sundland is?” si Ibu memberi arah, mengulang kembali dengan
lambat– dia tahu saya bukan penutur bahasa Inggris asli. Saya mengucap
terima kasih lalu mencari alamat yang dituju.
Sedikit
membingungkan, apalagi ditambah dengan keinginan BAK yang besar di cuaca
yang sedikit dingin. Akhirnya yang sedikit-sedikit itu menjadi besar
dan memusingkan. Saya putuskan untuk menelpon teman saya tersebut.
Karena walaupun saya menemukan jalan Sunland, tapi nomor rumah yang saya
lihat bernomor 1800an, sementara nomor rumah kawan saya 2000an dan
nomor rumah di sini berurutan. Ga akan ada yang rela berjalan menyusuri
sekitar 200 rumah dalam keadaan seperti itu.
Di tengah
kebingungan, sebuah mobil berhenti di depan saya dan seorang laki-laki
dengan riang menyapa, “hi, Sarah.” Saya melongo, tak berapa lama saya
baru sadar bahwa pertolongan dalam bentuk suami dari teman saya
menjemput dengan mobilnya telah datang. Dengan mudah dia mengenali saya
karena, “easy, the only person who is wearing head cover like that on
that street is only you.” Saya dan istrinya hanya tersenyum. Benar juga,
sebenarnya pertanyaan saya dalam hati tadi, “kok dia bisa tahu?” sangat
mudah dianalisa dan dijawab.
Rencana awal saya meninggalkan
rumah kawan saya pukul 13.00, tapi karena senang ada teman sesama
Indonesia, jadilah beberapa jam terasa cepat. Selain itu, kebetulan hari
itu jatuh ulang tahun saya, ternyata Mbak Dian tau dan membuat cake.
Wow. Sebelumnya satu-satunya ‘perayaan’ ulang tahun yang saya punya
adalah ketika SMA, di mana beberapa teman membuat ‘perayaan’ kecil
dengan memecahkan telur dan menebar terigu di kepala saya. Menjengkelkan
pada saat itu, tapi kalau dikenang lagi, moment tersebut dirindukan.
Yah, selain ‘perayaan’ ala anak ABG, cake pada ulang tahun pada tahun
ini terasa lebih special (terima kasih banyak kepada Mbak Dian dan Hall,
her lovely hubby, awet terus dan semoga diberi kelancaran menjalankan
biduk rumah tangga sampai akhir. Amiiin ya rabbalalamin).
Meski
saya molor beberapa jam dari jadwal saya pulang, toh saya masih tetap
berniat mampir ke sebuah toko yang menjual makanan, bumbu masak, dan
barang-barang rumah tangga asal Asia. Namanya Asian Store. Saya hanya
membeli tiga bungkus Indomie yang baru habis dua minggu kemudian. Selain
karena memang tidak menyehatkan makan mie instan bila berlebihan, niat
mengirit juga ada, karena harganya berlipat dibanding di Jakarta.
Mampir di toko tersebut menimbulkan efek yang membingungkan karena apa
yang tertulis di kertas, tentang stasiun mana tempat saya seharusnya
menunggu bis untuk pulang, jadi kacau. Saya bahkan tidak tahu dimana
saya berada – pastinya. Tapi dengan still yakin, saya yang saat itu
berdua dengan Mbak Dian, berpisah di situ dan saya meyakinkan dia – dan
yang pasti diri saya sendiri – bahwa saya tau jalan pulang.
Tak
begitu sulit sebenarnya, karena 131, bis terakhir yang membawa saya ke
Oleans lewat di sana. Naik bis, seperti biasa, langsung saya katakan
tujuan saya pada Pak Supir dan minta tolong diberitahu dimana saya harus
turun. Alhamdulillah saya bisa juga sampai di rumah host family meski
dalam 4 jam, karena saya terlewat beberapa stasiun jadi terpaksa turun
dan mengambil arah balik. Pengalaman yang menyebalkan, tapi sangat
bermanfaat karena keledai pun tak akan jatuh di lubang yang sama.
Apalagi saya. Lain kali, ketika saya berjalan-jalan lagi, insha Allah
say No to nyasar. Well, paling tidak, tidak nyasar di rute tadi.
Dunia ini sebesar ini tak akan habis meski kita menjelajahinya
sepanjang hidup kita. Walaupun berbeda dalam banyak hal, seharusnya
tidak menjadikan halangan untuk berbaur. Bukankan sudah dituliskan di
kitab suci bahwa kita diciptakan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal?
Sukses untuk semua ya….
Minggu, 29 Juli 2012
Cultural Shock a.k.a Gegar Budaya*
Salah satu mata kuliah favorit saya ketika masih di bangku FKIP adalah
CCU atau Cross Culture Understanding. Selain dosennya merupakan dosen
favorit saya, Bp. Bahrul Hasibuan, juga karena mata kuliah ini
mempelajari tentang budaya di negeri Paman Sam. Namun budaya yang
dibahas lebih kepada pergaulan sehari-hari dan system pendidikan di
sana. Sangat menarik apalagi ditambah
dengan pengetahuan Bp. Bahrul tentang negara sana dan beberapa negara di
Eropa, karena memang beliau pernah mendapat beasiswa di Inggris untuk
S2. Membuat iri – dalam arti yang positif tentunya, sebagai motivasi.
Membandingkan sesuatu merupakan hal yang menarik, tapi bukan untuk membandingkan orang perorang. Hal yang paling menarik adalah ketika mendapatkan sebuah informasi baru yang menarik dan membuat penasaran. Sepanjang kuliah kadang saya membayangkan diri saya berada di sebuah tempat dimana saya buta akan budayanya dan segala macam. Membuat adrenalin terpacu tapi penasaran, seperti kata Bang Haji; PE NA SA RAN!
Sebelumnya pernah meminjam buku tentang Cultural Shock di perpustakaan Diknas. Kalau tidak salah ingat saya pernah meminjam buku tentang Amerika, Arab, dan satu lagi Malaysia. Saya sendiri di rumah punya sebuah buku Cultural Shock tentang Indonesia yang ditulis oleh dua orang expatriate yang telah belasan tahun tinggal di Jakarta. Buku lama, tahunnya lupa, tapi yang pasti saat itu menteri Pariwisatanya adalah Bp. Joop Ave karena beliau memberi kata pengantar di halaman awal buku. Ada yang ingat tahun berapa, selain Mbah Google?
Bukunya belum habis saya baca, tapi ada beberapa hal yang saya ingat dimana kita, sebagai orang Indonesia dikenal memang mempunyai budaya ‘Rubber Watch’alias “jam Karet.” Sang penulis menyarankan bila diundang oleh orang Indonesia, 15 menit atau 30 menit telat adalah hal yang ‘biasa.’ Jadi… forget about on time or in time.
Selain itu juga dibahas tentang adat perkawinan maupun kematian di beberapa suku di Indonesia. Yah, memang kalau membicarakan Indonesia akan lebih asyik bila persuku karena tiap suku unik dan mempunyai hal yang berbeda dengan yang lain. Indonesia adalah negara multicultural dimana kita saling melengkapi dan bertoleransi. Agak sulit diterima akal sehat bila kita membicarakan budaya yang beragam di sini dan tidak ada secercah rasa bangga terhadap hal tersebut. Tapi berhubung banyak koran nasional lebih tertarik membahas banyaknya ‘wakil rakyat’ (entah rakyat mana yang dimaksud) yang teridentifikasi melakukan korupsi, yah, kalau hal ini saya ikut merasa malu sebagai bagian dari warga negara yang bekerja untuk menggemukkan koruptor dan keluarganya. Hell is the perfect place for all the curroptors.
Angan-angan saya terjawab. Meski saya di sini bukan sebagai sebagai penerima beasiswa, tapi sebagai pekerja, setidaknya rasa penasaran yang pernah ada sedikit banyak terjawab.
Cultural shock yang pertama saya alami ketika sampai di bandara Toronto. Saat itu sekitar pukul 7 malam dan sebelum memutuskan untuk antri untuk trasit lagi, saya ke toilet. Toilet tidak ada yang kosong dan ada seorang pegawai perempuan yang sedang mengepel lantai toilet. Saya tersenyum sambil mengucap ‘hallo’ dan dijawab ramah, lalu saya berdiri di depan pintu salah satu toilet, seperti yang biasa saya lakukan di tanah air. Saya pun kena tegur, “line up over there, please.” Katanya sambil menunjuk toilet ujung. Ok, saya menurut. Memang lebih bagus begini, antri artinya ya antri.
Itu satu.
Setelah terbang lagi sekitar satu jam menuju Ottawa, saya sudah ditunggu oleh host family di bandara. Saya minta maaf karena telat. Mereka pun mengerti karena saya bukan pemegang paspor Kanada dan harus melalui imigrasi yang antriannya mengular.
Satu hal yang unik dan saya anggap blessing in disguise saat saya di bandara Toronto adalah adanya seorang ibu asal India yang menggunakan kursi roda yang mengantri di depan saya. Dia tidak mengerti Bahasa Inggris sama sekali. Ketika ditanya, dia menjawab dalam bahasa Hindi yang membuat saya menganga bingung sambil menerima sebuah surat dari ibu tersebut yang ternyata berisi nama ibu tersebut, alamat di India, alamat yang dituju di Kanada, serta penjelasan tujuan dia datang ke Kanada. Tertulis bahwa sang anak berada di distrik lain. Wow, saya takjub. Sang anak, entah disebut tega atau memang BENAR-BENAR percaya terhadap negara ini sehingga membiarkan ibunya terbang sendiri dari India menuju Kanada hanya dengan secarik kertas. Yang pasti, saya salut dengan professionalitas petugas bandara.
Kenapa saya sebut blessing in disguise? Karena saat saya sedang mengantri di imigrasi, ibu itu berada di depan saya, tak ada petugas disana. Saya bermaksud menanyakan di mana keluarganya, tapi seorang petugas imigrasi yang melihat itu bertanya apakah saya keluarga dari ibu tersebut. Saya jawab bukan. Lalu sang petugas meminta saya untuk mendorong kursi roda ibu tersebut. Saya lakukan walau dalam hati saya merasa deg deg-an, takut ketinggalan pesawat ke Ottawa mengingat pemberangkatan kurang dari satu jam lagi dan di depan saya ada sekitar 50 orang.
Antrian berjalan lambat. Tak disangka, seorang petugas imigrasi membuka batas dan meminta saya keluar dari antrian. Saya ditanya pertanyaan yang sama, apakah kami pergi berdua. Saya katakan, “no. im going to Ottawa and this lady is going to another dictric.” Saya meminta surat di tangan ibu tersebut. Beruntung, meski diminta mendorong, saya diberikan prioritas juga. Pesawat tetap ketinggalan, tapi tak apa karena saya tidak perlu membayar apapun – hal yang sebenarnya saya takutkan. Mengeluarkan uang!
Penerbangan dari Toronto ke Ottawa sekitar satu jam dengan Air Canada. Nyaman. Namun satu hal yang selalu saya lihat: layar di depan saya yang menunjukkan sisa waktu tempuh!
Ternyata saya telah ditunggu oleh host family. Kami segera ke parkir setelah saya mengambil koper saya. Saya dipersilakan duduk di depan, sebelah supir, karena sang ibu menjaga anaknya yang masih bayi di bangku belakang. Karena di Indonesia pengemudi mobil berada di sebelah kanan, maka saya dengan manis membuka pintu sebelah kiri. Sementara sang ayah, si pengemudi, berada di kanan sambil membuka pintu. Dia mengatakan, “Sarah, over here.” Dengan pelan saya melongok ke dalam. Ups, bangku pengemudi. Saya pun memutar. Di dalam mobil sang ayah berkata, “so in Indonesia the driver is on the right. Wow, the same like in England. I went studying in England. So I knew it.” Saya hanya tersenyum dan berkomentar sedikit-sedikit tentang cuaca, tentang lalu lintasnya, dan hal lainnya sebagai ice breaker.
Nah, berhubung supir berada di sebelah kiri, otomatis menunggu bis di sebelah kanan. Kalau kita berjalan pun, seharusnya berada di sebelah kanan. Suatu kali saya berjalan sore sendirian di sebuah taman dekat tempat tinggal host family. Karena terbiasa berjalan di sebelah kiri, maka hal itu tidak berubah. Di depan saya ada seorang bapak-bapak yang berjalan berlawanan arah dengan saya, dia berjalan tepat di depan saya. Saya pikir, “lah, nih babeh-babeh kok ga minggir.” Dua meter sebelum menabrak bapak itu, saya berpindah jalur mendadak. Orang itu tetap berjalan seolah tidak ada orang lain. Saat itulah saya sadar bahwa saya harus mulai belajar untuk terbiasa berjalan di sebelah kanan.
Selain transportasi dan lalu lintas, teknologi juga berbeda jauh. Serba mesin, serba listrik. Mulai dari vacuum cleaner yang umum di Indonesia sampai dengan tutup tempat sampah yang terbuka secara otomatis ketika kita berjalan melewati tempat sampah tersebut. Terserah mau dikatakan norak atau apapun, tapi memang saya tertegun dan tersenyum norak mengalami itu semua.
Ada satu hal menarik. Karena menu utama di sebagian besar daerah di Indonesia adalah nasi, rice cooker menjadi benda yang umum ditemui di hampir setiap rumah. Nah, berhubung menu utama di sini adalah roti, jadi yang umum ada adalah microwave atau toaster. Suatu kali host family ingin memasak nasi. Saya melihat berkeliling dapur modern yang lumayan besar itu, lalu bertanya, “where do you put the rice cooker?” host family balik bertanya, “what is rice cooker?” Saya jelaskan tentang rice cooker dan cara pemakaiannya. Dia hanya mengangkat bahu dan berkata, “we don’t have it.” Haaa… akhirnya ada juga teknologi yang tidak umum di sini.
Sudah sekitar tiga minggu saya di sini dan host family membuatkan rekening bank untuk saya. Kartu pengenal Kanada saya tidak punya, hanya passport dan surat dari imigrasi. Ternyata itu cukup. Tellernya seorang wanita berparas manis dengan aksen India yang ringan. Sangat ramah. Dia menjelaskan semuanya dengan jelas dan disudahi dengan pertanyaan, “do you have any question?” Saya katakan, “yea. How much is the minimum amount if I wanna put some cash here?” Dijawab dengan senyum, “we don’t have minimum amount. I will show you the machine.” Saya, dan host family mengikuti ibu teller tersebut.
Di depan bank yang terletak di dalam sebuah pusat perbelanjaan itu ada sebuah mesin seperti ATM, tapi sedikit lebih besar. Saya diminta membuat PIN, 4 digit. Saya lakukan. Lalu dijelaskanlah, “on the right, you can use for putting some cash, and on your left is for withdrawing money.” Saya bertanya ulang, “I don’t need to go to the teller?” Dia menjawab, “no, let me show you how it work.” Dan dia mendemonstrasikannya.
Diakhir penjelasan, dengan polos dan saya katakan, “gosh…. so sophisticated.” Dia tersenyum lebar, “just let me know when you wanna put some money or withdraw some money for the first time. I will be on that desk.” dia menunjuk meja tempat kami duduk tadi.
Saya lega. Malu tidak ada, karena bisa jadi dia sudah bisa menebak bahwa saya tidak terbiasa atau belum pernah menggunakan mesin seperti itu sebelumnya. Paling tidak, satu lagi pengetahuan saya dapatkan hari itu dan saya yakin masih banyak “shock shock” lain yang akan saya temui.
Have a nice day…
* Cultural Shock: Gegar budaya merupakan istilah yang digunakan bagi menggambarkan kegelisahan dan perasaan (terkejut, kekeliruan, dll.) yang dirasakan apabila seseorang tinggal dalam kebudayaan yang berlainan sama sekali, seperti ketika berada di negara asing. Perasaan ini timbul akibat kesukaran dalam asimilasi kebudayaan baru, menyebabkan seseorang sulit mengenali apa yang wajar dan tidak wajar. Sering kali perasaan ini digabung dengan kebencian moral atau estatik yang kuat mengenai beberapa aspek dari budaya yang berlainan atau budaya baru tersebut. Istilah ini mulai diperkenalkan pertama kali pada tahun 1954 oleh Kalvero Oberg.
Membandingkan sesuatu merupakan hal yang menarik, tapi bukan untuk membandingkan orang perorang. Hal yang paling menarik adalah ketika mendapatkan sebuah informasi baru yang menarik dan membuat penasaran. Sepanjang kuliah kadang saya membayangkan diri saya berada di sebuah tempat dimana saya buta akan budayanya dan segala macam. Membuat adrenalin terpacu tapi penasaran, seperti kata Bang Haji; PE NA SA RAN!
Sebelumnya pernah meminjam buku tentang Cultural Shock di perpustakaan Diknas. Kalau tidak salah ingat saya pernah meminjam buku tentang Amerika, Arab, dan satu lagi Malaysia. Saya sendiri di rumah punya sebuah buku Cultural Shock tentang Indonesia yang ditulis oleh dua orang expatriate yang telah belasan tahun tinggal di Jakarta. Buku lama, tahunnya lupa, tapi yang pasti saat itu menteri Pariwisatanya adalah Bp. Joop Ave karena beliau memberi kata pengantar di halaman awal buku. Ada yang ingat tahun berapa, selain Mbah Google?
Bukunya belum habis saya baca, tapi ada beberapa hal yang saya ingat dimana kita, sebagai orang Indonesia dikenal memang mempunyai budaya ‘Rubber Watch’alias “jam Karet.” Sang penulis menyarankan bila diundang oleh orang Indonesia, 15 menit atau 30 menit telat adalah hal yang ‘biasa.’ Jadi… forget about on time or in time.
Selain itu juga dibahas tentang adat perkawinan maupun kematian di beberapa suku di Indonesia. Yah, memang kalau membicarakan Indonesia akan lebih asyik bila persuku karena tiap suku unik dan mempunyai hal yang berbeda dengan yang lain. Indonesia adalah negara multicultural dimana kita saling melengkapi dan bertoleransi. Agak sulit diterima akal sehat bila kita membicarakan budaya yang beragam di sini dan tidak ada secercah rasa bangga terhadap hal tersebut. Tapi berhubung banyak koran nasional lebih tertarik membahas banyaknya ‘wakil rakyat’ (entah rakyat mana yang dimaksud) yang teridentifikasi melakukan korupsi, yah, kalau hal ini saya ikut merasa malu sebagai bagian dari warga negara yang bekerja untuk menggemukkan koruptor dan keluarganya. Hell is the perfect place for all the curroptors.
Angan-angan saya terjawab. Meski saya di sini bukan sebagai sebagai penerima beasiswa, tapi sebagai pekerja, setidaknya rasa penasaran yang pernah ada sedikit banyak terjawab.
Cultural shock yang pertama saya alami ketika sampai di bandara Toronto. Saat itu sekitar pukul 7 malam dan sebelum memutuskan untuk antri untuk trasit lagi, saya ke toilet. Toilet tidak ada yang kosong dan ada seorang pegawai perempuan yang sedang mengepel lantai toilet. Saya tersenyum sambil mengucap ‘hallo’ dan dijawab ramah, lalu saya berdiri di depan pintu salah satu toilet, seperti yang biasa saya lakukan di tanah air. Saya pun kena tegur, “line up over there, please.” Katanya sambil menunjuk toilet ujung. Ok, saya menurut. Memang lebih bagus begini, antri artinya ya antri.
Itu satu.
Setelah terbang lagi sekitar satu jam menuju Ottawa, saya sudah ditunggu oleh host family di bandara. Saya minta maaf karena telat. Mereka pun mengerti karena saya bukan pemegang paspor Kanada dan harus melalui imigrasi yang antriannya mengular.
Satu hal yang unik dan saya anggap blessing in disguise saat saya di bandara Toronto adalah adanya seorang ibu asal India yang menggunakan kursi roda yang mengantri di depan saya. Dia tidak mengerti Bahasa Inggris sama sekali. Ketika ditanya, dia menjawab dalam bahasa Hindi yang membuat saya menganga bingung sambil menerima sebuah surat dari ibu tersebut yang ternyata berisi nama ibu tersebut, alamat di India, alamat yang dituju di Kanada, serta penjelasan tujuan dia datang ke Kanada. Tertulis bahwa sang anak berada di distrik lain. Wow, saya takjub. Sang anak, entah disebut tega atau memang BENAR-BENAR percaya terhadap negara ini sehingga membiarkan ibunya terbang sendiri dari India menuju Kanada hanya dengan secarik kertas. Yang pasti, saya salut dengan professionalitas petugas bandara.
Kenapa saya sebut blessing in disguise? Karena saat saya sedang mengantri di imigrasi, ibu itu berada di depan saya, tak ada petugas disana. Saya bermaksud menanyakan di mana keluarganya, tapi seorang petugas imigrasi yang melihat itu bertanya apakah saya keluarga dari ibu tersebut. Saya jawab bukan. Lalu sang petugas meminta saya untuk mendorong kursi roda ibu tersebut. Saya lakukan walau dalam hati saya merasa deg deg-an, takut ketinggalan pesawat ke Ottawa mengingat pemberangkatan kurang dari satu jam lagi dan di depan saya ada sekitar 50 orang.
Antrian berjalan lambat. Tak disangka, seorang petugas imigrasi membuka batas dan meminta saya keluar dari antrian. Saya ditanya pertanyaan yang sama, apakah kami pergi berdua. Saya katakan, “no. im going to Ottawa and this lady is going to another dictric.” Saya meminta surat di tangan ibu tersebut. Beruntung, meski diminta mendorong, saya diberikan prioritas juga. Pesawat tetap ketinggalan, tapi tak apa karena saya tidak perlu membayar apapun – hal yang sebenarnya saya takutkan. Mengeluarkan uang!
Penerbangan dari Toronto ke Ottawa sekitar satu jam dengan Air Canada. Nyaman. Namun satu hal yang selalu saya lihat: layar di depan saya yang menunjukkan sisa waktu tempuh!
Ternyata saya telah ditunggu oleh host family. Kami segera ke parkir setelah saya mengambil koper saya. Saya dipersilakan duduk di depan, sebelah supir, karena sang ibu menjaga anaknya yang masih bayi di bangku belakang. Karena di Indonesia pengemudi mobil berada di sebelah kanan, maka saya dengan manis membuka pintu sebelah kiri. Sementara sang ayah, si pengemudi, berada di kanan sambil membuka pintu. Dia mengatakan, “Sarah, over here.” Dengan pelan saya melongok ke dalam. Ups, bangku pengemudi. Saya pun memutar. Di dalam mobil sang ayah berkata, “so in Indonesia the driver is on the right. Wow, the same like in England. I went studying in England. So I knew it.” Saya hanya tersenyum dan berkomentar sedikit-sedikit tentang cuaca, tentang lalu lintasnya, dan hal lainnya sebagai ice breaker.
Nah, berhubung supir berada di sebelah kiri, otomatis menunggu bis di sebelah kanan. Kalau kita berjalan pun, seharusnya berada di sebelah kanan. Suatu kali saya berjalan sore sendirian di sebuah taman dekat tempat tinggal host family. Karena terbiasa berjalan di sebelah kiri, maka hal itu tidak berubah. Di depan saya ada seorang bapak-bapak yang berjalan berlawanan arah dengan saya, dia berjalan tepat di depan saya. Saya pikir, “lah, nih babeh-babeh kok ga minggir.” Dua meter sebelum menabrak bapak itu, saya berpindah jalur mendadak. Orang itu tetap berjalan seolah tidak ada orang lain. Saat itulah saya sadar bahwa saya harus mulai belajar untuk terbiasa berjalan di sebelah kanan.
Selain transportasi dan lalu lintas, teknologi juga berbeda jauh. Serba mesin, serba listrik. Mulai dari vacuum cleaner yang umum di Indonesia sampai dengan tutup tempat sampah yang terbuka secara otomatis ketika kita berjalan melewati tempat sampah tersebut. Terserah mau dikatakan norak atau apapun, tapi memang saya tertegun dan tersenyum norak mengalami itu semua.
Ada satu hal menarik. Karena menu utama di sebagian besar daerah di Indonesia adalah nasi, rice cooker menjadi benda yang umum ditemui di hampir setiap rumah. Nah, berhubung menu utama di sini adalah roti, jadi yang umum ada adalah microwave atau toaster. Suatu kali host family ingin memasak nasi. Saya melihat berkeliling dapur modern yang lumayan besar itu, lalu bertanya, “where do you put the rice cooker?” host family balik bertanya, “what is rice cooker?” Saya jelaskan tentang rice cooker dan cara pemakaiannya. Dia hanya mengangkat bahu dan berkata, “we don’t have it.” Haaa… akhirnya ada juga teknologi yang tidak umum di sini.
Sudah sekitar tiga minggu saya di sini dan host family membuatkan rekening bank untuk saya. Kartu pengenal Kanada saya tidak punya, hanya passport dan surat dari imigrasi. Ternyata itu cukup. Tellernya seorang wanita berparas manis dengan aksen India yang ringan. Sangat ramah. Dia menjelaskan semuanya dengan jelas dan disudahi dengan pertanyaan, “do you have any question?” Saya katakan, “yea. How much is the minimum amount if I wanna put some cash here?” Dijawab dengan senyum, “we don’t have minimum amount. I will show you the machine.” Saya, dan host family mengikuti ibu teller tersebut.
Di depan bank yang terletak di dalam sebuah pusat perbelanjaan itu ada sebuah mesin seperti ATM, tapi sedikit lebih besar. Saya diminta membuat PIN, 4 digit. Saya lakukan. Lalu dijelaskanlah, “on the right, you can use for putting some cash, and on your left is for withdrawing money.” Saya bertanya ulang, “I don’t need to go to the teller?” Dia menjawab, “no, let me show you how it work.” Dan dia mendemonstrasikannya.
Diakhir penjelasan, dengan polos dan saya katakan, “gosh…. so sophisticated.” Dia tersenyum lebar, “just let me know when you wanna put some money or withdraw some money for the first time. I will be on that desk.” dia menunjuk meja tempat kami duduk tadi.
Saya lega. Malu tidak ada, karena bisa jadi dia sudah bisa menebak bahwa saya tidak terbiasa atau belum pernah menggunakan mesin seperti itu sebelumnya. Paling tidak, satu lagi pengetahuan saya dapatkan hari itu dan saya yakin masih banyak “shock shock” lain yang akan saya temui.
Have a nice day…
* Cultural Shock: Gegar budaya merupakan istilah yang digunakan bagi menggambarkan kegelisahan dan perasaan (terkejut, kekeliruan, dll.) yang dirasakan apabila seseorang tinggal dalam kebudayaan yang berlainan sama sekali, seperti ketika berada di negara asing. Perasaan ini timbul akibat kesukaran dalam asimilasi kebudayaan baru, menyebabkan seseorang sulit mengenali apa yang wajar dan tidak wajar. Sering kali perasaan ini digabung dengan kebencian moral atau estatik yang kuat mengenai beberapa aspek dari budaya yang berlainan atau budaya baru tersebut. Istilah ini mulai diperkenalkan pertama kali pada tahun 1954 oleh Kalvero Oberg.
Labirin Raksasa I
Menghabiskan hampir seumur hidup di sebuah wilayah tidak otomatis
membuat kita mengenal baik wilayah tersebut. Pasti ada yang terlewat
atau bahkan tidak kenal sama sekali. Selain bisa karena wilayahnya
terlalu luas, bisa juga karena kemampuan menjelajah terbatas atau…
karena sulit memahami sebuah wilayah. Hal ini biasanya dialami oleh
mereka yang mempunyai kemampuan spatial
yang ala kadarnya. Jadi kadang meski sudah berulang kali menjelajah
tempat yang sama, tetap saja arah pintu keluar pasti berbeda dengan
pintu masuk, alias nyasar dan tidak mampu menemukan posisi awal.
Tamat SMP, orang tua saya menyekolahkan saya di sekolah kejuruan di daerah Benhil. Tiga tahun bolak balik daerah tersebut seharusnya membuat saya hafal nama-nama gedung di sekitar sekolah tersebut, atau nama gedung yang selalu saya lewati tiap kali berangkat dan pulang sekolah. Tapi ternyata bukan jaminan. Gedung Jamsostek di Jalan Gatot Subroto pun baru tahu, itupun karena ada keperluan di sana. Kalau tidak ada keperluan dan ketika ada yang tanya gedung tersebut pada saya, kemungkinan akan saya jawab, “ha? Emang ada gedung jamsostek di Gatot?”
Beberapa bulan lalu, ketika mendapat panggilan untuk interview di Kedutaan Kanada di daerah Karet, tiga kali saya melewati gedung yang saya tuju. Alhasil, pada saat interview hasilnya kacau balau, karena rasa keki dan cape tidak bisa dihilangkan hanya dalam sekian menit. Untung tidak telat interview.
Selain menuju ke gedung itu, ada beberapa pengalaman serupa tapi tak sama yang saya hadapi. Ketika akan mengajukan visa melalui VFS, tertulis alamatnya Jln. Jendral Sudirman. Meluncurlah saya dengan Beat kesayangan berisi full bensin ke arah Sudirman, lanjut Thamrin, Bunderan HI, sampai Sarinah. Blank. Target lewat. Akhirnya putar balik, tanya pak polisi beberapa kali sambil menunjukkan alamat lengkap dan nama gedung tersebut. Akhirnya diketahui bahwa gedung tersebut setelah gedung BEJ. Meluncur….
Betapa bersyukurnya saya ketika menemukan gedung yang saya maksud. Motor saya belokan, berniat masuk dan parkir motor, apa daya, banyak gedung di sana tidak menyediakan area untuk parkir motor. Kalau pun ada, area tersebut hanya untuk yang langganan. Tak ada jalan lain, terpaksa putar balik dan mencari parkir liar yang sebelumnya saya lihat. Letaknya agak jauh dari gedung tujuan, sekitar 3 atau 4 gedung jaraknya, tapi saya tidak punya pilihan.
Proses yang saya butuhkan untuk membereskan dokumen yang dibutuhkan hanya beberapa menit, nyasarnya dua jam lebih.
Keluar dari gedung, saya bertanya pada abang penunggu parkir liar tersebut jalan menuju Blok M, satu-satunya patokan saya untuk pulang. Dengan simpel abang itu mengatakan, “lurus aja mba.” Jadilah saya lurus di jalur kiri, ketika saya sadar bahwa jalur kiri tidak selamanya untuk lurus, sudah telat. Saya terbawa arus kendaraan yang belok kiri. Alhasil, harus putar balik dan kembali melewati gedung tadi dan segera ambil jalur kanan agar kejadian tidak terulang. Parahnya, sebelumnya beberapa kali saya melewati daerah tersebut untuk meminjam buku di Perpustakaan Diknas, sebelah Ratu Plaza. Rasanya dongkol berat, seberat Pretty Asmara!
Sampai rumah, si Beat haus. Jarum sudah di angka merah hanya dalam waktu sekian jam.
Banyak lagi. Belum terhitung sekian kali nyasar di Robinson Ps. Minggu. Bayangkan! Tempat sekecil itu cukup membuat saya bingung. Kalau ITC Cempaka Mas jangan ditanya. Seorang teman sejak sekolah kejuruan bernama Novi pun nyasar. Ceritanya dia membeli baju anak-anak, tak dinyana ukurannya kekecilan. Dari Bekasi ke Cempaka Mas berniat menukar baju keesokan harinya, apa daya, tempat tersebut seperti labirin. Hanya lelah yang didapat. Cempaka Mas – Bekasi ditempuh tanpa hasil yang diharapkan.
Banyak orang saya rasa punya rasa bingung yang sama ketika memasuki area yang besar dan tidak familiar, tapi sebagian dari mereka mempunyai feeling yang bagus terhadap arah atau mampu memperkirakan jarak dan ruang, jadi seberapa jauh pun mereka masuk, pasti mereka mampu menangkap secara visual apa yang telah dilewati dan posisi awal dengan mudah ditemui.
Saya tidak mempunyai dua duanya.
Ketika masih di akademi, saya dan beberapa teman mengunjungi Mal Kelapa Gading. Kami semua tidak familiar dengan mal tersebut. Semua bingung. Sebenarnya ada seorang teman yang mempunyai kemampuan spatial yang baik, tapi saya dengan bodohnya meyakinkan mereka untuk mengikuti feeling saya. Dan bodohnya lagi, mereka menurut. Alhasil, kami makin jauh masuk ke dalam. Buang waktu dan tenaga. Sejak saat itu saya tidak percaya feeling saya dalam hal menuntun pada jalan yang benar.
Pengalaman terakhir nyasar di Jakarta saya alami dengan seorang teman bernama Iwan. Mendapat undangan pernikahan dari seorang kawan SMA, pasti saya sanggupi untuk datang meski tertulis undangan mulai jam 7 malam sampai jam 9. Berhubung Jakarta bukan tempat yang aman untuk berkendara, apalagi malam hari, dan ditambah lokasi yang masih belum jelas, saya putuskan untuk mengajak seorang teman laki-laki untuk menemani saya – selain menemani nyasar, juga sebagai tameng bila di jalan ada hal yang tidak diharapkan terjadi. Sedia payung sebelum hujan. Sedia bodyguard sebelum dipalak. Walaupun saya ragu apakah teman saya ini lebih berani dari saya bila keadaan genting, meski dia laki-laki (peace Wan hehehe).
Seminggu sebelumnya saya sudah mem-booking Iwan untuk menemani saya. Alhamdulillah dia bersedia. Saya beri jaminan bahwa saya akan menjemput dan antar dia dengan selamat sampai di rumah, karena dia tanggung jawab saya sepanjang jam itu.
Hari itu Iwan baru selesai melakukan seleksi terakhir pemilihan calon Abang None Jakarta di Jakarta Utara. Saya sarankan untuk berhenti di stasiun Tanjung Barat agar bisa saya jemput, mampir sebentar di rumah untuk magriban, lalu jalan menghadiri resepsi.
Mama tertawa begitu melihat saya yang memboncengi Iwan, berhubung dia belum bisa mengendarai motor. Saya tidak bermasalah dengan itu sama sekali. Mama tertawa pun bukan mengejek, hanya merasa bahagia karena bukan cuma mama yang belum bisa mengendarai motor, tenyata seorang laki-laki muda pun belum tentu bisa, itu intinya.
Di peta tertulis lokasinya berada di lingkungan DPR/MPR. Pikiran saya melayang tempat demo, dari Gatot Subroto lurus ke arah Slipi. Tapi adik saya menyarankan untuk mengambil rute Pondok Indah. Beberapa kali terpaksa berhenti untuk bertanya. Walaupun akhirnya sampai juga setelah nyaris 2 jam. Masalah kecil terjadi. Seharusnya belok kanan masuk gedung, saya lurus karena buta peta, dan Iwan pun idem. Akhirnya motor numpang parkir di gedung agak jauh dari target. Penjaga gedung dengan meyakinkan mengatakan, “lurus aja, nanti jalan sekitar 5 menit.”
Kami lurus. 5 menit lewat. Ketika melewati penjaga, sang sekuriti sudah menebak tujuan kami. Dia mengatakan, “jalan ke arah sana, sekitar 500 meter.” Gubrak!!!
Yah, untungnya masih ada beberapa kawan lama di sana, termasuk Novi, yang mungkin telah ikhlas menerima bahwa ITC Cempaka Mas belumlah jadi levelnya untuk hunting toko yang sama :) , sama seperti saya.
Dan, untungnya juga, makanan masih tersedia cukup untuk mengisi perut kami yang mencari alamat kesana kemari, seperti seorang Ayu Ting Ting yang mencari Alamat Palsu pacarnya. Cukup pula untuk mengisi tenaga Iwan yang berjuang seharian untuk mencoba menjadi calon dari Pulau Seribu, dan pasti cukup untuk mengobati kekecewaannya ketika namanya tidak keluar sebagai wakil dari sana. Well, see from the bright side. Saya pun begitu. Tak apalah nyasar, minimal bisa jadi bahan untuk memancing senyum kawan-kawan yang mungkin terlilit masalah yang pasti tak ada kata akhir.
Semoga menghibur dan have a nice day….
Nyasar tiada bertepi…
Tamat SMP, orang tua saya menyekolahkan saya di sekolah kejuruan di daerah Benhil. Tiga tahun bolak balik daerah tersebut seharusnya membuat saya hafal nama-nama gedung di sekitar sekolah tersebut, atau nama gedung yang selalu saya lewati tiap kali berangkat dan pulang sekolah. Tapi ternyata bukan jaminan. Gedung Jamsostek di Jalan Gatot Subroto pun baru tahu, itupun karena ada keperluan di sana. Kalau tidak ada keperluan dan ketika ada yang tanya gedung tersebut pada saya, kemungkinan akan saya jawab, “ha? Emang ada gedung jamsostek di Gatot?”
Beberapa bulan lalu, ketika mendapat panggilan untuk interview di Kedutaan Kanada di daerah Karet, tiga kali saya melewati gedung yang saya tuju. Alhasil, pada saat interview hasilnya kacau balau, karena rasa keki dan cape tidak bisa dihilangkan hanya dalam sekian menit. Untung tidak telat interview.
Selain menuju ke gedung itu, ada beberapa pengalaman serupa tapi tak sama yang saya hadapi. Ketika akan mengajukan visa melalui VFS, tertulis alamatnya Jln. Jendral Sudirman. Meluncurlah saya dengan Beat kesayangan berisi full bensin ke arah Sudirman, lanjut Thamrin, Bunderan HI, sampai Sarinah. Blank. Target lewat. Akhirnya putar balik, tanya pak polisi beberapa kali sambil menunjukkan alamat lengkap dan nama gedung tersebut. Akhirnya diketahui bahwa gedung tersebut setelah gedung BEJ. Meluncur….
Betapa bersyukurnya saya ketika menemukan gedung yang saya maksud. Motor saya belokan, berniat masuk dan parkir motor, apa daya, banyak gedung di sana tidak menyediakan area untuk parkir motor. Kalau pun ada, area tersebut hanya untuk yang langganan. Tak ada jalan lain, terpaksa putar balik dan mencari parkir liar yang sebelumnya saya lihat. Letaknya agak jauh dari gedung tujuan, sekitar 3 atau 4 gedung jaraknya, tapi saya tidak punya pilihan.
Proses yang saya butuhkan untuk membereskan dokumen yang dibutuhkan hanya beberapa menit, nyasarnya dua jam lebih.
Keluar dari gedung, saya bertanya pada abang penunggu parkir liar tersebut jalan menuju Blok M, satu-satunya patokan saya untuk pulang. Dengan simpel abang itu mengatakan, “lurus aja mba.” Jadilah saya lurus di jalur kiri, ketika saya sadar bahwa jalur kiri tidak selamanya untuk lurus, sudah telat. Saya terbawa arus kendaraan yang belok kiri. Alhasil, harus putar balik dan kembali melewati gedung tadi dan segera ambil jalur kanan agar kejadian tidak terulang. Parahnya, sebelumnya beberapa kali saya melewati daerah tersebut untuk meminjam buku di Perpustakaan Diknas, sebelah Ratu Plaza. Rasanya dongkol berat, seberat Pretty Asmara!
Sampai rumah, si Beat haus. Jarum sudah di angka merah hanya dalam waktu sekian jam.
Banyak lagi. Belum terhitung sekian kali nyasar di Robinson Ps. Minggu. Bayangkan! Tempat sekecil itu cukup membuat saya bingung. Kalau ITC Cempaka Mas jangan ditanya. Seorang teman sejak sekolah kejuruan bernama Novi pun nyasar. Ceritanya dia membeli baju anak-anak, tak dinyana ukurannya kekecilan. Dari Bekasi ke Cempaka Mas berniat menukar baju keesokan harinya, apa daya, tempat tersebut seperti labirin. Hanya lelah yang didapat. Cempaka Mas – Bekasi ditempuh tanpa hasil yang diharapkan.
Banyak orang saya rasa punya rasa bingung yang sama ketika memasuki area yang besar dan tidak familiar, tapi sebagian dari mereka mempunyai feeling yang bagus terhadap arah atau mampu memperkirakan jarak dan ruang, jadi seberapa jauh pun mereka masuk, pasti mereka mampu menangkap secara visual apa yang telah dilewati dan posisi awal dengan mudah ditemui.
Saya tidak mempunyai dua duanya.
Ketika masih di akademi, saya dan beberapa teman mengunjungi Mal Kelapa Gading. Kami semua tidak familiar dengan mal tersebut. Semua bingung. Sebenarnya ada seorang teman yang mempunyai kemampuan spatial yang baik, tapi saya dengan bodohnya meyakinkan mereka untuk mengikuti feeling saya. Dan bodohnya lagi, mereka menurut. Alhasil, kami makin jauh masuk ke dalam. Buang waktu dan tenaga. Sejak saat itu saya tidak percaya feeling saya dalam hal menuntun pada jalan yang benar.
Pengalaman terakhir nyasar di Jakarta saya alami dengan seorang teman bernama Iwan. Mendapat undangan pernikahan dari seorang kawan SMA, pasti saya sanggupi untuk datang meski tertulis undangan mulai jam 7 malam sampai jam 9. Berhubung Jakarta bukan tempat yang aman untuk berkendara, apalagi malam hari, dan ditambah lokasi yang masih belum jelas, saya putuskan untuk mengajak seorang teman laki-laki untuk menemani saya – selain menemani nyasar, juga sebagai tameng bila di jalan ada hal yang tidak diharapkan terjadi. Sedia payung sebelum hujan. Sedia bodyguard sebelum dipalak. Walaupun saya ragu apakah teman saya ini lebih berani dari saya bila keadaan genting, meski dia laki-laki (peace Wan hehehe).
Seminggu sebelumnya saya sudah mem-booking Iwan untuk menemani saya. Alhamdulillah dia bersedia. Saya beri jaminan bahwa saya akan menjemput dan antar dia dengan selamat sampai di rumah, karena dia tanggung jawab saya sepanjang jam itu.
Hari itu Iwan baru selesai melakukan seleksi terakhir pemilihan calon Abang None Jakarta di Jakarta Utara. Saya sarankan untuk berhenti di stasiun Tanjung Barat agar bisa saya jemput, mampir sebentar di rumah untuk magriban, lalu jalan menghadiri resepsi.
Mama tertawa begitu melihat saya yang memboncengi Iwan, berhubung dia belum bisa mengendarai motor. Saya tidak bermasalah dengan itu sama sekali. Mama tertawa pun bukan mengejek, hanya merasa bahagia karena bukan cuma mama yang belum bisa mengendarai motor, tenyata seorang laki-laki muda pun belum tentu bisa, itu intinya.
Di peta tertulis lokasinya berada di lingkungan DPR/MPR. Pikiran saya melayang tempat demo, dari Gatot Subroto lurus ke arah Slipi. Tapi adik saya menyarankan untuk mengambil rute Pondok Indah. Beberapa kali terpaksa berhenti untuk bertanya. Walaupun akhirnya sampai juga setelah nyaris 2 jam. Masalah kecil terjadi. Seharusnya belok kanan masuk gedung, saya lurus karena buta peta, dan Iwan pun idem. Akhirnya motor numpang parkir di gedung agak jauh dari target. Penjaga gedung dengan meyakinkan mengatakan, “lurus aja, nanti jalan sekitar 5 menit.”
Kami lurus. 5 menit lewat. Ketika melewati penjaga, sang sekuriti sudah menebak tujuan kami. Dia mengatakan, “jalan ke arah sana, sekitar 500 meter.” Gubrak!!!
Yah, untungnya masih ada beberapa kawan lama di sana, termasuk Novi, yang mungkin telah ikhlas menerima bahwa ITC Cempaka Mas belumlah jadi levelnya untuk hunting toko yang sama :) , sama seperti saya.
Dan, untungnya juga, makanan masih tersedia cukup untuk mengisi perut kami yang mencari alamat kesana kemari, seperti seorang Ayu Ting Ting yang mencari Alamat Palsu pacarnya. Cukup pula untuk mengisi tenaga Iwan yang berjuang seharian untuk mencoba menjadi calon dari Pulau Seribu, dan pasti cukup untuk mengobati kekecewaannya ketika namanya tidak keluar sebagai wakil dari sana. Well, see from the bright side. Saya pun begitu. Tak apalah nyasar, minimal bisa jadi bahan untuk memancing senyum kawan-kawan yang mungkin terlilit masalah yang pasti tak ada kata akhir.
Semoga menghibur dan have a nice day….
Nyasar tiada bertepi…
Tentang Kecerdasan – Tentang Eksistensi Diri
Ingat masa-masa waktu duduk di SD. Sebenarnya memorinya banyak yang
hilang sih, tapi ada beberapa yang tertanam kuat, salah satunya ketika
saya dipilih oleh guru kelas sebagai salah satu murid yang diharuskan
untuk mengikuti les tambahan matematika setelah pulang sekolah. Lesnya
disediakan gratis oleh sekolah, dan yang mengajar guru kelas juga.
Pertama kali merasakan ikut tambahan matematika waktu kelas empat (4)SD, saat itu gurunya Almarhum Pak Odjo. Saya ingat betul beliau begitu sabar dan tidak pernah didapati marah-marah dalam kelas. Cara mengajarnya simpel sebenarnya, jadi mudah dipahami oleh saya yang memusuhi matematika, tapi karena kelas isinya banyak kepala, jadi butuh konsentrasi ekstra untuk memahaminya. Untung sekolah tanggap dan Pak Odjo rela memberi pelajaran tambahan bagi beberapa murid, termasuk saya.
Saya kira bukan cuma saya di dunia ini yang agak anti dengan hitung-hitungan. Banyak orang di luar sana berharap kelas baru atau jurusan yang akan diambil tidak ada matematika. Sayang seribu sayang, harapan tinggal harapan. Mau ke arah Utara, Timur, Barat, atau Selatan, tetap ketemu hitung-hitungan dengan berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk pelajaran statistic dan semacamnya. Atau untuk mereka yang mengambil kuliah perawatan, pasti bertemu hitung-hitungan di dalam pelajaran farmakologi – ini jatohnya hitung takaran obat – belum lagi menghitung tetesan infus permenit. Dan lain sebagainya. Ga bisa di hindari.
Nah, balik ke romantika masa SD. Selain kelas penuh anak-anak yang kadang sibuk sendiri sehingga membuat konsentrasi pecah berkeping, ditambah lagi jumlah mata pelajaran yang banyak – 9 ya kalau ga salah – dan berhubung saya sekolah di sekolah swasta dengan basic agama, pasti ada tambahan beberapa mata pelajaran tentang agama. Intinya, ga salah kalau disebut “beban pelajaran.” Kadang memang benar terasa membebani. Tapi toh kita tidak punya pilihan selain mengikuti apa yang sudah tertulis di peraturan yang ada. Nilai akademik menjadi prioritas selain perilaku.
Ada seorang teman satu kelompok, saya ingat namanya Rafiqi. Orangnya gendut, pintar matematika. Ayahnya salah satu guru kelas di sekolah kami walaupun beliau tidak pernah memegang kelas kami. Beberapa kali Pak Izi Rahman, namanya, memberi les tambahan matematika pagi hari. Sangat membantu. Tapi memang sudah dari sananya lemot untuk menyerap matematika, ditambah lagi dengan rasa tertekan mendengar ‘pelajaran matematika’, rasanya makin mati kutu. Tapi toh tetap hal itu dijalani dan sangat bersyukur meski nilai matematika paling tinggi 7 (itu pun Aljabar, satu-satunya materi favorit saya. Bangun ruang? Forget it, please….). Makin itu diingat, makin merasa bodoh karena tulalit memahami rumus. Waktu SMP pernah membuat contekan rumus, ternyata nilai yang didapat hanya 3. Memalukan.
Sebenarnya bukan cuma matematika, hampir semua mata pelajaran, kecuali menggambar, nilai saya bikin panik, kalau ditiup sedikit bisa jatuh dan terjun bebas ditambah lagi kotak hitamnya jatuh ke dalam pasir hidup. Kadang-kadang berkhayal menjadi orang cerdas seperti salah satu idola saya, Bp. BJ. Habibie, Bp. Jusuf Kalla atau setidaknya seperti Macgyver lah….(Tapi “mana mungkin???? Membaca saja aku sulittttt)
Setelah sebesar ini baru saya mempelajari bahwa kecerdasan bukan cuma seberapa besar nilai ulangan atau di raport. Dalam teori Howard Gardner (1983), seorang ahli riset dari Amerika, menyebutkan bahwa ada 8 (delapan) jenis kecerdasan, antara lain:
a. Kecerdasan liguistik
b. Kecerdasan logis-matematis
c. Kecerdasan spasial
d. Kecerdasan musical
e. Kecerdasan kinestetik-jasmani
f. Kecerdasan antarpribadi
g. Kecerdasan intrapribadi
h. Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence)
Tiap macam kecerdasan ada karakternya, misalnya nih, seseorang yang memiliki kecedasan linguistic, bisa dipastikan dia itu mampu berargumentasi, meyakinkan orang lain (bakat jadi sales or pengacara), menghibur atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata. Gemar membaca dan dapat mengartikan bahasa tulisan dengan jelas. Cocok untuk mereka yang berminat menjadi penyair, jurnalis.
Well, pass. Saya bukan tipe ini. Ada sedikit tipe yang nyerempet. Cuma nyerempet, belum nabrak!
Lalu kecerdasan logis-matematis. Yah, udah pasti saya di luar kotak. Ciri-ciri orang dengan kecerdasan ini adalah; mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi (kalau saya mudah membuat orang lain marah); berpikir dalam pola sebab akibat, menciptakan hipotesis; pandangan hidupnya bersifat rasional (saya irrasional, main tabrak dan sedikit ambisius). Yak, yang mau jadi ilmuwan, akuntan, programmer silahkan diasah kecerdasan ini.
Kecerdasan musical? Wah, jauh dari ciri-ciri ini; Peka nada dan menyanyi lagu dengan tepat; dapat mengikuti irama; mendengar music dengan tingkat ketajaman lebih. (Pengalaman buruk saya terakhir ketika saya bernyanyi adalah membuat sholat teman batal karena dia tidak mampu menahan tawa mendengar saya bernyanyi).
Orang dengan kecerdasan kinestetik-jasmani ciri-cirinya; menikmati kegiatan fisik (olahraga) ; cekatan dan tidak bisa tinggal diam; berminat dengan segala sesuatu. Yang merasa mempunyai ciri-ciri ini disarankan mempunyai cita-cita seperti atlet, pengrajin, montir, menjahit, merakit model. Lagi-lagi saya “ga bangeetttt” kalau kata anak ABG.
Lain lagi dengan orang yang cerdas dalam aspek antarpribadi. Ini adalah kemampuan untuk memahami dan bekerjasama dengan orang lain. Kecerdasan ini terutama menuntut kemampuan untuk menyerap dan tanggap terhadap suasana hati dan hasrat orang lain. Bisa mempunyai rasa belas kasihan dan tanggung jawab sosial yang besar. Mereka mempunyai kemampuan untuk memahami orang lain dan melihat dunia dari sudut pandang orang yang bersangkutan. Cocok untuk mereka yang bercita-cita menjadi networker, negosiator, guru. (Sepertinya bukan lagi….bekerjasama dalam sebuah kelompok salah satu tantangan berat untuk orang macam saya yang tingkat toleransinya kadang di bawah 0 derajat Celsius).
Kecerdasan intrapribadi maksudnya mereka yang mampu untuk memahami diri sendiri dan percaya kepada diri sendiri. Anak-anak dengan kecerdasan intrapribadi tinggi umumnya lebih suka bermain sendiri, berkehendak kuat, dan tidak mudah dipengaruhi maupun diatur, bahkan mungkin kerap kali dicap keras kepala atau pemberontak. Padahal, yang sebenarnya diinginkan oleh anak-anak ini adalah melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri. Yak, yang merasa punya percaya diri tinggi setinggi anda memakai rexona, silakan ngacung dan masuk kelompok ini dan cocok menjadi konselor atau teolog, contohnya.
Mereka yang mempunyai kecerdasan naturalis adalah yang mempunyai kemampuan mengenali bentuk-bentuk alam serta hidup harmoni bersama alam. Anak-anak dengan kecerdasan naturalis tinggi mungkin akan suka bermain tanah atau pasir, berani memegang anjing, kucing, atau binatang lainnya. Mereka suka bermain dan berada di alam terbuka. Cita-cita yang cocok petani, nelayan, pendaki, pemburu.
Yah… sebenarnya ga parah-parah amat sih. Dari sekian jenis kecerdasan, ada satu atau dua kritria yang dibuat Gardner ada dalam diri saya. Tapi lagi-lagi kalau dibuat skor, mungkin maksimal 7. Bagaimana dengan teman-teman?
Oh iya, ada satu jenis kecerdasan yang benar-benar tidak saya punyai, yaitu kecerdasan spatial. Untuk orang yang hobi nyasar, selamat datang, bagian ini bukan untuk kita. Kecerdasan yang mencakup berpikir dalam gambar, serta mampu untuk menyerap, mengubah dan menciptakan kembali berbagai macam aspek visual (arsitek, fotografer, designer, pilot, insinyur)
Ciri-ciri mereka yang mempunyai kecerdasan jenis ini adalah;
- Kepekaan tajam untuk detail visual, keseimbangan, warna, garis, bentuk dan ruang
- Mudah memperkirakan jarak dan ruang
- Membuat sketsa ide dengan jelas
Pengalaman nyasar saya punya banyak. Di dalam mall atau ITC di Jakarta saja saya seringa nyasar, apalagi ini di negeri orang.
To be continued…
Sukses ya… semua….
(dikutip sebagian dari Mbah Google)
Pertama kali merasakan ikut tambahan matematika waktu kelas empat (4)SD, saat itu gurunya Almarhum Pak Odjo. Saya ingat betul beliau begitu sabar dan tidak pernah didapati marah-marah dalam kelas. Cara mengajarnya simpel sebenarnya, jadi mudah dipahami oleh saya yang memusuhi matematika, tapi karena kelas isinya banyak kepala, jadi butuh konsentrasi ekstra untuk memahaminya. Untung sekolah tanggap dan Pak Odjo rela memberi pelajaran tambahan bagi beberapa murid, termasuk saya.
Saya kira bukan cuma saya di dunia ini yang agak anti dengan hitung-hitungan. Banyak orang di luar sana berharap kelas baru atau jurusan yang akan diambil tidak ada matematika. Sayang seribu sayang, harapan tinggal harapan. Mau ke arah Utara, Timur, Barat, atau Selatan, tetap ketemu hitung-hitungan dengan berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk pelajaran statistic dan semacamnya. Atau untuk mereka yang mengambil kuliah perawatan, pasti bertemu hitung-hitungan di dalam pelajaran farmakologi – ini jatohnya hitung takaran obat – belum lagi menghitung tetesan infus permenit. Dan lain sebagainya. Ga bisa di hindari.
Nah, balik ke romantika masa SD. Selain kelas penuh anak-anak yang kadang sibuk sendiri sehingga membuat konsentrasi pecah berkeping, ditambah lagi jumlah mata pelajaran yang banyak – 9 ya kalau ga salah – dan berhubung saya sekolah di sekolah swasta dengan basic agama, pasti ada tambahan beberapa mata pelajaran tentang agama. Intinya, ga salah kalau disebut “beban pelajaran.” Kadang memang benar terasa membebani. Tapi toh kita tidak punya pilihan selain mengikuti apa yang sudah tertulis di peraturan yang ada. Nilai akademik menjadi prioritas selain perilaku.
Ada seorang teman satu kelompok, saya ingat namanya Rafiqi. Orangnya gendut, pintar matematika. Ayahnya salah satu guru kelas di sekolah kami walaupun beliau tidak pernah memegang kelas kami. Beberapa kali Pak Izi Rahman, namanya, memberi les tambahan matematika pagi hari. Sangat membantu. Tapi memang sudah dari sananya lemot untuk menyerap matematika, ditambah lagi dengan rasa tertekan mendengar ‘pelajaran matematika’, rasanya makin mati kutu. Tapi toh tetap hal itu dijalani dan sangat bersyukur meski nilai matematika paling tinggi 7 (itu pun Aljabar, satu-satunya materi favorit saya. Bangun ruang? Forget it, please….). Makin itu diingat, makin merasa bodoh karena tulalit memahami rumus. Waktu SMP pernah membuat contekan rumus, ternyata nilai yang didapat hanya 3. Memalukan.
Sebenarnya bukan cuma matematika, hampir semua mata pelajaran, kecuali menggambar, nilai saya bikin panik, kalau ditiup sedikit bisa jatuh dan terjun bebas ditambah lagi kotak hitamnya jatuh ke dalam pasir hidup. Kadang-kadang berkhayal menjadi orang cerdas seperti salah satu idola saya, Bp. BJ. Habibie, Bp. Jusuf Kalla atau setidaknya seperti Macgyver lah….(Tapi “mana mungkin???? Membaca saja aku sulittttt)
Setelah sebesar ini baru saya mempelajari bahwa kecerdasan bukan cuma seberapa besar nilai ulangan atau di raport. Dalam teori Howard Gardner (1983), seorang ahli riset dari Amerika, menyebutkan bahwa ada 8 (delapan) jenis kecerdasan, antara lain:
a. Kecerdasan liguistik
b. Kecerdasan logis-matematis
c. Kecerdasan spasial
d. Kecerdasan musical
e. Kecerdasan kinestetik-jasmani
f. Kecerdasan antarpribadi
g. Kecerdasan intrapribadi
h. Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelligence)
Tiap macam kecerdasan ada karakternya, misalnya nih, seseorang yang memiliki kecedasan linguistic, bisa dipastikan dia itu mampu berargumentasi, meyakinkan orang lain (bakat jadi sales or pengacara), menghibur atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata. Gemar membaca dan dapat mengartikan bahasa tulisan dengan jelas. Cocok untuk mereka yang berminat menjadi penyair, jurnalis.
Well, pass. Saya bukan tipe ini. Ada sedikit tipe yang nyerempet. Cuma nyerempet, belum nabrak!
Lalu kecerdasan logis-matematis. Yah, udah pasti saya di luar kotak. Ciri-ciri orang dengan kecerdasan ini adalah; mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi (kalau saya mudah membuat orang lain marah); berpikir dalam pola sebab akibat, menciptakan hipotesis; pandangan hidupnya bersifat rasional (saya irrasional, main tabrak dan sedikit ambisius). Yak, yang mau jadi ilmuwan, akuntan, programmer silahkan diasah kecerdasan ini.
Kecerdasan musical? Wah, jauh dari ciri-ciri ini; Peka nada dan menyanyi lagu dengan tepat; dapat mengikuti irama; mendengar music dengan tingkat ketajaman lebih. (Pengalaman buruk saya terakhir ketika saya bernyanyi adalah membuat sholat teman batal karena dia tidak mampu menahan tawa mendengar saya bernyanyi).
Orang dengan kecerdasan kinestetik-jasmani ciri-cirinya; menikmati kegiatan fisik (olahraga) ; cekatan dan tidak bisa tinggal diam; berminat dengan segala sesuatu. Yang merasa mempunyai ciri-ciri ini disarankan mempunyai cita-cita seperti atlet, pengrajin, montir, menjahit, merakit model. Lagi-lagi saya “ga bangeetttt” kalau kata anak ABG.
Lain lagi dengan orang yang cerdas dalam aspek antarpribadi. Ini adalah kemampuan untuk memahami dan bekerjasama dengan orang lain. Kecerdasan ini terutama menuntut kemampuan untuk menyerap dan tanggap terhadap suasana hati dan hasrat orang lain. Bisa mempunyai rasa belas kasihan dan tanggung jawab sosial yang besar. Mereka mempunyai kemampuan untuk memahami orang lain dan melihat dunia dari sudut pandang orang yang bersangkutan. Cocok untuk mereka yang bercita-cita menjadi networker, negosiator, guru. (Sepertinya bukan lagi….bekerjasama dalam sebuah kelompok salah satu tantangan berat untuk orang macam saya yang tingkat toleransinya kadang di bawah 0 derajat Celsius).
Kecerdasan intrapribadi maksudnya mereka yang mampu untuk memahami diri sendiri dan percaya kepada diri sendiri. Anak-anak dengan kecerdasan intrapribadi tinggi umumnya lebih suka bermain sendiri, berkehendak kuat, dan tidak mudah dipengaruhi maupun diatur, bahkan mungkin kerap kali dicap keras kepala atau pemberontak. Padahal, yang sebenarnya diinginkan oleh anak-anak ini adalah melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri. Yak, yang merasa punya percaya diri tinggi setinggi anda memakai rexona, silakan ngacung dan masuk kelompok ini dan cocok menjadi konselor atau teolog, contohnya.
Mereka yang mempunyai kecerdasan naturalis adalah yang mempunyai kemampuan mengenali bentuk-bentuk alam serta hidup harmoni bersama alam. Anak-anak dengan kecerdasan naturalis tinggi mungkin akan suka bermain tanah atau pasir, berani memegang anjing, kucing, atau binatang lainnya. Mereka suka bermain dan berada di alam terbuka. Cita-cita yang cocok petani, nelayan, pendaki, pemburu.
Yah… sebenarnya ga parah-parah amat sih. Dari sekian jenis kecerdasan, ada satu atau dua kritria yang dibuat Gardner ada dalam diri saya. Tapi lagi-lagi kalau dibuat skor, mungkin maksimal 7. Bagaimana dengan teman-teman?
Oh iya, ada satu jenis kecerdasan yang benar-benar tidak saya punyai, yaitu kecerdasan spatial. Untuk orang yang hobi nyasar, selamat datang, bagian ini bukan untuk kita. Kecerdasan yang mencakup berpikir dalam gambar, serta mampu untuk menyerap, mengubah dan menciptakan kembali berbagai macam aspek visual (arsitek, fotografer, designer, pilot, insinyur)
Ciri-ciri mereka yang mempunyai kecerdasan jenis ini adalah;
- Kepekaan tajam untuk detail visual, keseimbangan, warna, garis, bentuk dan ruang
- Mudah memperkirakan jarak dan ruang
- Membuat sketsa ide dengan jelas
Pengalaman nyasar saya punya banyak. Di dalam mall atau ITC di Jakarta saja saya seringa nyasar, apalagi ini di negeri orang.
To be continued…
Sukses ya… semua….
(dikutip sebagian dari Mbah Google)
Arti Kehadiran Teman III
Kopi darat. Istilah ini awalnya dipakai oleh pemakai radio amatir.
Maksudnya ya bertemu dengan orang yang awalnya cuma didengar suaranya
melalui radio. Kalau zaman internet sekarang, kopi darat lebih sering
berarti bertemu dengan seseorang yang kita temui di dunia maya.
Kebanyakan yang ditemui melalui situs pertemanan atau chatting.
Sekali saya kopi darat, tapi setelah itu tidak lagi. Itupun iseng. Lebih sering menemani teman yang kopi darat karena pasti ditraktir makan. Saya asik makan, teman saya asik ngobrol atau malah asik bingung cari topik yang tepat untuk dibicarakan. Tapi kalau lihat dari pengalaman teman saya tersebut sih, dia lebih banyak bingungnya. Saya? Kenyang…..
Entah berapa kali saya menemani teman saya tersebut untuk kopi darat. Mungkin nyaris sepuluh kali. Sepuluh-sepuluhnya meleset alias tidak berlanjut menjadi hubungan serius seperti yang dia harapkan. Jangankan hubungan serius, berteman pun tidak. Alasannya banyak. Tapi secara umum karena apa yang digambarkan melalui dunia maya jauh berbeda dengan aslinya (saya bukan membicarakan tentang performa fisik).
Ketika mengobrol di dunia maya, semua terasa lancar, seolah-olah sudah kenal baik, atau begitu perhatian. Tapi ketika ditemui? Ada saja komplain dari teman saya, entah orangnya terlalu pendiam, atau terlalu possesif, atau ga nyambung ketika diajak bicara. Itu hak dia. Saya angkat tangan. Lah gimana saya bisa mengiyakan atau memberi penilaian, kan saya asik makan? Tapi ada saat saya memberi komentar. Cuma sekali, itupun karena perbedaannya terlihat sekali.
Sekali itu teman saya dengan heboh mengatakan akan bertemu dengan seorang laki-laki yang begitu baik dan berumur hanya tiga tahun lebih tua darinya. Namun ketika ditemui? Ternyata seorang laki-laki yang jauh lebih dewasa daripada teman saya dan berstatus single parent. Ha??? Untuk umur pun dia menipu, siapa yang bisa menjamin kalau dia benar-benar single?
Itulah dunia maya. Serba abstrak. Kabur. Kadang ngaco. Kadang lebay. Kadang meleset. Kadang tepat. Untung-untungan. Nah, itulah mengapa saya tidak tertarik memberikan, minimal nomor telepon kepada orang-orang yang saya temui di dunia maya. Karena serba unpredictable. Kudu siap dengan kejutan yang timbul. Saya bermain aman. Berteman dengan orang yang bisa diajak bertatap muka langsung. Tapi itu dulu. Waktu masih di Jakarta, dimana orang dengan mudah ditemui. Tapi saya di kampung orang sekarang yang kondisinya jauh berbeda. Dimana saya tidak mempunyai teman yang bisa mengenalkan saya ketemannya yang lain, yang bisa membantu saya memperluas pergaulan.
Hari kerja saya hampir sama dengan orang yang bekerja kantoran. Hari Sabtu bekerja setengah hari. Hari minggu libur. Dua minggu sebelumnya saya mengunjungi seorang teman asal Indonesia yang tinggal sekitar tiga jam dari tempat host family saya. Minggu setelahnya saya sibuk memutar otak mencari cara untuk keluar seharian, mencari tempat yang bisa dituju. Di kepala saya terbayang mall yang dikunjungi sebelumnya, dimana saya melihat orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Itu tujuan awal saya. Tapi saya urungkan. Akhirnya saya hanya mengunjungi walmart yang tidak jauh dari sini, membeli oreo, keripik kentang, dan….. kuaci!!!! Mereka akan jadi teman baik saya sebelum saya menemukan teman yang benar-benar bisa diajak berbicara. Seorang teman chatting berkomentar bahwa saya akan gemuk bila mengkonsumsi itu. Saya hanya memutar bola mata saya. Untung dia tidak melihat dan merasakan frustasinya saya membaca komentarnya.
Perbedaan dulu dengan sekarang.
Dulu:
- Ketika ditanya “rumahnya dimana?” paling jauh saya katakan, “dekat Ragunan.” Titik. Tidak akan ada alamat terperinci.
- Ketika diminta nomor telepon, pasti saya diamkan. Dibilang sombong pun tidak peduli. Jujur, saya terlalu waspada (baca: takut).
- Ketika ditanya PIN BB pasti saya jawab, “kere, ga pake bebe.” Amin.
- Ketika ditanya, “boleh kenalan ga?” Jawaban saya lurus, “boleh.” Orang tersebut langsung ilfil. Pasti.
Itu dulu, ketika saya dikelilingi teman-teman
Tapi sekarang apapun saya lakukan untuk mendapatkan teman. Saya suka menyendiri, tapi tidak terbiasa sendiri. Hal pertama yang saya lakukan adalah googling mencari komunitas orang Indonesia disini. Tidak ditemukan.
Sebelum kesini, seorang teman mengingatkan untuk tidak terlalu bergabung dengan komunitas Indonesia demi meningkatkan kemampuan bahasa asing. Saya harus katakan tidak terhadap ide itu sekarang.
Komunitas tidak terdeteksi. Tidak hilang akal, saya bergabung di dating sites! Mencari satu persatu orang-orang dengan wajah atau nama asia tenggara yang tinggal di negara ini, syukur-syukur di kota yang sama. Laki-laki dan perempuan. Tabrak semua. Hasilnya? dari sekitar 10 orang yang saya kirimi surat, yang benar-benar tinggal disini hanya dua orang: satu orang Indonesia di Toronto, sekitar empat jam jalan darat, satu jam bila naik pesawat. Dengan cuek saya katakan pada teman baru saya yang di Toronto kalau saya baru tinggal disini dan butuh teman, saya pun dengan santai mengirim sms, “mau ya jadi teman saya?” Duh, kasihan ga sih???
Yang kedua adalah seorang teman yang belakangan saya tahu berasal dari Afghanistan. Dalam profilnya ditulis bahwa dia baru di Ottawa. Idem. Akhirnya…. Pikir saya, ada juga. Ditulis juga dia butuh teman. Bernapas lebih lega. Saya juga butuh!!! Akhirnya, dengan senang hati, saya tulis bahwa saya juga baru di kota ini dan saya pun butuh teman. Dengan memelas saya katakan, “would you be my friend?” gayung bersambut. Dia bertanya nomor telepon saya. Tidak perlu berpikir dua kali atau mempertahankan rasa parno, nomor telepon langsung saya berikan, dan ditelepon hari itu juga.
Satu kelegaan tersendiri ketika kita merasa kita tidak sendiri. Sampai sini saya mendapat pelajaran baru: lebih menyayangi teman-teman yang ada di depan mata dan buka kesempatan berteman.
I love you full, my friends…
Sekali saya kopi darat, tapi setelah itu tidak lagi. Itupun iseng. Lebih sering menemani teman yang kopi darat karena pasti ditraktir makan. Saya asik makan, teman saya asik ngobrol atau malah asik bingung cari topik yang tepat untuk dibicarakan. Tapi kalau lihat dari pengalaman teman saya tersebut sih, dia lebih banyak bingungnya. Saya? Kenyang…..
Entah berapa kali saya menemani teman saya tersebut untuk kopi darat. Mungkin nyaris sepuluh kali. Sepuluh-sepuluhnya meleset alias tidak berlanjut menjadi hubungan serius seperti yang dia harapkan. Jangankan hubungan serius, berteman pun tidak. Alasannya banyak. Tapi secara umum karena apa yang digambarkan melalui dunia maya jauh berbeda dengan aslinya (saya bukan membicarakan tentang performa fisik).
Ketika mengobrol di dunia maya, semua terasa lancar, seolah-olah sudah kenal baik, atau begitu perhatian. Tapi ketika ditemui? Ada saja komplain dari teman saya, entah orangnya terlalu pendiam, atau terlalu possesif, atau ga nyambung ketika diajak bicara. Itu hak dia. Saya angkat tangan. Lah gimana saya bisa mengiyakan atau memberi penilaian, kan saya asik makan? Tapi ada saat saya memberi komentar. Cuma sekali, itupun karena perbedaannya terlihat sekali.
Sekali itu teman saya dengan heboh mengatakan akan bertemu dengan seorang laki-laki yang begitu baik dan berumur hanya tiga tahun lebih tua darinya. Namun ketika ditemui? Ternyata seorang laki-laki yang jauh lebih dewasa daripada teman saya dan berstatus single parent. Ha??? Untuk umur pun dia menipu, siapa yang bisa menjamin kalau dia benar-benar single?
Itulah dunia maya. Serba abstrak. Kabur. Kadang ngaco. Kadang lebay. Kadang meleset. Kadang tepat. Untung-untungan. Nah, itulah mengapa saya tidak tertarik memberikan, minimal nomor telepon kepada orang-orang yang saya temui di dunia maya. Karena serba unpredictable. Kudu siap dengan kejutan yang timbul. Saya bermain aman. Berteman dengan orang yang bisa diajak bertatap muka langsung. Tapi itu dulu. Waktu masih di Jakarta, dimana orang dengan mudah ditemui. Tapi saya di kampung orang sekarang yang kondisinya jauh berbeda. Dimana saya tidak mempunyai teman yang bisa mengenalkan saya ketemannya yang lain, yang bisa membantu saya memperluas pergaulan.
Hari kerja saya hampir sama dengan orang yang bekerja kantoran. Hari Sabtu bekerja setengah hari. Hari minggu libur. Dua minggu sebelumnya saya mengunjungi seorang teman asal Indonesia yang tinggal sekitar tiga jam dari tempat host family saya. Minggu setelahnya saya sibuk memutar otak mencari cara untuk keluar seharian, mencari tempat yang bisa dituju. Di kepala saya terbayang mall yang dikunjungi sebelumnya, dimana saya melihat orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Itu tujuan awal saya. Tapi saya urungkan. Akhirnya saya hanya mengunjungi walmart yang tidak jauh dari sini, membeli oreo, keripik kentang, dan….. kuaci!!!! Mereka akan jadi teman baik saya sebelum saya menemukan teman yang benar-benar bisa diajak berbicara. Seorang teman chatting berkomentar bahwa saya akan gemuk bila mengkonsumsi itu. Saya hanya memutar bola mata saya. Untung dia tidak melihat dan merasakan frustasinya saya membaca komentarnya.
Perbedaan dulu dengan sekarang.
Dulu:
- Ketika ditanya “rumahnya dimana?” paling jauh saya katakan, “dekat Ragunan.” Titik. Tidak akan ada alamat terperinci.
- Ketika diminta nomor telepon, pasti saya diamkan. Dibilang sombong pun tidak peduli. Jujur, saya terlalu waspada (baca: takut).
- Ketika ditanya PIN BB pasti saya jawab, “kere, ga pake bebe.” Amin.
- Ketika ditanya, “boleh kenalan ga?” Jawaban saya lurus, “boleh.” Orang tersebut langsung ilfil. Pasti.
Itu dulu, ketika saya dikelilingi teman-teman
Tapi sekarang apapun saya lakukan untuk mendapatkan teman. Saya suka menyendiri, tapi tidak terbiasa sendiri. Hal pertama yang saya lakukan adalah googling mencari komunitas orang Indonesia disini. Tidak ditemukan.
Sebelum kesini, seorang teman mengingatkan untuk tidak terlalu bergabung dengan komunitas Indonesia demi meningkatkan kemampuan bahasa asing. Saya harus katakan tidak terhadap ide itu sekarang.
Komunitas tidak terdeteksi. Tidak hilang akal, saya bergabung di dating sites! Mencari satu persatu orang-orang dengan wajah atau nama asia tenggara yang tinggal di negara ini, syukur-syukur di kota yang sama. Laki-laki dan perempuan. Tabrak semua. Hasilnya? dari sekitar 10 orang yang saya kirimi surat, yang benar-benar tinggal disini hanya dua orang: satu orang Indonesia di Toronto, sekitar empat jam jalan darat, satu jam bila naik pesawat. Dengan cuek saya katakan pada teman baru saya yang di Toronto kalau saya baru tinggal disini dan butuh teman, saya pun dengan santai mengirim sms, “mau ya jadi teman saya?” Duh, kasihan ga sih???
Yang kedua adalah seorang teman yang belakangan saya tahu berasal dari Afghanistan. Dalam profilnya ditulis bahwa dia baru di Ottawa. Idem. Akhirnya…. Pikir saya, ada juga. Ditulis juga dia butuh teman. Bernapas lebih lega. Saya juga butuh!!! Akhirnya, dengan senang hati, saya tulis bahwa saya juga baru di kota ini dan saya pun butuh teman. Dengan memelas saya katakan, “would you be my friend?” gayung bersambut. Dia bertanya nomor telepon saya. Tidak perlu berpikir dua kali atau mempertahankan rasa parno, nomor telepon langsung saya berikan, dan ditelepon hari itu juga.
Satu kelegaan tersendiri ketika kita merasa kita tidak sendiri. Sampai sini saya mendapat pelajaran baru: lebih menyayangi teman-teman yang ada di depan mata dan buka kesempatan berteman.
I love you full, my friends…
Arti Kehadiran Teman II
Real friends stab you from in front of – kalimat yang entah saya baca
dimana. Bisa jadi di jalan atau status salah satu teman. Tapi saya
setuju. Seorang teman – yang benar-benar teman – akan mengingatkan kita
ketika kita berjalan di jalur yang salah. Tidak peduli seberapa pahit
hal yang harus dikatakan, atau sebesar apa konsekuensi yang nantinya
akan dihadapi, seorang ‘real friend’
akan mengambil langkah itu walaupun berat. Hal yang muncul di benak saya
adalah: saya belum menjadi ‘a real friend’ untuk teman-teman saya. Saya
cenderung menghindar ketika harus mengatakan hal berat, walaupun
niatnya baik. Saya cenderung mengambil jalan aman, dengan mengatakan:
terserah, itu hidupmu, kamu sudah cukup besar. Cuma itu. Kasarnya: Itu
bukan urusan saya. Atau bisa juga artinya: saya tidak mau mencampuri
hidupmu. Saya siap mendengarkan. Hanya mendengarkan. Bila kamu meminta,
saya akan memberikan pendapat saya. Tidak lebih dari itu. Tommy Page
bilang “a shoulder to cry on.” Saya cenderung memakai alasan yang
terakhir ini.
Mencari teman sejati itu susah susah gampang. Kalau nasib baik, dengan mudah kita dapatkan, kalau sebaliknya, yah, pasrah. Jalani hidup tanpa bersandar pada orang lain sebenarnya tidak ada salahnya, selama masih punya ‘The Real Guiding Star’, tapi tentu hidup bisa lebih ringan bila kita mempunyai kawan-kawan tempat berbagi suka apalagi duka. Bukankah kita adalah makhluk sosial dan tidak bisa hidup sendiri? Tidakkah segelas es teh di malam hari yang dinikmati di puncak gunung Rinjani terasa hangat bila kita membaginya bersama seorang karib?
Kalau di flash back, entah berapa kali saya mengalami konflik dengan teman. Ada yang kembali dan menjadi lebih dekat dari sebelumnya, ada justru yang tadinya dekat, malah menjauh karena konflik tersebut. Bukan perkara mudah mengelola konflik. Yah, sebenarnya mudah saja, asal ada kemauan, meskipun sedikit. Kemauan apa? Kemauan untuk mengakui kesalahan, kemauan untuk belajar menerima kritik, kemauan untuk menerima kelemahan teman dan kemauan bertoleransi.
Well, secara teori terlihat mudah. Prakteknya sangat berat. Sepertinya lebih ringan mengangkut beras 10 kilo ke lantai dua daripada berbesar hari mengakui kesalahan dan meminta maaf. Dan karena hidup ini adalah ‘school of life’, pasti banyak pengalaman yang bisa dipetik dari setiap momen yang kita, terutama saya, hadapi. Salah satu hal yang saya pelajari adalah bagaimana mulai berteman dan mempertahankan teman.
Cheers
Mencari teman sejati itu susah susah gampang. Kalau nasib baik, dengan mudah kita dapatkan, kalau sebaliknya, yah, pasrah. Jalani hidup tanpa bersandar pada orang lain sebenarnya tidak ada salahnya, selama masih punya ‘The Real Guiding Star’, tapi tentu hidup bisa lebih ringan bila kita mempunyai kawan-kawan tempat berbagi suka apalagi duka. Bukankah kita adalah makhluk sosial dan tidak bisa hidup sendiri? Tidakkah segelas es teh di malam hari yang dinikmati di puncak gunung Rinjani terasa hangat bila kita membaginya bersama seorang karib?
Kalau di flash back, entah berapa kali saya mengalami konflik dengan teman. Ada yang kembali dan menjadi lebih dekat dari sebelumnya, ada justru yang tadinya dekat, malah menjauh karena konflik tersebut. Bukan perkara mudah mengelola konflik. Yah, sebenarnya mudah saja, asal ada kemauan, meskipun sedikit. Kemauan apa? Kemauan untuk mengakui kesalahan, kemauan untuk belajar menerima kritik, kemauan untuk menerima kelemahan teman dan kemauan bertoleransi.
Well, secara teori terlihat mudah. Prakteknya sangat berat. Sepertinya lebih ringan mengangkut beras 10 kilo ke lantai dua daripada berbesar hari mengakui kesalahan dan meminta maaf. Dan karena hidup ini adalah ‘school of life’, pasti banyak pengalaman yang bisa dipetik dari setiap momen yang kita, terutama saya, hadapi. Salah satu hal yang saya pelajari adalah bagaimana mulai berteman dan mempertahankan teman.
Cheers
Arti Kehadiran Teman I
Saya, dan saya yakin banyak dari kita, terikat dengan internet. Tidak
mengecek situs pertemanan seperti twitter, tagged, myspace, tumblr,
facebook, dan lainnya dalam sehari sepertinya ada yang ganjil. Bukan
Cuma situs pertemanan, tapi juga mengecek email atau membaca berita on
line. Padahal dulu, sebelum internet mulai booming diawal tahun 90-an,
hidup asik-asik saja. Tapi memang zaman
berubah. Dulu sebelum ponsel booming, kemana-mana, yang penting bawa
doku dan KTP, aman, sekarang ketinggalan KTP lebih baik daripada
ketinggalan ponsel.
Dulu ponsel Nokia 8201 sudah cukup, bentuk sudah cukup oke, walaupun sekarang harganya hampir sama dengan harga BB, sekarang, BB menjamur. Dari anak TK sampai oma opa, familiar dengan benda yang disebut telepon pintar. Saya pun cukup familiar dengan itu, walaupun tidak menggunakannya dan tidak tertarik menggunakannya.
Semua berawal dari niat, begitu salah satu ajaran di agama. Semuanya. Termasuk penggunaan internet. Saya pribadi menggunakan internet awalnya untuk membantu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya, dengan cara mengobrol dengan kawan-kawan dari negara luar, entah itu dari Asia, Amerika, Afrika, maupun Eropa. Alhasil, sewaktu masih menjadi mahasiswa, nilai menulis saya selalu jadi andalan untuk mendongkrak IPK yang bisa jadi miring karena nilai lain, seperti statistic, yang anjlok tak karuan.
Kalau fungsi lain internet, yah, seperti yang lain, mencari informasi, mencari pekerjaan, melamar pekerjaan, ataupun belajar membuat blog. Intinya, memanfaatkan semaksimal mungkin untuk pengembangan diri. Situs pertemanan pasti saya buat juga, tapi jujur lebih karena penasaran, walaupun ujung-ujungnya digunakan sebagai alat komunikasi kedua setelah ponsel. Pak Pos sudah sangat jarang digunakan, apalagi merpati pos.
Dulu seringnya saya hanya menggunakan yahoo messanger, lalu iseng mengikuti Evan bergabung di situs pertemanan yang akhirnya paling sering saya gunakan, yaitu tagged, karena dengan mudah saya bisa mendapatkan teman asing. Belakangan ini saya cukup sering menggunakan facebook karena menjadi sarana komunikasi ketiga dengan teman dan keluarga setelah telepon dan sms, malah kadang lebih sering menggunakan sarana ini untuk menyapa teman.
Namanya saja situs pertemanan, biasanya dengan mudah kita mendapatkan teman. Begitu pula dengan saya. Tidak masalah menjawab pertanyaan “apa kabar?” atau “rumahnya dimana?” berkali-kali. Jawaban saya pun hanya “baik”, dan “di Jakarta”, kalaupun berkembang lebih jauh, seperti “Jakartanya dimana?”, tanpa dosa saya pasti menjawab, “Jakarta Selatan.” Biasanya, berkembang “iya tau, tepatnya dimana?” Pasti tidak saya jawab. Apalagi pertanyaan tentang telepon atau PIN BB. Pasti tidak saya jawab. Yang pertama karena saya lebih percaya teman yang bisa saya jumpai secara langsung, dan bukan bertemu ala kopi darat, yang kedua adalah karena saya bukan pengguna BB.
Tapi bukan berarti saya tidak pernah member nomor telepon. Beberapa kali saya memberikan nomor ponsel saya, dengan satu syarat: orang itu bukan berada di Indonesia. Terdengar sombong? Bisa ya, bisa tidak. Tapi saya punya alasannya. Selain karena menjaga keamanan diri, dalam hal ini saya agak was was bila bertemu dengan seorang yang saya temui pertama kali lewat internet, karena bisa jadi itu profil palsu (walaupun saya yakin banyak orang yang menggunakan profil asli), yang kedua adalah karena niat awal saya memang bukan mencari teman, tapi meningkatkan kemapuan bahasa Inggris saya. Semua tergantung niat.
Alasan selanjutnya kenapa saya cenderung hanya memberi nomor ponsel pada kenalan di luar Indonesia adalah karena kemungkinan mereka menelpon dan mengirim sms kecil. Memang ada beberapa yang berkirim sms atau telepon, tapi itupun tidak terlalu sering, akan jauh berbeda bila teman di Indonesia. Seorang teman yang gemar memberikan nomornya bercerita bahwa dia sering mendapat sms perhatian seperti “sedang apa?”, “sudah makan belum?”, “selamat pagi”, “jangan lupa makan ya” atau sms ‘basa-basi’ – menurut saya lohhh – walaupun bisa jadi mungkin salah satu dari pengirim sms itu adalah pelabuhan terakhirnya. Kita tidak pernah tahu. Tapi saya belum berniat mencoba.
Itu dulu, ketika saya masih di Jakarta. Maaf, bukan jual mahal, sekali lagi karena kewaspadaan saya keterlaluan hingga menimbulkan rasa parno tersendiri. Tapi ceritanya lain sekarang. Saya di negeri orang dimana orang-orangnya terlihat begitu sibuk. Saya suka menyendiri tapi saya tidak terbiasa sendiri. Saya butuh teman. Urgent!
Kalau ada survey tentang seberapa cepat mendapatkan teman, saya bisa jadi keluar sebagai orang yang terlama. Bukan hal yang mudah untuk saya merasa nyaman pada orang yang baru saya temui. Dulu keadaan ini sangat menyiksa, tapi sekarang terbiasa. Mungkin dengan butuh waktu lebih panjang, saya bisa punya waktu lebih banyak untuk mengobservasi karakter seseorang dan merasa nyaman. Semua ada sisi positif maupun negativnya. Dunia ini seimbang.
Dari 41 orang teman di SMA, hanya 2-3 orang yang benar-benar dekat dan sampai sekarang kami masih berhubungan meski hanya lewat situs pertemanan. Kadang kontak terjadi agak lama, tapi bila ada teman yang sakit atau mengalami musibah, kami pasti bergerak, walaupun hanya sekedar mengirim pesan berduka ataupun datang mengunjungi. Ada juga teman dari tempat kerja sebelumnya. Insha Allah silaturahim tetap terjaga. Tapi kalau ditotal, jumlahnya tak lebih dari ‘a handful’ kata orang bule, alias ga lebih dari sepuluh.
Itu cerita dulu, waktu masih di Jakarta yang dengan mudah kita temui orang bergerombol. Tapi sekarang saya di negeri orang, dimana kondisinya sangat berbeda.
Ketika pertama kali merasakan pagi disini, pandapat yang keluar dari mulut saya adalah, “sepi sekali.” Host family hanya tertawa dan mengatakan, “itu juga hal pertama yang istri saya katakana waktu pertama kali disini.”
Di depan rumahnya terdapat jalan yang cukup besar untuk dua mobil, bisa jadi lebih. Kiri kanannya rumah yang tipenya sama, tidak berpagar seperti di banyak kota besar di Indonesia, tapi yang lewat berjalan kaki bisa di hitung dengan jari. Selain karena anginnya yang dingin menusuk, juga karena sibuknya orang-orang bekerja untuk mempersiapkan masa depannya. Tidak ada orang kongkow-kongkow. Kalaupun ada sesekali orang lewat, mereka terlihat seperti berolahraga, karena berpakaian olah raga lengkap dan langkah kaki agak cepat.
Bersambung….
Dulu ponsel Nokia 8201 sudah cukup, bentuk sudah cukup oke, walaupun sekarang harganya hampir sama dengan harga BB, sekarang, BB menjamur. Dari anak TK sampai oma opa, familiar dengan benda yang disebut telepon pintar. Saya pun cukup familiar dengan itu, walaupun tidak menggunakannya dan tidak tertarik menggunakannya.
Semua berawal dari niat, begitu salah satu ajaran di agama. Semuanya. Termasuk penggunaan internet. Saya pribadi menggunakan internet awalnya untuk membantu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya, dengan cara mengobrol dengan kawan-kawan dari negara luar, entah itu dari Asia, Amerika, Afrika, maupun Eropa. Alhasil, sewaktu masih menjadi mahasiswa, nilai menulis saya selalu jadi andalan untuk mendongkrak IPK yang bisa jadi miring karena nilai lain, seperti statistic, yang anjlok tak karuan.
Kalau fungsi lain internet, yah, seperti yang lain, mencari informasi, mencari pekerjaan, melamar pekerjaan, ataupun belajar membuat blog. Intinya, memanfaatkan semaksimal mungkin untuk pengembangan diri. Situs pertemanan pasti saya buat juga, tapi jujur lebih karena penasaran, walaupun ujung-ujungnya digunakan sebagai alat komunikasi kedua setelah ponsel. Pak Pos sudah sangat jarang digunakan, apalagi merpati pos.
Dulu seringnya saya hanya menggunakan yahoo messanger, lalu iseng mengikuti Evan bergabung di situs pertemanan yang akhirnya paling sering saya gunakan, yaitu tagged, karena dengan mudah saya bisa mendapatkan teman asing. Belakangan ini saya cukup sering menggunakan facebook karena menjadi sarana komunikasi ketiga dengan teman dan keluarga setelah telepon dan sms, malah kadang lebih sering menggunakan sarana ini untuk menyapa teman.
Namanya saja situs pertemanan, biasanya dengan mudah kita mendapatkan teman. Begitu pula dengan saya. Tidak masalah menjawab pertanyaan “apa kabar?” atau “rumahnya dimana?” berkali-kali. Jawaban saya pun hanya “baik”, dan “di Jakarta”, kalaupun berkembang lebih jauh, seperti “Jakartanya dimana?”, tanpa dosa saya pasti menjawab, “Jakarta Selatan.” Biasanya, berkembang “iya tau, tepatnya dimana?” Pasti tidak saya jawab. Apalagi pertanyaan tentang telepon atau PIN BB. Pasti tidak saya jawab. Yang pertama karena saya lebih percaya teman yang bisa saya jumpai secara langsung, dan bukan bertemu ala kopi darat, yang kedua adalah karena saya bukan pengguna BB.
Tapi bukan berarti saya tidak pernah member nomor telepon. Beberapa kali saya memberikan nomor ponsel saya, dengan satu syarat: orang itu bukan berada di Indonesia. Terdengar sombong? Bisa ya, bisa tidak. Tapi saya punya alasannya. Selain karena menjaga keamanan diri, dalam hal ini saya agak was was bila bertemu dengan seorang yang saya temui pertama kali lewat internet, karena bisa jadi itu profil palsu (walaupun saya yakin banyak orang yang menggunakan profil asli), yang kedua adalah karena niat awal saya memang bukan mencari teman, tapi meningkatkan kemapuan bahasa Inggris saya. Semua tergantung niat.
Alasan selanjutnya kenapa saya cenderung hanya memberi nomor ponsel pada kenalan di luar Indonesia adalah karena kemungkinan mereka menelpon dan mengirim sms kecil. Memang ada beberapa yang berkirim sms atau telepon, tapi itupun tidak terlalu sering, akan jauh berbeda bila teman di Indonesia. Seorang teman yang gemar memberikan nomornya bercerita bahwa dia sering mendapat sms perhatian seperti “sedang apa?”, “sudah makan belum?”, “selamat pagi”, “jangan lupa makan ya” atau sms ‘basa-basi’ – menurut saya lohhh – walaupun bisa jadi mungkin salah satu dari pengirim sms itu adalah pelabuhan terakhirnya. Kita tidak pernah tahu. Tapi saya belum berniat mencoba.
Itu dulu, ketika saya masih di Jakarta. Maaf, bukan jual mahal, sekali lagi karena kewaspadaan saya keterlaluan hingga menimbulkan rasa parno tersendiri. Tapi ceritanya lain sekarang. Saya di negeri orang dimana orang-orangnya terlihat begitu sibuk. Saya suka menyendiri tapi saya tidak terbiasa sendiri. Saya butuh teman. Urgent!
Kalau ada survey tentang seberapa cepat mendapatkan teman, saya bisa jadi keluar sebagai orang yang terlama. Bukan hal yang mudah untuk saya merasa nyaman pada orang yang baru saya temui. Dulu keadaan ini sangat menyiksa, tapi sekarang terbiasa. Mungkin dengan butuh waktu lebih panjang, saya bisa punya waktu lebih banyak untuk mengobservasi karakter seseorang dan merasa nyaman. Semua ada sisi positif maupun negativnya. Dunia ini seimbang.
Dari 41 orang teman di SMA, hanya 2-3 orang yang benar-benar dekat dan sampai sekarang kami masih berhubungan meski hanya lewat situs pertemanan. Kadang kontak terjadi agak lama, tapi bila ada teman yang sakit atau mengalami musibah, kami pasti bergerak, walaupun hanya sekedar mengirim pesan berduka ataupun datang mengunjungi. Ada juga teman dari tempat kerja sebelumnya. Insha Allah silaturahim tetap terjaga. Tapi kalau ditotal, jumlahnya tak lebih dari ‘a handful’ kata orang bule, alias ga lebih dari sepuluh.
Itu cerita dulu, waktu masih di Jakarta yang dengan mudah kita temui orang bergerombol. Tapi sekarang saya di negeri orang, dimana kondisinya sangat berbeda.
Ketika pertama kali merasakan pagi disini, pandapat yang keluar dari mulut saya adalah, “sepi sekali.” Host family hanya tertawa dan mengatakan, “itu juga hal pertama yang istri saya katakana waktu pertama kali disini.”
Di depan rumahnya terdapat jalan yang cukup besar untuk dua mobil, bisa jadi lebih. Kiri kanannya rumah yang tipenya sama, tidak berpagar seperti di banyak kota besar di Indonesia, tapi yang lewat berjalan kaki bisa di hitung dengan jari. Selain karena anginnya yang dingin menusuk, juga karena sibuknya orang-orang bekerja untuk mempersiapkan masa depannya. Tidak ada orang kongkow-kongkow. Kalaupun ada sesekali orang lewat, mereka terlihat seperti berolahraga, karena berpakaian olah raga lengkap dan langkah kaki agak cepat.
Bersambung….
Langganan:
Postingan (Atom)